Rantai Karma Phala dan Punarbhawa


Mimbar Agama Hindu TVRI Kaltim Tanggal 21 Maret 2009

1. Ada dua pokok pembicaraan kita pada hari ini yaitu karmaphala dan punar bhawa. Kita mulai dengan hukum Karma atau karma phala, apakah yang dimaksud karmaphala?

Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau diluar kesadaran, kesemuanya itu disebut “Karma”. Ditinjau dari segi ethimologinya, kata karma berasal dari kata “Kr” (bahasa sansekerta), yang artinya bergerak atau berbuat. Menurut Hukum Sebab Akibat, maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikianlah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau pahala. Hukum sebab akibat inilah yang disebut dengan Hukum Karma Phala. Di dalam Weda disebutkan “Karma phala ika palaning gawe hala ayu”, artinya karma phala adalah akibat phala dari baik buruk suatu perbuatan atau karma (Clokantra 68).

2. Jika demikian apakah dampak atau pengaruh karmaphala itu bagi kehidupan manusia?

Hukum karma ini sesungguhnya sangat berpengaruh terhadap baik buruknya segala mahluk bukan hanya manusia, sesuai dengan perbuatan baik dan perbuatan buruknya yang dilakukan semasa hidup. Hukum karma dapat menentukan seseorang itu hidup bahagia atau menderita lahir bathin. Jadi setiap orang berbuat baik (subha karma), pasti akan menerima hasil dari perbuatan baiknya itu. Demikian pula sebaliknya, setiap yang berbuat buruk, maka keburukan itu sendiri tidak bisa terelakkan dan pasti akan diterima.

3. Apakah setiap karma yang kita lakukan selalu dapat kita rasakan phalanya atau hasilnya?

Phala atau hasil dari perbuatan itu tidak selalu langsung dapat dirasakan atau dinikmati. Tangan yang menyentuh es akan seketika dingin, namun menanam padi harus menunggu berbulan-bulan untuk bisa memetik hasilnya. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas, ada bekas yang nyata, ada bekas dalam angan dan ada yang abstrak. Oleh karena itu hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat atau pada kehidupan sekarang maka akan ia terima setelah di akherat kelak dan ada kalanya pula akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang Dengan demikian karma phala dapat digolongkan menjadi 3 macam sesuai dengan saat dan kesempatan dalam menerima hasilnya, yaitu Sancita Karma Phala, Prarabda Karma Phala, dan Kriyamana Karma Phala. • Sancita Karma Phala: Hasil perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang. • Prarabda Karma Phala: Hasil perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi; • Kriyamana Karma Phala: Hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat, sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang. 4. Apakah karmaphala itu memiliki kaitan dengan punar bhawa, dan bagaimana seseorang dapat meyakini bahwa punarbhawa itu ada? Karma phala jelas sangat memiliki kaitan dengan punarbhawa, karena punarbhawa itu sendiri sering disebut dengan samsara, yang artinya penderitaan, sedangkan secara harfiah punarbhawa berarti kelahiran yang berulang-ulang, yang disebut juga penitisan kembali (reinkarnasi). Kelahiran yang berulang-ulang ini membawa akibat suka dan duka. Samsara atau Punarbhawa ini terjadi oleh karena Jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian akan diikuti oleh kelahiran”. Pengaruh hukum ini pulalah yang menentukan corak serta nilai dari pada watak manusia. Hal ini menimbulkan adanya bermacam-macam ragam watak manusia di dunia ini. Terlebih-lebih hukuman kepada Atman (roh) yang selalu melakukan dosa semasa penelmaannya, maka derajatnya akan semakin bertambah merosot.

Hal ini disebutkan dalam Weda sebagai berikut:

“Dewanam narakam janturjantunam narakam pacuh, Pucunam narakam nrgo mrganam narakam khagah, Paksinam narakam vyalo vyanam narakam damstri, Damstrinam narakam visi visinam naramarane.” (Clokantara 40.13-14)

Dewa neraka (menjelma) menjadi manusia. Manusia neraka (menjelma) menjadi ternak. Ternak menjadi binatang buas, binatang buas neraka menjadi burung, burung neraka menjadi ular, dan ular neraka menjadi taring. (serta taring) yang jahat menjadi bisa (yakni) bisa yang dapat membahayakan manusia.

Dari kutipan di atas tentu kita harus percaya pada Veda sebagai kebenaran mutlak yang merupakan kitab suci Agama hindu, disamping itu ada bukti-bukti bahwa inkarnasi itu ada. Seperti yang dilami Santi dewi, atau cerita bocah di Tuban. Dalam Bhagawad Gita sendiri sebagai Pancama Weda kita akan dapati uraian sebagai berikut

Sribhagavan uvacha,

bahuni me vyatitani,

janmani tava cha rjuna,

rani aham veda sarvani,

na tvam paramtapa (Bh. G. IV.5)

Sri Bhagawan (tuhan) bersabda, banyak kelahiran-Ku di masa lalu, demikian pula kelahiranmu arjuna semuanya ini Aku tahu, tetapi engkau sendiri tidak,. Parantapa.

Demikianlah kenerakaan yang dialami oleh Atman (roh) yang selalu berbuat jahat (dosa) semasa penjelmaannya di dunia. Jika penjelmaan itu telah sampai pada limit yang terhina akibat dosanya, maka ia tetap akan menjadi dasar terbawah dari kawah neraka

5. Dengan demikian apakah setiap penderitaan yang dialami seseorang adalah buah dari karma, misalnya: penyakit, ada orang kaya, ada yang miskin, ada yang berparas elok ada yang cacat dan sebagainya!

Hal ini terkait dengan punarbhawa Jadi adanya penderitaan dalam kehidupan ini walaupun seseorang selalu berbuat baik, hal itu disebabkan oleh karmanya yang lalu (sancita karma), terutama yang buruk yang harus ia nikmati hasilnya sekarang, karena pada kelahirannya terdahulu belum habis diterimanya. Sebaliknya seseorang yang berbuat buruk pada kehidupannya sekarang dan nampaknya ia hidup bahagia, hal itu disebabkan karena sancita karmanya yang dahulu baik, namun nantinya ia juga harus menerima hasil perbuatannya yang buruk yang ia lakukan pada masa kehidupannya sekarang ini. Tegasnya, bahwa cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala hasil perbuatan itu pasti akan diterima, karena hal itu sudah merupakan hukum perbuatan. Di dalam Weda (Wrhaspati Tatwa 3), dinyatakan sebagai berikut: “Wasana artinya bahwa semua perbuatan yang telah dilakukan didunia ini. Orang akan mengecap akibat perbuatannya di alam lain, pada kelahiran nanti; apakah akibat itu akibat yang baik atau yang buruk. Apa saja perbuatan yang dilakukannya, pada akhirnya kesemuanya itu akan menghasilkan buah. Hal ini adalah seperti periuk yang diisikan kemenyan, walaupun kemenyannya sudah habis dan periuknya dicuci bersih-bersih namun tetap saja masih ada bau, bau kemenyan yang melekat pada periuk itu. Inilah yang disebut wasana. Seperti juga halnya dengan karma wasana. Ia ada pada Atman. Ia melekat pada-Nya. Ia mewarnai Atman.” Didalam Agastya parwa jelas sekali disebutkan bahwa seorang anak yang durhaka akan menerima penyakit kronis, seorang yang selalu menendang atau memukul orang mulia akan diambil tanganya, seorang yang suka memalsu akan lahir salah ukur, orang yang senang mencuri biji-bijian akan lahir kerdil, yang suka menghilangkan nyawa mahluk dengan bengis akan pendek umurnya.

6. Diatas telah diuraikan bahwa karma baik hasilnya sorga, dan karma buruk hasilnya neraka. Apakah manusia akan terus menerus berputar dalam lingkaran ini!

Ada dua macam karmaphala lagi yang berkaitan dengan hal tersebut Karma Sangga, yaitu segala perbuatan atau tugas kewajiban yang berhubungan dengan keduniawian, menyangkut kehidupan sosial manusia. Bila seseorang karyawan bekerja dengan tenaga jasmaninya akan menerima upah yang disebut “Karma Kara”, sedangkan karyawan yang bekerja dengan tenaga rohani/pikirannya akan menerima upah yang disebut “Karma Kesama”. Karma Yoga, yaitu segala perbuatan yang dilakukan tanpa terikat keduniawian, tanpa memikirkan upahnya, karena keyakinan bahwa segala yang dilakukannya adalah atas kehendak Hyang Widhi sesuai dengan ethika agamanya. Dalam bhawad gita disebutkan: Karmani eva dhikaraste Mapalesu kadacanam Makarmaphala heturbur Matesango stwa akarmani Hanya pada pelaksanaan engkau memiliki hak wahai arjuna, bukan pada hasinya, karena itu lakukan pekerjaan tanpa mengharapkan hasilnya.

7. Apakah hasil tertinggi dari karma yoga dalam ajaran hindu!

Karma yoga sebagai bagian dari catur marga atau catur yoga merupakan tuntunan dan cara untuk memutus tali karmaphala dan punarbhawa, manakala tali ini dapat diputus maka seseorang akan mencapai moksah atau pembesan, bebas dari punarbhawa.

Tentang vaprakeswara

guru Smpn 1 bontang hobi belajar...........
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Rantai Karma Phala dan Punarbhawa

  1. putu tok berkata:

    SEMOGA ANDA MASUK SORGA

  2. rini berkata:

    menurut saya surga dan neraka kita sendiri yang buat. jika kita berbuat baik, maka baik juga diterima. namun kadang jika kita di antara grey zone inilah yang membingungkan karena kadang arus kehidupan begitu menggerus sehingga kita kadang kehilangan jati diri dan tidak berdaya untuk menegakkan kejujuran di saat itu. semoga kita bisa mewujudkan dharma setiap saat dan dimanapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s