Berburu Permata di Kaki Sang Dewi Saraswati


Oleh : I Gede Adnyana (Alumnus Fak. Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia Denpasar) Om Awignamastu Om Brahma Putri Mahadewi Ledang Hyang Ibu malingga Maring Padma Hredayan Ingsun Lugra yang Ingsung ngastawa Ngawacen nyakalayang sastra maka sadhana ning lepas luput saking kali sanghara setata eling ring diri Petikan bait kidung Saraswati (reng rejani) karya Drs. I Wayan Sukayasa (dosen sastra Jawa Kuno Universitas Hindu Indonesia) di atas memang belum begitu memasyarakat. Namun yang paling penting dan kidung di atas adalah nilai religius yang terkandung di dalamnya, yang tidak lain adalah berupa pujian sekaligus permohonan pada Sang Hyang Aji Saraswati. Pujian tentang keagungan ilmu pengetahuan yang tercetus dan rasa bhakti yang mendalam yang tertuang dalam nyanyian disertai permohonan. Karya sastra kidung adalah salah satu warisan yang sangat berperan dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan, yang hingga dewasa ini masih populer dalam masyarakat Hindu di Bali. Dewi Saraswati, Sang penguasa Ilmu Pengetahuan memang senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi para kawi dan waktu ke waktu. Setiap orang berusaha menyanjung dan memuja keagungan-Nya terutama melalui karya sastra, baik Kekawin, Kidung, Palawakya dan bentuk-bentuk karya sastera lainnya. Tak ketinggalan para seniman, pemahat maupun pelukis berusaha memberikan wujud yang seindah mungkin melalui karya-karyanya. Apakah yang dicari dan diperoleh dari pemujaan pada Sang Dewi? Permata Sejati Anugrah Sang Dewi Saraswati Semenjak mariusia mengenal tulisan, berbagai karya sastra ber munculan. Pada urnumnya karya-karya sastra tersebut menguraikan tentang sesuatu yang Agung, yang bersumber dan sistem relegi atau kepercayaan. Dalam Agama Hindu Dewi Saraswati lah yang dipercayai sebagai Dewi yang menurunkan ilmu Pengetahuan. Karena itulah umat Hindu memuja-Nya dengan harapan akan mendapatkan anugerah berupa kecerdasan ataukepandaian dan kecemerlangan pikiran yang dapat menuntun seseorang dalam meningkat.kan kehidupannya. Di Bali, umat Hindu memuja Dewi Saraswati sebagai ”Dewaning Sastera”, karena itu pada setiap Hari Saraswati atau Saniscara Umanis wuku Watugunung lontar-lontar atau kitab-kitab ditata, dibersihkan dan dihaturkan upakara sebagai wujud bhakti pada penguasa ilmu pengetahuan. Ritual ini membuktikan betapa besar perhatian umat Hindu pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah sesungguhnya yang merupakan permata sejati anugrah Sang Dewi Saraswati, dan bukanlah batu permata yang banyak diperebutkan orang sebagai hiasan. Dalam Mahanirwana Tantra dikatakan bahwa hanya orang bodohlah yang menganggap batu-batu indah sebagai permata. Sementara tentang keunggulan Ilmu pengetahuan dalam Parwa Tantri Kamandaka menyebutkan : ”……..wenang ika makadona wisudhina brahmana pitwi. Mwang ikang kawijayan sang Prabu (Dapat dijadikan sarana untuk mewisuda seorang brahmana sekalipun, juga untuk keberhasilan seorang raja). Sebagaimana diketahui karya sastra Tantri merupakan sebuah karya sastra yang sangat populer dalam masyarakat Hindu di Bali, karena itu dalam lingkungan “pesantian” dikenal istilah “Nantri”. Dalam Kidung Tantri disebutkan pula bahwa isi dan Tantri adalah ajaran Tantra dan Niti sastra. Dua ajaran pokok inilah yang merupakan permata dalam Cerita Tantri, yang hanya dapat diperoleh jika seseorang berusaha menyelam dan terus mencarinya dalam lautan Sastra. Ilmu pengetahuan jauh lebih indah dari permata manapun. Seperti yang diuraikan dalam kutipan kidung Saraswati di atas bahwa karya sastera merupakan sadhana untuk mencapai kelepasan” atau moksa. Hal senada dapat dilihat dalam lontar Wrhaspati Tattwa sebagai berikut: ”Ikang kinahan dening samyajnana, sira ta rasika lewih, apan sira umangguhaken kamoksan, tan pangjanma muwah, kinahan dening Cadusakti, ya ta sinangguh teka ring janmawasana ngaranya, unulih ring siwapada, Cetana nira satmaka lawan Bhatara”. (Orang yang memiliki pengetahuan yang benar sangat utama, karena ia mencapai moksa, tidak menjelma kembali, dan mendapat empat kekuatan. Ia disebut Janmavasana, sampai pada akhir kelahiran. Ia kembali ke alam Siwa. Kesadarannya menyatu dalam Tuhan). Demikianlah Wrhaspati-Tattwa menguraikan tentang buah dan Jnana atau pengetahuan yang merupakan Sadhana dalam meiicapai kebahagiaan abadi. Terbebas dan belenggu kelahiran yang berulang kali sungguh merupakan satu kebahagiaan yang amat sulit diperoleh. Hanya pada orang yang “Amuter Tutur” atau memutar kesadaran sajalah Sang Dewi memberi anugrah permata sejati. Karya Sastra : “Jembatan Menuju Tutur” “Tutur” yang dalam bahasajawa kuno berarti “kesadaran”, inilah yang senantiasa diulas dalam berbagai karya sastra jawa kuno. Sebuah kesadaran akan adanya sesuatu yang merupakan hakikat tertinggi. Apakah hakikat tertinggi itu? Whraspati-Tattwa maupun Tattwa Jnana menguraikan bahwa hakikat tertinggi adalah Cetana dan Acetana atau kesadaran dan ketidaksadaran. Cetana bersifat hening terang penuh dengan kesadaran sedangkan Acetana adalah gelap, tidak tahu dan tanpa kesadaran. Pertemuan Cetana dan Acetana inilah yang menyebabkan adanya ciptaan. Bertemunya Cetana dan Acetana menyebabkan menurunnya kesadaran Siwa dan termanifestasikan menjadi Dewa, Manusia, Hewan dan tumbuh-tumbuhan serta segala yang ada termasuk bumi dan alam semesta. Adanya perbedaan diantara segala yang ada, adalah sebagai akibat dari komposisi yang berbeda dari Triguna yang muncul dari Pradanatattwa, yang berasal dari Acetana. Inilah bibit badan Jasmani, yang nantinya membungkus kesadaran atma sehingga penampakannya berbeda, “Sarwam Khalu Idham Brahman“, segalanya serba Tuhan. Untuk mengetahui hakikat yang tertinggi sungguh sangat sulit, dan mustahil jika tanpa anugrah Yang Maha Kuasa. Ilmu pengetahuan kerohanian dapat melebur dosa seseorang dan membebaskan ia dari belenggu kelahiran yang berulang kali hanya jika dengan ilmu pengetahuan itu seseorang menemukan kesadaran sejati. Dalam Wrhaspati Tattwa disebutkan “Yan Matutur Ikang atma ni jatinia” (Jika sang Atma sadar akan jati dirinya). Sastra dapat menjadi jembatan dan kegelapan atau ketidaksadaran menuju pada kesadaran. Kesadaran bahwa segalanya adalah Brahman, bahwa “Aku” adalah “Aku”. Jika diibaratkan bagai seorang bintang Film yang memainkan banyak peran tetapi sekaligus sebagai sang sutradara. Disaat harus bermain maka ia akan berusaha menjadi pemain yang baik namun ia tidak larut dalam permainan itu karena setiap saat ia dapat menarik pikirannya menuju pada kesadaran. Atau dapat pula diibaratkan bagaikan Sang Dalang dan Wayang. Wayang akan hidup jika sang dalang membutuhkan tokoh tersebut untuk melengkapi cerita. Tetapi begitu sang wayang selesai dalam tugasnya maka ia akan dikembalikan pada tempatnya. Karena itulah sesungguhnya antara pencipta dan ciptaan adalah satu kesatuan yang utuh. “Tutur” adalah adanya kesadaran bahwa sang atma adalah juga Brahman. Dalam tingkat ini seseorang telah memperoleh kesadaran bahwa bekerja itu adalah merupakan suatu kewajiban demi untuk pekerjaan itu sendiri. Seorang tukang jagal yang menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang penjagal akan lebih berarti daripada seorang Pendeta atau Brahmana yang masih mengharapkan hasil dari perbuatannya. Karena itu keadaan moksa itu dapat dicapai oleh setiap orang dan golongan manapun. Setiap umat Hindu tidak perlu berlomba-lomba menjadi seorang Brahmana atau menunjukkan diri sebagai wangsa yang lebih tinggi di antara wangsa lainnya. Karena hadirnya moksa itu tidak pernah memilih orang-orang yang berstatus tinggi. Moksa akan dapat dicapai jika seseorang memiliki kesadaran yang tinggi. Jika catur warna itu diibaratkan sebagai satu sosok manusia maka tidak ada yang tidak berguna. Kepala yang tanpa anggota badan bagaimana ia akan ,berbuat sesuatu, demikian pula sebaliknya Karena itu kesadaran akan kewajiban sebagai manusia yang merupakan dharma itu menjadikan seseorang pemain sepak bola maka nikmatilah pekerjaan anda, jika anda menjadi seorang pedagang jadilah pedagang yang baik dengan menerapkan prinsip-prinsip dan hukum ekonomi, jika anda menjadi prajurit maka jadilah prajurit yang gagah berani, jadilah diri anda sendiri maka dengan demikian anda akan menemukan kebahagiaan. Demikian besar karunia Sang Dewi Saraswati yang memberikan anugrah permata sejati bagi orang yang “Jagra” atau berusaha tanpa lelah bersujud di kakinya menggali ilmu pengetahuan melalui sastera, Jika rasa bhakti itu telah demikian mendalam maka yakinlah permata kesadaran itu akan datang dengan sendirinya. Bagai memisahkan kandungan garam dalam air laut. Panaskanlah air yang merupakan selubung kegelapan dengan api dari ilmu pengetahuan rohani hingga kristal garam yang merupakan kesadaran sang atma itu muncul. Dan setelah anda memilikinya mungkin tidak pernah terbersit dalam pikiran anda untuk kembali ke Weda, karena semangat dan Weda itu sesungguhnya akan anda sadari telah benar-benar tertuang dalam ajaran Hindu yang ada di Bali. Bagaimana mungkin anda akan kembali jika tidak pernah pergi ? Om Saraswati Namo stute.•WHD No. 426 Agustus 2002.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s