Tumpek Wariga, Hari Pelestarian Lingkungan Hidup


Mimbar TVRI Kaltim 21 Pebruari 2009

  1. Kapan umat hindu merayakan tumpek wariga, dan mohon dijelaskan sumber pelaksanaannya?

TUMPEK Bubuh, disebut juga Tumpek Wariga, Tumpek Pengatag, dan Tumpek Panguduh (Uduh) jatuh pada Sabtu Keliwon wuku Wariga, jatuh setiap 6 bulan atau 210 hari sekali tepatnya setiap sabtu kliwon wuku wariga. Filosofi di balik upacara ini adalah merupakan penghormatan umat Hindu terhadap tumbuh-tumbuhan. Adapun sumber pelaksanaan dari hari tumpek wariga adalah Lontar Sundarigama. Di India ada perayaan serupa dengan nama Sangkara Puja.

2. Mengapa perayaan tumpek wariga di sebut Sangkara Puja?

Sang Hyang Sangkara merupakan manifestasi Hyang Widdhi dalam menciptakan tumbuh-tumbuhan, yang dalam pengider-ider berwarna hijau, dengan arah barat laut. Diantara barat dengan Mahadewa sebagai dewatanya, berwarna kuning, dan utara dengan Wisnu sebagai dewatanya, berwarna Hitam. Dalam Ganapatti Tattwa warna Kuning melambangkan tanah, hitam adalah air. Jadi tumbuhan bisa hidup jika ada pertemuan antara tanah dan air. Demikian pula tanah dan air akan terjaga jika ada tumbuhan.

3. Bagaimana tata cara perayaan tumpek wariga atau Sangkara Puja?

Prosesi ritual ini, khususnya aplikasinya dalam kehidupan, diyakini umat Hindu memiliki nilai strategis untuk menjaga kesadaran manusia untuk tidak memperkosa alam. Hubungan selaras dengan Tuhan, harmonisasi hubungan dengan sesama dan keharmonisan manusia dengan lingkungan telah menjadi konsep mendasar dalam menjembatani kehidupan. Lalu apa bentuk real dari pemeliharaan keharmonisan manusia dengan lingkungannya?

Memelihara lingkungan bagi umat Hindu sudah menjadi yadnya. Oleh karena itu dalam masyarakat Hindu kita mengenal prinsip ”tebang satu, tanam kembali.” Konsep ini terlihat nyata ketika orang Hindu menebang pohon. Pada bekas tebangan akan ditancapkan ranting atau dedaunan. Maknanya, bekas tebangan itu wajib ditanami kembali dengan harapan pohon tadi takkan punah tetapi ada.

Annaad bhavati bhuutaani.

Prajnyaad annasambhavad.

Yadnyad bhavati parjanyo

Yadnyah karma samudbhavad.

(Bhagavad Gita.III.14)

Artinya: Makhluk hidup ada dari makanan. Makanan ada dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan ada karena hujan. Hujan ada dari yadnya. Yadnya ada karena kerja.

SLOKA Bhagavad Gita diatas merupakan sebuah roda atau cakra yadnya betapa pentingnya peranan tumbuhan sebagai salah satu komponen yang mendukung keberlangsungan kehidupan. Manakala salah satu dari komponen cakra yadnya ini terputus maka akan menyebabkan kacaunya kehidupan. Hal ini mengingatkan kita bahwa tanpa tumbuh-tumbuhan semua makhluk bernyawa tidak dapat melangsungkan hidupnya di bumi ini. Karena bahan pokok makanan hewan dan manusia adalah tumbuh-tumbuhan.

Karena itu, umat Hindu akan memuja Tuhan sebagai Dewa Sangkara untuk memohon kekuatan jiwa dan raga dalam mengembangkan tumbuh-tumbuhan. Pada zaman industri dewasa ini, sungguh tidak mudah mengembangkan upaya agar tumbuh-tumbuhan dapat berkembang seimbang sesuai dengan hukum ekologi.

Manusia sebagai makhluk hidup yang paling serakah sering berbuat tidak adil kepada keseimbangan hidup tumbuh-tumbuhan tersebut. Untuk menumbuhkan sikap yang adil dan penuh kasih kepada tumbuh-tumbuhan, umat Hindu memohon tuntunan Dewa Sangkara sebagai manifestasi Tuhan Yang Mahaesa. Karena itu, umat Hindu di India memiliki ”Hari Raya Sangkara Puja”, sedangkan umat Hindu di Hindu memiliki Tumpek Wariga sebagai hari untuk memuja Dewa Sangkara.

Kemasan luar perayaan Sangkara Puja di India dan hari Tumpek Wariga di Hindu tentunya berbeda, tetapi maknanya tidak berbeda. Kedua hari tersebut sebagai suatu proses ritual yang sakral untuk mengingatkan umat manusia agar selalu memohon tuntunan Tuhan dalam mengembangkan dan melindungi tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan makhluk hidup yang paling utama.

Di Hindu pada zaman kerajaan ada Lontar Manawa Swarga yang mencantumkan tentang perlindungan kepada tumbuh-tumbuhan. Dalam Lontar Manawa Swarga dinyatakan, barang siapa menebang pohon tanpa izin raja, maka akan dihukum denda lima ribu kepeng. Demikian juga dalam struktur pemerintahan kerajaan ada satu jabatan yang mengurus tumbuh-tumbuhan yang disebut Menetri Juru Kayu. Mungkin mirip menteri pertanian dan kehutanan dewasa ini.

Demikian besarnya perhatian umat di masa lampau pada tumbuh-tumbuhan. Dewasa ini sesungguhnya secara formal perhatian umat manusia pada kehidupan tumbuh-tumbuhan juga sangat besar. Namun, orientasinya lebih banyak untuk mendapatkan keuntungan ekonomis jangka pendek. Bahkan, keuntungan tersebut pun distribusinya tidak berkeadilan. Mereka yang berkecimpung dalam bidang pertanian dalam arti luas selalu mendapatkan kontribusi yang sangat kecil kalau dibandingkan dengan yang lainnya. Petani yang menghasilkan beras, sayur-sayuran, buah-buahan, penghasilannya sangat kecil kalau dibandingkan dengan pedagang beras, sayur atau buah-buahan.

Apalagi bidang yang lainnya. Padahal semua orang tidak mungkin bisa hidup tanpa hasil pertanian itu. Rerainan Tumpek Wariga ini yang datang setiap 210 hari hendaknya jangan dibiarkan terus bergulir dengan tema yang penuh gema namun kosong makna. Marilah kita maknai lebih nyata. Misalnya dengan membuat program enam bulanan dari Tumpek Wariga ke Tumpek Wariga berikutnya ada hal-hal yang nyata yang kita lakukan terhadap perbaikan nasib tanaman-tanaman yang tumbuh di Hindu ini.

Demikian juga nasib masyarakat yang berbuat nyata dalam mengembangkan dan melindungi berbagai macam tumbuh-tumbuhan di Hindu. Zaman dahulu umat Hindu memelihara dan melindungi berbagai macam tanaman dengan upacara keagamaan. Itu memang sesuai dengan apa yang diajarkan dalam kitab suci.

Kita tanam tumbuh-tumbuhan itu, setelah dia tumbuh maksimal terus dijadikan sarana memuja Tuhan. Sekarang banyak lahan tidur di Hindu. Masyarakat lebih suka membeli ke luar Hindu berbagai kebutuhan sarana upacara tersebut. Para ahli sebaiknya menyampaikan pandangannya kalau terus-menerus tumbuh-tumbuhan dari luar masuk Hindu bagaimana nasib masa depan tumbuh-tumbuhan yang asli Hindu.

Apa yang harus kita lakukan dalam menjaga keajegan flora dan fauna Hindu. Hal inilah yang semestinya kita lakukan secara berkala dalam merayakan hari Tumpek Wariga, di samping secara niskala kita melakukan upacara keagamaan. Dengan demikian, dari Tumpek Wariga ke Tumpek Wariga berikutnya kita dapat menyaksikan berbagai kemajuan dalam pelestarian tumbuh-tumbuhan Hindu. Marilah tradisi merayakan Tumpek Wariga itu kita pertahankan dengan cara berpikir modern.

GALANG GELUNG GALUNGAN

Galungan merupakan momentum untuk menyadarkan setiap manusia Hindu untuk eling akan keberadaan Sang Diri. Sebuah proses yoga telah ditawarkan oleh para Maha Rsi peletak dasar ajaran Hindu. Proses meuju yang Maha Tunggal, yang merupakan muasal semua mahluk.

Jika mendalami makna Galungan maka kita akan memperoleh dua hal yang tak terpisahkan, yakni pergulatan Dharma dan Adharma, sifat Daiwa dan Raksasa, Suri dan asuri sampad, itulah dua yang berbeda. Hindu menyadari bahwa keduanya merupakan kriya dara Yang Maha Agung, namun demikian Sarasamuscaya mengajak setiap manusia untuk melebur segala perbuatan tidak baik kedalam perbuatan yang baik.

3 thoughts on “Tumpek Wariga, Hari Pelestarian Lingkungan Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s