Arsip | Oktober, 2014

KALTIM DUA KALI RAIH JURA I YOGA ASANAS

20 Okt

Setelah menjadi juara 1  yoga asanas dalam tahun 2010, kini kontingen kaltim putra membuktikan kembali ketangguhannya setelah memberikan penampilan terbaiknya dengan meraih kembali  juara 1 dalam Jambore Pasraman Nasional III tahun 2014 di Solo. Keberhasilah Tim Yoga kontingen Kaltim ini sekaligus hadiah satu-satunya yang dapat dibawa pulang oleh kontingen bumi etam ini. Namun demikian hal ini merupakan satu kebanggaan tersendiri karena cabang yoga merupakan cabang yang paling bergengsi dalam jambore pasraman.

Pada Tahun 2010 Tim Yoga asanas putra dan putri masih bergabung yang terdiri dari I Putu Wahyu Diantara, Agnesia Novia T, Kadek Widhi Cahya Harum S. berhasil meraih juara 1.  Pada tahun 2012 tim yoga asanas kaltim yang terdiri dari:   I Putu Wahyu Diantara, Kadek Widhi Cahya Harum Sari, Komang Werdi Triatma, gagal mengulangi suksesnya dengan tidak membawa kemenangan. Namun demikian pujian peserta/  kontingen dari berbagai daerah cukup banyak, bahkan telah lebih dahulu memberikan selamat, karena demikian yakinnya jika kaltim akan meraih kembali juara 1. Walaupun pada akhirnya pulang dengan membawa tangan kosong tidak menjadikan tim yoga kaltim kecewa. Pengakuan dari kontingen lain, akan keunggulan tim ini menyebabkan Kaltim disegani untuk cabang yoga.

Kontingen Yoga asanas Putra pada tahun 2014 terdiri dari Komang Werdi Triatma, I Nyoman Prana Jaya Semedi, I Gusti Ngurah Rika Prastya Wiguna, berhasil membawa kembali nama Kaltim yang disegani dalam Yoga asanas. Mereka merupakan siswa pasraman Widya Buana Kota Bontang. Pasraman Widya Buana telah memberikan eksul yoga sejak tahun 2004 yang dirintis oleh Ibu Ketut Setianingsih. Hingga kini pasraman Widya Buana tetap eksis dan membuktikan bahwa ekstra kurikuler Yoga di Kota Bontang berjalan dengan baik.

Sukses tim putra tidak didikuti oleh tim putri, yang juga telah tampil dengan baik dan kompak. Namun nampaknya masih harus bekerja keras untuk mewujudkan kemenangan dalam jambore pasraman berikutnya, Sukses untuk tim yoga Putra, jangan menyerah untuk tim yoga putri.

HARI SUCI HINDU MENURUT SUNDARIGAMA

7 Okt

1.      WUKU SINTA
1)      Senin Pon Sinta ( Soma Ribek )
Keterangan              :        merupakan hari suci bagi Sang Hyang Sriamerta ( Dewa Kesuburan/Kemakmuran) yang beryoga di lumbung, tempat penyimpanan beras, di pelinggih Gedong Sri di Pura Desa/Bale Agung
Larangan                    :
–          Menjual padi
–          Menumbuk padi
–          Tidur di siang hari
Sesajen                      :        nyahnyah, geti-geti geringsing, raka pisang mas beserta canang wangi-wangi
Makna                        :        untuk membangkitkan kesadaran umat dalam memahami hakikat batin sebagai sumber pencerahan jiwa yang suci dengan memuja Sang Hyang Pramana . Umat  juga diharapkan benar-benar sadar  dan tidak boleh bermalas-malasan
Soma berarti “bulan” dan Ribek berarti “yang sempurna memenuhi diri setiap umat”
Jadi Soma Ribek bermakna agar umat memiliki kearifan,kebijaksanaan,kelembutan,keramahan seperti sifat bulan.

2)      Selasa Wage Sinta (Sabuh Mas)
Keterangan              :        merupakan hari suci Bathara Mahadewa melakukan yoga di berbagai harta benda seperti uang, emas, perak, intan, permata dan sejenisnya
Sesajen                      :        suci, daksina, peras ajuman, panyeneng, sesayut amertasari, canang lengawangi buratwangi, tadah pawitra, reresik
Dihaturkan di Pamyasan Sanggar atau boleh di tempat tidur
Makna                        :        menyadarkan umat Hindu bahwa sumber kekayaan dan kebahagiaan itu ada di dalam diri setiap umat manusia serta mensyukuri segala harta yang telah diterima sebagai anugerah Hyang Widhi

3)      Rabu Kliwon Sinta (Pagerwesi)
Keterangan              :        merupakan hari suci Bhatara Pramestiguru melakukan yoga diiringi oleh Dewata Nawa Sanga untuk kesuburan dan kesejahteraan segenap mahluk dan alam semesta
Sesajen                :
–           daksina , suci, peras, penyeneng, sesayut pancalingga, penek ajuman dan raka-raka wangi-wangian selengkapnya dihaturkan di Sanggar Kamulan
–          Segehan manca warna sesuai dengan neptu arah mata angin dihaturkan di halaman Sanggar ditujukan kepada Sang Panca Mahabutha
–          Sesayut pageh urip, prayascita, segehan agung 1 tanding ditujukan untuk  manusia
Makna                        :        sesuai dengan runtutannya mulai dari Soma Ribek, Sabuh Mas hingga Pagerwesi diharapkan semua hasil yang telah dicapai tersebut wajib dijaga melalui pengendalian pikiran,perkataan,perbuatan (yoga Samadhi) sehingga bersih dan suci lahir batin guna mempertahankan keselamatan jiwa dan raga umat manusia (pageh urip)

2.      WUKU LANDEP
1)      Sabtu Kliwon Landep ( Tumpek Landep )
Keterangan             :         merupakan hari suci Bhatara Siwa dab Sanghyang Pasupati melakukan yoga semadi
Sesajen                      :
–          Di sanggar  :  tumpeng putih kuning adanan memakai lauk ayam putih, ikan teri, dan terasi merah serta dilengkapi dengan sedah who (buah-buahan) ditujukan kepada Bhatara Siwa
–          Sesajen ditujukan kepada Sanghyang Pasupati : sesayut pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha, suci, daksina, peras, ajuman, canang wangi, tadah pawitra, reresik. Semua senjata diupacarai dimohonkan ketajaman kepada Sanghyang Pasupati dengan merapalkan mantra Dhanurdhara atau ajian ilmu panah
Makna                        :         mengasah ketajaman batin dan pikiran umat manusia

3.      Wuku Ukir
1)      Minggu Umanis Ukir
Keterangan          :       merupakan hari suci Bhatara Guru melakukan yoga semadhi
Sesajen                :      di sanggar kamulan terdiri dari sesayut pengambean, sedah apon 25 buah, kwangen 8 buah serta bias dilengkapi dengan banten lainnya
Makna                 :      umat Hindu memohon anugerah keselamatan dan kesejahteraan kehadapan Bhatara Guru
Maknanya adalah anugerah ketabahan dan kesabaran yang telah diberikan Tuhan pada hari-hari suci sebelumnya yang telah diasah atau ditajamkan pada saat Tumpek Landep.

4.      Wuku Kulantir
1)      Selasa Kliwon Kulantir
Keterangan          :      merupakan hari suci dimana Bhatara Mahadewa melakukan yoga semadhi
Sesajen                :      nasi kuning sapangkon memakai lauk ayam putih siungan betutu, sedah who 22 buah dan sedah apon seperlunya dihaturkan di Sanggar
Makna                 :      menciptakan ketahanan diri sesuai dengan makan “kulantir” yaitu pertahanan diri

5.      Wuku Wariga
1)      SabtuKliwon Wariga ( Tumpek Wariga/Tumpek panguduh/Tumpek Bubuh)
Keterangan          :      merupakan hari suci untuk memuja Sanghyang Sangkara sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan
Sesajen                :
–          peras, tulung, sesayut, tumpeng, bubur, tumpeng agung, lauk daging babi/itik disertai raka-raka, penyeneng, dan tetebus ditujukan kepada Sang Hyang Sangkara
–          sesayut cakragni dan sesayut pangadang hati ditujukan kepada manusia
Makna                 :      memohon anugerah kepada Sanghyang Sangkara agar memberikan kesuburan kepada tumbuh-tumbuhan sehingga tumbuh-tumbuhan dapat berbunga,berbuah,berdaun lebat untuk dijadikan sumber kehidupan bagi manusia

6.      Wuku Warigadean
1)      Senin Pahing Warigadean
Keterangan          :       merupakan hari suci dimana Bhatara Brahma melakukan yoga
Sesajen                :      sedah woh dan perlengkapannya serta bunga wangi-wangian dihaturkan di merajan
Makna                 :      mensyukuri anugrah Tuhan yang telah memberikan penerangan luarbiasa kepada umat manusia atau memohon sinar suci Hyang Widhi sebagai penerangan ketika kita mendalami hakikat diri sendiri terutama hati kita manakala sedang dalam kegelapan

7.      Wuku Sungsang
1)      Kamis Wage Sungsang ( Sugihan Jawa)
Keterangan          :      merupakan hari turunnya para dewa dan roh leluhur ke dunia membesarkan hati umat manusia sambil menikmati persembahan hingga hari raya Galungan tiba
Sesajen                :       parerebuan, pangraratan, pangresikan dan berbagai bunga harum
Makna                 :       sebagai hari penyucian bhuwana agung

2)                            Jumat Kliwon Sungsang ( Sugihan Bali )
Keterangan          :      sebagai hari baik bagi umat manusia untuk menyucikan lahir bathin (bhuwana alit)
Sesajen                :      canang wangi-wangian
Makna                 :      penyucian bhuwana alit

Hari Raya Pagerwesi

7 Okt

Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta). Hari ini dirayakan mengandung filosofis sebagai simbol keteguhan iman, Pagerwesi berasal dari kata Pager yang berarti pagar atau pelindung, dan Wesi yang berarti besi. Pagar Besi ini memiliki makna suatu sikap keteguhan dari iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, sebab tanpa ilmu pengetahuan kehidupan manusia akan mengalami kegelapan (Awidya).

Hari raya ini diperingati dengan cara melakukan persembahyangan mulai dari Sanggah/Merajan (tempat bersembahyang dilingkungan rumah tangga) hingga ke Pura lainnya dilingkungan desa maupun Pura Kahyangan Jagat lainnya.