“Nyikut Raga” Dengan Karmaphala


Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag (Alumnus UNHI Bontang)
w.zwani.com/graphics/hindu/”><img src="http://images.zwani.
Free Twitter Backgrounds

A. Karmaphala Nafas Kehidupan
Karmaphala berarti buah perbuatan. Setiap perbuatan pasti akan mendatangkan hasil. Sebagaimana seorang petani yang menanam padi, maka padilah yang akan dipanen. Jika menanam jagung maka jagunglah yang akan dipetik. Demikian pula halnya setiap perbuatan baik akan menghasilkan buah yang baik, atau sebaliknya hasil yang buruk adalah akibat dan perbuatan yang buruk. Tiada satu pun di alam semesta ini akan luput dan hukum. karmaphala, karena setiap kerja akan menampakkan hasilnya. Jika tidak ada sebab tak mungkin akan ada hasil. Inilah hukum sebab-akibat yang merupakan keyakinan yang sangat mendasar dalam ajaran agama Hindu.

Hukum karmaphala tak akan pernah melenceng dari sasarannya. Artinya hasil akan selalu datang kepada penyebabnya, tanpa memandang dia orang kaya atau miskin, pejabat atau bawahan, guru atau murid, yang lemah atau yang kuat. Orang yang main air akan basah dan orang yang suka bermain api akan terbakar. Orang yang pernah berbohong dia pasti akan pernah dibohongi, Orang yang pernah berkhianat pasti akan pernah dikhianati, orang yang pernah memukul orang lain pasti akan pernah dipukul. Tiada satu pun dari apa yang terjadi di alam semesta ini yang tidak berhubungan dengan karmaphala. Ia bagaikan nafas dari semua kejadian, jika pernah menarik nafas pasti akan keluar nafas itu.

Semua kejadian merupakan suatu rangkaian yang saling terjalin, satu sebab akan menimbulkan sebab berikutnya demikian seterusnya bagaikan sebuah rantai yang tanpa akhir. Di dalam Bhagawad Gita bab III sloka 14 dijelaskan bahwa semua yang ada ini berasal dari kerja.

”Dari makanan, makhluk menjelma, dari hujan lahirnya makanan dan dari yadnya muncullah hujan dan yadnya lahir dari pekerjaan”.

B. “Nyikut Raga” Menuju Karma Yoga. Seorang karmin akan mengkonsentrasikan dirinya pada kerja dan bukan pada hasil dan pekerjaannya. Sangat berbeda dengan kenyataan bahwa pada umumnya manusia dewasa ini lebih berorientasi pada hasil dan pekerjaannya. Bahkan kadang-kadang menuntut hasil dari apa yang belum pernah dikerjakannya. Jika haknya tidak diberikan maka orang tidak akan bekerja. Hal ini nampaknya sangat keliru, padahal jika yakin dan percaya pada karma phala maka hasil pasti diperoleh jika kewajiban sudah dilaksanakan.
Kekeliruan ini terjadi sebagai akibat dari ketidakjelasan manusia mengamati setiap gerak dan perilakunya, banyak di antara kita enggan “Nyikut Raga”, alias tidak mau tahu atas kekurangan dirinya sendiri, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Misalnya saja seorang buruh di sebuah perusahaan yang tidak pernah absen tidak dibayar gajinya selama sebulan. Orang pasti berasumsi bahwa perusahaan telah berlaku tidak adil terhadap buruh tersebut. Lalu sudah bisa ditebak apa yang selanjutnya terjadi yaitu tuntutan yang berupa demo. Hal ini sangat sering terjadi di negara kita, yang akhirnya merugikan banyak pihak. Disamping perusahaan kehilangan nama baik dapat pula merugikan negara, misalnya pembengkakan biaya operasi pengamanan demonstrasi.

Jika kita mau jujur pada diri sendiri dan yakin bahwa setiap akibat pasti ditimbulkan oleh sebab-sebab sebelumnya, marilah sejenak kita mencermati prilaku dari sang buruh. Adalah sangat mungkin bahwa sang buruh pernah melakukan kesalahan. Misalnya dalam setiap harinya ia terlambat lima menit dari tugas yang dijadwalkan. Hal ini nampaknya tidak disadari, namun hukum karma tak akan pernah lupa mencatatnya. Dengan demikian maka berarti dalam satu bulan ia korupsi waktu selama 5 x 30 menit, atau 150 menit, jika dikalikan dalam satu tahun saja sudah mencapai 1.800 menit atau sekitar 30 jam. Jadi bisa dibayangkan betapa berharganya waktu yang lima menit ini yang tidak dihiraukan oleh sang buruh.
Mahatma Gandi pernah berkata bahwa hukuman bagi India yang selama berabad-abad dibawah kekuasan bangsa asing adalah wajar sebagai akibat perlakuannya terhadap kaum candala. Lantas ketentraman bangsa Indonesia yang sekarang ini tak pernah dirasakan karena apa ? Karena menyangkut masalah sara yang sangat sensitif jarang sekali orang yang berani secara terbuka mengungkapkannya. Ada sekelompok orang yang benci pada
negara asing malah menghadiahkan bom pada saudaranya sendiri. Tapi untunglah saudara tuanya ini sangat bijaksana tatkala musibah itu menimpa. Apa yang menyebabkan hal ini tidak lain adalah keyakinannya yang sudah sangat membumi akan hukum yang bekerja secara alamiah yaitu karmaphala.

Dalam Bhagawad Gita bagian Karma Yoga, ditegaskan empat hal pokok dalam mencapai kebahagiaan tertinggi.

Begitu pula di dunia ini ia tidak mempunyai perhatian sama sekali kepada hasil dari perbuatannya yang ia lakukan (1) dan juga kepada apa yang belum diperbuatnya (2), pun juga ia tidak bergantung kepada segala makhluk untuk kepentingannya sendiri (3). (Bh. G, III.18)

Dari itu bekerjalah kamu selalu yang harus dilakukan dengan tiada terikat olehnya (4), karena orang mendapat tujuannya yang tertinggi dengan melakukan pekerjaan yang tak terikat olehnya. (Bh. G, III.19)

Pokok-pokok pikiran yang disampaikan dalam kedua sloka di atas jelas menegaskan pada kita untuk tidak mengikatkan diri pada hasil dari apa yang sudah dan yang belum kita lakukan. Adalah sudah pasti hasil akan datang jika pekerjaan sudah dilakukan, dan adalah tidak etis menuntut sesuatu yang belum kita lakukan. Hal ini akan menimbulkan ketergantungan kita yang berlebihan pada orang lain. Jika sudah demikian tentu tiada bedanya kita dengan pengemis yang hanya meminta tanpa bekerja. Bekerjalah demi kerja itu sendiri, rame ing gawe sepi ing pamerih.

C. Tapa dalam Perbuatan
Karma dapat diterjemahkan dalam tiga kelompok, yaitu karma pikiran (manah), karma perkataan (wacika), dan karma perbuatan oleh anggota badan (kayika). Ketiga karma inilah yang menyebabkan manusia mampu menunjukkan diri tentang keberadaannya di alam semesta. Dengan berfikir manusia menyadari bahwa dirinya ada. Dengan kata-kata manusia mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, dengan perbuatan yang berupa gerak jasmani manusia mampu memenuhi keinginan keinginannya.

Setiap gerak atau perbuatan (karma) selalu menimbulkan akibat, subha karma adalah perbuatan baik, asubha karma adalah perbuatan buruk. Klasifikasi baik dan buruk hanya diberikan oleh manusia, sebab hanya manusialah yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Tentang hal ini kitab suci mengungkapkan:

Risakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang subhasubha karma, kuneng panentasakna ring subhakarma juga ikangasubhakarma, phalaning dadi wwang. (SS. 2).

Terjemahan:
Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melakukan perbuatan baik atau perbuatan buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Sebagaimana halnya manusia membedakan antara langit dan bumi, antara gelap dan terang, antara hitam dan putih, maka perbuatan dibedakan dalam baik dan buruk. Dualitas karma inilah yang membentuk alam semesta ini menjadi seimbang. Listrik memiliki
muatan positip dan negatif, jika salah satunya diputus maka lampu tidak akan menyala. Bahkan alam semesta inipun tercipta sebagai akibat dari kerja antara Purusa dengan Prakerti atau Cetana (kesadaran) dan Acetana (ketidaksadaran). Perpaduan yang dua menjadi satu inilah menimbulkan alam semesta dengan segala isinya. Dengan demikian maka perbuatan baik tidak akan pernah ada jika tidak ada perbuatan buruk.

Namun demikian kitab suci mengajarkan agar kita berbuat baik. Sebabnya adalah demikian:
Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, maka sadhanang subha karma hinganing kottamaning dadi wwang ika, (SS.4)

Terjemahannya:
Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

Dengan sepenuhnya menyadarii bahwa setiap perbuatan dapat menimbulkan efek positif dan efek negatif maka agama Hindu mengajarkan karma patha yaitu sepuluh pengendalian hawa nafsu yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Adapun karmaphata diuraikan dalam Sarasamuscaya sloka 74, 75, dan 76.

Tindakan dari gerak pikiran terlebih dahulu akan dibicarakan, tiga banyaknya, perinciannya :
(1) tidak ingin dan dengki pada kepunyaan orang lain,
(2) tidak bersikap gemas kepada segala makhluk,
(3) Percaya pada kebenaran ajaran Karmaphala.
Itulah ketiganya prilaku pikiran yang merupakan pengendalian hawa nafsu. (SS. 74).
Inilah yang tidak patut timbul dan kata-kata, empat banyaknya, yaitu :
(1) Perkataan jahat,
(2) perkataan kasar rnenghardik,
(3) perkataan memfitnah,
(4) perkataan bohong (tak dapat dipercaya), itulah keempatnya yang harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan dipikir-pikir untuk diucapkan. (SS. 75)

Inilah yang tidak patut dilakukan:
(1) membunuh,
(2) mencuri,
(3) berbuat zina; ketiganya itu jangan hendaknya dilakukan terhadap siapapun, baik secara berolok-olok, bersenda gurau, baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat dalam khayalan sekalipun, hendaknya dihindari saja ketiganya itu. (SS. 76).

Adapun pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan kunci keberhasilan dari umat Hindu menuju Jagadhita-moksa. Menuju kebahagiaan jasmani dan rohani. Menuju kedamaian yang selama ini kita tinggalkan. Kita merasa mengejar “si damai” itu namun kita tak pernah sampai, karena lebih banyak menggunakan lidah daripada tindakan. Jika menginginkan kedamaian bertapalah dalam segala pikiran, kata dan laku, untuk meminimalkan segala kejahatan, segala keburukan segala yang tidak mengenakkan. Jika hal ini tidak dilaksanakan sebagai karma yoga, maka bersiaplah menuju Jagadbhuta-moha, sudah pasti hanya kehancuran, penderitaan dan kesengsaraan yang tiada akhir yang akan dijumpai.
WHD No. 437 Juli 2003.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s