SIWA TATTWA


 

Gambar berikut adalah peninggalan di Vaprakeswara-Kalimantan Timur pada masa keemasan kerajaan Kutai Martadipura.

 

 

Dalam Siwa tattwa ini akan dibahas dialog tentang bagaimana ajaran Siwa Tattwa sebagai dasar pemikiran dan dasar pelaksanaan Agama Hindu di Indonesia.

OM AWIGNAMASTU NAMASIDHAM

I. PURWAKA

Agama merupakan ajaran yang bersumber dari penguasa Agung alam semesta, sebagai awal, tengah dan akhir dari sarwabhawa (segala yang ada). Ia sangat sempurna, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa awal, tengah, dan akhir. Bagaimanapun kita memikirkan-Nya sangatlah tidak mungkin membayangkan Ia yang Maha sempurna dengan pikiran yang sangat terbatas.

a. Tanya

menurut sebagian orang Hindu itu merupakan agama yang rumit, jika di bandingkan dengan agama lainya khususnya dari sisi theologi. Bagaimanakah cara yang mudah untuk memahami ajaran Hindu!

b. Jawab

Sebelum memasuki materi Siwa Tattwa perlu dipahami pola pikir yang akan mengantarkan kita belajar Hindu secara benar. Menurut Drs. I Gede Sura, sedikitnya ada tiga pola pikir:

  1. Pola pikir Ilmiah yaitu pola pikir yang didasarkan pada proses ilmiah atau dikenal juga dengan kebenaran keilmuan. Pola pikir ini sangat berguna dalam penelitian-penelitian ilmu pengetahuan yang lebih mengedepankan logika. Orang yang berhasil menerapkan pola pikir ini dikenal dengan ilmuan. Misalnya Einstein, Thomas Alpha Edison, dsb.
  2. Pola pikir Filsafat, didasarkan pada renungan secara mendalam oleh manusia sehingga kebenaran yang diperoleh adalah kebenaran filsafati, sedangkan sang perenung yang memperoleh jawaban  atas pokok persoalan yang dipecahkan disebut Filosof atau filsuf. Misalnya: Plato, Aristoteles, dsb.
  3. Pola pikir Agama yang bersumber dari keyakinan. Karena bersumber dari keyakinan maka pola pikir agama lebih mengutamakan rasa. Pola pikir agama sangat dipengaruhi oleh ajaran dari masing-masing agama, karena itu agama yang berbeda memiliki pola pikir yang berbeda pula. Pola pikir Agama Hindu akan berbeda dengan pola pikir Islam, Kristen, Katolik maupun Buddha.

Untuk memperoleh cara berfikir yang sistematis, seseorang harus memilah-milah sendiri dalam pikirannya apakah ini agama, apakah ini filsafat ataukan ilmiah. Namun dalam kenyatannya terkadang ada kaitan antara satu pola pikir dengan pola pikir yang lain, yang mana hal ini akan menimbulkan kerancuan apabila tidak didasari oleh Wiweka. Campur aduk pola pikir agama-agama sangat sering terjadi sehingga terkesan adanya pemaksaan atau penjajahan oleh satu agama terhadap agama yang lain.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketidaktahuan alias kebodohanlah yang menyebabkan terjadinya berbagai konflik agama. Bagi umat Hindu yang berada diluar Bali pencampuradukan pola pikir agama sangat terasa. Kontaminasi Agama diluar Hindu mulai mempengaruhi dan sangat terasa, misalnya kalau di agama A ada ini maka seorang Hindu akan menjawab,”Ia dalam agama Hindu juga ada ini!” Walaupun jawaban si Hindu tadi belum tentu benar.

a. Tanya

Dari apa yang disampaikan tadi menandakan bahwa setiap agama memiliki pola pikir yang berbeda, Lalu darimanakah kita harus mulai mengenal ajaran theology Hindu?

b. Jawab

Untuk mengenal ajaran Hindu maka kita harus mulai dari kitab Suci Weda sebagai sumber kebenaran. Reg Weda Sebagai Weda tertua merupakan rujukan yang mengunakan bahasa syair yang kadandkala sulit dipahami, untuk itulan Weda hendakanya dipelajari melalui itihasa dan purana. Itihasa dan purana merupakan kitab Bantu Weda yang cukup popular dimasyarakat. Antara itihasa, purana dengan Reg Weda memiliki hubungan yang erat, dimana itihasa & Puarana merupakan jembatan bagi mempelajari berbagai sari ajaran Weda termasuk theology didalamnya. Bagaimanapun itihasa dan purana menyimpan semangat  Catur Weda di dalamnya.

a. Tanya

Didalam Veda kita bisa melihat begitu banyak nama Dewa yang seringkali bahkan tidak kita temukan pemujaannya dewasa ini. Hal ini juga sering diperbincangkan dan bahkan dikatakan Hindu sebagai agama Polytheis, bagaimana menurut pandangan anda apakah Hindu intu polytheis atau monotheis?

b. Jawab

Dewa berasal dari kata Dev yang artinya sinar, Dewa dalam hal ini merupakan sinar suci dari Sang Hyang Widhi Wasa. Semua Dewa-Dewa merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Tunggal, hal ini diuraikan dalam Reg Weda Mandala I Sukta 164 Mantra ke-46 yangmenyebutkan:

Indram Mitram Varuna Agni ahur atho divyah sasuparno garutman,

Ekam sad vipra bahudha vadhantyagnim yamam matarisvanam ahuh.

Artinya:

Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan dia yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok.

Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisvan.

Dalam komentarnya tentang Dewa-Dewa Drs. I Gede Sura memberikan kesimpulan yang sangat kuat yang dapat dijadikan kesimpulan. Dewa merupakan perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasi dari Yang Maha Tunggal.

Demikian pula Sri Aurobindo memaparkan tentang nama Dewa dengan tafsiran yang menkajubkan; Agni berarti Tuhan yang Maha Mengetahui dan yang sangat dimuliakan; Indra berarti Tuhan Yang Maha Cemerlang; Soma sebagai tuhan yang layak kita cintai, dan kita abdi; Varuna adalah Tuhan Yang Maha Adil, Maha Mulia; Savita, Tuhan Sang Pencipta; Visnu, Tuhan Maha Ada; Pusan, Tuhan sebagai pemelihara; dan Marut adalah nafas vital.

Melalui kutipan diatas dapat kita simpulkan bahwa nama-nama Dewa sangat populer pada Jaman Weda yang dikaitkan dengan alam pengalaman manusia. Dewa yang berbeda dipandang memiliki fungsi yang berbeda, namun semuanya adalah perwujudan dari Yang Esa. Dengan demikian maka ajaran Ketuhanan dalam Veda adalah ajaran yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah Esa adanya, namun ia meliputi segala mempunyai banyak nama. Ia yang esa berada pada semua yang ada dan semua yang ada berada pada yang Esa.

a. Tanya

Disamping kitab Catur Weda yang sudah diuraikan tadi kita juga mengenal kitab Upanisad. Apakah Kitab ini juga bias dijadikan rujukan dalam mempelajari theology Hindu?

b. Jawab

TUHAN DALAM UPANISAD

Upanisad artinya duduk di dekat guru untuk mendengarkan ajaran. Cara belajar Upanisad banyak dilakukan  diasrama-asrama dalam hutan-hutan (aranya) sehingga kitab upanisad sering disebut juga Kitab Aranyaka. Lahirnya kitab Upanisad merupakan babak baru bagi perkembangan Agama Hindu di India, yaitu peralihan dari Zaman Brahmana yang lebih mengutamakan Yajnya sebagai jalan mendekatkan diri Kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa.

Secara tradisi kita mengenal 108 kitab Upanisad yang merupakan ulasan-ulasan dari guru yang berbeda misalnya: Isa upanisad, Chandogya Upanisad, Brhadaranyaka Upanisad, Kena Upanisad, Svetasvatara Upanisad, Maitri Upanisad, Prasna Upanisad, dan sebagainya. Yang sangat menakjubkan dalam kitab Upanisad adalah ulasan-ulasan yang begitu mendalam mengenai  Brahman dan Atman, Maya dan penciptaan alam semesta, karma dan penjelmaan serta ajaran tentang moksa.

Istilah Brahman untuk menyebut Tuhan dalam kitab-kitab Upanisad sangatlah populer. Brahman berasal dari akar kata “brh” yang artinya yang memberi hidup, menumbuhkan, menjadikan hidup, menjadikan berkembang, meluap (Pudja, 1983: 14).

Dengan demikian maka Brahman adalah nama Tuhan yang umum dalam Upanisad-upanisad. Brahman Bukan hanya maha ada, ada dalam semua tetapi semua yang ada, ada di dalam Brahman.

a. Tanya

Kita sudah secara panjang lebar membahas theology Hindu dalam kitab suci Weda dan upanisad. Dari penjelasan tadi tidak satupun nama Bhatara  dalam kitab suci. Apakah ini berarti kita selama ini salah menyebut nama Tuhan dalam Hindu?

b. Jawab

TUHAN DALAM AGAMA HINDU DI INDONESIA (SIWA TATTWA)

Agama Hindu yang berkembang di Indonesia, secara umum disebut ajaran Hindu Saiwa Sidhanta. Seperti dalam uraian di atas baik dalam Weda maupun upanisad Tuhan dipanggil dengan sebutan yang berbeda. Di Nusantara juga ditemukan nama-nama Tuhan yang berbeda. Jika di India nama-nama Tuhan lebih dikenal sebagai Dewa yang merupakan sinar suci Sang Hyang Widhi, maka di Indonesia lebih populer dengan sebutan Bhatara.

Istilah Bhatara berasal dari akar kata bhatr yang artinya pelindung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan yang menjadi obyek pemujaan sebagai aspek pelindung, artinya keinginan rasa aman, nyaman sangat dibutuhkan bagi sebagian besar rakyat Nusantara. Karena itu segala yang melindungi disebut dengan Bhatara. Misalnya Bhatara Brahma lebih populer daripada Dewa Brahma, Bhatara Wisnu lebih populer dari Dewa Wisnu demikianlah nama Bhatara itu menjadi sangat umum dalam Lontar-lontar Tattwa, yang merupakan sumber ajaran Ketuhanan dalam Agama Hindu di Indonesia.

a. Tanya

Untuk umat Hindu di Indonesia menyebut nama tuhan itu Sang Hyang Widdhi Wasa, namun dari tadi saya tidak melihat ada pembahasan tentang nama ini dalam Kitab Suci. Dapatkah saudara berikan penjelasan tentang hal ini!

b. Jawab

Secara umum sebutan untuk Tuhan dalam masyarakat Indonesia adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Menurut Drs. I Gede Sura dan kawan-kawan Sang Hyang Widhi Wasa berarti Yang Menakdirkan Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan Sang hyang Tuduh atau Sang hyang Titah.      Namun istilah ini tidak secara tertulis disebutkan dalam sumber lontar. Dalam Sastra lontar yang sebagian besar bercorak Siwa yang ditemukan di Indonesia, Tuhan dipanggil dengan sebutan Bhatara Siwa. Dengan demikian maka agama Hindu di Indonesia secara umum memuja Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Widhi Wasa.

a. Tanya

Sumber apakah yang digunakan oleh nenek moyang kita dalam mengahayati ajaran Agama, yang kita terima sampai saat ini? Apakah ini tidak bertentanga denga Weda maupun Upanisad?

b. Jawab

Seperti halnya Weda maupun Upanisad maka ajaran Ketuhanan dalam Siwa Tattwa tidaklah berbeda, mengingat Weda sebagai Sumber tertinggi ajaran Dharma. Dalam lontar Jnanasiddhanta kita dapati uraian tentang Tuhan yang senada dengan Weda maupun Upanisad:

Sa Eko bhagawan sarwah

Siva karana karanam,

Aneko viditah sarwah

Catur vidhasya karanam

Ekatwanekatwa swalaksana Bhattara. Ekatwa ngaranya, kahidep maka laksana ng Siwatatwa. Ndan tunggal, tan rwatiga kahidepanira, Mangekalaksana Siwa karana juga, tan paprabedha.

Aneka Ngaranya kahidepan bhattara maka laksana caturdha. Caturdha ngaranya laksananiran sthula, suksma, parasunya.

Artinya:

SifatBhatara adalah Eka dan aneka. Eka artinya Ia dibayangkan bersifat Siwa Tattwa. Ia hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat Esa saja sebagai Siwa karana (Siwa sebagai Pencipta)tiada perbedaan.

Aneka artinya Bhattara dibayangkan bersifat Caturdha artinya adalah stula suksma para sunya.

Uraian yang demikian akan banyak kita jumpai dalam sumber-sumber Siwatattwa yang lain, yang pada akhirnya mengarahkan kita untuk menarik kesimpulan Tuhan Itu Satu. Tuhan yang satu ada dalam yang banyak, dan yang banyak ada dalam yang satu. Atau semua yang ada bersumber dari Tuhan, ada didalam Tuhan, diresapi oleh Tuhan.

a. Tanya

Kita mengenal Tri Murti dalam beberapa sumber yang berbeda, ada yang menyebut Brahma, Wisnu, Siwa, ada yang menyebut Brahma wisnu Iswara, yang manakah yang benar!

b. Jawab

Nama Tuhan didasarkan pada sifat dan fungsi yang dilekatkan pada aspek kekuatan Brahman. Hal ini dapat kita jumpai dalam lontar Bhuwanakosa Patalah III sloka76:

Brahma srjayate lokam

Visnuve palakastitam

Rudratve samharasceva

Tri murttih nama evaca

Artinya:

Adapun penampakan Bhatara Siwa dalam mencipta dunia ini adalah:

Brahma wujudNya waktu menciptadunia ini,

Wisnu wujudNya waktu memelihara dunia ini,

Rudra wujudnya waktu mempralina dunia ini,

Demikianlah tiga wujudNya (Tri Murti) hanya beda nama.

Sedangkan dalam puja kramaning sembah Tri Murti di sebut sebagai Brahma, Wisnu, Isawara:

Om Brahma Wisnu Iswara Dewam, Jiwatmanam trilokanam

Sarwa jagat pratistanam, Sarwa roga winasanam

Sarwa wigna winasanam, Wigna desa winasanam

Om namasiwaya.

Dalam uraian diatas Bhatara Siwa sebagai Tri Murti, yang satu berwujud tiga sesuai dengan fungsinya. Bhatara Siwa adalah Brahma Wisnu dan Iswara, maka Brahma Wisnu dan Iswara adalah Bhatara Siwa. Yang satu berwujud tiga, maka yang tiga itu sesungguhnya satu.

 

Dalam beberapa uraian Siwa Tattwa juga kita dapati ajaran yang menyatakan Tuhan bersifat Imanen dan transenden. Imanen artinya hadir dimana-mana, transenden artinya mengatasi pikiran dan indriya manusia. Berikut kutipan slokanya:

Sivas sarwagata suksmah

Bhutanam antariksavat

Acintya mahagrhyante

Na indriyam parigrhyante

Artinya:

Bhatara Siwa  meresapi segala, Ia gaib tak dapat dipikirkan, Ia seperti angkasa, tak terjangkau pikiran dan indriya.

Dari kutipan sloka diatas disimpulkan bahwa Bhatara Siwa memiliki sifat meresapi segala, artinya Ia hadir pula dalam setiap pikiran manusia maupun indria, namun Ia tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, karena Ia mengatasi pikiran dan Indriya. Ia hadir dalam diri kita namun tidak kita ketahui karena keterbatasan manusia. Karena Ia hadir dan meresapi segala maka ia maha mengetahui, tidak ada satupun mahluk yang bisa lepas dari pengamatannya. Segala tindakan manusia, semut dan kuman bahkan daun yang jatuh sekalipun selalu ada dalam pengelihatannya.

Ia ada pada semua yang ada, semua yang ada berada dalam diri-Nya.

a. Tanya

Nampaknya kini telah ada titik terang mengenai perbadaan nama-nama Tuhan yang berbeda sebagai manifestasi Sang Hyang Widdhi. Namun masih ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran saya yaitu nama-nama bhatara yang begitu banyak, antara satu pura dengan pura lainya berbeda, atau bahkan di satu areal pura begitu banyak nama nama bhatara yang harus di puja, mengapa nama seperti ratu nyoman yang kebali-balian muncul juga sebagai salah satu dewa!

b. Jawab

Kehadiran Hindu tidak serta merta mengubah kepercayaan masyarakat Pra hindu. Ratu anglurah, ratu wayan, made dst. Merupakan nama Tuhan dalam bahasa local yang tetap terpelihara samapai saat ini. Inilah kearifan Hindu yang mampu mengangkat nilai-nilai ataupun kepercayaan local yang bersifat positif. Lontar gong besi merupakan salah satu rujukan yang dapat menjawab pertanyaan ini. Dalam lonatr Gong besi disebutkan bahwa Tuhan yang satu berwujud banyak sesuai dengan tempat dan fungsinya.

Upanisad mengajarkan Brahman memiliki dua aspek yaitu Saguna Brahman dan Nirguna Brahman. Saguna Brahman adalah Tuhan yang memiliki sifat maha kuasa, Maha pencipta, Maha Besar, Maha kecil, Maha ada dan seterusnya atau Tuhan yang telah dilekatkan dengan berbagai penyifatan. Sedangkan nirguna Brahman adalah Tuhan yang tanpa sifat apapun, tak dapat dipahami. Saguna Brahman disebut juga Apara Brahman, sedangkan Nirguna Brahman disebut juga Para Brahman.

Ajaran Nirguna Brahman dan Saguna Brahman dalam Upanisad sejalan dengan ajaran Siwa Tattwa dalam ajaran Ketuhanan Hindu di Indonesia. Dalam Lontar Wrhaspati Tattwa dan, Tattwa Jnana kita dapati ajaran Paramasiwatattwa, Sadasiwatattwa dan Atmikatattwa. Dalam Tattwajnana disebutkan ada dua hakikat tertinggi yaitu Cetana dan Acetana yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Kesadaran disebut juga Siwa Tattwa sedangkan ketidaksadaran disebut Maya Tattwa. Dari Cetana lahirlah Purusa, dari  Acetana lahirlah Prakerti, pertemuan keduanya melahirkan ciptaan. Kesadaran atau Siwa Tattwa itu bertingkat sesuai dengan besarnya pengaru Maya yang emelakt padanya. Paramasiwatattwa adalah kesadaran Bhatara Siwa yang tertinggi yang tak tersentuh oleh sifat apapun, sehingga tidak bisa untuk dibayangkan apalagi diarcakan. Ia tanpa bentuk, tanpa sifat, beliau hanyalah kesadaran abadi.

Jenjang kedua adalah Sadasiwatattwa, yaitu Bhatara siwa yang telah terpengaruh maya, namun intensitasnya tidak terlalu banyak. Pada tingkatan ini Bhatara Siwa dipenuhi oleh Sarwajna, memilki sifat dan kemahakuasaan Cadu Sakti yang dilambangkan dengan Asta Dala. Ia menjadi obyek pemujaan manusia, karena Maha pengasih, Maha adil, Maha Bijak, Maha pemurah, Maha penyayang, Maha Pencipta dan seterusnya.

Jenjang ketiga adalah Atmikatattwa, yaitu Bhatara Siwa telah benar-benar ditutupi Maya, sehingga lupa akan kesejatiannya. Ia menjadi jiwa sekalian makhluk karena alpa inilah menyebabkan Ia tidak lagi Sarwajna, tidak lagi Sarwakarya, semua sifat Cadu Sakti lenyap karena ditutupi Maya.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (Brahman) dari tak terpikirkan, mengalami penurunan kesadaran menjadi Sadasiwatattwa, memiliki banyak gelar dan fungsi yang berbeda. Maka dari itulah umat Hindu mendirikan banyak pelinggih, arca (nyasa) untuk memulyakan sifat Tuhan sesuai dengan kebutuhan maupun profesinya. Bagi petani Tuhan dihadirkan sebagai Dewi Sri, bagi pedagang Dewi Melanting atau laksmi adalah pujaannya, sedangkan pelajar dan ilmuan maka Saraswati adalah Sang Dewi pemberi anugrah, demikian seterusnya. Tuhan yang satu dalam yang banyak, yang banyak dalam yang satu, itulah monoteisme Hindu Saiwa Sidhanta.


E. SENI MENGALIR DARI VEDA

Dalam hal menghubungkan diri dengan sang Maha pencipta atau yang dikenal dengan “Yuj”, yang menjadi Yoga, Veda mengajarkan tiga esensi dasar, yang merupakan sadhana, antara lain:

  1. Mudra, yang berasal dari urat kata Mud, yang artinya membuat senang. Mudra adalah gerakan-gerakan atau sikap tangan yang menyenangkan para Dewa. Gerakan Mudra ini sangat beragam yang biasanya dilskuksn oleh Sulinggih saat mapuja. Mudra merupakan gerakan tangan yang sangat rahasia yang mengandung aspek Satyam yaitu kebenaran, Siwam yaitu kesucian, dan Sundaram atau keindahan. Karena itulah tidak sembarang orang boleh menggunakan Mudra. Hanya orang-orang sucilah yang boleh menggunakannya.  Masyarakat secara umum memiliki penggunaan yang terbatas seperti Anjali yang merupakan simbul dari lahir batin, dan amusti karana yang merupakan simbuldari Tri kona dan Tri Murti. Dari Mudra munculah berbagai seni tari yang terdiri dari seni tari sakral dan seni tari propan. Seni tari sakral seperti rejang Dewa, Sang Hyang Jaran, sang Hyang dedari dan sebagainya hanya boleh diperuntukkan bagi persembahan kepada para Dewa yang merupakan manifestasi Sang Hyang Widhi.

 

  1. Mantra, merupakan lagu pujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Mantra adalah sarana menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta dalam bentuk bahasa. Dari Mantra menimbulkan seni suara, seperti kakawin, kidung, macapat, bahkan sampai pada lagu-lagu modern dewasa ini. Seni suara dalam agama Hindu dipersembahkan kepada Tuhan. Mantra inipun memiliki tiga aspek yaitu Satyam, siwam dan sundaram. Karena itulah ada Kuta Mantra atau pusat dari mantra adalah sesuatu yang sangat sakral dan tidak boleh sembarang orang mengucapkan. Janganlah hal ini dianggap sebagai sesuatu yang menghambat kemajuan dunia spiritual Hindu. Justru rambu-rambu ini merupakan suatu upaya untuk menjaga aspek Siwam atau kesucian dari Mantra. Kuta mantra ibarat pintu rahasia untuk membuka kekuatan Tuhan, sehingga hanya orang-orang yang mampulah yang berhak membuka pintu rahasia ini.
  1. Yantra, merupakan kiblat atau arah kemana kita menstanakan Sang Hyang widhi Wasa. Yantra dapat berupa gambar atau seni dua dimensi dan seni ukir atau gambar tiga dimensi. Atau dengan kata lain Yantra menimbulkan seni rupa yang dalam agama Hindu seni rupa juga di persembahkan kepada Tuhan. Pada akhirnya selain seni lukis, seni patung atau arca, maka berkembang pula banten yang juga merupakan simbul-simbul kebesaran Tuhan. Di samping itu juga munculnya aksara yang juga digunakan sebagai simbul atau stana dari Sang Hyang Aji Saraswati dalam manifestasinya sebagai Dewi Ilmu pengetahuan. Karena itu dalam Agama Hindu barang siapa menggunakan tulisan untuk hal-hal yang tidak baik maka itu adalah dosa, terlebih lagi aksara itu di gunakan tidak pada tempatnya, misalnya gambar-gambar Dewa Krisna yang banyak dicetak pada kaos, atau aksara sebagai simbul Tuhan seperti aksara Om di cetak dalam baju kaos. Maksudnya mungkin baik tetapi bayangkan ketika hendak mencuci baju, pakaian ini berbaur dengan pakaian dalam. Bukankah ini merupakan pelecehan terhadap agama sendiri? Gambar Dewa yang seharusnya di sakralkan  tetapi malah dicampur dengan pakaian dalam.

Terlebih lagi tudingan Politheis, Agama bumi, penyembah berhala, sangat mungkin itu ditujukan pada orang Hindu, karena dalam kenyataanya orang Hindu sendiri tidak mengetahui Tattwa, yang merupakan ajaran dasar dari keyakinan yang mahabenar. Karena itulah Tatwa sebagai dasar pondasi untuk membangun Sraddha yang kuat bagi generasi Hindu ke depan sangat perlu diketahui.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s