SENI UKIR DAN KITAB SUCI


I Gede Adnyana, S.Ag

Dengan dipersembahkannya seni sebagai sarana pemujaan maka semakin suburlah seni itu berkembang. Bisalah kita bayangkan betapa pulau Bali memiliki seni yang begitu maju dan di puja oleh dunia. Ini tidak lain adalah karena seni itu dipersembahkan kepada Tuhan. Seni gerak berasal dari Mudra, seni suara berasal dari Mantra, dan seni rupa berasal dari yantra atau harcanam. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang saling menunjang. Persembahyangan akan menjadi lengkap jika ada gerakan atau tata cara sembahyang, ada kidung  dan ada banten. Salah satu diantara seni yang paling berkembang adalah seni pahat atau seni ukir.

a. Apit Surang atau Candi Bentar

Apit surang adalah pintu pertama yang membatasi areal pura dengan lingkungan diluarnya. Apit surang memiliki makna “Srieng”, artinya menandakan bahwa setiap orang yang datang mulai memikirkan kesucian. Tidak dapat dipungkiri bahwa letak pura biasanya berjauhan dengan letak pemukiman penduduk. Hal ini menyebabkan orang yang hendak bersembahyang kadang-kadang memiliki pikiran-pikiran yang melayang-layang, oleh karena itulah dengan adanya apit surang diharapkan orang mulai menarik pikirannya agar terfokus pada usaha untuk mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

b. Pelinggih Apit lawang, Naga Banda, dan Arca Bhuta Kala

Pelinggih apit lawang merupakan stana Bhatara Kala yang bertugas menjaga kesucian pura. Artinya setiap orang yang hendak pedek tangkil atau ngaturang bhakti hendaklah benar-benar suci, baik pikiran, perkataan, maupun perbuatan.  Orang yang sedang cuntaka dilarang masuk Mandala utama pura. Karena itulah Bhatara Kala disimbulkan berwajah garang dan memegang senjata, artinya tanpa kompromi apakah itu pejabat, atau penjahat, yang jelas jika tidak memiliki syarat-syarat kesucian maka diyakini akan kena bahaya sebagai akibat melanggar aturan. Adapun Naga Banda  ikut menjadi saksi apakah orang-orang yang datang ke pura dengan tulus ikhlas atau masih dibelit oleh pamrih. Dua ekor naga Ananta Bhoga dan Wasuki, merupakan simbul dari tanah dan air, yang tidak lain adalah kekayaan yang menyebabkan manusia betah tinggal di Bumi. Banda artinya tali atau pengikat, mengisyaratkan agar kita meninggalkan segala keterikatan akan kekayaan duniawi bilamana memasuki areal Mandala utama. Jika masih memikirkan kekayaan yang kita miliki maka bagaimana mungkin kita akan melakukan sembah yang “Wahyadyatmika” atau lahir batin.

c. Kori Agung

Memasuki Mandala Utama atau areal jeroan, ada sebuah pintu utama yang disebut kori agung. Kori agung dibuat sempit sehingga orang kesulitan masuk, maknanya adalah setiap orang yang hendak sembahyang benar-benar menciutkan pikirannya. Pikiran sangat sulit untuk dikendalikan, didalam Bhagawad Gita VI. 34 dan 35 dijelaskan:

Sebab pikiran itu adalah gelisah, O krisna, tak terkendalikan, kuat dan kaku. Aku kira sukar sekali untuk menguasainya sesukar menguasai angin.

Sri Bhagawan bersabda:

Sudah pasti, O Arjuna, pikiran itu susah untuk menahan dan gelisah, akan tetapi dapat dikuasai, O Arjuna dengan latihan terus menerus dan tidak mengikat diri.

Dengan demikian maka adalah sangat tepat jika kori agung itu memberikan gambaran pada kita untuk senantiasa melatih mengendalikan pikiran. Dengan latihan yang tekun maka diharapkan seseorang benar-benar mampu menguasai pikiran yang merupakan Rajendria atau raja dari indria.

d. Karang Boma

Karang boma merupakan simbul dari kepala bhuta kala. Bhutakala artinya ruang dan waktu. Setiap dari kita yang menatap karang Boma diharapkan menyadari bahwa dirinya terbatas oleh ruang dan waktu. Bahwa sangat terbatas waktu kita untuk meningkatkan kehidupan rohani, sehingga diharapkan jangan lagi menunda-nunda untuk berbuat baik.  Di dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan:

Iking tang janma wwang, ksanikabhawa ta ya, tan pahi lawan kedapning kilat, durlaba towi, matangyan pongakena ya ri kagawayanning dharma sadhana, sakaranangin manasanang sangsara, swargaphala kunang.

Terjemahan:

Kelahiran menjadi manusia pendek dan cepat keadaannya itu, tak tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula untuk diperoleh; oleh karenanya itu, gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melakukan penunaian dharma, yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapi sorga.

Karang Boma juga mengingatkan kita pada kisah Bomantaka, yang terlahir dari pertemuan Waraha Awatara (Wisnu) dan Dewi Pertiwi, atau dengan kata lain pertemuan antara tanah dan air yang menyebabkan terjadinya kehidupan.

e. Karang Gajah atau Karang Asti,

Begitu seseorang menundukkan kepala kebawah menyadari bahwa dirinya terbatas oleh waktu ia akan melihat karang asti atau karang gajah. Karang Gajah merupakan ukiran berbentuk kepala gajah. Adapun maknanya adalah hendaknya seseorang haruslah astiti bhakti dengan segenap tekad dan kekuatan yang ada, dengan sungguh-sungguh akan berusaha mengalahkan rintangan-rintangan yang ada. Upaya untuk meningkatkan kesadaran rohani haruslah dilakukan sepenuh hati seperti gajah yang mampu menerjang  rintangan apa saja yang akan dihadapi. Bhagawad Gita VI. 45, 46, 47 menyebutkan:

Tetapi seorang yogi yang berjuang dengan penuh keberanian membersihkan diri dari segala dosa, menyempurnakan dirinya sendiri didalam banyak penghidupan dapatlah mencapai tujuan yang tertinggi (BG.VI.45)

Seorang yogi adalah lebih besar dari orang pertapa, ia adalah lebih besar dari orang terpelajar, dan dipandang lebih besar dari orang yang melakukan upacara, dari itu jadilah seorang Yogin, O Arjuna (BG. VI.46).

Dari semua Yogin, ia yang dengan penuh kepercayaan menyembah aku, dengan batinnya menetap didalam aku, ia aku pandang terharmoni, dengan Aku didalam yoga (BG.VI.47).

Demikianlah sesungguhnya karang gajah mengisyaratkan agar kita benar-benar menyatakan kesungguhan hati dalam melakukan yoga atau menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta.

f. Daun Waru, Patra Samblung, dan Patra Punggel

Di bawah karang gajah ada motif daun waru yang melambangkan waranugraha, atau anugrah dari sanghyang widhi Wasa. Anugrah pasti ada jika ada kemauan dan usaha yang keras dari seseorang. Sebagaimana halnya rejeki tidak akan datang begitu saja tanpa adanya usaha kerja dari kita. Namun untuk mendapatkan anugrah tentu harus mengalami berbagai cobaan, ujian, dan rintangan-rintangan yang cukup berat. Apakah rintangan itu? Rintangan itu tergambar jelas sebagai patra samblung yang meliuk-liuk seperti tanaman menjalar. Patra samblung memiliki makna agar kita merangkak atau berpegang pada inang, menuju sinar matahari. Sedangkan yang dituju oleh manusia adalah adalah Brahman. Adapun lenggak-lenggok patra samblung, menggambarkan bahwa tidak dapat dipungkiri manusia diliputi oleh suka dan duka yang merupakan klesa. Klesa itu terdiri dari raga (keterikatan akan kesenangan), dwesa (rasa jera karena selalu mengalami kegagalan, dan Abhiniwesa yang merupakan puncak dari kedua klesa tersebut (kecanduan, kapok). Patra punggel mengisyaratkan agar manusia memotong atau memangkas pikiran-pikiran yang menyebabkan manusia terbelit dalam suka dan duka. Jangan larut dalam kegembiraan dunia, jangan pula larut dalam kesedihan yang ada di dunia ini. Bhagawadgita  menjelaskan:

Melepaskan tanpa kecuali semua keinginan lahir dari keakuan, mengendalikan dengan pikiran semua indria pada semua sisi (BG,VI.24)

Dengan akal budi yang penuhkesabaran, dengan pikiran yang menetap pada atma, biarlah ia mencapai ketenangan perlahan-lahan. Janganlah ia memikirkan apa-apa yang lain (BG. VI.25).

Karena kebahagiaan tertinggi datang pada yogin yang pikirannya tenang yang nafsunya tidak bergolak, yang keadaannya bersihdan bersatu dengan Tuhan (BG. VI. 27)

g. Karang Tapel

Karang tapel menandakan bahwa badan kita sesungguhnya sesuatu yang tidak kekal. Janganlah kecantikan, ketampanan masa muda menghalangi tujuan manusia yang sesungguhnya. Namun demikian bukan berarti kita mengabaikan badan ini tetapi bersukurlah bahwa melalui badan ini manusia mampu mengetahui baik dan buruk. Sarasamuscaya sloka 2 menyebutkan:

Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang subhasubhakarma, kuneng panentasakena ring subhakarma ikang asubhakarma, phalaning dadi wwang.

Terjemahan:

Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya menjadi manusia.

h. Karang Paksi

Karang paksi atau karang manuk berbentuk kepala burung, memiliki makna bahwa kendaraan menuju Tuhan adalah manut swadharma masing-masing, sesuai dengan kewajiban dari tiap-tiap orang. Jika seseorang mampu melaksanakan swadharma dengan baik sesungguhnya ia telah mengantarkan dirinya pada kesadaran rohani yang tinggi. Bhagawadgita menjelaskan:

Adalah lebih baik dharma sendiri meskipun kurang caranya melaksanakan, daripada dharma orang lain walaupun baik caranya melaksanakan. Kalaupun sampai mati melakukan dharma sendiri adalah lebih baik sebab menuruti bukan dharma sendiri adalah berbahaya (BG. III. 35).

i. Motif  Kakul

Motif  kakul atau keong mengisyaratkan agar kemanapun kita selalu memohon perlindungan. Jika keong selalu membawa rumahnya kemana-mana sebagai tempat perlindungan maka manusia hendaknya selalu eling pada sang Maha Pencipta, dan berpegang teguh pada dharma sebagai tempat berlindung.

Sarasamuscaya sloka 18, menjelaskan:

Mwang kotaman ikang dharma, prasidda sangkaninghitawasana, irikang mulahaken ya, mwang pinaka sraya sang pandita, sangksepanya, dharma mantasakenikang triloka.

Terjemahan:

Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya; lagi pula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa Triloka atau jagad tiga itu.

j. Karang Mata,

Karang mata pahatan motif yang menonjolkan bentuk mata mengisyaratkan pada kita agar benar-benar jeli atau mawas terhadap keadaan pikiran. Apakah kita masih konsisten terhadap tujuan hidup ataukah sudah lupa, karena adanya belenggu dunia? Karena itulah perlunya kewaspadaan agar manusia selalu menuju kebaikan. Menurut Agastya Parwa adapaun gunanya mata diciptakan adalah untuk melihat dharma (kebaikan).

k. Karang Sae

Karang Sae mendapat pengaruh dari seni barong sae yang berasal dari negeri China, merupakan simbul dari binatang buas, mengisyaratkan agar manusia sadar bahwa dirinya dipenuhi nafsu-nafsu binatang. Di dalam kakawin Ramayana disebutkan “Ragadi musuh maparo, rihati ya tonggwanya tan madoh ringawak”. Artinya nafsu adalah musuh yang paling dekat, di hati tempatnya tak jauh dari badan.

Ketika kita melenyapkan nafsu angkara, menyirami hati nurani dengan cahaya pengetahuan (Vidya) maka dengan sendirinya Viveka Jnana akan tumbuh menjadi payung abadi. Ibarat tedung (payung) yang memberi kesejukan tatkala matahari menyengat, namun ketika hujan turun ia juga mampu melindungi dari air, demikianlah jika seseorang memiliki Viveka akan terlindung dari segala kesengsaraan (suka-duka).

Dengan demikian menjadi teranglah bahwa sesungguhnya apa yang terpahat dalam ornamen seni ukir Bali mengalir dari Veda. Bagaikan air sungai yang mengalir dari berbagai pegunungan yang pada akhirnya akan bermuara di laut. Dengan demikian belumlah tepat jika kita harus kembali ke Veda. Bagamana mungkin harus kembali jika tidak pernah pergi?

Tentang vaprakeswara

guru Smpn 1 bontang hobi belajar...........
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke SENI UKIR DAN KITAB SUCI

  1. burhan berkata:

    bagus sekali..bli…..keterangannya cepat singkat padat..akan lebih bagus lagi jika ditambah fotonya

    salam

    Burhan Bali

  2. Ping balik: motif kekarangan dalam Arsitektur tradisional Bali | zusronregost

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s