THEOLOGI HINDU


I. PENDAHULUAN

Agama merupakan ajaran yang bersumber dari penguasa Agung alam semesta, sebagai awal, tengah dan akhir dari sarwabhawa (segala yang ada). Ia sangat sempurna, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa awal, tengah, dan akhir. Bagaimanapun kita memikirkan-Nya sangatlah tidak mungkin membayangkan Ia yang Maha sempurna dengan pikiran yang sangat terbatas. Lalu bagaimanakah cara Hindu mengenal siapa yang disembahnya?

Sebelum memasuki materi Siwa Tattwa perlu dipahami pola pikir yang akan mengantarkan kita belajar Hindu secara benar. Menurut Drs. I Gede Sura, sedikitnya ada tiga pola pikir:

1. Pola pikir Ilmiah yaitu pola pikir yang didasarkan pada proses ilmiah atau dikenal juga dengan kebenaran keilmuan. Pola pikir ini sangat berguna dalam penelitian-penelitian ilmu pengetahuan yang lebih mengedepankan logika. Orang yang berhasil menerapkan pola pikir ini dikenal dengan ilmuan. Misalnya Einstein, Thomas Alpha Edison, dsb.

2. Pola pikir Filsafat, didasarkan pada renungan secara mendalam oleh manusia sehingga kebenaran yang diperoleh adalah kebenaran filsafati, sedangkan sang perenung yang memperoleh jawaban atas pokok persoalan yang dipecahkan disebut Filosof atau filsuf. Misalnya: Plato, Aristoteles, dsb.

3. Pola pikir Agama yang bersumber dari keyakinan. Karena bersumber dari keyakinan maka pola pikir agama lebih mengutamakan rasa. Pola pikir agama sangat dipengaruhi oleh ajaran dari masing-masing agama, karena itu agama yang berbeda memiliki pola pikir yang berbeda pula. Pola pikir Agama Hindu akan berbeda dengan pola pikir Islam, Kristen, Katolik maupun Buddha.

Untuk memperoleh cara berfikir yang sistematis, seseorang harus memilah-milah sendiri dalam pikirannya apakah ini agama, apakah ini filsafat ataukan ilmiah. Namun dalam kenyatannya terkadang ada kaitan antara satu pola pikir dengan pola pikir yang lain, yang mana hal ini akan menimbulkan kerancuan apabila tidak didasari oleh Wiweka. Campur aduk pola pikir agama-agama sangat sering terjadi sehingga terkesan adanya pemaksaan atau penjajahan oleh satu agama terhadap agama yang lain.

A. Tuhan Dalam Weda

Didalam Veda kita bisa melihat begitu banyak nama Dewa yang seringkali bahkan tidak kita temukan pemujaannya dewasa ini. Dewa berasal dari kata Dev yang artinya sinar, Dewa dalam hal ini merupakan sinar suci dari Sang Hyang Widhi Wasa. Jumlah Dewa-Dewa dalam Reg Weda I. 139. 11 disebutkan ada 33:

Ye dewaso divy ekadasa stha prthivyam adhy ekadasa stha,

apsuksito mahinaikadasa stha te devaso yajnyamimam jusadhvam.

Artinya:

Wahai para Dewa (33 Dewa), sebelas di sorga, sebelas di bumi, dan sebelas di langit, semoga engkau bersuka cita dengan persembahan suci ini.

Sedangkan dalam Reg Weda III. 9.9 bukan hanya 33 Dewa melainkan ada 3339 Dewa, dan diantara semua Dewa Reg Weda menggambarkan Surya sebagai Dewa tertinggi. Hal ini ditegaskan dalam Reg Veda I.50.10:

Udvayam tamasaspari jyotis pasyanta uttaram,

Devam devatra suryamaganma jyotiruttamam.

Artinya:

Lihatlah menjulang tinggi di angkasa, cahaya yang terang benderang mengatasi kegelapan telah datang, Ia adalah Surya, Dewa dari seluruh Dewata, cahaya-Nya yang terang itu betapa indahnya.

Weda sebagai sumber pertama dan utama memuat begitu banyak Dewa, yang dihubungkan dengan wilayah atau lingkungan, bahkan aktivitas dan sifatnya. Agni berhubungan dengan bumi, angkasa dengan Vayu dan Indra sebagai Dewatanya, surga dengan surya sebagai dewatanya. Semua Dewa-Dewa merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Tunggal, hal ini diuraikan dalam Reg Weda Mandala I Sukta 164 Mantra ke-46 yangmenyebutkan:

Indram Mitram Varuna Agni ahur atho divyah sasuparno garutman,

Ekam sad vipra bahudha vadhantyagnim yamam matarisvanam ahuh.

Artinya:

Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan dia yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok.

Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisvan.

Dalam komentarnya tentang Dewa-Dewa Drs. I Gede Sura memberikan kesimpulan yang sangat kuat yang dapat dijadikan kesimpulan. Dewa merupakan perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasi dari Yang Maha Tunggal.

Demikian pula salah seorang Yogin dari India Sri Aurobindo memaparkan tentang nama Dewa dengan tafsiran yang menkajubkan; Agni berarti Tuhan yang Maha Mengetahui dan yang sangat dimuliakan; Indra berarti Tuhan Yang Maha Cemerlang; Soma sebagai tuhan yang layak kita cintai, dan kita abdi; Varuna adalah Tuhan Yang Maha Adil, Maha Mulia; Savita, Tuhan Sang Pencipta; Visnu, Tuhan Maha Ada; Pusan, Tuhan sebagai pemelihara; dan Marut adalah nafas vital.

Melalui kutipan diatas dapat kita simpulkan bahwa nama-nama Dewa sangat populer pada Jaman Weda yang dikaitkan dengan alam pengalaman manusia. Dewa yang berbeda dipandang memiliki fungsi yang berbeda, namun semuanya adalah perwujudan dari Yang Esa. Dengan demikian maka ajaran Ketuhanan dalam Veda adalah ajaran yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Esa adanya, namun ia meliputi segala mempunyai banyak nama. Ia yang esa berada pada semua yang ada dan semua yang ada berada pada yang Esa.

B. TUHAN DALAM UPANISAD

Upanisad artinya duduk di dekat guru untuk mendengarkan ajaran. Cara belajar Upanisad banyak dilakukan diasrama-asrama dalam hutan-hutan (aranya) sehingga kitab upanisad sering disebut juga Kitab Aranyaka. Lahirnya kitab Upanisad merupakan babak baru bagi perkembangan Agama Hindu di India, yaitu peralihan dari Zaman Brahmana yang lebih mengutamakan Yajnya sebagai jalan mendekatkan diri Kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa.

Secara tradisi kita mengenal 108 kitab Upanisad yang merupakan ulasan-ulasan dari guru yang berbeda misalnya: Isa upanisad, Chandogya Upanisad, Brhadaranyaka Upanisad, Kena Upanisad, Svetasvatara Upanisad, Maitri Upanisad, Prasna Upanisad, dan sebagainya. Yang sangat menakjubkan dalam kitab Upanisad adalah ulasan-ulasan yang begitu mendalam mengenai Brahman dan Atman, Maya dan penciptaan alam semesta, karma dan penjelmaan serta ajaran tentang moksa.

Istilah Brahman untuk menyebut Tuhan dalam kitab-kitab Upanisad sangatlah populer. Brahman berasal dari akar kata “brh” yang artinya yang memberi hidup, menumbuhkan, menjadikan hidup, menjadikan berkembang, meluap (Pudja, 1983: 14).

Penjelasan mengenai Brahman dapat kita lihat dalam Mandukya Upanisad, Enlightenment Withhout God, oleh Swami Rama:

Kata Brahman berasal dari akar kata brha atau brhi yang berarti meluap, mengembang, pengetahuan atau yang meresapi segala. Kata ini selalu dalam jenis kelamin neutrum (banci), Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan berada diluar konsep jenis kelamin laki-laki (masculinum) dan wanita (femininum) dari segala sesuatu yang ersifat dualis. Brahman hadir di mana-mana, maha tahu, maha kuasa, itulah sifat dasar dari satu kebenaran Mutlak itu. Ia adalah kebenaran sejati, kesadaran tertinggi, yang tidak pernah dipengaruhi oleh perubahan sifat duniawi, adalah Brahman itu, Ia yang menjadikan diri-Nya sendiri dan memenuhi seluruh alam semesta untuk menampakkan diri-Nya sendiri itulah Brahman. Brahman itu tidak berbeda dari Sang diri, seluruh umat manusia hakikatnya adalah Brahman,. Berpangkal dari pandangan ini seluruh umat manusia pada hakikatnya adalah satu dan sama. Menempatkan pertentangan dan perbedaan terhadap seluruh umat manusia adalah suatu kerugian yang sangat besar dan mengejawantahkan kesatuan di dalam dan di luar akan mencapai tujuan tertinggi

Ulasan-ulasan mengenai Brahman yang meresapi segala, ada dimana-mana, berwujud kebenaran tertinggi, maha mengetahui juga terdapat dalam upanisad-upanisad yang sangat banyak jumlahnya. Banyaknya uraian Brahman menunjukkan bahwa para Rsi, para bijaksana tidak pernah henti-hentinya merenungkan, mencari jawaban atas alam ini, yang menciptakan, yang memelihara dan kembalinya nanti hanyalah satu yaitu Brahman.

Sebagaimana halnya dalam Weda, dalam Upanisad juga ditemukan berbagai sebutan untuk Tuhan (Brahman). Dalam Isa Upanisa Tuhan dipanggil Isa sebagai Yang Maha Esa, sedangkan dalam Aitareya Upanisad III. 1. 3 disebutkan:

Segalanya diciptakan oleh Brahman, segalanya diatur oleh Indra. Prajapati Bapa semua makhluk, semua Dewa-dewa itu dan Panca Maha Bhuta, seperti tanah, udara ether, air dan cahaya, semua makhluk besar dan kecil dan salah satu dari benih-benih itu, dan yang lahir dari telur, yang alhir dari lendir, yang lahir melalui kandungan, dan tumbuh-tumbuhan yang meninggi karena biji,, kuda-kuda dan bunatang ternak, , manusia dan gajah-gajah, memang demikian, apa saja yang bernafas dan segalanya yang bergerak ini, dan segala sesuatu yang dapat terbang, dan yang tidak bergerak, dituntun oleh kebijaksanan-Nya dan mereka memiliki kekuatan kebijaksanaan itu. Kebijaksanaan itu yang memperhatikan dunia, Kebijaksanaan itu yang menjadi landasannya, Kebijaksanaan itu adalah Brahman Yang Abadi.

Dengan demikian maka Brahman adalah nama Tuhan yang umum dalam Upanisad-upanisad. Brahman Bukan hanya maha ada, ada dalam semua tetapi semua yang ada, ada di dalam Brahman.

C. TUHAN DALAM AGAMA HINDU DI INDONESIA (SIWA TATTWA)

Agama Hindu yang berkembang di Indonesia, secara umum disebut ajaran Hindu Saiwa Sidhanta. Seperti dalam uraian di atas baik dalam Weda maupun upanisad Tuhan dipanggil dengan sebutan yang berbeda, di Nusantara juga ditemukan nama-nama Tuhan yang berbeda. Jika di India nama-nama Tuhan lebih dikenal sebagai Dewa yang merupakan sinar suci Sang Hyang Widhi, maka di Indonesia lebih populer dengan sebutan Bhatara.

Istilah Bhatara berasal dari akar kata bhatr yang artinya pelindung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan yang menjadi obyek pemujaan sebagai aspek pelindung, artinya keinginan rasa aman, nyaman sangat dibutuhkan bagi sebagian besar rakyat Nusantara. Karena itu segala yang melindungi disebut dengan Bhatara. Misalnya Bhatara Brahma lebih populer daripada Dewa Brahma, Bhatara Wisnu lebih populer dari Dewa Wisnu demikianlah nama Bhatara itu menjadi sangat umum dalam Lontar-lontar Tattwa, yang merupakan sumber ajaran Ketuhanan dalam Agama Hindu di Indonesia.

Secara umum sebutan untuk Tuhan dalam masyarakat Indonesia adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Menurut Drs. I Gede Sura dan kawan-kawan Sang Hyang Widhi Wasa berarti Yang Menakdirkan Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan Sang hyang Tuduh atau Sang hyang Titah. Namun istilah ini tidak secara tertulis disebutkan dalam sumber lontar. Dalam Sastra lontar yang sebagian besar bercorak Siwa yang ditemukan di Indonesia, Tuhan dipanggil dengan sebutan Bhatara Siwa. Dengan demikian maka agama Hindu di Indonesia secara umum memuja Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Widhi Wasa.

Seperti halnya Weda maupun Upanisad maka ajaran Ketuhanan dalam Siwa Tattwa tidaklah berbeda, mengingat Weda sebagai Sumber tertinggi ajaran Dharma. Dalam lontar Jnanasiddhanta kita dapati uraian tentang Tuhan yang senada dengan Weda maupun Upanisad:

Sa Eko bhagawan sarwah

Siva karana karanam,

Aneko viditah sarwah

Catur vidhasya karanam

Ekatwanekatwa swalaksana Bhattara. Ekatwa ngaranya, kahidep maka laksana ng Siwatatwa. Ndan tunggal, tan rwatiga kahidepanira, Mangekalaksana Siwa karana juga, tan paprabedha.

Aneka Ngaranya kahidepan bhattara maka laksana caturdha. Caturdha ngaranya laksananiran sthula, suksma, parasunya.

Artinya:

SifatBhatara adalah Eka dan aneka. Eka artinya Ia dibayangkan bersifat Siwa Tattwa. Ia hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat Esa saja sebagai Siwa karana (Siwa sebagai Pencipta)tiada perbedaan.

Aneka artinya Bhattara dibayangkan bersifat Caturdha artinya adalah stula suksma para sunya.

Uraian yang demikian akan banyak kita jumpai dalam sumber-sumber Siwatattwa yang lain, yang pada akhirnya mengarahkan kita untuk menarik kesimpulan Tuhan Itu Satu. Tuhan yang satu ada dalam yang banyak, dan yang banyak ada dalam yang satu. Atau semua yang ada bersumber dari Tuhan, ada didalam Tuhan, diresapi oleh Tuhan. Nama Tuhan didasarkan pada sifat dan fungsi yang dilekatkan pada aspek kekuatan Brahman. Hal ini dapat kita jumpai dalam lontar Bhuwanakosa Patalah III sloka76:

Brahmasrjayate lokam

Visnuve palakastitam

Rudratve samharasceva

Tri murttih nama evaca

Artinya:

Adapun penampakan Bhatara Siwa dalam mencipta dunia ini adalah:

Brahma wujudNya waktu menciptadunia ini,

Wisnu wujudNya waktu memelihara dunia ini,

Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini,

Demikianlah tiga wujudNya (Tri Murti) hanya beda nama.

Dalam uraian diatas Bhatara Siwa sebagai Tri Murti, yang satu berwujud tiga sesuai dengan fungsinya. Bhatara Siwa adalah Brahma Wisnu dan Iswara, maka Brahma Wisnu dan Iswara adalah Bhatara Siwa. Yang satu berwujud tiga, maka yang tiga itu sesungguhnya satu.

Dalam beberapa uraian Siwa Tattwa juga kita dapati ajaran yang menyatakan Tuhan bersifat Imanen dan transenden. Imanen artinya hadir dimana-mana, transenden artinya mengatasi pikiran dan indriya manusia. Berikut kutipan slokanya:

Sivas sarwagata suksmah

Bhutanam antariksavat

Acintya mahagrhyante

Na indriyam parigrhyante

Artinya:

Bhatara Siwa meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti angkasa, tak terjangkau pikiran dan indriya.

Dari kutipan sloka diatas disimpulkan bahwa Bhatara Siwa memiliki sifat meresapi segala, artinya Ia hadir pula dalam setiap pikiran manusia maupun indria, namun Ia tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, karena Ia mengatasi pikiran dan Indriya. Ia hadir dalam diri kita namun tidak kita ketahui karena keterbatasan manusia. Karena Ia hadir dan meresapi segala maka ia maha mengetahui, tidak ada satupun mahluk yang bisa lepas dari pengamatannya. Segala tindakan manusia, semut dan kuman bahkan daun yang jatuh sekalipun selalu ada dalam pengelihatannya.

Ia ada pada semua yang ada, semua yang ada berada dalam diri-Nya.

D. PARAMASIWATATTWA, SADASIWATATTWA, ATMIKATATTWA

Setelah memamahi keesaan Tuhan, mungkin akan bingung jika melihat banyaknya bangunan (pelinggih) pada Pura. Bahkan pada pura yang berbeda jumlahnya berbeda, bentuknyapun kadang berbeda pula. Terlebih lagi nama Bhatara (manifestasi Tuhan) juga berbeda. Misalnya Bhatara Gunung Agung, Bhatara Semeru, Bhatara Dalem dan masih banyak sederetan Bhatara yang tidak kita kenal, bahkan ada pula Bhatara dalam bahasa Persia yaitu Ratu Syahbandar.

Kedatangan Hindu di Indonesia tidak secara keras mengahpuskan budaya dan kepercayaan masyarakat yang berkembang sebelum jaman Hindu. Hal ini dapat dilihat adanya sederetan nama-nama Bhatara dalam bahasa pribumi, misalnya Ratu Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ratu Ngurah. Nama-nama bhatara ini jelas sekali tidak ada dalam Weda. Lalu apakah kita telah lepas dari ajaran Weda? Apakah Weda tidak lagi menjiwai ajaran Hindu Nusantara?

Bila kita tidak cermat dan teliti pastilah kita akan berteriak kembali pada Weda, karena semua yang ada sekarang tidak ada lagi di dalam Weda. Akan tetapi sebagai manusia yang memiliki wiweka maka kita harus bisa lebih bijaksana menyikapi hal ini. Jika dengan ketelitian dan kecermatan ternyata tidak ditemukan benang merah antara Hindu Nusantara dengan Weda maka barulah kita mengatakan kembali ke Weda. Untuk lebih memantapkan keyakinan kita marilah kita lihat bagaimana Tuhan menempati semua yang ada, memenuhi alam semesta.

Upanisad mengajarkan Brahman memiliki dua aspek yaitu Saguna Brahman dan Nirguna Brahman. Saguna Brahman adalah Tuhan yang memiliki sifat maha kuasa, Maha pencipta, Maha Besar, Maha kecil, Maha ada dan seterusnya atau Tuhan yang telah dilekatkan dengan berbagai penyifatan. Sedangkan nirguna Brahman adalah Tuhan yang tanpa sifat apapun, tak dapat dipahami. Saguna Brahman disebut juga Apara Brahman, sedangkan Nirguna Brahman disebut juga Para Brahman.

Ajaran Nirguna Brahman dan Saguna Brahman dalam Upanisad sejalan dengan ajaran Siwa Tattwa dalam ajaran Ketuhanan Hindu di Indonesia. Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dan, Tattwa Jnana kita dapati ajaran Paramasiwatattwa, Sadasiwatattwa dan Atmikatattwa. Dalam Tattwajnana disebutkan ada dua hakikat tertinggi yaitu Cetana dan Acetana yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Kesadaran disebut juga Siwa Tattwa sedangkan ketidaksadaran disebut Maya Tattwa. Dari Cetana lahirlah Purusa, dari Acetana lahirlah Prakerti, pertemuan keduanya melahirkan ciptaan. Proses penciptaan menurut ajaran Siwa Tattwa dapat kita lihat dalam bagan berikut ini:

BHATARA SIWA

CETANA ACETANA

PURUSA PRAKRTI

CITTA/ MAHAT

BUDDHI

AHAMKARA(BHUTADI, TAIJASA, WAIKRTA)

PANCA TANMATRA

PANCA MAHABHUTA

BUWANA AGUNG + BUWANA ALIT

Kesadaran atau Siwa Tattwa itu bertingkat sesuai dengan besarnya pengaru Maya yang emelakt padanya. Paramasiwatattwa adalah kesadaran Bhatara Siwa yang tertinggi yang tak tersentuh oleh sifat apapun, sehingga tidak bisa untuk dibayangkan apalagi diarcakan. Ia tanpa bentuk, tanpa sifat, beliau hanyalah kesadaran abadi.

Jenjang kedua adalah Sadasiwatattwa, yaitu Bhatara siwa yang telah terpengaruh maya, namun intensitasnya tidak terlalu banyak. Pada tingkatan ini Bhatara Siwa dipenuhi oleh Sarwajna, memilki sifat dan kemahakuasaan Cadu Sakti yang dilambangkan dengan Asta Dala. Ia menjadi obyek pemujaan manusia, karena Maha pengasih, Maha adil, Maha Bijak, Maha pemurah, Maha penyayang, Maha Pencipta dan seterusnya.

Jenjang ketiga adalah Atmikatattwa, yaitu Bhatara Siwa telah benar-benar ditutupi Maya, sehingga lupa akan kesejatiannya. Ia menjadi jiwa sekalian makhluk karena alpa inilah menyebabkan Ia tidak lagi Sarwajna, tidak lagi Sarwakarya, semua sifat Cadu Sakti lenyap karena ditutupi Maya.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (Brahman) dari tak terpikirkan, mengalami penurunan kesadaran menjadi Sadasiwatattwa, memiliki banyak gelar dan fungsi yang berbeda. Maka dari itulah umat Hindu mendirikan banyak pelinggih, arca (nyasa) untuk memulyakan sifat Tuhan sesuai dengan kebutuhan maupun profesinya. Bagi petani Tuhan dihadirkan sebagai Dewi Sri, bagi pedagang Dewi Melanting atau laksmi adalah pujaannya, sedangkan pelajar dan ilmuan maka Saraswati adalah Sang Dewi pemberi anugrah, demikian seterusnya. Tuhan yang satu dalam yang banyak, yang banyak dalam yang satu, itulah monoteisme Hindu Saiwa Sidhanta.

E. SENI MENGALIR DARI VEDA

Dalam hal menghubungkan diri dengan sang Maha pencipta atau yang dikenal dengan “Yuj”, yang menjadi Yoga, Veda mengajarkan tiga esensi dasar, yang merupakan sadhana, antara lain:

1. Mudra, yang berasal dari urat kata Mud, yang artinya membuat senang. Mudra adalah gerakan-gerakan atau sikap tangan yang menyenangkan para Dewa. Gerakan Mudra ini sangat beragam yang biasanya dilskuksn oleh Sulinggih saat mapuja. Mudra merupakan gerakan tangan yang sangat rahasia yang mengandung aspek Satyam yaitu kebenaran, Siwam yaitu kesucian, dan Sundaram atau keindahan. Karena itulah tidak sembarang orang boleh menggunakan Mudra. Hanya orang-orang sucilah yang boleh menggunakannya. Masyarakat secara umum memiliki penggunaan yang terbatas seperti Anjali yang merupakan simbul dari lahir batin, dan amusti karana yang merupakan simbuldari Tri kona dan Tri Murti. Dari Mudra munculah berbagai seni tari yang terdiri dari seni tari sakral dan seni tari propan. Seni tari sakral seperti rejang Dewa, Sang Hyang Jaran, sang Hyang dedari dan sebagainya hanya boleh diperuntukkan bagi persembahan kepada para Dewa yang merupakan manifestasi Sang Hyang Widhi.

2. Mantra, merupakan lagu pujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Mantra adalah sarana menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta dalam bentuk bahasa. Dari Mantra menimbulkan seni suara, seperti kakawin, kidung, macapat, bahkan sampai pada lagu-lagu modern dewasa ini. Seni suara dalam agama Hindu dipersembahkan kepada Tuhan. Mantra inipun memiliki tiga aspek yaitu Satyam, siwam dan sundaram. Karena itulah ada Kuta Mantra atau pusat dari mantra adalah sesuatu yang sangat sakral dan tidak boleh sembarang orang mengucapkan. Janganlah hal ini dianggap sebagai sesuatu yang menghambat kemajuan dunia spiritual Hindu. Justru rambu-rambu ini merupakan suatu upaya untuk menjaga aspek Siwam atau kesucian dari Mantra. Kuta mantra ibarat pintu rahasia untuk membuka kekuatan Tuhan, sehingga hanya orang-orang yang mampulah yang berhak membuka pintu rahasia ini.

3. Yantra, merupakan kiblat atau arah kemana kita menstanakan Sang Hyang widhi Wasa. Yantra dapat berupa gambar atau seni dua dimensi dan seni ukir atau gambar tiga dimensi. Atau dengan kata lain Yantra menimbulkan seni rupa yang dalam agama Hindu seni rupa juga di persembahkan kepada Tuhan. Pada akhirnya selain seni lukis, seni patung atau arca, maka berkembang pula banten yang juga merupakan simbul-simbul kebesaran Tuhan. Di samping itu juga munculnya aksara yang juga digunakan sebagai simbul atau stana dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam manifestasinya sebagai Dewi Ilmu pengetahuan. Karena itu dalam Agama Hindu barang siapa menggunakan tulisan untuk hal-hal yang tidak baik maka itu adalah dosa, terlebih lagi aksara itu di gunakan tidak pada tempatnya, misalnya gambar-gambar Dewa Krisna yang banyak dicetak pada kaos, atau aksara sebagai simbul Tuhan seperti aksara Om di cetak dalam baju kaos. Maksudnya mungkin baik tetapi bayangkan ketika hendak mencuci baju, pakaian ini berbaur dengan pakaian dalam. Bukankah ini merupakan pelecehan terhadap agama sendiri? Gambar Dewa yang seharusnya di sakralkan tetapi malah dicampur dengan pakaian dalam.

One thought on “THEOLOGI HINDU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s