FILSAFAT HIDUP ALA EMPU KANWA


OLEH: I GEDE ADNYANA, S.Ag

  1. BHAKTI DAN KESADARAN

Kakawin Arjunawiwāha adalah kakawin pertama yang berasal dari Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Prabu Airlangga, yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakawin ini diperkirakan digubah sekitar tahun 1030.

Kakawin ini menceritakan sang Arjuna ketika ia bertapa di gunung Mahameru. Lalu ia diuji oleh para Dewa, dengan dikirim tujuh bidadari. Bidadari ini diperintahkan untuk menggodanya. Nama bidadari yang terkenal adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka Batara Indra datang sendiri menyamar menjadi seorang brahmana tua. Mereka berdiskusi soal agama dan Indra menyatakan jati dirinya dan pergi. Lalu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi pada saat yang bersamaan ada seorang pemburu tua yang datang dan juga memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Setelah itu Arjuna diberi tugas untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil dalam tugasnya dan diberi anu

Empu Kanwa yang hidup sejaman dengan Raja Air Langga pada masa kerajaan Kediri merupakan salah satu Pujangga terbesar yang pernah ada di nusantara. Karya monumental kakawin Arjuna Wiwaha hidup sebagai candi pustaka dalam masyarakat dari waktu-kewaktu. Mengawal prilaku manusia, mengantarkan setiap yang membaca dan menyelaminya pada peningkatan kualitas diri. Oleh karena isinya yang luar biasa tentang filsafat hidup dari insan manusia sebagai makhluk tak berdaya dihadapan Sang Hyang Parammartha (dualitas) hingga mencapai penyatuan atau moksa (monisme).

Secara garis besar kehidupan ini menurut Empu Kanwa adalah sebuah perjalanan spritual dari seorang bhakta yang menyatakan dirinya amat rendah, hingga mencapai kemanunggalan dengan sang pencipta sebagai tujuan akhir. Manunggalnya atma dengan paramatma memberikan kesadaran murni yang tersurat dalam bait pertama Kakawin Arjuna Wiwaha:

1. Ambek sang paramārthapaṇḍita huwus limpad sakèng śūnyatā, Batin sang tahu Hakikat Tertinggi telah mengatasi segalanya karena menghayati Kehampaan[1],
Tan sangkèng wiṣaya prayojñananira lwir sanggrahèng lokika, Bukanlah terdorong nafsu indria tujuannya, seolah-olah saja menyambut yang duniawi,
Siddhāning yaśawīrya donira sukhāning rāt kininkinira, Sempurnanya jasa dan kebajikan tujuannya. Kebahagiaan alam semesta diperihatinkannya.
santoṣâheletan kelir sira sakèng sang hyang Jagatkāraṇa. Damai bahagia, selagi tersekat layar pewayangan dia dari Sang Penjadi Dunia.
2. Us.n.is.angkwi lebûni pâdukanirâ sang hyang Jagatkâran.a Hiasan kepalaku merupakan debu pada alas kaki dia Sang Hyang Penjadi Dunia
Manggeh manggalaning miket kawijayan sang Pârtha ring kahyangan Terdapatkan pada manggala dalam menggubahkan kemenangan sang Arjuna di kahyangan

 

Kesadaran murni yang menjadikan seorang muni hanya sebatas kelir saja dengan Sang Maha Pencipta. Suatu kondisi dimana kebahagiaan Sang Bhakta telah mencapai lila dari kesadaran murni yang mampu melihat secara gamblang tentang arti hidup dan kehidupan. Sang Muni telah mengerti dengan sesadar-sadarnya bahwa tujuan dari sang Hidup hanyalah untuk mangabdi pada Sang Hyang Paramartha.

Tuhan disebut paramartha karena hanya Dialah tujuan tertinggi dari sekalian makhluk. Tanpa mengerti tentang hal ini maka sia-sialah seseorang hidup, sebabnya adalah karena selalu lahir berulang kali dalam peneritaan atau samsara. Ketidak berdayaan manusia terbelenggu oleh sad ripu dan sapta timira membuatnya lupa dan tidak mengerti tentang tujuan akhir dari sebuah kelahiran. Kesadaran murni tentang tujuan akhir dari seorang bhakta hanya mungkin diperoleh manakala Sang Pencipta sendiri yang berkehendak membuka mata batin kesadaran. Kehadiran Tuhan hanya mungkin terjadi jika seorang bhakta tekun dalam olah bathin menyucikan diri dalam ketenangan dari Tri Guna yang diarahkan pada satwam. Hal ini tersurat jelas dalam salah satu bait terpenting dan terpopuler Empu kanwa:

Sasi wimba haneng gata mesi banyu

Ndan asing suci nirmala mesi wulan

Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin

Ring angambeki yoga kiteng sakala

Bulan akan nampak jelas manakala air dalam temapayan jernih, tenang tidak bergejolak. Demikian pula ketenangan bathin amat sangat diperlukan untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam diri. Empu kanwa menawarkan Yoga sebagai sadhana bagi pencapaian pencerahan. Dengan demikian maka yoga yang dimaksud adalah berdasar pada bhakti. Tanpa bhakti seseorang tidak akan mencapai kemajuan secara rohani walaupun melakukan berbagai gerak asanas.

Bayangan bulan yang terdapat dalam tempayan seperti yang dilukiskan oleh Mpu kanwa dalam kakawin Arjuna Wiwaha, merupakan gambaran riil dari hidup manusia. Bayangan itu ibarat diri kita yang bergerak sesuai kehendak dari sang pemilik bayangan. Kita ada sebagai bayangan saja yang dapat terhapus manakala Sang Tuan pemilik bayangan pergi.

  1. SEMBAH LAHIR BATHIN

Sebagai bayangan dari yang kekal maka manusia adalah maya yang tidak kekal dengan sifat sementara. Namun demikian sang bayangan memiliki kesamaan dengan tuanya, walaupun bayangan tak mungkin menjadi tuan. Hal inilah gambaran dwaita wedanta dimana ciptaan hakikatnya tetaplah berbeda dengan Sang Pencipta. Hal ini membawa pemahaman bahwa manusia hanyalah sebagai bhakta dari Yang Maha Kuasa. Manusia digerakan oleh kekuatan Tuhan, ia tak dapat bertindak tanpa kehendak dari Tuhan sebagaimana bayangan bulan yang ada didalam tempayan.

Sang kawi Empu kanwa tenggelam dalam lila bhakti, merasakan betapa rahasianya keberadaan Tuhan. Kehadiran-Nya hanya dapat dirasakan dalam lautan bhakti yang dalam. Rahasinya tak mungkin terungkap dalam kata-kata yang terbatas, karena kehadiranya hanya dapat dirasakan oleh bhakta dengan bhakti yang tulus. Akan rahasia keberadaan Sang Hyang Paramartha yang amat sulit dipahami diibaratkan seperti minyak dalam santan, atau api didalam kayu. Hal ini terungkap dalam bait kakawin Arjuna wiwaha sebagai berikut:

Om Sembah ning anata  tinghalana de tri loka sarana,

Wahya diatmika sembah ning hulun  ijeng ta tan hana waneh,

Sang luwir agni sakeng tahen   kadi minyak  saking dadi kita,

Sang saksat metu  yan hana wang  amuter tutur pineh ayu.

Empu Kanwa mengisyaratkan kepada kita tentang sembah lahir bathin (Wahya dhyatmika) terkonsentrasi hanya kepada Sang Pencipta. Sembah total secara menyeluruh hanya mungkin dilakukan jika seseorang menyadari ketidak berdayaanya sebagai makhluk lemah yang hidupnya tergantung pada kuasa dari Sang Pencipta. Tiada lagi keinginan yang lebih kuat dari bhakti. Bersimpuh dihadapan-Nya dalam ketidakberdayaan dimana manusia diliputi oleh sad ripu dan sapta timira yang membelenggu setiap saat.

Disini bhakti diperlukan agar manusia senantiasa memiliki kesadaran dalam menghadapi musuh dalam diri. Kesadaran secara terus menerus (amuter tutur pinahayu) merupakan satu keharusan bagi orang yang ingin beroleh anugrah kesadaran agar terbebas dari samsara. Kesadaran yang terus menerus diupayakan denngan cara yang benar dan tepat, seperti memisahkan minyak dari santan, atau menggosok-gosokan kayu agar keluar api.

  1. PENTINGNYA SADHANA

Keterampilan spiritual “Sadhana” merupakan perwujudan bhakti yang mengantarkan seorang bhakta menjadi lebih dekat dengan pujaanya. Tanpa sadhana tak mungkin seseorang mencapai pencerahan, seperti seseorang yang berusaha membuat api dari dua ranting kering. Jika kayu tak digosokkan secara terus menerus maka api tak akan keluar. Jika seorang bhakta berhenti mempraktekkan sadhana sebelum memperoleh pencerahan maka segala usahanya akan menemui kegagalan. Oleh karena itu seorang bhakta hanya memerluka tiga hal:

Pertama memiliki keyakinan yang kuat tak tergoyahkan, yang menumbuhkan ketulusan untuk berada pada jalan yang benar. Ketulusan akan tumbuh dalam bhakti. Dalam ketulusan akan menuntun manusia pada tindakan yang benar. Tindakan yang benar adalah dharma, dharma (tindakan benar) adalah perwujudan Tuhan. Maka dengan senantiasa berlaksana dharma seseorang semakin dekat dengan Tuhan.

Kedua memiliki pengetahuan yang benar tantang sadhana yang di praktekkan. Pengetahuan bahwa Yang kuasa akan hadir atas kehendak-Nya sendiri kepada para bhakta yang tulus. Disini pengharapan akan kehadiran-Nya pun dianggap sebagai satu pengharapan yang kurang tulus. Oleh karena itu Bhakta hanya perlu memuja-Nya dengan sadhana tanpa suatu pengharapan. Tindakan tanpa pamrih memberikan pengetahuan kesadaran akan hakikat kehidupan. Yang tak terikat pada tali kebutaan pasti akan melihat keterikatan ada dimana-mana. Dengan melihat keterikatan yang disebabkan oleh indriya, maka orang akan melihat indriya sebagai alat yang harus dikendalikan agar tidak memberikan belenngu ikatan pada Sang Diri (Atman).

Ketiga, memiliki keteguhan hati dengan penuh kesabaran dan kesadaran bahwa apa yang dilakukan dalam praktek sadhana akan menuntun sang bhakta mencapai Sang Paramartha. Kesabaran akan berujung pada kesadaran, oleh karena itu kesabaran merupakan bagian dari sadhana itu sendiri. Tentang kesabaran tantri Nandaka harana menceritakan kisah ikan gabus yang bertapa dibawah pohon dadap kemudian berubah menjadi klesih (trenggiling). Hal ini dapat dimaknai sebagai sifat bengis dan buas diruat oleh kesabaran menjadi kasih.

  1. KESIMPULAN

Secara gamblang Empu Kanwa mengantarkan kepada kita sajian karya sastra adi luhung yang sarat dengan filsafat hidup. Bahwa kebahagiaan tertinggi sesungguhnya hanyalah ketika kesadaran murni singgah mengisi hidup kita. Hal ini haruslah membuat kita senantiasa berusaha dengan tekun dalam yoga (catur marga) sebagai jalan (sadhana) untuk meningkatkan kualitas diri membawa rajah dan tamah dalam pengaruh satwa guna. Mengubah sembah kita yang salah karena penuh pengharapan dengan sembah yang pasrah lahir bathin berlandaskan ketulusan hati. Membawa keheningan dalam budhi sehingga cahaya kesadaran hadir atas karunia Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s