Saraswati Puja Dan Masyarakat Modern


Bandhu & Molik

Mimbar TVRI Kalimantan Timur

I Gede Adnyana, S.Ag

Tanggal 18 nJuli 2009

Pada tanggal 1 Agustus 2009 nanti kita merayakan hari suci Saraswati, yang merupakan hari turunnya ilmu pengetahuan suci Weda. Hari yang amat penting untuk direnungkan bagi umat Hindu.

1. Mohon dijelaskan apa yang dimaksud dengan Saraswati Dyanam!

Ada dua kata yang perlu kita cermati:

a. Saraswati terdiri dari saras yang artinya mengalir dan wati yang menunjukkan kepemilikkan. Jadi saraswati artinya yang memilki sifat mengalir. Dalam hal ini da dua yang memilki sifat mengalir yaitu air dan Ilmu pengetahuan.

b. Dyanam adalah bagian dari Astangga Yoga atau delapan fase atau tahapan Yoga yaitu: Yama, Niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan Samadhi. Dyana artinya posisi pikiran yang kokoh yang tak tergoyahkan oleh pengaruh indriya-indriya.

c. Saraswati Dhyanam memiliki makna mengalirkan pengetahuan untuk memperkokoh pikiran agar tak terguncangkan oleh pengaruh indriya-indriya.

2. Tadi dijelaskan bahwa pengetahuan itu memperkokoh pikiran. Bagaimanakah korelasi antara pengetahuan dan kokohnya pikiran itu!

Pengetahuan didunia ini dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

a. Para Widya adalah pengetahuan rohani atau pengetahuan agama yang amat berguna sebagai tuntunan hidup guna mencapai tujuan hidup manusia yang hakiki.

b. Apara widya adalah pengetahuan duniawi yang amat berguna bagi umat manusia untuk betahan hidup didunia ini.

Keseimbanngan keduanya merupakan kunci kokohnya pikiran guna mencapai hidup bahagia di dunia ini maupun secara niskala/ akhirat. Kedua pengatahuan ini sering disebut dengan gelar pati dan gelar urip.

3. Bagaimana cara memperoleh pengetahuan baik para widya dan apara widya dalam ajaran agama Hindu!

Pengetahuan bisa diperoleh dengan tiga cara yaitu :

a. Pratyaksa dengan pengamatan langsung.

b. Anumana yaitu dengan menganalisa kejadian atau fenomena yang ada.

c. Agama yaitu melalui buku-buku dan guru-guru

Agar mampu menampung pengetahuan maka pikiran harus dikosongkan terlebih dahulu. Ibarat cangkir yang penuh maka tak mungkin diisi lagi, jika tidak dikosongkan.

4. Pengosongan pikiran tidaklah mudah, apalagi pikiran itu amat sulit dikendalikan, bagaimana harus memulai pengosongan pikiran!

a. Kita harus disadari bahwa pikiran terdiri dari Noda-noda batin. Lima Noda batin yang merupakan sumber penderitaan adalah:

1. Avidya — kebodohan batiniah: memandang kekal yang tak-kekal, murni yang tak murni;

2. Asmita — egoisme;

3. Raga —keterikatan atau kecintaan;

4. Dvesha —ke-engganan, penolakan atau kebenciaan; dan

5. Abhinivesha —keterikatan yang kuat pada kehidupan rendah, yang menimbulkan ketakutan yang amat sangat pada kematian.

b. Setelah mengetahui noda pikiran lakukan Pranayama, Kirtan dan Japa. Pada mereka Raga dan Dvesha mulai menipis; kondisi inilah yang dinamakan Tanu Avastha.

c. Mulailah dari keluarga kecil terlebih dahulu, jangan berharap instan mendapatkan hasil dari pranayama, kirtan dan japa.

5. Ketika pengetahuan itu mengalir dalam diri seseorang, apa yang akan diperoleh sebagai imbalan?

Kitab Manawa Dharma Sastra V. 109 menyatakan sebagai berikut:

adbhirgatrani suddhyanti

manah satyena suddhyati

vidyatapobhyam bhutãtma

buddhir jnanena suddhyati

Terjemahan

tubuh dibersihkan dengan air,

pikiran disucikan dengan kebenaran,

jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata,

kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.

6. Adakah hubungan antara saraswati Dhyanam dengan Simbol-simbol atribut Dewi Saraswati?

a. Dengan Saraswati Dhyanam kita diajak merenungkan secara mendalam dalam diri kita yang sejati dengan keheningan. Jika perayaan tahun baru saka kita diajak berhenti berkatifitas secara total, maka pada saat Sarawati kita ajak untuk melakukan bratha Sarasawati, yaitu tidak membaca minimal selama setengah hari dari pagi sampai tengah hari. Waktu ini dimanfaatkan untuk merenung seberapa dalam, seberapa kuat kita meraih pengetahuan sebagai pencerahan.

b. Tanyakan pada diri kita apakah kita sudah bijaksana dalam mengarungi kehidupan ini laksana angsa? Apakah kita terus belajar agar lebih baik laksana genitri? Apakah kita berusaha meraih kesucian hidup laksana teratai? Apakah kita telah menekan sifat ego kita laksana merak? Apakah kita mengamalkan ajaran pengetahuan yang kita peroleh laksana keropak? Apakah telah membuat diri kita berguna dan menrik bagi kehidupan ini laksana dewi yang cantik?

7. Dalam perayaan Saraswati nanti apakah yang harus umat Hindu lakukan guna mencapai kedamaian hidup.

a. Saraswati hendaknya dimaknai sebagai hari pencerahan terhadap gelapnya pikiran manusia yang dibungkus awidya. Pencerahan tidak bias ditunggu tapi diraih dengan jalan yang jumlahnya empat atau catur marga: Bhakti, Karma, Jnana & raja marga.

b. Melakukan Saraswati Dyanam atau selalu bermeditasi pada Saraswati. Hal ini dapat dilakukan baiknya pada pagi hari pada saat saraswati Hingga Minggu paing Sinta pada saat Banyu pinaruh.

c. Hargai dan carilah terus pengetahuan itu guna meningkatkan kwalitas hidup dan kehidupan. Hidup yang berkwalitas adalah hidup yang bijaksana. Kebijaksanaan mendatangkan kedamaian yang didambakan setiap insan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s