“Astungkara”Semoga terjadi demikian atas kehendak Tuhan


 

I Gede Adnyana, S.Ag (Bontang-Kaltim)

Belum jelas kapan kata astungkara mulai populer dikalangan umat Hindu. Walaupun ada pro kontra dalam penggunaannya namun pada kenyataannya sudah semakin lumrah digunakan. Nampaknya astungkara menjadi alternatif untuk padanan alhamdulillah (segala puji bagi Allah), amin (terimalah; kabulkanlah; demikianlah hendaknya), puji Tuhan dalam agama Islam dan kristen, sehingga hal ini dipandang sebagai peniruan atau kreatifitas sebagai dampak dari pergaulan multi agama, multi kultural yang terjadi di masyarakat. Terjadi kesepakatan tidak tertulis diantara para pengguna “astungkara” walaupun memiliki pemahaman makna yang belum tentu sama. Berikut beberapa pendapat tentang arti makna astungkara:Ø  Kata Astungkara termuat dalam Atarwa Veda (9.4 ) (Zoemulder, Kamus Jawa Kuna, 1995). Kata astu artinya semoga terjadi (ibid, 73). Dalam sebuah diskusi, Agus Muliana menyatakan, “dalam kamus sansekerta astungkara (dalam sansekerta ditulis astuṇkāra) itu sebenarnya artinya ‘orang yang mengatakan astu’.” Ø  Dalam kamus-sansekerta (http://www.sansekerta.org/kamus-sansekerta/) astungkara berarti memuji, berdoa; astuti : memuji, berdoa, terpujiØ  Dalam kamus sanskerta online http://www.spokensanskrit.de; http://sanskritdictionary.com, kata astungkara (astuṃkāra; astunkara) berasal dari dua kata yaitu astu dan kara. Astu (अस्तु) berarti jadilah begitu, baiklah, baik (menyiratkan izin, biarlah menjadi begitu, harus ada atau harus. Sedangkan कर kara berarti melakukan, menyebabkan, pembuat, memproduksi, yang menyebabkan sesuatu atau juga salam.                               Ada tiga kata kunci dalam kalimat astungkara yaitu:1.        Astu yang sudah sangat umum di gunakan, misalnya awignamastu, swastyastu, dirgayurastu, tatastu swaha dan sebagainya. Kalimat astu banyak pula terdapat dalam mantra Veda, salah satunya berbunyi demikian:

 

agnir na etat prati grhṇātu vidvān

brhaspatiḥ pratiy etu prajānan /                                                                                      

indro marutvān suhutaṃ krṇotuv

ayakṣmam anamīvaṃ te astu //                                                                                        

 

Semoga Agni yang bijaksana menerima (persembahan) ini dari kami, sebagaimana yang dilakukan Brehaspati sejak zaman dahulu, Semoga Indra dan Maruts membuat penyembuhkan penyakit. Biarkan [semua ini] tanpa penyakit, semoga anda bebas dari penyakit. (Atharwa Veda Pipalada 5.28.7)

2.        Kara berarti melakukan, menyebabkan, pembuat, memproduksi, yang menyebabkan sesuatu atau juga salam, misalnya: namaskara atau anjali (salam dengan sikap mencakupkan kedua telapak tangan); karasodhana (membersihkan tangan). 3.        Jika astu dan kara digabung seharusnya astukara, namun mendapat sisipan “ng” menjadi astungkara (pengaruh dialek daerah Bali. Dengan demikian maka astungkara dapat diterjemahkan sebagai terjadilah begitu, biarlah menjadi demikian atas se-izin atau kehendak sang penyebab (Tuhan) atau merupakan salam yang menyatakan semoga demikian atau mengiyakan, atau dengan kata lain semoga (astu) terjadi atas kekuatan tangan (kara).               Astungkara lebih jauh mengajak kita untuk mengenal kekuatan tangan, karena secara harfiah semoga dengan kekuatan tangan terjadi. Hal ini nampaknya bukanlah anggapan secara kebetulan belaka, oleh karena tangan memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Maka tidaklah mengherankan jika garis tangan di telapak tangan turut menentukan nasib seseorang, baik jodoh, pekerjaan maupun rejeki. Tentang kekuatan tangan terdapat dalam kutipan stotra Kara Darshanam berikut: Om Karagre Vasate LakshmiKaramadhye SaraswatiKaramule Sthitha Gowri *Prabhate Kara Darshanam Terjemahan:Lakshmi di ujung jari, Saraswati di telapak tangan, Shakti terletak di pergelangan tangan, demikian keutamaan melakukan Kara Darshanam dipagi hari. * “Karamule Sthitha Gowri” kadang-kadang diganti dengan “Karamule Tu Govinda”

 

Lakshmi merupakan kekuatan atau sakti Wisnu sebagai pemelihara dengan lambang aksara Ung, Saraswati merupakan kekuatan atau sakti Brahma sebagai pemelihara dengan lambang aksara Ang, Gowri/ Durga merupakan kekuatan atau sakti Siwa sebagai pelebur dengan lambang aksara Mang. Sehingga tangan memiliki daya mencipta, daya memelihara dan daya melebur yang merupakan esensi hukum rta dijagat raya. Namun pada saat tertentu misalnya mencakupkan tangan (anjali) aksara Ang Ung Mang berubah menjadi dwi aksara yaitu Ang (tangan kiri lambang prakerti) Ah (tangan kanan lambang purusha), penyatuan Ang-Ah melahirkan eka aksara yaitu Om.

Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan para pandita yang ada di Bali, dengan menggunakan berbagai sikap mudra yang lebih dikenal dengan “tetanganan” melakukan pemujaan dengan sikap tangan tertentu yang pada intinya mengandung lambang proses utpetti, stiti dan pralina. Dimana mudra bukan hanya bentuk gerakan tangan biasa namun juga mengandung nilai magis religius, shingga tidak diperkenankan dilakukan oleh sembarang orang. Menurut I Wayan Raga (warga Hindu Kota Bontang, praktisi Reiki) salah seorang rekan kerjanya (seorang non Hindu) pernah mencoba berbagai bentuk tetangan yang terdapat dalam buku Weda Parikrama. Akibatnya ia mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, salah satunya adalah datangnya ulat yang begitu banyak.

Dengan demikian maka astungkara merupakan ungkapan populer yang berkembang dikalangan umat Hindu sebagai dampak dari pergaulan multi agama, multi kultural yang terjadi di masyarakat yang disepakati secara tidak tertulis sebagai padanan kata alhamdulilah, amin atau puji Tuhan dalam agama Islam dan Kristen. Astungkara bermakna terjadilah begitu, biarlah menjadi demikian atas se-izin atau kehendak sang penyebab (Tuhan) atau merupakan salam yang menyatakan semoga demikian atau mengiyakan, atau dengan kata lain semoga (astu) terjadi demikian atas kekuatan tangan (kara), yang merujuk pada kekuatan Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur. Singkatnya astungkara berarti semoga terjadi demikian atas kehendak Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s