METAFISIK DIBALIK PENAMPAHAN GALUNGAN


oleh: I Gede Adnyana, S.Ag

AHIMSA VS PENAMPAHAN

Ini adalah sekelumit cerita bagi orang kebanyakan mungkin sesuatu yang tak perlu dijadikan acuan untuk memaknai galungan. Tetapi bagi penggemar metafisica mungkin ada benarnya jika disimak sebagai bahan renungan kebenaran penampahan galungan, mengapa harus nampah?

Sebagai sarjana Agama yang baru tamat dari perkuliahan di UNHI Denpasar tahun 2001, ada suatu pertentangan dalam diri saya tentang ajaran ahimsa dan penampahan galungan, ini adalah dua hal yang amat bertolak belakang. Ahimsa mengajarkan agar kita tidak menyakiti, sementara pada hari Galungan kita merayakan kemengan dharma (berpesta) diatas penderitaan makhluk lain (celeng). Bagaimana mungkin seorang manusia Hindu dikatakan menang atas Sad Ripu karena dalam kenyataannya melakukan pembunuhan yang begitu banyak pada hari penampahan.

Ada berbagai penolakan yang muncul dalam batin saya saat itu tetapi tidak dapat berbuata apa untuk mengubah tradisi yang sudah berlangsung turun temurun. Bahkan galungan tidak meriah jika tanpa nampah celeng. Tentu saja ini merupakan permasalahan pertentangan batin yang mungkin dialami oleh banyak umat Hindu, terutama bagi mereka yang menentang pemakan daging.

B. METAFISIKA PENAMPAHAN

Penampahan Galungan di tahun 2001 telah mengubah semua pandangan dan pikiran galau tentang konsep ahimsa dan nampah. Hal ini bermula ketika saya mengalami suatu mimpi yang sangat aneh berjalan-jalan ke lapisan alam bawah.

Lapisan pertama adalah kobaran lautan api tanpa tepi yang disebut maha garbha naraka. Ini adalah lapisan terbawah dasar dari alam yang paling bawah yang hanya ada Sang Hyang Kala Gni Rudra yang luasnya tanpa tepi. Tidak ada yang lain yang terlihat selain lidah api berwarnya merah kekuning-kuningan menjulur keangkasa. Jika ada orang ditempat ini tentu tak akan dapat melarikan diri sebab lautan api tanpa tepi ini menjulang tinggi keangkasa.

Lapisan berikutnya adalah rasatala, yaitu sebuah lapisan gelap yang dihuni hanya oleh roh hewan bersel satu dan sejenisnya yang nampak hanya bagaikan kerdipan bakteri dan jamur jamur kecil yang menyala ditengah kegelapan. Disinila cikal bakal dari mahluk rendah seperti halnya virus dan bakteri.

Lapis berikutnya adalah tala-tala yang mana tempat inilah yang dihuni oleh berbagai roh hewah. Disini sang arwah tidak dapat beringkarnasi menjadi lebih baik tanpa bantuan dari manusia. Kondisi tempat ini selalu berkabut seperti layaknya pukul 05.30 pagi tanpa matahari, dimana para arwah dikelompokkan dalam pulau-pulau kecil yang dikelilingi lumpur mendidih sehingga tak dapat kemana-mana layaknya penjara tanpa terali. Sang roh berkumpul menunggu Yadnya dari lapisan alam manusia, sambil menunggu antrian untuk dibebaskan. Saat itulah saya mendengar bisikan mereka semua sedang menunggu bantuan untuk naik.

Ada suatu kejadian menarik disini, dimana ada binatang babi dempet dengan monyet. Di bawag badannya 1 tapi pinggang keatas menjadi dua yaitu monyet dan babi. Ketika datang yadnya sampai dilapisan ini mereka berebut dan monyet memang lebih cerdik. Sang babipun berteriak dengan kesal. Teriakannya yang begitu besar membangunkan saya dari tidur, dan ternyata ini sudah menunjukkan pk.03.30 pagi penampahan Galungan. Saya langsung bangun dan mendekati sumber teriakan babi tadi yang ternyata adalah babi tetangga yang akan dipotong saat penampahan. Saya bertanya kenapa masih kecil sudah dipotong? Pemiliknya menjawab: “ini sudah setahun dipelihara, makanya banyak tapi tak mau bertambah besar!” Lalu dalam hati saya bertanya mungkinkah karena dalam diri sang babi ada dua kepribadian yaitu monyet dan babi, babi makan banyak tapi yang menerima sebenarnya monyet sehingga sang babi tak kunjung besar. Inilah kesimpulan saya sementara pada saat itu.

Setelah sekian lam saya merenungkan penampahan galungan barulah saya tertarik untuk menulis ulang pengalaman mimpi saya dan mengulasnya sebagai kekuatan di Balik Penampahan Galungan.

Ada suatu penguatan tentang kebenaran ketika kita simak pemangku yang sedang nganteb tumpeng pitu dengan puja mantra:

“Om Sang Hyang Sapta patala, Sang Hyang sapta Dewata, Sang Hyang Panca kosika gana….dst”

Disinilah suatu yadnya yang kita lakukan berusaha menyentuh semua lapisan alam, mulai alam bawah sampai alam atas. Ini merupakan penerpan ajaran Tri Hita karana dalam bentuk Yadnya Sang Hyang Sapta Dewata menghubungkan manusia dengan para Dewa sebagai manifesatasi Hyang Widdhi dan para leluhur yang ada di Pitra Loka sebagai akibat perbuatan baik atau subha karma diamana sang roh akan lahir menjadi manusia yang punya dasar kelahiran baik (swarga cyuta). Sang Hyang Sapta Pattala menghubungkan manusia dengan alam bawah yaitu alam para roh yang jatuh keneraka sebagai akibat asubha karma yang dilakukan semasa hidupnya. Yang selanjutnya mereka akan lahir menjadi manusia atau binatang yang punya dasar kelahiran buruk atau neraka cyuta.

Terhadap dua hal ini kita tidak dapat membantah kebenarannya yang dapat kita lihat dari kelahiran, rejeki, musibah, ciri fisik dan sebagainya. Dari sini manusia harusnya bersyukur karena masih dapat menolong dirinya sendiri dengan jalan melaksanakan Dharma. Salah satu dari dharma itu adalah menolong makhluk lain (hewan & Tumbuhan) dengan menggunakan mereka sebagai yadnya, dengan harapan dapat menitis kembali menjadi yang lebih baik. Harapan ini juga disampaikan oleh doa para orang tua kita ketika memotong hewan pada saat penampahan. “Ih cai buron jani penampahan, tampah anggon yadnya apang numitis dadi jatma melah” Hai kamu binatang sekarang penampahan, kupotong kamu sebagai yadnya agar lahir kembali sebagai manusia mulia.

Semoga tak ada lagi keraguan untuk Nampah ketika nampah itu untuk yadnya, inilah kesempatan kita menolong para roh binatang yang terjebak di alam Tala-tala. Semoga lepaslah ikatan karma yang dilandasi cinta kasih, kerja untuk kerja, senyum untuk senyum, belajar untuk belajar, dan penampahan untuk nampah serta galungan untuk galang.

Om Sarwa Bhawantu Sukinah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s