Arsip | April, 2010

Menjaga Cinta Kasih Dalam Rumah Tangga

25 Apr

Om Kama Pujitayei Namaha


Setelah membaca artikel Bhagawan Dwija yang berjudul Wanita dalam Pandangan Hindu saya terinspirasi untuk menyumbang sebuah pemikiran bagaimana kehidupan bisa berlangsung tanpa wanita dan laki-laki. Bagaimana jika Tuhan tidak menyisipkan cinta terhadap lawan jenis, Apakah cinta lawan jenis sama dengan nafsu dan bagaimana cara menjaga cinta kasih suci untuk setiap pasangan.

Kecendrungan manusia untuk menikmati kehidupan seks bebas pada zaman modern, zaman era informasi yang tak terbatas ini telah menimbulkan berbagai persoalan dalam rumah tangga yang melanda sebgian besar masyarakat indonesia tak terkecuali umat Hindu. Perselingkuhan telah dianggap biasa saja dan bahkan orang yang berselingkuh kadang merasa bangga dengan apa yang dilakukan. Ini artinya adanya pergeseran nilai moral dal etika dalam masyarakat. Mungkinkah agama tidak ampuh lagi dalam menjaga keharmonisan Rumah tangga? Ada beberapa faktor yang menyebabkan perselingkuhan terjadi anatara lain:

1. Kurang pahamnya tujuan perkawinan

Perkawinan bertujuan untuk melanjutkan keturunan bukan legalitas pemuas nafsu biologis semata. Dalam konteks ini kita harsu melihat wanita laki-laki sebagai mahkluk mulia melanjutkan kehidupan. Dengan meyadnyakan keturunan berarti memberikan sumbangan besara bagi kehidupan. Tujuan perkawianan daalam Manava dharmasastra IX. 96 sebagai berikut:

“Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah
Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah”

“Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan. Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan istrinya”
(Pudja dan Sudharta, 2002: 551).

Menurut I Made Titib dalam makalah “Menumbuhkembangkan pendidikan agama
pada keluarga” disebutkan bahwa tujuan perkawinan menurut agama Hindu
adalah mewujudkan 3 hal yaitu:

a. Dharmasampati, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña , sebab di dalam grhastalah aktivitas Yajña dapat dilaksanakan secara sempurna.

b. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada
para guru (Rsi rna).

c. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan kama) yang tidak bertentangan dan berlandaskan Dharma.

2. Kurang menjaga kesucian diri dan kesucian hati

Dalam kitab suci Veda perkawinan adalah terbentuknya sebuah keluarga yang berlangsung sekali dalam hidup manusia. Hal tersebut disebutkan dalam kitab Manava Dharmasastra IX. 101-102 sebagai berikut:

“Anyonyasyawayabhicaroghaweamarnantikah,
Esa dharmah samasenajneyah stripumsayoh parah”

“;Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati,
singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri”.

“Tatha nityam yateyam stripumsau tu kritakriyau,
Jatha nabhicaretam tau wiyuktawitaretaram”

“;Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan
perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak
bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan
yang lain” (Pudja, dan Sudharta, 2002: 553

3. Kurangnya komunikasidengan pasangan hidup

Komunikasi menjadi begitu berperan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Tanpa komunikasi rumah tangga akan menjadi samar-samar dan akhirnya bisa bubar. Dengan komunikasi dan cinta kasih semoga hidup dal;am rumah tangga dilimpahkan cinta kasih.

4. Ketidak jujuran dari setiap pasangan

Jika seseorang dalam rumah tangga tidak jujur ini dapat menimbulkan saling tidak percaya. Dengan tidak percaya maka bibit perpisahan dapat terjadi da ini tidak diinginkan dalam agama Hindu. Dalam kitab suci Veda perkawinan adalah terbentuknya sebuah keluarga yang berlangsung sekali dalam hidup manusia. Hal tersebut disebutkan dalam kitab Manava Dharmasastra IX. 101-102 sebagai berikut:

“Anyonyasyawayabhicaroghaweamarnantikah,
Esa dharmah samasenajneyah stripumsayoh parah”

“;Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati,
singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri”.

“Tatha nityam yateyam stripumsau tu kritakriyau,
Jatha nabhicaretam tau wiyuktawitaretaram”

“;Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan
perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak
bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan
yang lain” (Pudja, dan Sudharta, 2002: 553).

Sesuai dengan ajaran Veda dalam kitab Manava Dharma sastra III. 60 , sebagai berikut:

“Samtusto bharyaya bharta bharta tathaiva ca,
Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam”

“;Pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian
pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal”
( Pudja dan Sudharta, 2002: 148).

Keutuhan keluarga haruslah dijaga, tidak ada lasan bagi seorang aHindu untuk cerai bahkan jika tidak puny keturunanpun tidaklah harus berpisah sebab suka dan duka harus dlalui berdama sebagamana dicontohkan Dewi Sinta. Jika ini dilaksanakan maka anda akan bahagia selamanya dalam kehidupan perkawinan anda. Jika anda and adalah korban perselingkuhan janganlah ikut berselingkuh yang menyebabkan anda jatuh keneraka.  Lakukan japa berikutsetipa pagi dan malam hari setelah anda sembahyang sebayak 108 x dengan niat menjaga keutuhan cinta dalam rumah tangga.

Om Kama Pujitayei Namaha

Vibrasi dalam doa ini semoga menumbuhkan kembali cinta suci di antara pasangan yang mulai retak, semoga tumbuh bersemi kembali pada pasangan yang telah kehilangan kepercayaan pada pasangannya

KALATIDA

12 Apr

Kalatida adalah salah satu karangan, dari pujangga besar Ronggowarsito. Arti kata kala adalah waktu, dan tida – samar-samar. Lalu bila diterjemahkan secara bebas akan berarti jaman samar-samar atau jamantransisi.

Antara siang ke malam, malam ke siang, dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain, selalu ada masa transisi, dimana sendi-sendi tata laksana lama menjadi usang, sementara yang baru belum juga mapan.

Tak terkecuali keadaan sekarang ini, tatanan orde baru masih kuat tertanam, sementara orde reformasi tak kunjung mendapatkan bentuknya. Indonesia yang kita cintai ini, sedang berada dalam masa samar-samar, laksana air sungai yang tiba dimuara, sudah tak tawar lagi tapi belum juga terasa asin, tak ada panutan, tak ada pegangan hukum. Ditambah lagi budi pekerti yang seakan dikesampingkan, wanita telah hilang kewanitaan, tiada rasa malu, membuka rahasia tempat tidur, mengejar popularitas. Adakah obat penawar untuk masyarakat sakit seperti ini ?

Jaman edan seperti sekarang ini, budi pekerti memang telah dipinggirkan, pemuka agama melempar sorbannya, kaum ningrat susah hati dikejar kejar karena korupsi, pedagang berteriak berkeluh kesah karena untungnya makin berkurang, rakyat jelata makin menderita. Edannya lagi, seluruh anak bangsa disuguhi tontonan perusak budaya artis mesum, kawin cerai, bunting tanpa ayah, selingkuh, begitu bangga penuh dosa.

Rusak moral bangsa ini, legislatif buka mulut tanpa hormat, yudikatif benteng keadilan jadi sarang calo perkara, eksekutif hanya wacana tanpa karya, kata bijak hanya menjebak, habis sudah rakyat jelata, tak putus dilanda derita. Orang kecil tak tahan lagi dengan rasa lapar, berebut hanya untuk mencari makan, konglomerat jahat, pat gulipat, milyaran diembat, dibantu oleh pejabat.

Memang jaman sudah edan, tidak ikut edan, jadi nggak kebagian, bahkan jadi melarat, jujur jadi hancur, sang licik menepuk dada, laksana tak terkena hukum karma. Alam laksana kalah dengan angkara murka manusia. Rasanya, kalau ikut berbuat papa nista, tidak tahan karena masih ada setitik nurani, masih percaya akan kuasa Sang Pencipta, yang sudah berkali-kali memberi peringatan berupa rangkaian bencana.

Terserah pasrah pada kehendak Hyang Widhi, hanya bisa berdoa secara pasif, dengan memujaNya, dan secara aktif dengan melakukan apa yang diperintahkanNya. Allah tetap akan mengasihi umatNya yang sadar, karena sebahagia-bahagianya orang yang lupa, akan lebih bahagia orang yang tetap eling dan waspada.

Nanti akan tiba saatnya, Nusantara akan berubah, setelah bencana tanpa henti, tsunami, pagebluk flu burung, pagi sakit sore sudah mati, sampai pada puncaknya nanti, gunung merapi meletus, laharnya berbau amis.

Inilah saat yang kita tunggu… krisis ekonomi, krisis politik, krisis legitimasi dan akhirnya krisis motivasi … terpuruk ketitik nol … ke dalam kegelapan yang sangat dalam… sampai nanti tiba saat transisi berikutnya, fajar menyingsing di ufuk timur, kita songsong agama budhi.

Kalatida = Saat Samar-Samar=Senjakala=SandhyaKala=Waktu yang tepat untuk Berdoa


Ki Jero Martani

Sembah Catur

12 Apr

Samengko ingsun tutur,

Sembah catur supaya lumuntur,

Dihin raga, cipta, jiwa, rasa kaki,

Ingkono lamun tinemu Tanda nugrahing Manon,

Anakku, saat ini akan saya ceritakan mengenai adanya empat sembah, barangkali dapat bermanfaat bagi ananda. Yang pertama adalah sembah raga, lalu sembah jiwa, sembah cipta dan sembah rasa, buah hatiku. Apalagi empat sembah ini sudah engkau lalui, barangkali engkau dapat meraih anugrah dari Hyang Kuasa.

Sembah Catur

Sembah ini dapat engkau gunakan baik untuk bekerja mengarungi kehidupan, olah bathin ataupun kesaktian raga. Tapi saat ini, baiklah aku akan ulas dengan sepintas keempat sembah tersebut dengan analogi “kerja”. Inti dari sembah raga adalah disiplin – sarengat anakku. Engkau disiplin dalam belajar, lalu setelah tamat belajar, engkau mungkin beberapa kali pindah tempat kerja. Kesemuanya itu kuncinya adalah disiplin diri.

Suatu saat, engkau harus memilih jalan atau profesi apa yang engkau tekuni. Ibarat dokter umum yang mempelajari segalanya dan mengobati berbagai macam penyakit – makin dewasa – engkau harus makin memilih jalan spesialis apa yang engkau akan ambil – bisa diibaratkan itu tarekat. Kalau engkau telah memilih jalan pekerjaan … dan engkau terus-menerus melakukan pekerjaan yang sama dengan berbagai variasinya, maka disana engkau akan menemukan “hakikat” serta dapat menjiwai pekerjaanmu.

Dan jika hakikat tersebut engkau hujamkan terus ke dalam kalbu, disertai cinta kasih terhadap sesama … maka “rasa” dalam dirimu akan tumbuh – dalam “rasa” engkau akan merasakan kehadiran dan kebesaran Sang Kuasa. Dengan urutan-urutan itu, disiplin kerja, memilih profesi yang tepat, menekuni profesi dengan hati lalu menyimpan pengetahuan ke dalam “rasa” bathin, mudah-mudahan anugrah dari Gusti Allah dapat engkau terima, anakku. Semoga Bermanfaat.

Salam Hormat, Ki Jero Martani

“Nyikut Raga” Dengan Karmaphala

6 Apr

Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag (Alumnus UNHI Bontang)
w.zwani.com/graphics/hindu/”><img src="http://images.zwani.
Free Twitter Backgrounds

A. Karmaphala Nafas Kehidupan
Karmaphala berarti buah perbuatan. Setiap perbuatan pasti akan mendatangkan hasil. Sebagaimana seorang petani yang menanam padi, maka padilah yang akan dipanen. Jika menanam jagung maka jagunglah yang akan dipetik. Demikian pula halnya setiap perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik, atau sebaliknya hasil yang buruk adalah akibat dan perbuatan yang buruk. Tiada satu pun di alam semesta ini akan luput dan hukum. karmaphala, karena setiap kerja akan menampakkan hasilnya. Jika tidak ada sebab tak mungkin akan ada hasil. Inilah hukum sebab-akibat yang merupakan keyakinan yang sangat mendasar dalam ajaran agama Hindu.

Hukum karmaphala tak akan pernah melenceng dari sasarannya. Artinya hasil akan selalu datang kepada penyebabnya, tanpa memandang dia orang kaya atau miskin, pejabat atau bawahan, guru atau murid, yang lemah atau yang kuat. Orang yang main air akan basah dan orang yang suka bermain api akan terbakar. Orang yang pernah berbohong dia pasti akan pernah dibohongi, Orang yang pernah berkhianat pasti akan pernah dikhianati, orang yang pernah memukul orang lain pasti akan pernah dipukul. Tiada satu pun dari apa yang terjadi di alam semesta ini yang tidak berhubungan dengan karmaphala. Ia bagaikan nafas dari semua kejadian, jika pernah menarik nafas pasti akan keluar nafas itu.

Semua kejadian merupakan suatu rangkaian yang saling terjalin, satu sebab akan menimbulkan sebab berikutnya demikian seterusnya bagaikan sebuah rantai yang tanpa akhir. Di dalam Bhagawad Gita bab III sloka 14 dijelaskan bahwa semua yang ada ini berasal dari kerja.

”Dari makanan, makhluk menjelma, dari hujan lahirnya makanan dan dari yadnya muncullah hujan dan yadnya lahir dari pekerjaan”.

B. “Nyikut Raga” Menuju Karma Yoga. Seorang karmin akan mengkonsentrasikan dirinya pada kerja dan bukan pada hasil dan pekerjaannya. Sangat berbeda dengan kenyataan bahwa pada umumnya manusia dewasa ini lebih berorientasi pada hasil dan pekerjaannya. Bahkan kadang-kadang menuntut hasil dari apa yang belum pernah dikerjakannya. Jika haknya tidak diberikan maka orang tidak akan bekerja. Hal ini nampaknya sangat keliru, padahal jika yakin dan percaya pada karma phala maka hasil pasti diperoleh jika kewajiban sudah dilaksanakan.
Kekeliruan ini terjadi sebagai akibat dari ketidakjelasan manusia mengamati setiap gerak dan perilakunya, banyak di antara kita enggan “Nyikut Raga”, alias tidak mau tahu atas kekurangan dirinya sendiri, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Misalnya saja seorang buruh di sebuah perusahaan yang tidak pernah absen tidak dibayar gajinya selama sebulan. Orang pasti berasumsi bahwa perusahaan telah berlaku tidak adil terhadap buruh tersebut. Lalu sudah bisa ditebak apa yang selanjutnya terjadi yaitu tuntutan yang berupa demo. Hal ini sangat sering terjadi di negara kita, yang akhirnya merugikan banyak pihak. Disamping perusahaan kehilangan nama baik dapat pula merugikan negara, misalnya pembengkakan biaya operasi pengamanan demonstrasi.

Jika kita mau jujur pada diri sendiri dan yakin bahwa setiap akibat pasti ditimbulkan oleh sebab-sebab sebelumnya, marilah sejenak kita mencermati prilaku dari sang buruh. Adalah sangat mungkin bahwa sang buruh pernah melakukan kesalahan. Misalnya dalam setiap harinya ia terlambat lima menit dari tugas yang dijadwalkan. Hal ini nampaknya tidak disadari, namun hukum karma tak akan pernah lupa mencatatnya. Dengan demikian maka berarti dalam satu bulan ia korupsi waktu selama 5 x 30 menit, atau 150 menit, jika dikalikan dalam satu tahun saja sudah mencapai 1.800 menit atau sekitar 30 jam. Jadi bisa dibayangkan betapa berharganya waktu yang lima menit ini yang tidak dihiraukan oleh sang buruh.
Mahatma Gandi pernah berkata bahwa hukuman bagi India yang selama berabad-abad dibawah kekuasan bangsa asing adalah wajar sebagai akibat perlakuannya terhadap kaum candala. Lantas ketentraman bangsa Indonesia yang sekarang ini tak pernah dirasakan karena apa ? Karena menyangkut masalah sara yang sangat sensitif jarang sekali orang yang berani secara terbuka mengungkapkannya. Ada sekelompok orang yang benci pada
negara asing malah menghadiahkan bom pada saudaranya sendiri. Tapi untunglah saudara tuanya ini sangat bijaksana tatkala musibah itu menimpa. Apa yang menyebabkan hal ini tidak lain adalah keyakinannya yang sudah sangat membumi akan hukum yang bekerja secara alamiah yaitu karmaphala.

Dalam Bhagawad Gita bagian Karma Yoga, ditegaskan empat hal pokok dalam mencapai kebahagiaan tertinggi.

Begitu pula di dunia ini ia tidak mempunyai perhatian sama sekali kepada hasil dari perbuatannya yang ia lakukan (1) dan juga kepada apa yang belum diperbuatnya (2), pun juga ia tidak bergantung kepada segala makhluk untuk kepentingannya sendiri (3). (Bh. G, III.18)

Dari itu bekerjalah kamu selalu yang harus dilakukan dengan tiada terikat olehnya (4), karena orang mendapat tujuannya yang tertinggi dengan melakukan pekerjaan yang tak terikat olehnya. (Bh. G, III.19)

Pokok-pokok pikiran yang disampaikan dalam kedua sloka di atas jelas menegaskan pada kita untuk tidak mengikatkan diri pada hasil dari apa yang sudah dan yang belum kita lakukan. Adalah sudah pasti hasil akan datang jika pekerjaan sudah dilakukan, dan adalah tidak etis menuntut sesuatu yang belum kita lakukan. Hal ini akan menimbulkan ketergantungan kita yang berlebihan pada orang lain. Jika sudah demikian tentu tiada bedanya kita dengan pengemis yang hanya meminta tanpa bekerja. Bekerjalah demi kerja itu sendiri, rame ing gawe sepi ing pamerih.

C. Tapa dalam Perbuatan
Karma dapat diterjemahkan dalam tiga kelompok, yaitu karma pikiran (manah), karma perkataan (wacika), dan karma perbuatan oleh anggota badan (kayika). Ketiga karma inilah yang menyebabkan manusia mampu menunjukkan diri tentang keberadaannya di alam semesta. Dengan berfikir manusia menyadari bahwa dirinya ada. Dengan kata-kata manusia mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, dengan perbuatan yang berupa gerak jasmani manusia mampu memenuhi keinginan keinginannya.

Setiap gerak atau perbuatan (karma) selalu menimbulkan akibat, subha karma adalah perbuatan baik, asubha karma adalah perbuatan buruk. Klasifikasi baik dan buruk hanya diberikan oleh manusia, sebab hanya manusialah yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Tentang hal ini kitab suci mengungkapkan:

Risakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang subhasubha karma, kuneng panentasakna ring subhakarma juga ikangasubhakarma, phalaning dadi wwang. (SS. 2).

Terjemahan:
Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melakukan perbuatan baik atau perbuatan buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Sebagaimana halnya manusia membedakan antara langit dan bumi, antara gelap dan terang, antara hitam dan putih, maka perbuatan dibedakan dalam baik dan buruk. Dualitas karma inilah yang membentuk alam semesta ini menjadi seimbang. Listrik memiliki
muatan positip dan negatif, jika salah satunya diputus maka lampu tidak akan menyala. Bahkan alam semesta inipun tercipta sebagai akibat dari kerja antara Purusa dengan Prakerti atau Cetana (kesadaran) dan Acetana (ketidaksadaran). Perpaduan yang dua menjadi satu inilah menimbulkan alam semesta dengan segala isinya. Dengan demikian maka perbuatan baik tidak akan pernah ada jika tidak ada perbuatan buruk.

Namun demikian kitab suci mengajarkan agar kita berbuat baik. Sebabnya adalah demikian:
Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, maka sadhanang subha karma hinganing kottamaning dadi wwang ika, (SS.4)

Terjemahannya:
Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Dengan sepenuhnya menyadarii bahwa setiap perbuatan dapat menimbulkan efek positif dan efek negatif maka agama Hindu mengajarkan karma patha yaitu sepuluh pengendalian hawa nafsu yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Adapun karmaphata diuraikan dalam Sarasamuscaya sloka 74, 75, dan 76.

Tindakan dari gerak pikiran terlebih dahulu akan dibicarakan, tiga banyaknya, perinciannya :
(1) tidak ingin dan dengki pada kepunyaan orang lain,
(2) tidak bersikap gemas kepada segala makhluk,
(3) Percaya pada kebenaran ajaran Karmaphala.
Itulah ketiganya prilaku pikiran yang merupakan pengendalian hawa nafsu. (SS. 74).
Inilah yang tidak patut timbul dan kata-kata, empat banyaknya, yaitu :
(1) Perkataan jahat,
(2) perkataan kasar rnenghardik,
(3) perkataan memfitnah,
(4) perkataan bohong (tak dapat dipercaya), itulah keempatnya yang harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan dipikir-pikir untuk diucapkan. (SS. 75)

Inilah yang tidak patut dilakukan:
(1) membunuh,
(2) mencuri,
(3) berbuat zina; ketiganya itu jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok-olok, bersenda gurau, baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat dalam khayalan sekalipun, hendaknya dihindari saja ketiganya itu. (SS. 76).

Adapun pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan kunci keberhasilan dari umat Hindu menuju Jagadhita-moksa. Menuju kebahagiaan jasmani dan rohani. Menuju kedamaian yang selama ini kita tinggalkan. Kita merasa mengejar “si damai” itu namun kita tak pernah sampai, karena lebih banyak menggunakan lidah daripada tindakan. Jika menginginkan kedamaian bertapalah dalam segala pikiran, kata dan laku, untuk meminimalkan segala kejahatan, segala keburukan segala yang tidak mengenakkan. Jika hal ini tidak dilaksanakan sebagai karma yoga, maka bersiaplah menuju Jagadbhuta-moha, sudah pasti hanya kehancuran, penderitaan dan kesengsaraan yang tiada akhir yang akan dijumpai.
WHD No. 437 Juli 2003.

LINGGA

6 Apr

Oleh: I Nyoman Dayuh, UNHI

Lingga merupakan lambang Dewa Siwa, yang pada hakekatnya mempuriyai arti, peranan dan fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat lampau, khususnya bagi umat manusia yang beragama Hindu. Hal ini terbukti bahwasanya peninggalan lingga sampai saat ini pada umumnya di Bali kebanyakan terdapat di tempat-tempat suci seperti pada pura-pura kuno. Bahkan ada juga ditemukan pada goa-goa yang sampai sekarang masih tetap dihormati dan disucikan oleh masyarakat setempat.

Di Indonesia khususnya Bali, walaupun ditemukan peninggalan lingga dalam jumlah yang banyak, akan tetapi masyarakat masih ada yang belum memahami arti lingga yang sebenarnya. Untuk memberikan penjelasan tentang pengertian lingga secara umum maka di dalam uraian ini akan membahas pengertian lingga, yang sudah tentu bersifat umum.

Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu (Zoetmulder, 2000 601).

Sedangkan pengertian yang umum ditemukan dalam Bahasa Bali, bahwa lingga diidentikkan dengan : linggih, yang artinya tempat duduk, pengertian ini tidak jauh menyimpang dari pandangan umat beragama Hindu di Bali, dikatakan bahwa lingga sebagai linggih Dewa Siwa.
Petunjuk tertua mengenai lingga terdapat pada ajaran tentang Rudra Siwa telah terdapat dihampir semua kitab suci agama Hindu, malah dalam berbagai penelitian umat oleh arkeolog dunia diketahui bahwa konsep tentang Siwa telah terdapat dalam peradaban Harappa yang merupakan peradaban pra-weda dengan ditemuinya suatu prototif tri mukha yogiswara pasupati Urdhalingga Siwa pada peradaban Harappa. (Agastia, 2002 : 2) kemudian pada peradaban lembah Hindus bahwa menurut paham Hindu, lingga merupakan lambang kesuburan.

Perkembangan selanjutnya pemujaan terhadap lingga sebagai simbol Dewa Siwa terdapat di pusat candi di Chennittalai pada sebuah desa di Travancore, menurut anggapan orang Hindu di India pada umumnya pemujaan kepada lingga dilanjutkan kepada Dewa Siwa dan saktinya (Rao, 1916 : 69). Di India terutama di India selatan dan India Tengah pemujaan lingga sebagai lambang dewa Siwa sangat populer dan bahkan ada suatu sekte khusus yang memuja lingga yang menamakan dirinya sekte linggayat (Putra, 1975 : 104).

Mengenai pemujaan lingga di Indonesia, yang tertua dijumpai pada prasasti Canggal di Jawa Tengah yang berangka tahun 732 M ditulis dengan huruf pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Siwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh raja Sanjaya (Soekmono, 1973 : 40). Dengan didirikannya sebuah lingga sebagai tempat pemujaan, sedangkan lingga adalah lambang untuk dewa Siwa, maka semenjak prasasti Canggal itulah mulai dikenal sekte Siwa (Siwaisme), di Indonesia. Hal ini terlihat pula dari isi prasasti tersebut dimana bait-baitnya paling banyak memuat/berisi doa-doa untuk Dewa Siwa.

Dalam perkembangan berikutnya tradisi pemujaan Dewa Siwa dalam bentuk simbulnya berupa lingga terlihat pula pada jaman pemerintahan Gajayana di Kanjuruhan, Jawa Timur. Hal tersebut tercantum dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M isi prasasti ini antara lain menyebutkan bahwa raja Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan Dewa Agastya. Bangunan suci yang dihubungkan dengan prasasti tersebut adalah candi Badut yang terdapat di desa Kejuron. Dalam candi itu ternyata bukan arca Agastya yang ditemukan melainkan sebuah lingga. Maka disini mungkin sekali lingga merupakan Lambang Agastya yang memang selalu digambarkan dalam Sinar Mahaguru. (Soekmono. 1973 : 41-42).

Peninggalan Arkeolog dari jaman Majapahit ialah di Sukuh dan Candi Ceto dari abad ke-15 yang terletak dilereng Gunung Lawu daerah Karanganyar Jawa Tengah. Pada puncak candi ini terdapat lingga yang naturalis tingginya 2 meter dan sekarang disimpan di museum Jakarta. Pemujaan lingga di candi ini dihubungkan dengan upacara kesuburan (Kempers, 1959 102).

Berdasarkan kenyataannya yang ditemui di Bali banyak ditemukan peninggalan lingga, yang sampai saat ini lingga-lingga tersebut disimpan dan dipuja pada tempat atau pelinggih pura. Mengenai kepercayaan terhadap lingga di Bali masih hidup di masyarakat dimana lingga tersebut dipuja dan disucikan serta diupacarai. Masyarakat percaya lingga berfungsi sebagai tempat untuk memohon keselamatan, kesuburan dan sebagainya. Mengenai peninggalan lingga di Bali banyak ditemui di pura-pura seperti di Pura Besakih, Pura-pura di Pejeng, di Bedahulu dan di Goa Gajah.

Petunjuk yang lebih jelas lagi mengenai lingga terdapat pada kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung. Di dalam lingga purana disebutkan sebagai berikut:
”Pradhanam prartim tatca ya dahurlingamuttaman. Gandhawarna rasairhinam sabdasparsadi warjitam”.

Artinya:
Lingga awal yang mula-mula tanpa bau, warna, rasa, pendengaran dan sebagainya dikatakan sebagai prakrti (alam).

Jadi dalam Lingga Purana, lingga merupäkan tanda pembedaan yang erat kaitannya dengan konsep pencipta alam semesta wujud alam semesta yang tak terhingga ini merupakan sebuah lingga dan kemaha-kuasaan Tuhan. Lingga pada Lingga Purana adalah simbol Dewa Siwa (Siwa lingga). Semua wujud diresapi oleh Dewa Siwa dan setiap wujud adalah lingga dan Dewa Siwa.

Kemudian di dalam Siwaratri kalpa disebutkan sebagai berikut:”Bhatara Siwalingga kurala sirarcanam I dalem ikang suralaya”.

Artinya:
Selalu memuja Hyang Siwa dalam perwujudan-Nya “Siwalingga” yang bersemayam di alam Siwa.

Jadi lingga merupakan simbol Siwa yang selalu dipuja untuk memuja alam Siwa. Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Siwa.

Bentuk Lingga
Haryati Subadio dalam bukunya yang berjudul : “Jnana Siddhanta” dengan mengambil istilah Atmalingga dan Siwalingga atau sering disebut stana dan pada Dewa Siwa atau sering disebut sebagai  ymbol kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Jnana Siddhanta disebutkan:
“Pranalo Brahma visnus ca Lingotpadah Siwarcayet”.

Artinya:
Salurannya ialah Brahma dan Visnu dan penampakan lingga dapat dianggap sebagai sumber siwa.

Dalam bahasa sansekerta pranala berarti saluran air, pranala dipandang sebagai kaki atau dasar lingga yang dilengkapi sebuah saluran air. Dengan istilah lingga pranala lalu di maksudkan seluruh konstruksi yang meliputi kaki dan lingga, jadi lingga dan yoni. Kemudian lingga yoni, berkaitan dengan tri purusa yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, di mana Siwa dinamakan lingga sedangkan Brahma, dan Wisnu bersama-sama dinamakan pranala sebagai dasar yaitu yoni. Sebuah lingga berdiri.

Sesuai dengan uraian di atas lingga mempunyai bagian-bagian yang sangat jelas. Pembagian lingga berdasarkan bentuknya terdiri atas: dasar lingga paling bawah yang pada umumnya berbentuk segi empat yang pada salah satu sisinya terdapat carat atau saluran air bagian ini disebut yoni. Di atas yoni yang merupakan bagian lingga paling bawah berbentuk segi empat disebut dengan Brahma Bhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnu Bhaga, sedangkan bagian atas berbentuk bulatan yang disebut Siwa Bhaga. Jadi bentuk lingga menggunakan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) ketiga bagian lingga tersebut kiranya dapat disamakan dengan konsepsi Bhur Bwah Swah.

Lingga pada umumnya diletakkan di atas lapik yang disebut pindika atau pitha. Bentuk lapik ini biasanya segi empat sama sisi, segi empat panjang, segi enam, segi delapan, segi dua belas, bulat, bulat telur, setengah bulatan, persegi enam belas dan yang lainnya. Yang paling sering dijumpai adalah Lapik yang berbentuk segi empat (Gopinatha Rao, 1916 :99).

Mengenai bentuk-bentuk dan puncak lingga ada banyak ragam antara lain : berbentuk payung (chhatrakara), berbentuk telur (kukkutandakara), berbentuk buah mentimun (tripusha kara), berbentuk bulan setengah lingkaran (arddhacandrakara), berbentuk balon (budbudhasadrisa) (Gopinatha Rao, 1916 : 93).

Jenis-Jenis Lingga
Berdasarkan penelitian dan TA. Gopinatha Rao, yang terangkum dalam bukunya berjudul “Elements Of Hindu Iconografi Vol. II part 1” di sini beliau mengatakan bahwa berdasarkan jenisnya Lingga dapat dikelompokkan atas dua bagian antara lain :
– Chalalingga
– Achalalingga

Chalalingga adalah lingga-lingga yang dapat bergerak, artinya lingga itu dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengurangi suatu arti yang terkandung. Adapun yang termasuk dalam kelompok lingga ini adalah:
a. Mrinmaya Lingga
Merupakan suatu lingga yang dibuat dari tanah liat, baik yang sudah dibakar. Dalam kitab Kamikagama dijelaskan bahwa pembuatan lingga ini berasal dari tanah liat putih dan tempat yang bersih. Proses pengolahannya adalah tanah dicampur susu, tepung, gandum, serbuk cendana, menjadi adonan setelah beberapa lama disimpan lalu dibentuk sesuai dalam kitab agama.
b. Lohaja Lingga
Yaitu suatu lingga yang terbuat dari jenis logam, seperti : emas, perak, tembaga, logam besi, timah dan kuningan.
c. Ratmaja Lingga
Yaitu lingga yang terbuat dan jenis batu-batuan yang berharga seperti, permata, mutiara, kristal, jamrud, waidurya, kwarsa.
d. Daruja Lingga
Yaitu lingga yang terbuat dari bahan kayu seperti kayu sami, tinduka, karnikara, madhuka, arjuna, pippala dan udumbara. Dalam kitab Kamikagama disebutkan juga jenis kayu yang digunakan yaitu khadira, chandana, sala, bilva, badara, dan dewadara.
e. Kshanika Lingga
Yaitu lingga yang dibuat untuk sementara jenis-jenis lingga ini dibuat dari saikatam, beras, nasi, tanah pekat, rumput kurcha, janggery dan tepung, bunga dan rudrasha.

Sedangkan yang dimaksud dengan Achala lingga, lingga yang tidak dapat dipindah-pindahkan seperti gunung sebagai linggih Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari. Di samping itu pula lingga ini biasanya berbentuk batu besar dan berat yang sulit untuk dipindahkan.

I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya berjudul : “Cudamani, kumpulan kuliah-kuliah agama jilid I”, menjelaskan bagian lingga atas bahan yang digunakan. Beliau mengatakan lingga yang dibuat dari barang-barang mulia seperti permata tersebut spathika lingga, lingga yang dibuat dari emas disebut kanaka lingga dan bahkan ada pula dibuat dari tahi sapi dengan susu disebut homaya lingga, lingga yang dibuat dari bahan banten disebut Dewa-Dewi, lingga yang biasa kita jumpai di Indonesia dari di Bali khususnya adalah linggapala yaitu lingga terbuat dari batu.

Mengenai keadaan masing-masing jenis lingga T.A. Gopinatha Rao dalam bukunya berjudul “Elements of Hindu Iconografi Vol. II part I” dapat dijelaskan, sebagai berikut:

a. Svayambhuva lingga. Dalam mitologi, lingga dengan sendirinya tanpa diketahui keadaannya di bumi, sehingga oleh masyarakat lingga yang paling suci dan lingga yang paling utama (uttamottama).
b. Ganapatya lingga. Lingga ini berhubungan dengan Ganesa, Ganapatya lingga yaitu lingga yang berhubungan dengan kepercayaan dibuat oleh Gana (padukan Dewa Siwa) yang menyerupai bentuk mentimun, sitrun atau apel hutan.
c. Arsha lingga. Lingga yang dibuat dan dipergunakan oleh para Resi. Bentuknya bundar dengan bagian puncaknya bundar seperti buah kelapa yang sudah dikupas.
d. Daivika lingga. Lingga yang memiliki kesamaan dengan Ganapatya lingga dan arsha lingga hanya saja tidak memiliki brahma sutra (selempang tali atau benang suci, dipakai oleh brahman).
e. Manusa lingga. Lingga yang paling umum ditemukan pada bangunan suci, karena langsung dibuat oleh tangan manusia, sehingga mempunyai bentuk yang bervariasi. Lingga ini umumnya mencerminkan konsep tri bhaga yang Brahma bhaga (dasar), Wisnu bhaga (badan) dan Rudra bhaga (puncak). Mengenai ukuran panjang maupun lebar menyamai pintu masuk tempat pemujaan utama.• WHD No. 437 Juli 2003

MAKNA GALUNGAN DAN KUNINGAN

6 Apr

Galungan adalah hari raya suci Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara. Umat Hindu dengan penuh rasa bhakti melaksanakan rangkaian hari raya suci Galungan dan Kuningan dengan ritual keagamaan. [ Oleh : I Nyoman Dayuh, (UNHI – Dps)]

Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :

“Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya”.

Artinya:

“Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka”.
Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.
Macam – Macam Galungan

A. Galungan

Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.

B. Galungan Nadi

Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.

C. Galungan Naramangsa.

Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.

Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan

Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.

Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.

Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.
Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, “matutur ikang atma ri jatinya” (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).

Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.

Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :

“Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika”.

Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.

Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :

“Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan”.

Artinya:

Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.

Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).

sumber: http://www.parisada.org

Ayur Weda

5 Apr

Rasa, Wirya, Wipaka dan Dhatu Rasa, Wirya, Wipaka dan Dhatu Oleh : Ngurah Nala (Universitas Hindu Indonesia)

Menurut Ayurveda, sari makanan tidak hanya terletak pada mudahnya dibakar (metabolisme) untuk menghasilkan energi atau substansi vital, tetapi juga di dalam hal kualitasnya. Kualitas ini menyangkut masalah rasa, virya, vipaka dan dhatu. Masalah kualitas ini perlu diketahui secara mendalam oleh para vaidhya atau balian untuk memudahkan memahami efek sebuah obat atau makanan di dalam tubuh yang diberikan kepada pasien. Ada empat hal yang perlu mendapat perhatian, yakni rasa, wirya, wipaka, dan dhatu. Rasa, Wirya, Wipaka dan Dhatu Oleh : Ngurah Nala (Universitas Hindu Indonesia)

Menurut Ayurveda, sari makanan tidak hanya terletak pada mudahnya dibakar (metabolisme) untuk menghasilkan energi atau substansi vital, tetapi juga di dalam hal kualitasnya. Kualitas ini menyangkut masalah rasa, virya, vipaka dan dhatu. Masalah kualitas ini perlu diketahui secara mendalam oleh para vaidhya atau balian untuk memudahkan memahami efek sebuah obat atau makanan di dalam tubuh yang diberikan kepada pasien. Ada empat hal yang perlu mendapat perhatian, yakni rasa, wirya, wipaka, dan dhatu. Rasa Rasa ini berada di dalam tumbuhan, yang dapat dirasakan atau diketahui melalui panca indera lidah. Dikenal ada enam buah rasa yang dapat diindera oleh lidah. Keenam, rasa tersebut adalah manis (swadu), asin (lawana), pedas (kaktu), masam (amla), sepet (ksaya, kasaya), dan pahit (tikta). Masing-masing dari rasa ini memiliki tingkatan atau kualitas dalam hal rasanya. Dalam menentukan kualitas atau tingkatan rasa ini amat tergantung kepada pengalaman masing-masing individu. Kualitas dan rasa ini amat tergantung kepada pengalaman masing-masing individu. Kualitas dan rasa ini diperoleh melalui nasa atau kecap oleh lidah, sebagai indra pengecap. Kualitas nasa manis (swadu) pada sebuah jeruk ditentukan sekali oleh pengalaman kita dalam mencicipi beberapa rasa buah jeruk sebelumnya.

Kita dapat membandingkannya apabila sudah pernah merasakan rasa manis buah jeruk tersebut. Apabila kita mengatakan bahwa mangga arum manis lebih manis dan mangga manalagi, berarti kita sudah pernah mencicipi kedua buah mangga tersebut. Berdasan pengalaman tensebut, kita dapat mernbandingkannya dan berani mengatakan bahwa mangga arum manis lebih manis dari mangga manalagi. Jika kita tidak pernah mencicipi salah satu atau kedua mangga tersebut tentunya tidak mungkin untuk menarik simpulan dalam perbandingan kualitas rasa manisnya kedua buah mangga tersebut. Demikian pula halnya dengan nasa tikta atau pahit pada daun sambiloto dibandingkan dengan pahitnya rasa buah paya (priya). Rasa pahit pada daun sambiloto lebih tinggi kualitasnya dan pahitnya buah paya. Daun sotong atau jambu biji rasanya lebih kasaya atau sepet dari buah pisang mentah. Inilah yang dimaksudkan dengan kualitas dari rasa tersebut. Jenis “sari kecap”, inti sari rasa pengecapan seperti ini di dalam Ayurweda disebut rasa. Rasa merupakan pengalaman yang did apat melalui pengeca pan yang dirasakan di lidah. Keadaan ini dapat disamakan dengan efek obat di dalam tubuh pemakainya.

Berbagai obat memiliki efek atau kualitas tertentu setelah masuk ke dalam tubuh manusia. Kualitas efek dari obat panas (anget) yang satu akan berlainan efeknya Wipaka dibandingkan dengan kualitas obat panas lainnya. Demikian pula dengan efek berbagai obat lainnya erhadap kemampuan tubuh manusia. Ada orang yang tubahnya mudah dapat mcnerima kualitas efek obat walaupun kandungan rasanya rendah, sehingga cepat sernbuh. Tetapi ada pula orang yang agak lambat dalam menerima kualitas efek obat setelah masuk ke dalam tubuhnya, sehingga agak terlambat pula proses penyembuhannya. Wirya Wirya adalah potensi obat yang berada di dalam tubuh manusia. Misalnya kemampuan untuk memanaskan tubuh, mendinginkan tubuh, menurunkan unsur tn dosha (vatta, pitta, kapha), merangsang pencernaan, melawan pernyakit, dan sebagainya. Kemampuan obat setelah berada di dalam tubuh manusia ini disebut wirya.

Berdasarkan atas banyaknya kandungart potensinya, menurut kitab Ayurveda dikenal ada dua tipa wirya atau potensi yang ada di dalam obat, yakni wirya 2- tipe dan wirya 8-tipe.

1. Wirya2 – tipe, terdiri atas : 1). panas (usna), dan 2) dingin (sita) 2. Wirya 8 – tipe, yaitu: 1). dingin (sita), 2). panas (usna), 3). berlemak (snigdha), 4) kering (ruksa), 5) berat (guru), 6). ringan (laghu), 7). lamban (manda), dan 8). tajam (tiksna). Wirya atau potensi inilah yang merupakan sifat paling aktif yang berada di dalam obat. Kuat lemahnya efek suatu obat tergantung sekali pada wirya yang dikandungnya. Berbagai jenis obat untuk mengobati satu jenis penyakit, ampuh tidaknya ditentukan oleh besar kecilnya kandungan wirya atau sifat aktif yang terdapat di dalam masing-masing obat tersebut. Wipaka adalah “rasa yang muncul setelah dicerna”. Selama proses pencernaan berlangsung di saluran pencernaan, mulai dan mulut, lambung sampai di usus, makanan mengalami perubahan melalui tiga tahapan, akibat adanya reaksi dan enzim (agni) yang ada di dalam saluran alat pencernaan. 1. Produk pada tahap I adalah manis (svadu). Nasi yang dikunyah di dalarn mulut yang semula rasanya hambar, kemudian menjadi manis (svadu). Unsur karbohidrat yang berada di dalam nasi, yang semula rasanya hambar setelah diubah oleh enzim (agni) di dalarn mulut menjadi glukose yang rasanya manis. 2. Produk pada tahap II adalah masam (amla). Setelah nasi tersebut ditelan, maka di dalam lambung akan mengalami proses pencernaan lagi. Di dalam lambung terdapat agni atau enzirn asam. Produk yang dihasilkan dan proses pencernaan ini rasanya adalah asam (amla). 3.

Produk pada tahap III adalah pedas (katu) Dan lambung nasi tersebut yang telah menjadi asam akan masuk ke dalam usus. Di usus akan mengalami proses pencernaan lagi, dan rasanya menjadi pedas (katu). Ketiga rasa ini dapat dikecap atau dirasakan ketika kita muntah. Ada rasa manis, asam dan pedas dan muntahan tersebut. Rasa ini muncul akibat adanya agni atau enzim dalam tubuh dan perubahan yang terjadi pada makanan. Pada uraian terdahulu dapat aisimak bagaimana hiibungan antara rosa, mahabhula, tri dosha, efek metabolik, wirya (kedua tipe) dan wipaka. Di dalam kaitan ini dapat dilihat, ada dua unsur mahabhuta bersatu atau membuat suatu ikatan, sehingga menghasilkan masing-masing sebuah rasa (sad rasa = enam rasa).

Misalnya : 1. manis / svadu = prthiwi + jala 2. masam / amla = jala + teja 3. asin / lavana = prthiwi + teja 4. pedas / katu = wayu + teja 5. pahit / tikta = wayu + akasa 6. sepet / kasaya = wayu + prthiwi Rasa manis atau svadu timbul atau muncul akibat persenyawaan antara dua unsur panca mahabhuta, yakni unsur prthiwi (tanah) dengan jala (air). Rasa manis (svadu), asin (lavana), dari sepet (kasaya) mengandung unsur prthiwi. Unsur prthiwi (tanah) berada di dalam ketiga rasa tersebut.

Dhatu bermakna : “sesuatu yang masuk ke dalam formasi struktur dasar tubuh secara keseluruhan” atau yang mempertahankan tubuh. Dhatu inilah yang menjadikan adanya kekuatan di dalam kulit, otot, tulang, otak, saraf, paru, jantung, hati, ginjal, darah dan seterusnya. Dengan adanya dhatu, kulit menjadi hidup dan dapat berfungsi sebagai alat peraba panas dingin, kasar halus, sakit atau tidak. Otot dapat berkontraksi dan berelaksasi sehingga manusia dapat bergerak. Dhatu di dalam saraf menyebabkan saraf dapat menyalurkan informasi dan luar ke otak atau sebaliknya dan otak ke bagian tubuh.

Berdasarkan hal ini, maka dhatu dikenal sebagai dasar elemen jaringan. Disebut juga sapia dhatu atau tujuh unsur elemen tubuh yang berada di dalam tubuh manusia. Ketujuh dhatu itu terdiri atas kelima unsur mahabhuta (akasa, teja, bayu, apah perthiwi). Tetapi di dalam hal unsur tri dosha, hanya ada satu atau dua unsur mahabhuta yang dominan pada salah satu dhatu. Dhatu tersebut berfungsi untuk memelihara serta mempertahankan tubuh. Seluruh tubuh terdiri atas dhatu. Dengan mengenal rosa, wirya, wipaka, serta dhatu yang ada di dalam makanan maupun obat akan lebih memudahkan dalam memilih dan memilah makanan atau obat apa yang harus dikonsumsi agar badan tetap sehat dan berumur panjang (swashtya). WHD No. 511 Juli 2009.