Arsip | Oktober, 2010

GENTA-GENTA SIWA-BUDDHA

26 Okt

 

 

 

 

oleh Gede Prama.

Pluralitas alias penghargaan atas perbedaan, itulah salah satu tiang utama masyarakat modern. Demokrasi yang menjadi salah satu barometer terpenting peradaban modern, juga berdiri di atas fundamen kokoh yang bernama pluralitas. Sulit sekali membayangkan ada demokrasi tanpa penghargaan atas perbedaan. Tidak saja kehidupan publik yang keajegannya berutang pada pluralitas, sejarah pengetahuan manusia juga berutang. Setelah lama sekali pemikiran Cartesian dan Newtonian melakukan pengabsolutan terhadap banyak sekali tesis, belakangan muncul kejenuhan akan hal-hal absolut. Dan, manusia-manusia seperti Lyotard, Foucault, Derrida datang membawa kesegaran melalui bendera-bendera merayakan perbedaan.

Agama sebagai serangkaian pengetahuan juga serupa. Teroris lengkap dengan bom dan darahnya, hanyalah sisa-sisa fanatisme yang dibawa oleh sejarah pemahaman yang absolut. Demikian absolutnya pemahaman di kepala sampai-sampai berani memusnahkan nyawa orang lain. Demikian kakunya gambar yang ada di kepala, sehingga seluruh gambar pemahaman yang lain tidak punya pilihan lain terkecuali dimusnahkan. Dan, jejak-jejak pemahaman agama seperti ini pun sudah semakin minim pengikutnya.

Dikaguminya tokoh-tokoh Sufi seperti Jalaludin Rumi di Barat, demikian berwibawanya karya-karya Kahlil Gibran di banyak belahan dunia, dikutipnya doa Santo Fransiscus dari Asisi tidak saja dalam kalangan umat Katolik, dugunakannya Baghawad Gita sebagai acuan tidak saja dalam komunitas Hindu, didengarnya pesan-pesan Dalai Lama oleh banyak sekali manusia yang bukan beragama Buddha, hanyalah sebagian bukti kalau tembok-tembok fanatisme semakin kecil dan semakin kecil. Sehingga dalam totalitas, hanya manusia-manusia yang enggan bertumbuhlah yang masih memeluk erat-erat fanatisme dan absolutisme.

Sejarah Bali

Dengan tetap sadar akan perlunya kerendahatian di depan bentangan sejarah, sebenarnya sejarah Pulau Bali juga menyisakan tidak sedikit jejak-jejak pluralitas. Tokoh-tokoh yang dicatat rapi dalam sejarah Bali, sebagian adalah tokoh-tokoh pluralitas. Mpu Kuturan (seorang pendeta Buddha Mahayana) menyatukan banyak sekali sekte di abad ke-10-11 melalui konsep tri kahyangan. Kalau saja Mpu Kuturan seorang tokoh fanatik dan pengikut pendekatan absolut, mungkin ketika itu orang Bali akan dipaksa (atau setidak-tidaknya dipersuasi) untuk menjadi pemeluk Budhha Mahayana. Ternyata sejarah bertutur tidak.

Dang Hyang Dwijendra juga serupa. Kendati punya reputasi mengagumkan dalam bentuk mendampingi Raja Dalem Waturenggong membawa Bali ke zaman keemasan di abad ke-16, peninggalan Mpu Kuturan dalam bentuk Meru tetap dihormati, bahkan dilengkapi melalui bangunan baru ketika itu berupa Padmasana. Kendati beliau seorang pendeta Siwa-Buddha tetap saja pendekatan lain memiliki
ruangan untuk bertumbuh di Bali ketika itu.

Tempat ibadah adalah ruang-ruang sakral di Bali. Dan, tatkala berbicara tentang tempat ibadah, sulit sekali untuk tidak memulainya dengan Pura Rwa Bhineda (Pura Purusa di Besakih, Pura Pradana di Ulun Danu Batur). Dan, indahnya, di kedua tempat suci ini di ruang utamanya juga menghadirkan monumen pluralitas yang amat mengagumkan. Baik di Besakih maupun di Ulun Danu Batur, di ruang utamanya masih menyisakan tempat pemujaan untuk dua agama (Hindu dan Buddha). Di Besakih disebut Pura Syahbandar (lokasinya hanya beberapa meter dari Pura Sunaring Jagat), di Batur disebut Pura Ponco yang juga berlokasi di tempat yang sangat utama. Di Pura Ulunsiwi di Jimbaran ada dua pintu di bagian timur dari Meru, satu untuk Siwa satu lagi untuk Buddha.

Selain tokoh dan tempat ibadah, sastra tetua Bali juga banyak ditandai pluralitas. Suthasoma adalah salah satu sastra acuan yang utama. Melalui kalimat indah bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, sebenarnya tetua Bali sedang membukakan pintu-pintu pluralitas yang demikian indahnya. Fred B. Eisman Jr. menerjemahkannya dalam Bali, ”Sekala & Niskala” dengan sederhana: it is different, but it is one, there are not two truth. Sebuah pengakuan akan pluralitas Siwa-Buddha yang amat eksplisit. Siwa-Buddha itu satu, bukan dua.

Sarana upacara juga tidak kalah sakralnya bagi orang Bali. Dan, di antara sekian banyak sarana upacara yang disakralkan adalah genta. Meminjam argumen sebuah tesis di Universitas Gajah Mada tahun 1967 yang ditulis oleh IGN Anom, ternyata genta — yang dipercaya sebagai kendaraan mantra yang sangat utama — dibuat di atas pluralitas juga. Bagian bawah genta menyerepai Stupa, bagian atasnya sangat mirip dengan Lingga sebagai simbolik Siwa.

Potret-potret sejarah dalam bentuk tokoh, tempat ibadah, sastra, dan sarana upacara seperti ini, seperti sedang berbisik penuh kerendahanhatian: tidak saja di Barat pluralitas itu menjadi ladang-ladang subur pertumbuhan, Bali juga serupa.

Genta-genta Siwa-Buddha

Disinari cahaya-cahaya sejarah seperti di atas, layak direnungkan kembali perjalanan sejarah Bali yang sebagian juga berdarah karena absolutisme dan fanatisme. Setiap manusia di setiap sejarah sama-sama punya tugas yang sama: bertumbuh! Dan, Bali dalam bentangan sejarah ratusan tahun bertumbuh di atas pluralitas Siwa-Buddha. Dalam konstruksi genta, Siwa-Buddha memang dibaca dari atas (baca: Siwa) kemudian baru ke bawah (baca: Buddha). Namun, sebagaimana bangunan lainnya, semuanya dibangun dari bawah.

Kebenaran manusia mana pun memang hanya bisa sampai di tingkatan probabilistik. Sehingga bisa dimaklumi, kalau Buddha ditafsirkan secara berbeda-beda di Bali. Pandangan pertama mengatakan kalau Buddha kita di Bali adalah Buddha Bairawa. Sebuah sudut pandang yang layak dihargai. Pandangan kedua yang sama layaknya untuk dihargai adalah Buddha sebagai filsafat. Kembali ke konsep pluralitas sebagai lahan-lahan subur pertumbuhan, mungkin ada baiknya untuk saling menghargai.

Di Barat, ada jutaan manusia yang belajar Bhagawad Gita tanpa masuk agama Hindu. Jutaan manusia tersentuh ajararan Sufi ala Rumi tanpa berganti agama menjadi Islam. Jutaan manusia mendengarkan saran-saran Dalai Lama tanpa berganti KTP menjadi Buddha. Hal serupa juga layak direnungkan ketika kita belajar membunyikan genta-genta Siwa Buddha di Bali.

Entah kekuatan apa yang membimbing, sejak belasan tahun yang lalu, tiba-tiba saja ada ketertarikan yang mendalam untuk belajar Buddha sebagai filsafat hidup. Makin dipelajari, makin sejuk batin di dalam, makin kuat tanah-tanah Bali mengirim pesan-pesan kerinduan untuk sering pulang. Menyangkut getaran-getaran rasa, mungkin saja ada kekhilafan penafsiran, namun setelah belasan tahun menelusuri filsafat-filsafat Buddha, ada yang berbisik dari dalam sini: words make you come closer but jus till the gate, only actions bring you inside. Kata-kata memang bisa membuat manusia mendekat, tetapi hanya sampai di gerbang. Hanya tindakan yang bisa membawa manusia masuk ke dalam.

Dan, filsafat Buddha memberikan penekanan amat besar akan perlunya tindakan. Untuk itulah orang-orang Hinayana memberikan porsi sangat besar untuk sebuah bidang: disiplin diri! Ketika disiplin diri diikuti secara serius, cahaya-cahaya Mahayana muncul melalui sebuah kata: kebijaksanaan. Tatkala ini juga ditelusuri penuh cinta dan keikhlasan di depan Tuhan, ada sinar Tantrayana yang muncul: hening, sepi, damai.

Makanya bisa dimaklumi kalau Dalai Lama pernah berucap tentang esensi nilai-nilai ke-Buddha-an dalam sebuah bahasa sederhana: menghormati orang, mengkritik diri sendiri. Ini tentu saja terbalik dengan orang-orang fanatik yang absolut itu, di mana mereka hanya mengenal penghormatan diri yang tinggi, serta kritik yang menyakitkan terhadap orang lain. Ini juga sebuah pluralitas sebagai ladang pertumbuhan, sehingga keduanya layak dihargai. Entah seberapa banyak sahabat di Bali yang juga menaiki tangga-tangga ke-Buddha-an, untuk bisa meraih tongkat Lingga untuk sampai di tingkat ke-Siwa-an. Dan, di tingkat terakhir, seorang mistikus asli India bernama Ramakrishna pernah melafalkan doa seperti ini: Tuhan, Engkau memiliki baik-buruk, benar-salah, sukses-gagal, kaya-miskin, surga-neraka, hidup-mati, siang-malam. Ambillah semuanya! Biarlah hamba hidup dengan yang satu ini: cinta yang murni akan diri-Mu!

Sebuah percakapan suci antara Raja Janaka (ayahanda Dewi Sita) dengan gurunya bernama Asthavakra kemudian diberi judul ”Asthavakra Gita” (diterjemahkan Thomas Byron menjadi ”The Heart of Awareness”), pernah bertutur nilai-nilai ke-Siwa-an seperti ini: when the mind desire nothing, grieve for nothing, without joy or anger, grasping nothing, turns nothing awaythen you are free. Ketika pikiran berhenti memilih, berhenti merindukan maupun menolak kemudian tersedia kebebasan. Ah, betapa indahnya kebebasan. Ia sama indahnya dengan salah satu bait kakawin tua di Bali yang berbunyi: magentha suara ning sepi. Ah, maafkanlah kata-kata yang hanya bisa mengantar kita manusia sampai di gerbang saja. Maafkan juga tulisan ini yang dibolak-balik juga hanya bisa mengantar sampai di gerbang saja. Maafkan juga saya, yang hanya bisa mengantar sampai di gerbang saja.

SIWA TATTWA

26 Okt

 

Gambar berikut adalah peninggalan di Vaprakeswara-Kalimantan Timur pada masa keemasan kerajaan Kutai Martadipura.

 

 

Dalam Siwa tattwa ini akan dibahas dialog tentang bagaimana ajaran Siwa Tattwa sebagai dasar pemikiran dan dasar pelaksanaan Agama Hindu di Indonesia.

OM AWIGNAMASTU NAMASIDHAM

I. PURWAKA

Agama merupakan ajaran yang bersumber dari penguasa Agung alam semesta, sebagai awal, tengah dan akhir dari sarwabhawa (segala yang ada). Ia sangat sempurna, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa awal, tengah, dan akhir. Bagaimanapun kita memikirkan-Nya sangatlah tidak mungkin membayangkan Ia yang Maha sempurna dengan pikiran yang sangat terbatas.

a. Tanya

menurut sebagian orang Hindu itu merupakan agama yang rumit, jika di bandingkan dengan agama lainya khususnya dari sisi theologi. Bagaimanakah cara yang mudah untuk memahami ajaran Hindu!

b. Jawab

Sebelum memasuki materi Siwa Tattwa perlu dipahami pola pikir yang akan mengantarkan kita belajar Hindu secara benar. Menurut Drs. I Gede Sura, sedikitnya ada tiga pola pikir:

  1. Pola pikir Ilmiah yaitu pola pikir yang didasarkan pada proses ilmiah atau dikenal juga dengan kebenaran keilmuan. Pola pikir ini sangat berguna dalam penelitian-penelitian ilmu pengetahuan yang lebih mengedepankan logika. Orang yang berhasil menerapkan pola pikir ini dikenal dengan ilmuan. Misalnya Einstein, Thomas Alpha Edison, dsb.
  2. Pola pikir Filsafat, didasarkan pada renungan secara mendalam oleh manusia sehingga kebenaran yang diperoleh adalah kebenaran filsafati, sedangkan sang perenung yang memperoleh jawaban  atas pokok persoalan yang dipecahkan disebut Filosof atau filsuf. Misalnya: Plato, Aristoteles, dsb.
  3. Pola pikir Agama yang bersumber dari keyakinan. Karena bersumber dari keyakinan maka pola pikir agama lebih mengutamakan rasa. Pola pikir agama sangat dipengaruhi oleh ajaran dari masing-masing agama, karena itu agama yang berbeda memiliki pola pikir yang berbeda pula. Pola pikir Agama Hindu akan berbeda dengan pola pikir Islam, Kristen, Katolik maupun Buddha.

Untuk memperoleh cara berfikir yang sistematis, seseorang harus memilah-milah sendiri dalam pikirannya apakah ini agama, apakah ini filsafat ataukan ilmiah. Namun dalam kenyatannya terkadang ada kaitan antara satu pola pikir dengan pola pikir yang lain, yang mana hal ini akan menimbulkan kerancuan apabila tidak didasari oleh Wiweka. Campur aduk pola pikir agama-agama sangat sering terjadi sehingga terkesan adanya pemaksaan atau penjajahan oleh satu agama terhadap agama yang lain.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketidaktahuan alias kebodohanlah yang menyebabkan terjadinya berbagai konflik agama. Bagi umat Hindu yang berada diluar Bali pencampuradukan pola pikir agama sangat terasa. Kontaminasi Agama diluar Hindu mulai mempengaruhi dan sangat terasa, misalnya kalau di agama A ada ini maka seorang Hindu akan menjawab,”Ia dalam agama Hindu juga ada ini!” Walaupun jawaban si Hindu tadi belum tentu benar.

a. Tanya

Dari apa yang disampaikan tadi menandakan bahwa setiap agama memiliki pola pikir yang berbeda, Lalu darimanakah kita harus mulai mengenal ajaran theology Hindu?

b. Jawab

Untuk mengenal ajaran Hindu maka kita harus mulai dari kitab Suci Weda sebagai sumber kebenaran. Reg Weda Sebagai Weda tertua merupakan rujukan yang mengunakan bahasa syair yang kadandkala sulit dipahami, untuk itulan Weda hendakanya dipelajari melalui itihasa dan purana. Itihasa dan purana merupakan kitab Bantu Weda yang cukup popular dimasyarakat. Antara itihasa, purana dengan Reg Weda memiliki hubungan yang erat, dimana itihasa & Puarana merupakan jembatan bagi mempelajari berbagai sari ajaran Weda termasuk theology didalamnya. Bagaimanapun itihasa dan purana menyimpan semangat  Catur Weda di dalamnya.

a. Tanya

Didalam Veda kita bisa melihat begitu banyak nama Dewa yang seringkali bahkan tidak kita temukan pemujaannya dewasa ini. Hal ini juga sering diperbincangkan dan bahkan dikatakan Hindu sebagai agama Polytheis, bagaimana menurut pandangan anda apakah Hindu intu polytheis atau monotheis?

b. Jawab

Dewa berasal dari kata Dev yang artinya sinar, Dewa dalam hal ini merupakan sinar suci dari Sang Hyang Widhi Wasa. Semua Dewa-Dewa merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Tunggal, hal ini diuraikan dalam Reg Weda Mandala I Sukta 164 Mantra ke-46 yangmenyebutkan:

Indram Mitram Varuna Agni ahur atho divyah sasuparno garutman,

Ekam sad vipra bahudha vadhantyagnim yamam matarisvanam ahuh.

Artinya:

Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan dia yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok.

Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisvan.

Dalam komentarnya tentang Dewa-Dewa Drs. I Gede Sura memberikan kesimpulan yang sangat kuat yang dapat dijadikan kesimpulan. Dewa merupakan perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasi dari Yang Maha Tunggal.

Demikian pula Sri Aurobindo memaparkan tentang nama Dewa dengan tafsiran yang menkajubkan; Agni berarti Tuhan yang Maha Mengetahui dan yang sangat dimuliakan; Indra berarti Tuhan Yang Maha Cemerlang; Soma sebagai tuhan yang layak kita cintai, dan kita abdi; Varuna adalah Tuhan Yang Maha Adil, Maha Mulia; Savita, Tuhan Sang Pencipta; Visnu, Tuhan Maha Ada; Pusan, Tuhan sebagai pemelihara; dan Marut adalah nafas vital.

Melalui kutipan diatas dapat kita simpulkan bahwa nama-nama Dewa sangat populer pada Jaman Weda yang dikaitkan dengan alam pengalaman manusia. Dewa yang berbeda dipandang memiliki fungsi yang berbeda, namun semuanya adalah perwujudan dari Yang Esa. Dengan demikian maka ajaran Ketuhanan dalam Veda adalah ajaran yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Esa adanya, namun ia meliputi segala mempunyai banyak nama. Ia yang esa berada pada semua yang ada dan semua yang ada berada pada yang Esa.

a. Tanya

Disamping kitab Catur Weda yang sudah diuraikan tadi kita juga mengenal kitab Upanisad. Apakah Kitab ini juga bias dijadikan rujukan dalam mempelajari theology Hindu?

b. Jawab

TUHAN DALAM UPANISAD

Upanisad artinya duduk di dekat guru untuk mendengarkan ajaran. Cara belajar Upanisad banyak dilakukan  diasrama-asrama dalam hutan-hutan (aranya) sehingga kitab upanisad sering disebut juga Kitab Aranyaka. Lahirnya kitab Upanisad merupakan babak baru bagi perkembangan Agama Hindu di India, yaitu peralihan dari Zaman Brahmana yang lebih mengutamakan Yajnya sebagai jalan mendekatkan diri Kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa.

Secara tradisi kita mengenal 108 kitab Upanisad yang merupakan ulasan-ulasan dari guru yang berbeda misalnya: Isa upanisad, Chandogya Upanisad, Brhadaranyaka Upanisad, Kena Upanisad, Svetasvatara Upanisad, Maitri Upanisad, Prasna Upanisad, dan sebagainya. Yang sangat menakjubkan dalam kitab Upanisad adalah ulasan-ulasan yang begitu mendalam mengenai  Brahman dan Atman, Maya dan penciptaan alam semesta, karma dan penjelmaan serta ajaran tentang moksa.

Istilah Brahman untuk menyebut Tuhan dalam kitab-kitab Upanisad sangatlah populer. Brahman berasal dari akar kata “brh” yang artinya yang memberi hidup, menumbuhkan, menjadikan hidup, menjadikan berkembang, meluap (Pudja, 1983: 14).

Dengan demikian maka Brahman adalah nama Tuhan yang umum dalam Upanisad-upanisad. Brahman Bukan hanya maha ada, ada dalam semua tetapi semua yang ada, ada di dalam Brahman.

a. Tanya

Kita sudah secara panjang lebar membahas theology Hindu dalam kitab suci Weda dan upanisad. Dari penjelasan tadi tidak satupun nama Bhatara  dalam kitab suci. Apakah ini berarti kita selama ini salah menyebut nama Tuhan dalam Hindu?

b. Jawab

TUHAN DALAM AGAMA HINDU DI INDONESIA (SIWA TATTWA)

Agama Hindu yang berkembang di Indonesia, secara umum disebut ajaran Hindu Saiwa Sidhanta. Seperti dalam uraian di atas baik dalam Weda maupun upanisad Tuhan dipanggil dengan sebutan yang berbeda. Di Nusantara juga ditemukan nama-nama Tuhan yang berbeda. Jika di India nama-nama Tuhan lebih dikenal sebagai Dewa yang merupakan sinar suci Sang Hyang Widhi, maka di Indonesia lebih populer dengan sebutan Bhatara.

Istilah Bhatara berasal dari akar kata bhatr yang artinya pelindung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan yang menjadi obyek pemujaan sebagai aspek pelindung, artinya keinginan rasa aman, nyaman sangat dibutuhkan bagi sebagian besar rakyat Nusantara. Karena itu segala yang melindungi disebut dengan Bhatara. Misalnya Bhatara Brahma lebih populer daripada Dewa Brahma, Bhatara Wisnu lebih populer dari Dewa Wisnu demikianlah nama Bhatara itu menjadi sangat umum dalam Lontar-lontar Tattwa, yang merupakan sumber ajaran Ketuhanan dalam Agama Hindu di Indonesia.

a. Tanya

Untuk umat Hindu di Indonesia menyebut nama tuhan itu Sang Hyang Widdhi Wasa, namun dari tadi saya tidak melihat ada pembahasan tentang nama ini dalam Kitab Suci. Dapatkah saudara berikan penjelasan tentang hal ini!

b. Jawab

Secara umum sebutan untuk Tuhan dalam masyarakat Indonesia adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Menurut Drs. I Gede Sura dan kawan-kawan Sang Hyang Widhi Wasa berarti Yang Menakdirkan Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan Sang hyang Tuduh atau Sang hyang Titah.      Namun istilah ini tidak secara tertulis disebutkan dalam sumber lontar. Dalam Sastra lontar yang sebagian besar bercorak Siwa yang ditemukan di Indonesia, Tuhan dipanggil dengan sebutan Bhatara Siwa. Dengan demikian maka agama Hindu di Indonesia secara umum memuja Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Widhi Wasa.

a. Tanya

Sumber apakah yang digunakan oleh nenek moyang kita dalam mengahayati ajaran Agama, yang kita terima sampai saat ini? Apakah ini tidak bertentanga denga Weda maupun Upanisad?

b. Jawab

Seperti halnya Weda maupun Upanisad maka ajaran Ketuhanan dalam Siwa Tattwa tidaklah berbeda, mengingat Weda sebagai Sumber tertinggi ajaran Dharma. Dalam lontar Jnanasiddhanta kita dapati uraian tentang Tuhan yang senada dengan Weda maupun Upanisad:

Sa Eko bhagawan sarwah

Siva karana karanam,

Aneko viditah sarwah

Catur vidhasya karanam

Ekatwanekatwa swalaksana Bhattara. Ekatwa ngaranya, kahidep maka laksana ng Siwatatwa. Ndan tunggal, tan rwatiga kahidepanira, Mangekalaksana Siwa karana juga, tan paprabedha.

Aneka Ngaranya kahidepan bhattara maka laksana caturdha. Caturdha ngaranya laksananiran sthula, suksma, parasunya.

Artinya:

SifatBhatara adalah Eka dan aneka. Eka artinya Ia dibayangkan bersifat Siwa Tattwa. Ia hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat Esa saja sebagai Siwa karana (Siwa sebagai Pencipta)tiada perbedaan.

Aneka artinya Bhattara dibayangkan bersifat Caturdha artinya adalah stula suksma para sunya.

Uraian yang demikian akan banyak kita jumpai dalam sumber-sumber Siwatattwa yang lain, yang pada akhirnya mengarahkan kita untuk menarik kesimpulan Tuhan Itu Satu. Tuhan yang satu ada dalam yang banyak, dan yang banyak ada dalam yang satu. Atau semua yang ada bersumber dari Tuhan, ada didalam Tuhan, diresapi oleh Tuhan.

a. Tanya

Kita mengenal Tri Murti dalam beberapa sumber yang berbeda, ada yang menyebut Brahma, Wisnu, Siwa, ada yang menyebut Brahma wisnu Iswara, yang manakah yang benar!

b. Jawab

Nama Tuhan didasarkan pada sifat dan fungsi yang dilekatkan pada aspek kekuatan Brahman. Hal ini dapat kita jumpai dalam lontar Bhuwanakosa Patalah III sloka76:

Brahma srjayate lokam

Visnuve palakastitam

Rudratve samharasceva

Tri murttih nama evaca

Artinya:

Adapun penampakan Bhatara Siwa dalam mencipta dunia ini adalah:

Brahma wujudNya waktu menciptadunia ini,

Wisnu wujudNya waktu memelihara dunia ini,

Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini,

Demikianlah tiga wujudNya (Tri Murti) hanya beda nama.

Sedangkan dalam puja kramaning sembah Tri Murti di sebut sebagai Brahma, Wisnu, Isawara:

Om Brahma Wisnu Iswara Dewam, Jiwatmanam trilokanam

Sarwa jagat pratistanam, Sarwa roga winasanam

Sarwa wigna winasanam, Wigna desa winasanam

Om namasiwaya.

Dalam uraian diatas Bhatara Siwa sebagai Tri Murti, yang satu berwujud tiga sesuai dengan fungsinya. Bhatara Siwa adalah Brahma Wisnu dan Iswara, maka Brahma Wisnu dan Iswara adalah Bhatara Siwa. Yang satu berwujud tiga, maka yang tiga itu sesungguhnya satu.

 

Dalam beberapa uraian Siwa Tattwa juga kita dapati ajaran yang menyatakan Tuhan bersifat Imanen dan transenden. Imanen artinya hadir dimana-mana, transenden artinya mengatasi pikiran dan indriya manusia. Berikut kutipan slokanya:

Sivas sarwagata suksmah

Bhutanam antariksavat

Acintya mahagrhyante

Na indriyam parigrhyante

Artinya:

Bhatara Siwa  meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti angkasa, tak terjangkau pikiran dan indriya.

Dari kutipan sloka diatas disimpulkan bahwa Bhatara Siwa memiliki sifat meresapi segala, artinya Ia hadir pula dalam setiap pikiran manusia maupun indria, namun Ia tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, karena Ia mengatasi pikiran dan Indriya. Ia hadir dalam diri kita namun tidak kita ketahui karena keterbatasan manusia. Karena Ia hadir dan meresapi segala maka ia maha mengetahui, tidak ada satupun mahluk yang bisa lepas dari pengamatannya. Segala tindakan manusia, semut dan kuman bahkan daun yang jatuh sekalipun selalu ada dalam pengelihatannya.

Ia ada pada semua yang ada, semua yang ada berada dalam diri-Nya.

a. Tanya

Nampaknya kini telah ada titik terang mengenai perbadaan nama-nama Tuhan yang berbeda sebagai manifestasi Sang Hyang Widdhi. Namun masih ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran saya yaitu nama-nama bhatara yang begitu banyak, antara satu pura dengan pura lainya berbeda, atau bahkan di satu areal pura begitu banyak nama nama bhatara yang harus di puja, mengapa nama seperti ratu nyoman yang kebali-balian muncul juga sebagai salah satu dewa!

b. Jawab

Kehadiran Hindu tidak serta merta mengubah kepercayaan masyarakat Pra hindu. Ratu anglurah, ratu wayan, made dst. Merupakan nama Tuhan dalam bahasa local yang tetap terpelihara samapai saat ini. Inilah kearifan Hindu yang mampu mengangkat nilai-nilai ataupun kepercayaan local yang bersifat positif. Lontar gong besi merupakan salah satu rujukan yang dapat menjawab pertanyaan ini. Dalam lonatr Gong besi disebutkan bahwa Tuhan yang satu berwujud banyak sesuai dengan tempat dan fungsinya.

Upanisad mengajarkan Brahman memiliki dua aspek yaitu Saguna Brahman dan Nirguna Brahman. Saguna Brahman adalah Tuhan yang memiliki sifat maha kuasa, Maha pencipta, Maha Besar, Maha kecil, Maha ada dan seterusnya atau Tuhan yang telah dilekatkan dengan berbagai penyifatan. Sedangkan nirguna Brahman adalah Tuhan yang tanpa sifat apapun, tak dapat dipahami. Saguna Brahman disebut juga Apara Brahman, sedangkan Nirguna Brahman disebut juga Para Brahman.

Ajaran Nirguna Brahman dan Saguna Brahman dalam Upanisad sejalan dengan ajaran Siwa Tattwa dalam ajaran Ketuhanan Hindu di Indonesia. Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dan, Tattwa Jnana kita dapati ajaran Paramasiwatattwa, Sadasiwatattwa dan Atmikatattwa. Dalam Tattwajnana disebutkan ada dua hakikat tertinggi yaitu Cetana dan Acetana yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Kesadaran disebut juga Siwa Tattwa sedangkan ketidaksadaran disebut Maya Tattwa. Dari Cetana lahirlah Purusa, dari  Acetana lahirlah Prakerti, pertemuan keduanya melahirkan ciptaan. Kesadaran atau Siwa Tattwa itu bertingkat sesuai dengan besarnya pengaru Maya yang emelakt padanya. Paramasiwatattwa adalah kesadaran Bhatara Siwa yang tertinggi yang tak tersentuh oleh sifat apapun, sehingga tidak bisa untuk dibayangkan apalagi diarcakan. Ia tanpa bentuk, tanpa sifat, beliau hanyalah kesadaran abadi.

Jenjang kedua adalah Sadasiwatattwa, yaitu Bhatara siwa yang telah terpengaruh maya, namun intensitasnya tidak terlalu banyak. Pada tingkatan ini Bhatara Siwa dipenuhi oleh Sarwajna, memilki sifat dan kemahakuasaan Cadu Sakti yang dilambangkan dengan Asta Dala. Ia menjadi obyek pemujaan manusia, karena Maha pengasih, Maha adil, Maha Bijak, Maha pemurah, Maha penyayang, Maha Pencipta dan seterusnya.

Jenjang ketiga adalah Atmikatattwa, yaitu Bhatara Siwa telah benar-benar ditutupi Maya, sehingga lupa akan kesejatiannya. Ia menjadi jiwa sekalian makhluk karena alpa inilah menyebabkan Ia tidak lagi Sarwajna, tidak lagi Sarwakarya, semua sifat Cadu Sakti lenyap karena ditutupi Maya.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (Brahman) dari tak terpikirkan, mengalami penurunan kesadaran menjadi Sadasiwatattwa, memiliki banyak gelar dan fungsi yang berbeda. Maka dari itulah umat Hindu mendirikan banyak pelinggih, arca (nyasa) untuk memulyakan sifat Tuhan sesuai dengan kebutuhan maupun profesinya. Bagi petani Tuhan dihadirkan sebagai Dewi Sri, bagi pedagang Dewi Melanting atau laksmi adalah pujaannya, sedangkan pelajar dan ilmuan maka Saraswati adalah Sang Dewi pemberi anugrah, demikian seterusnya. Tuhan yang satu dalam yang banyak, yang banyak dalam yang satu, itulah monoteisme Hindu Saiwa Sidhanta.


E. SENI MENGALIR DARI VEDA

Dalam hal menghubungkan diri dengan sang Maha pencipta atau yang dikenal dengan “Yuj”, yang menjadi Yoga, Veda mengajarkan tiga esensi dasar, yang merupakan sadhana, antara lain:

  1. Mudra, yang berasal dari urat kata Mud, yang artinya membuat senang. Mudra adalah gerakan-gerakan atau sikap tangan yang menyenangkan para Dewa. Gerakan Mudra ini sangat beragam yang biasanya dilskuksn oleh Sulinggih saat mapuja. Mudra merupakan gerakan tangan yang sangat rahasia yang mengandung aspek Satyam yaitu kebenaran, Siwam yaitu kesucian, dan Sundaram atau keindahan. Karena itulah tidak sembarang orang boleh menggunakan Mudra. Hanya orang-orang sucilah yang boleh menggunakannya.  Masyarakat secara umum memiliki penggunaan yang terbatas seperti Anjali yang merupakan simbul dari lahir batin, dan amusti karana yang merupakan simbuldari Tri kona dan Tri Murti. Dari Mudra munculah berbagai seni tari yang terdiri dari seni tari sakral dan seni tari propan. Seni tari sakral seperti rejang Dewa, Sang Hyang Jaran, sang Hyang dedari dan sebagainya hanya boleh diperuntukkan bagi persembahan kepada para Dewa yang merupakan manifestasi Sang Hyang Widhi.

 

  1. Mantra, merupakan lagu pujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Mantra adalah sarana menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta dalam bentuk bahasa. Dari Mantra menimbulkan seni suara, seperti kakawin, kidung, macapat, bahkan sampai pada lagu-lagu modern dewasa ini. Seni suara dalam agama Hindu dipersembahkan kepada Tuhan. Mantra inipun memiliki tiga aspek yaitu Satyam, siwam dan sundaram. Karena itulah ada Kuta Mantra atau pusat dari mantra adalah sesuatu yang sangat sakral dan tidak boleh sembarang orang mengucapkan. Janganlah hal ini dianggap sebagai sesuatu yang menghambat kemajuan dunia spiritual Hindu. Justru rambu-rambu ini merupakan suatu upaya untuk menjaga aspek Siwam atau kesucian dari Mantra. Kuta mantra ibarat pintu rahasia untuk membuka kekuatan Tuhan, sehingga hanya orang-orang yang mampulah yang berhak membuka pintu rahasia ini.
  1. Yantra, merupakan kiblat atau arah kemana kita menstanakan Sang Hyang widhi Wasa. Yantra dapat berupa gambar atau seni dua dimensi dan seni ukir atau gambar tiga dimensi. Atau dengan kata lain Yantra menimbulkan seni rupa yang dalam agama Hindu seni rupa juga di persembahkan kepada Tuhan. Pada akhirnya selain seni lukis, seni patung atau arca, maka berkembang pula banten yang juga merupakan simbul-simbul kebesaran Tuhan. Di samping itu juga munculnya aksara yang juga digunakan sebagai simbul atau stana dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam manifestasinya sebagai Dewi Ilmu pengetahuan. Karena itu dalam Agama Hindu barang siapa menggunakan tulisan untuk hal-hal yang tidak baik maka itu adalah dosa, terlebih lagi aksara itu di gunakan tidak pada tempatnya, misalnya gambar-gambar Dewa Krisna yang banyak dicetak pada kaos, atau aksara sebagai simbul Tuhan seperti aksara Om di cetak dalam baju kaos. Maksudnya mungkin baik tetapi bayangkan ketika hendak mencuci baju, pakaian ini berbaur dengan pakaian dalam. Bukankah ini merupakan pelecehan terhadap agama sendiri? Gambar Dewa yang seharusnya di sakralkan  tetapi malah dicampur dengan pakaian dalam.

Terlebih lagi tudingan Politheis, Agama bumi, penyembah berhala, sangat mungkin itu ditujukan pada orang Hindu, karena dalam kenyataanya orang Hindu sendiri tidak mengetahui Tattwa, yang merupakan ajaran dasar dari keyakinan yang mahabenar. Karena itulah Tatwa sebagai dasar pondasi untuk membangun Sraddha yang kuat bagi generasi Hindu ke depan sangat perlu diketahui.

 

ARTI AWATARA

22 Okt

žAwatara atau Avatar (Sansekerta: अवतार, avatāra, baca: awatara) dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestasinya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran.

Selengkapnya ambil AWATARA dalam bentuk ppt

Krishna Awatara

22 Okt

Kresna atau Krishna (Dewanagari: कृष्ण; dilafalkan kṛṣṇa menurut IAST; dilafalkan ‘kɹ̩ʂ.nə dalam bahasa Sanskerta) adalah salah satu Dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu karena dianggap merupakan aspek dari Brahman.[1] Ia disebut pula Nārāyana, yaitu sebutan yang merujuk kepada perwujudan Dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha. Ia biasanya digambarkan sebagai sosok pengembala muda yang memainkan seruling (seperti misalnya dalam Bhagawatapurana) atau pangeran muda yang memberikan tuntunan filosofis (seperti dalam Bhagawadgita). Dalam Agama Hindu pada umumnya, Kresna dipuja sebagai awatara Wisnu yang kedelapan, dan dianggap sebagai Dewa yang paling hebat dalam perguruan Waisnawa. Dalam tradisi Gaudiya Waisnawa, Kresna dipuja sebagai sumber dari segala awatara (termasuk Wisnu).[2]
Jika anda ingin memperoleh seluruh media bahan ajar dalam bentuk ppt silahkan donwnload disini.

KRISHNA कृष्ण

—Kresna atau Krishna (Dewanagari: कृष्ण; dilafalkan kṛṣṇa menurut IAST; dilafalkan ‘kɹ̩ʂ.nə dalam bahasa Sanskerta) adalah salah satu Dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu karena dianggap merupakan aspek dari Brahman.[1] Ia disebut pula Nārāyana, yaitu sebutan yang merujuk kepada perwujudan Dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha. Ia biasanya digambarkan sebagai sosok pengembala muda yang memainkan seruling (seperti misalnya dalam Bhagawatapurana) atau pangeran muda yang memberikan tuntunan filosofis (seperti dalam Bhagawadgita). Dalam Agama Hindu pada umumnya, Kresna dipuja sebagai awatara Wisnu yang kedelapan, dan dianggap sebagai Dewa yang paling hebat dalam perguruan Waisnawa. Dalam tradisi Gaudiya Waisnawa, Kresna dipuja sebagai sumber dari segala awatara (termasuk Wisnu).[2]

Power Of Words In Healing

17 Okt

http://viewer.docstoc.com/
var docstoc_docid=”40506781″;var docstoc_title=”POWER OF WORDS IN HEALING”;var docstoc_urltitle=”POWER OF WORDS IN HEALING”; POWER OF WORDS IN HEALING

BUTIR-BUTIR PENCERAHAN ACARYA SUTAPANANDA

8 Okt


DADA SUTAPA NANDA, seorang pria asli  Bali beragama Hindu  yang telah menempuh jalan sanyasin. Pria kelahiran  Desa Pakisan, Tejakula, Buleleng ini telah melakukan Dharma Yatra ke sejumlah Negara di dunia. Dia membawa kejernihan. Dia mengabarkan kedamaian, kemana-mana. Menyebarkan dharma, membantu sesama. Ini adalah kunjungan beliau yang kedua setelah kunjungan beliau di tahun 2006 yang diprakarsai oleh dr. Made Tirta Yasa Warga Kota Bontang yang pernah tugas di Irian Jaya.

Umat Hindu Kota Bontang menyambut baik kehadiran beliu yang dapat dilihat dari kehadiran umat yang memenuhi Wantilan Pura Buana Agung Bontang. Dalam hari pertama diskusi dari pukul 17.00 wita  baru berakhir pk. 20.30 wita.  Hal ini disebabkan banyaknya pertanyaan umat yang berkisar pada hidup dan spiritualitas. Dengan penampilan beliau yang sederhana dan tenang umat mendengarkan setiap wejangan tanpa terasa hingga beberapa jam.

Disela-sela diskusi menjawab berbagai pertanyaan tentang hidup dan spiritualitas Acarya juga mengajarkan Tandawa dan kausiki berserta filisofisnya. Tandawa adalah asanas dalam bentuk tarian untuk membangkitkan keberanian dalam menghadapi tantangan hidup yang khusus diperuntukkan bagi kaum laki-laki yang diciptakan Dewa Siwa dimasa lalu. Sedangkan kausiki merupakan gerakan asanas sejenis tarian yang diciptakan khusus untuk perempuan yang dapat mencegah menyembuhkan 22 penyakit perempuan.

Berikut beberapa kutipan pesan pesan Acarya pada umat Hindu di Kota Bontang.

1. Menutup Karmaphala Baru Mengikis Karma Wasana

“Untuk bebas dari punabhawa maka hendaknya seseorang dapat menutup karmaphala  baru agar tidak mempengaruhinya,  dan mengikis karma wasana yang telah melekat dalam dirinya!”

Samasara atau punarbhawa adalah reaksi atau hasil dari perbuatan sebelumnya. Setiap perbuatan akan menghasilkan reaksi sebagai akibat dari apa yang pernah dilakukan. Jika dalam kehidupan ini kita mengalami penderitaan maka itu adalah sebuah proses penyucian karma dari masa lalu. Dengan penyadaran seperti ini orang tidak akan sedih ketika tertimpa bencana, karena merupakan bagian dari penyucian. Ketika phala (hasil) dari karma terus dikikis maka akan semakin tipislah karma wsana itu. Namun semua penyucian karma itu haruslah dibarengi dengan menutup karma baru.

Menutup karma baru agar tidak mempengaruhi kehidupan kita bukanlah pekerjaan mudah tetapi dapat dilatih dengan praktek sadhana, yang mengarahkan seseorang bukan  menjadi pemilik atas setiap tindakan dan hasilnya tetapi hanya sebagai sarana atau alat. Dengan menyadari bahwa kita hanya sebagai alat

2. Membangun Ego Universal

Ego ada dalam setiap diri manusia, tak mungkin dilenyapkan tetapi diarahkan. Ego individu menuju pada keakuan yang sempit yang membuat manusia semakin kerdil. Ego hendaknya diarahkan pada ego Universal, yaitu ego milik semesta. Di sini artinya seseorang hendaknya dapat membiasakan diri bahwa segala tindakannya bukanlah miliknya tetapi adalah karena kehendak sang pemilik hidup.

Dengan menyadari bahwa segala tindakan adalah kehendak yang maha kuasa maka akan menekan ego kesombongan, dan menggiring seseorang untuk hidup sederhana yang penuh kedamaian. Disini kita dituntun untuk menjadi seorang pelayan dari seluruh umat manusia, menjadi penyayang atas semua mahluk, menjadi orang yang penuh kasih universal.

3. Doa Dalam Setiap Tindakan

Setiap tindakan yang kita lakukan hendaknya berdasarkan kebenaran dan cinta kasih. Inilah doa yang setipa hari kita lakukan dalam setiap langkah hidup kita. Dengan menggunakan doa sebagai tindakan kita menjadi sebagai pelaku dari setiap butir ajaran Agama Hindu dan bukan sebagai penguasa atas teori-teori agama yang selama ini terjadi dinegara kita. Jika tindakan kita belum sejalan dengan apa yang kita mohon maka itu bukanlah tindakan yang benar, dan sia-sialah ribuan doa jika tindakan kita keliru atau berpaling dari jalan dharma

4. Madawa Sewa Manawa Sewa

Menjadi seorang pelayan akan mengantarkan kita pada cara berfikir jujur dan sederhana. Melayani manusia hendaknya bukan karena didasari pamrih harta atau nama besar atau balas jasa. Melayani seseorang hendaknya didasari pada cinta kasih, dimana dalam setiap makhluk terdapat atman yang sama, yang ada pada diri kita. Melayani seseorang berarti melayani sang atma yang tidak lain berarti melayani Tuhan, “Madawa sewa Manawa sewa –melayani Tuhan dengan melayani umat manusia”

5. Jangan Takut Belajar Spiritualitas

Orang sering keliru mengartikan spiritual sebagai sesuatu yang tinggi yang sulit dicapai oleh setiap orang. Belajar spiritual yang sesungguhnya adalah belajar berfikir, berkata dan berbuat yang benar. Hal ini dapat dilakukan oleh siapapun yang ingin berusaha berbuat baik tanpa kecuali. Seperti halnya seorang Brahmacarin yang artinya orang yang selalu belajar. Masa brahmacari tidak terbatas pada masa muda saja tetapi sepanjang hayat manusia itu belajar.

6. Menjadi Sanyasin Kaya

Menjadi sanyasin adalah pelayan umat, karena sebagai pelayan sanyasin perlu bekerja. Sebab tanpa bekerja kita tak dapat memelihara diri kita sendiri. Bekerja sebagai upaya memperoleh harta adalah suatu keharusan tetapi janganlah terikat pada harta yang telah kita peroleh. Jika seseorang menjadi sanyasin yang kaya bukankah justru dapat menolong orang banyak?

7. Bertapa dalam Keramaian

    Walaupun seseorang hidup dalam dunia yang ramai dan hiruk pikuk, namun hendaknya dapat mengendalikan keinginan. Jika keinginan tak terkendali maka inilah yang menyebabkab seseorang menjadi stress. Hal ini banyak terjadi di kota-kota besar diman tuntutan hidup semakin banyak namun tak dapat diimbangi dengan besarnya pendapatan. Orang cenderung tidak sabar, selalu ingin yang instan. Inilah pentingnya pengendalian diri atau tapa bagi umat Hindu guna menghindari sters akibat pola hidup yang kebanyakan tidak seimbang saat ini.

    8. Sadhana Harus Dipraktekkan

      Bagaimanapun pandainya seseorang menguasai ilmu teori agama, tetapi jika tidak melakukan praktek sadhana, maka semua teori itu sia-aia belaka. Lebih baik tahu sedikit tentang agama tetapi langsung dipraktekkan. Inilah cara hidup sederhana dalam cara beragama yang paling mudah. Dengan praktek sadhana seseorang dituntun dekat dengan Hyang Widdhi sehingga setiap langkahnya akan selalu eling atau selalu sadar. Jika setiap langkah manusia dibarengi dengan kesadaran, maka seluruh dunia akan menjadi damai. Karena itu marilah praktekkan sadhana dari sekarang juga.

      9. Silent Game

      Silent game merupakan salah satu cara yang dapat dipraktekkan sejak dini bagi anak-anak, sehingga mereka terbiasa untuk mengendalikan pikiran. Dengan membiasakan diri mengendalikan pikiran melalui permainan diam diharapkan setiap orang akan terbiasa berlatih menenangkan diri. Silent game telah sering dipraktekkan di Australia oleh Acarya melalui Ananda Marga.

      10. Yantra Sebagai Simbol

      Arca dan symbol suci dalam agama Hindu adalah yantra, yaitu sarana yang sucikan guna mempermudah umat Hindu dalam menghubungka diri dengan Tuhan. Yantra bukanlah yang disembah tetapi perantara bagi umat agar lebih konsentrasi. Dengan demikian benda-benda suci adalah symbol-simbol yang erat kaitannya dengan upaya pengendalian pikiran. Dengan pikiran yang terkendali maka seseorang akan lebih focus pada tujuan.

      Dalam akhir pertemuan di Kota Bontang beliau memberikan konsultasi meditasi secara pribadi, kemudian dilanjutkan dengan latihan meditasi yang diikuti oleh puluhan umat Hindu. Sangt disayangkan karena waktu beliau yang terbatas maka ibu-ibu WHDI yang sedianya juga ingin belajar meditasi belum dapat dilayani. Semoga dalam lawatan berikutnya Dada Acaraya Sutapananda dapat memberikan bimbingan yang lebih intensif.

      Om Santih Santih Santih Om

      Kaltim Juara I Yoga Asanas Jambore Pasraman 2010

      8 Okt

      sarwe bhawantu sukinah,

      sarwe santu niramayah,

      sarwe badhrani pasyantu,

      ma kascid dhuka bhagbawet.

      (Ketua Pasraman Widya Buana, I Putu Wahyu Diantara,

      Agnesia Novia T, Kadek Widhi Cahya Harum S.)

      Jambore pasraman pertama tahun 2010 telah lewat namun semangat peserta para siswa pasraman tak pernah surut.

      Hal inilah yang terlukis pada tiga  siswa pasraman Widya Buana Kota Bontang, I Putu Wahyu Diantara, Kadek Widhi Cahya Harum Sari, Agnesia Novia Tivani, setelah meraih juara I Yoga Asanas dalam jambore Pasraman Tingkat Nasional tahun 2010 pada tanggal 7 s.d 10 Agustus 2010. Tiga siswa pasraman Widya Buana yang mewakili Kalimantan Timur ini telah berlatih sejak lama bahkan hampir setiap dharma santih baik tingkat Kota maupun Provinsin  selalu tampil membawakan atraksi Yoga Asanas.

      Kegigihan tiga siswa Pasraman Widya Buana ini,  akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan dengan meraih juara I Yoga Asanas, sekaligus satu-satunya medali yang dibawa kontingen Kalimantan Timur yang dipimpin langsung oleh Pembimas Hindu Kalimantan Timur Bapak A.A. Gde Raka Ardita. Dalam persiapan kontingen sejak bulan Juli 2010 beliau terjun langsung ke lapangan guna mengecek kesiapan peserta Jambore Tingkat Nasional, yang latihannya dipusatkan di Pura Buana Agung Kota Bontang. Peserta Jambore pasraman asal Kalimantan Timur berjumlah 12 masing-masing NI PUTU  LAKSMI CINTYA DEWI, PUTU KRISNA YUDANI, I PUTU WAHYU DIANTARA, AGNESIA NOVIA TIVANI, NI NYOMAN AYU PUTRI INTAN PERMATA SARI, PUTU SRI DEVI TARI, I GUSTI AYU ARISTI DHIKA PRANANI, I PUTU ARI GUNANTA, DANDA PRASNA SATWIKA, NI MADE AYU SUKMA ASRITYA, NI PUTU EKA AGUSTINA, siswa ditemani 4 official; I Gede Adnyana, Ibu Yatni Suri, Ibu Ida Ayu Ketut S., Ibu  Ni Nyoman Astini.

      Ketiga siswa pasraman peserta Yoga Asanas ini memang telah terbiasa memimpin Yoga Asanas setiap hari Minggu, bahkan mereka sempat memberikan pelatihan Yoga Asanas di Kutai Timur atas permintaan tokoh umat Hindu Bapak Ngurah Ambara. Walaupun mereka sangat muda namun telah memiliki bakat dan kemauan keras untuk mendalami Yoga Asanas. Semua ini tidak lepas dari dorongan orang tua, dan dukungan tokoh masyarakat khususnya PHDI Kota Bontang yang memberikan perhatian cukup baik dibidang pendidikan.

      Tokoh Hindu Bontang Bapak Ir. Ketut Rusnaya menyambut gembira prestasi ini dan berharap agar kegiatan pasraman Widya Buana ini bisa lebih baik. Rencana kedepan adalah bagaimana menyalurkan bakat siswa Pasraman ini agar dapat disalurkan dan dimanfaatkan bagi dunia pendidikan khususnya Yoga asanas. Salah satu yang menjadi kendala adalah guru Pasraman Widya Buana sendiri belum memiliki sertifikat instruktur Yoga sehingga secara legalitas belum dapat dipertanggungjawabkan sebagai pengajar Yoga Asanas, karena hanya belajar pada saat mengikuti perkuliahan di Universitas Hindu Indonesia Denpasar.

      Ketua Pasraman Widya Buana, I Gede Adnyana, berharap agar pihak UNHI dapat memberikan solusi, dan secara pribadi telah ditanggapi positif oleh Bapak I Gst. Bagus Wirawan selaku Pembina Yoga Asanas di Unhi. Hal ini disampaikan ketika belaiu bertugas ke Samarinda dalam rangka ujian skripsi bagi guru-guru agama Hindu di Kalimantan timur pada tanggal 27 September 2010.

      Melalui tulisan ini Ketua Pasraman Widya Buana mohon agar UNHI dapat menjadi salah satu Pembina Yoga di Bontang dan Kalimantan Timur pada umumnya, sehingga kedepan pembinaan Yoga memiliki gambaran, dan tujuan yang jelas dan lebih baik dari sebelumnya. Jika hal ini terwujud maka UNHI akan memilki jaringan Kelas Yoga yang berpusat diluar Bali. Semoga keinginan mulia guna membangun persahabatan melalui Yoga ini dapat terwujud. Kami menunggu jawaban dari UNHI.

      Loka Samastha Sukino Bawantu

      Om Santih, Santih, Santih Om