Arsip | Januari, 2017

HARI RAYA SIWARATRI “ANUGRAH SIWA”

25 Jan

Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag.

Di bawakan dalam dharma thula hari Siwa ratri 26 Januari 2017

yantra

  1. LUBDAKA INSPIRASI PEMBEBAS JIWA

 

Siwa Ratri  ( Ratri juga sering ditulis Latri ) adalah malam untuk memusatkan pikiran kepada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Oleh karena  itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut “malam kesadaran” atau “malam pejagran”, Bukan “malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang awam.

Empu Tan Akung, menggubah kisah Lubdaka yang sarat dengan nuansa spiritual menjadi suatu kisah akrab yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ajaran spiritual yang begitu dalam dan rahasia dituangkan dalam nuansa perjalanan hidup dari seorang pemburu. Pemburu yang penuh dosa, karena pekerjannya membunuh para binatang buruan di hutan sebagai mata pencaharian yang paling utama. Pekerjaan rendah yang amat bertentangan dengan ahimsa namun itulah swadharma dari seorang Lubdaka (pemburu).

Dalam Kakawin Siwa Ratri Kalpa  sang pujanga yang juga seorang spiritual mengisyaratkan rahasia Siwa Ratri sebagai sebuah anugrah Siwa yang luar biasa kepada manusia, yaitu bebas dari segala dosa manakala seseorang melakukan jagra pada malam Siwaratri. Betapa tidak seorang pendosa seperti Lubdaka dapat terbebas dari dosa melakukan pembunuhan karena Lubdaka telah melakukan jagra tepat pada saat Siwa Ratri pada sebuah kolam dengan sebuah lingga nora ginawe di dalamnya.

Kisah Lubdaka seolah abadi dan senantiasa menjadi bahan renungan khususnya pada saat menjelang catur dasi kresna paksa pada sasih kapitu. Hal ini tentu karena kedalaman filosofis religius yang terkandung didalamnya. Ia bukan hanya sebuah cerita menghibur, tetapi juga sarat dengan muatan agama dan tak habis-habisnya untuk dikupas dan direnungkan. Tentu saja kemahiran Empu Tanakung dalam menyampaikan ajaran spiritual yang maha tinggi, melalui bahasa sederhana yang dapat dicerna oleh orang kebanyakan merupakan sebuah fenomena langka. Hal ini menandakan kematangan sang Pujangga dalam olah kata-kata dan olah spriritual sehingga karya sastra ini menjadi inspirasi bagi sebuah perayaan besar bagi “pembebasan jiwa” dari belenggu samsara.

Siwa Ratri pada hakekatnya adalah merupakan kegiatan namasmaranam pada Siwa. Namasmaranam artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungkan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan bathin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidaklah harus dilakukan setiap tahun,  melainkan bisa  dilaksanakan  setiap  bulan sekali, yaitu setiap  menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita biasa menyucikan diri dengan melakukan SAUCA. Sauca dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan sebagai berikut “Sauca ngaranya netya majapa maradina sarira“. Artinya : Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedangkan dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, “Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana “, Artinya : dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

  1. Mematangkan Jiwa dalam Tungku Pendidikan “Lubdaka”

Bagi masyakat umum, Lubdaka memberi inspirasi agar merayakan Siwa Ratri bertepatan dengan purwanining tilem sasih kapitu. Hari ini dianggap sebagai malam tergelap diantara semua malam, dimana Hyang Siwa sedang beryoga. Dengan melakukan jagra saja pada malam ini maka seseorang akan terbebas dari dosa. Hal ini tentulah dapat dilaksanakan oleh banyak orang, serta akan menarik minat masyarakat awam untuk merayakannya.

Langkah pertama Empu Tanakung nampaknya membuahkan hasil, karena dari waktu-kewaktu semakin banyak umat Hindu yang merayakan Siwa Ratri, baik di Bali maupun di luar Bali. Perayaan Siwaratri menjadi semakin populer dan membuat karya Lubdaka semakin dikenal, semakin banyak pula yang mengulas dan mengupas filosofis dari kisah pemburu yang mencapai alam Siwa. Ulasan-ulasan mendalam tentang Siwa Ratri dalam kisah lubdaka ini menandakan keberhasilan Empu Tanakung yang ke-dua.

Uniknya Kisah ini memberikan kebebasan bagi para “pemburu”  sastra untuk memberikan pandagan dari berbagai sudut pandang sesuai dengan persepsi rasio dan rasa religious yang dipahami dan dialami oleh sang pengulas. Ini adalah keberhasilan ke-tiga dari Epu Tanakung yaitu sejauh mana rasa religius menyentuh para pendengar maupun para pembaca kisah ini sehingga mencintai dan menikmatinya sebagai sebuah santapan rohani yang menyentuh kedalam rasa yang jauh didalam.

Rasa agama inilah yang menjadi cikal bakal tindakan sang “pemburu” kebenaran yang nantinya tercermin dalam tindakan nyata dalam kehidupan baik sebagai seorang bhakta yang bersifat individu maupun dalam kehidupan sosial di masyarakat luas. Setelah menjadi sebuah tindakan maka lengkaplah keberhasilan Sang empu dalam menuntun umat manusia menuju jalan yang terang sebagai keberhasilan yang ke-empat.

Secara garis besar Empu Tanakung melakukan proses utuh menyeluruh mematangkan spiritual pembaca dalam tungku Lubdaka yang sederhana. Dengan harapan bahwa yang telah tercerahkan akan mengajak orang lain untuk lebih merenungkan lagi. Jika dibuat bagannya maka akan terlihat sebagai sebuah lingkaran rantai yang tidak berujung, yang merupakan proses berkesinambungan.

 

Keterangan:

Ajakan untuk mengetahui Siwa Ratri- Ajakan untuk merayakan Siwa Ratri-Ajakan untuk merenungkan kedalaman filsafat (tattwa)- Kisah yang menyentuh rasa agama-tercermin dalam tindakan yang baik dan benar.

Jika menelaah dalam proses pematangan jiwa dari Empu Tanakung dalam karya sastranya, maka semakin kagumlah kita pada sosok Empu Tanakung yang secara gamblang memberikan inspirasi pada manusia modern tentang sebuah pendidikan bagaimana menumbuhkan karakter dari dalam diri sang pembaca. Sebab karakter seseorang tidak terbentuk dari luar, namun pengaruh luar yang posistif seperti kisah lubdaka amatlah diperlukan guna membangun kesadaran didalam diri. Dan hal ini mampu dilakukan oleh seorang Empu Tanakung melalui tokoh pemburu “Lubdaka”.

  1. Menemukan Siwa Dalam Anugrah Siwa Ratri

Dalam ajaran Samkhya Rsi Kapila mengungkapkan ada 25 tattwas atau hakikat penciptaan yaitu: Purusa, prakrti, citta, buddhi, ahamkara, panca tan matra, panca maha bhuta, panca bhudindriya dan panca karmendriya. Purusa adalah hakikat kejiwaan sebagai yang mengenali, sedangkan prakerti adalah hakikat kebendaan sebagai obyek yang dikenali. Didalam prakerti terdapat Tri Guna yang aktif setelah prakerti bersentuhan dengan purusa. Akibatnya lahirlah alam pikiran agung yang disebut mahat. Mahat berevolusi menjadi budhi yang didominasi oleh guna sattwam. Oleh karena itu buddhi bersifat terang, cerdas, bijaksana. Jika citta merupakan alamnya pikiran maka buddhi adalah kecerdasan kosmis, atau kecerdasan alam. Sebagai kecerdasan alam, buddhi merupakan manifestasi citta alam semesta yang tidak dipengaruhi ego atau ahamkara maupun pikiran.

Ketika seseorang ingin mengenali, meraih atau menggapai buddhi maka ia harus melampaui pikiran, mengatasi ahamkara. Tidak akan berjumpa buddhi jika pikiran diliputi aku atau ego. Buddhi hanya akan muncul jika pikiran indriya, dan ego dalam kondisi lemah atau tertidur.  Upaya menumbuhkan buddhi, berarti menekan ego dan mengendalikan pikiran. Dengan pikiran terkendalikan maka indriya berada dalam zona aman, berjalan dalam rel dharma. Buddhi mengendalikan pikiran, pikiran mengendalikan indriya, sehingga ego tidak berdaya.

Dalam kisah ini, Pemburu Lubdaka berangkat pagi-pagi ketika brahma muhurta untuk berburu merupakan langkah seorang bhakta untuk melaksanakan swadharmanya kepada sang pencipta melakukan pemujaan dengan panah ketajaman pikiran, tombak kesadaran untuk menundukkan indria, mengamati sejauh mana sifat binatang itu ada didalam dirinya. Namun hingga petang tak satupun binatang muncul, artinya sang bhakta telah mampu menekan enam musuh yang ada didalam diri sehingga membawa sang bhakta naik dalam sebuah tingkatan hidup yang suci. Hal inilah yang nampaknya ingin disampaikan oleh Empu Tanakung sebagai Lubdaka yang naik diatas pohon, menyadari betapa seseorang harus berjuang melawan sifat binatang dengan naik pada pohon bilwa yang merupakan lambang kesiwaan atau kesucian.

Dengan tingkat kesucian dan kewaspadaan pada indriya yang merupakan binatang buasnya kehidupan, seorang bhakta hendaknya senantiasa memuja Siwa dalam kesucian daun bilwa, dengan memetik daun bilwa dan melemparnya dalam kolam Sang diri dimana terdapat Lingga nora ginawe, lingga yang tidak diciptakan, dengan ketulusan dan terus menerus. Yang tidak diciptakan adalah Atman atau sang diri sejati, sebagai bagian dari Siwa itu sendiri. Kolam dengan air yang bening membuat seseorang dapat melihat bayangannya sendiri. Bayangan itu adalah maya tattwa, sedangkan yang sejati bukanlah bayangan itu tetapi lubdaka yang ada pada pohon bilwa. Namun demikian lingga itu justru didalam kolam yang dikelilingi bayang-bayang. Siwa itu sendiri ada didalam diri manusia yang maya ini, tetapi dialah satu-satunya yang nyata yang bukan bayang-bayang. Kemampuan membedakan yang nyata dengan yang maya hanya mungkin diperoleh sebagai anugrah Siwa semata dimana Gita menyebutnya sebagai Buddhi-Yoga.

tesam satata-yuktanam bhajatam priti-purvakam
dadami buddhi-yogam tam yena mam upayanti te

Terjemahan:

Kepada mereka yang dengan tekun memuja-Ku dalam cinta kasih bhakti, Aku memberikan Buddhi-Yoga, kecerdasan spiritual yang baik, kepada mereka yang memungkinkan mereka datang kepada-Ku (BG. X.10)

Maka Siwa ratri adalah sebuah proses penyadaran diri akan adanya sang diri sejati yaitu atman sebagai Siwa terdekat. Ia yang maha suci hanya mungkin dijumpai dengan kesucian saja, dan kesucian lahir dari sebuah bhakti yang tulus yang diwujudkan dalam sadhana (praktek spiritual). Dari sadana seseorang memperoleh pemahaman betapa pentingya menumbuhkan buddhi bagi bertumbuhnya kekuatan mental dan jiwa. Dengan asumsi bahwa jika buddhi telah memperoleh pencerahan maka ia akan tumbuh dengan baik. Dengan buddhi sebagai pengendali atas pikiran dan indriya maka setiap tindakan yang lahir adalah tindakan yang bersifat satwika. Hal ini terjadi karena buddhi berpengaruh besar terhadap sebuah keputusan yang diambil. Disinilah campur tangan kekuatan Daiwi yang menyusup melalui buddhi. Dengan sinar (Div),  Tuhan bekerja mempengaruhi tindakan manusia. Oleh karena itu semakin besar “div” berpengaruh terhadap buddhi, maka semakin berkembang pula wiweka jnana yang ada pada seseorang. Menghadirkan “div” dalam buddhi menjadi amat penting bagi perkembangan buddhi. Dengan demikian maka sadhana merupakan sarana dan cara yang tepat sebagai upaya menumbuhkan buddhi.

  1. SUMBER AJARAN SIWA RATRI

Brata Siwa Ratri pada mulanya dirayakan amat terbatas, yaitu hanya oleh sejumlah Pandita di Bali dan Lombok. Pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiatan rohani kian bangkit. Semenjak tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama.

  1. Sumbernya ajaran Siwa Ratri ada pada :
  2. Kitab Padma Purana,
  3. Siwa Purana,
  4. Garuda Purana,
  5. Skanda Purana,
  6. Kekawin Siwaratri Kalpa.

  1. Sejarah pelaksanaannya :
  2. Di Eropa disebut dengan perayaan “ BERI”.
  3. Di Arab disebut “OKAZ”, tapi lama kelamaan disebut “SHABE BARAT”.
  4. Di Indonesia khususnya Bali dan Lombok disebut “ MALAM SIWA RATRI “. Dan perayaannya bersumberkan pada Karya Mpu Tanakung yaitu berupa kekawin Siwa Ratri Kalpa.

Mengapa Siwa Ratri dimasyarakatkan, tentu karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Di India, setiap menjelang bulan mati setiap bulannya umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka  berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini adalah suatu pertanda, bahwa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Kemudian baru sejak tahun 1966 Siwa Ratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.

  1. Tingkatan Pelaksanaan Brata Siwa Ratri :

Brata Siwa Ratri dilaksanakan dengan tiga tingkatan yaitu :

  1. Nista, yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan Jagra, artinya kesadaran itu dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melek semalam suntuk, sambil memusatkan segala aktifitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama,seperti kakawin dalam berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, “Nitya majapa maradina sarira”. artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu membersihkan badan. Sedangkan Dhyana dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, Nitya Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa. Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan.Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakana simbolis untuk memacu tumbuhnya budhi yang sebenarnya.
  2. Madya adalah pelaksanaan Brata Siwaratri dengan jagra dan upawasa. Upawasa dalam kitab Agni Purana berarti “kembali suci”. Yang dimaksud kembali suci ini adalah dilatihnya indriya melepaskan kenikmatan makanan. Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada kelezatan makanan.
  3. Uttama, yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan cara Jagra, Upawasa, dan Mona Brata, artinya pelaksanaan dengan cara melek atau menyadarkan diri, menahankan kenikmatan makanan dan berusaha mengurangi berbicara (Mona). Mona artinya tanpa mengeluarkan ucapan-ucapan yang bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa berbicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.

 III. PELAKSANAAN BRATA SIWA RATRI

Tata tertib pelaksanaan brata Siwa Ratri telah diseminarkan oleh PHDI Pusat bersama dengan IHD Denpasar tahun 1984.  Hasil seminar tersebut telah ditetapkan oleh PHDI Pusat menjadi Pedoman pelaksanaan Brata Siwa Ratri. Brata Siwa Ratri dilaksanakan pada hari “Catur Dasi Krsna Paksa” bulan Magha yaitu panglong ping patbelas sasih kapitu. Tujuan brata Siwa Ratri untuk menemukan “Kesadaran diri” (atutur ikang atma rijatinia ).  Brata tersebut dilaksanakan dengan upawasa , monobrata dan jagra.

Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa biasakan melakukan mona atau agak membatasi berbicara. Hal ini akan bermanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya “positif energi” untuk menggeser “parasit energi”. Positif energi dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan,  ketenangan dan kesucian. Kalau tiga hal ini dapat kita miliki dalam hidup maka hidup yang bahagia lahir batin akan semakin kita rasakan.

Demikianlah tiga tingkatan pelaksanaan brata Siwa Ratri berdasarkan nista, madya, utama. Dari segi makna amat tergantung kesungguhan sikap kita melaksanakan brata tersebut. Meskipun kita mengambil yang nista namun sikap yang melandasi bersungguh-sungguh, maka yang nista itu pun akan menghasilkan yang utama.

 

 

 

  1. MAKNA SIMBOL-SIMBOL

Kalau kita telaah ceritera LUBDAKA yang tertuang dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa, buah karya Mpu Tanakung, terdapat beberapa simbol-simbol yang mempunyai makna sangat mendalam yaitu :

  1. Beburu;
  2. Binatang;
  3. Hutan;
  4. Lubdaka kemalaman;
  5. Lubdaka Takut;
  6. Lubdaka Naik Pohon;
  7. Takut Jatuh;
  8. Memetik Daun Billa;

 MAKNANYA :

  1. Berburu; maksudnya adalah berburu ilmu pengetahuan untuk dapat meningkatkan taraf hidup akibat tuntutan hidup berupa dharma artha, kama dan moksa.
  2. Binatang, lain kata binatang adalah SATTWA, terdiri dari sat dan twa. Sat sama dengan Inti, yaitu hakekat yang mulia, dan Twa adalah sifat. Jadi SATWA adalah hakekat yang mulia atau benar. Rajanya Binatang adalah Harimau dan juga disebut PASUPATI, ini tiada lain adalah Sang Hyang Siwa.  Jadi hakekat yang mulia itu dikejar dan ada pada Sang Hyang Siwa.
  3. Hutan, adalah symbol keinginan yang bersifat duniawi yang sulit dihitung seperti banyaknya pohon-pohon di hutan.
  4. Lubdaka kemalaman, ini bermakna manusia itu diliputi penuh dengan kegelapan dan papa, penuh dengan ketidak sadaran dan ketidak tahuan (awidhya) akibat kurang mendalami ilmu pengetahuan.
  5. Lubdaka Takut, bermakna karena tidak memiliki pengetahuan dan penuh dengan kegelapan alam piker, maka takutlah mengarungi kehidupan ini.
  6. Lubdaka naik pohon, maksudnya “NAIK”, ada meningkatkan diri dalam mencari Ilmu Pengathuan supaya tidak mengalami kegelapan lagi.
  7. Takut Jatuh, maknanya adalah takut akan kekurangan dengan Ilmu Pengatahuan.
  8. Memetik Daun Billa, maknanya adalah membuang secara bertahap dosa-dosa yang ada pada diri manusia.

Diatas telah diuraikan pelaksanaan Brata Siwa Ratri ada 3, yaitu Jagra, Upawasa dan Mona Brata. Ketiga cara ini mempunyai arti sebagai berikut :

  • Jagra, artinya adalah mawas diri, introspeksi diri.
  • Upawasa, artinya usaha pengendalian diri untuk membebaskan diri dari pengaruh duniawi.
  • Mona Brata, artinya usaha mengendalikan diri agar dapat menciptakan suasana yang hening, tenang, tentram, untuk menuju tercapainya jiwa yang terang (Widhya).

Berikut ini dilampirkan pelaksanaan Brata Siwa Ratri, secara sederhana :

  1. Di setiap Desa Pakraman, dilaksanakan acara persembahyangan bersama dipimpin oleh Prajuru Desa Pakraman masing-masing. Atau mengikuti pelaksanaan Brata Siwa Ratri (Pejagraan) di masing-masing Desa Pakraman dengan alokasi tempat yang telah disetujui atau ditentukan, sambil melaksanakan Pesanthian, memperdalam sasatra-sastra suci keagamaan.
  2. Pagi hari sebelum pelaksanaan Malam Jagra, agar melaksanakan kegiatan ASUCI LAKSANA, yaitu berupa pembersihan badan lahir bathin.
  3. Menjelang malam harinya :
  4. Maprayascita, ngaturang upakara semampunya kehadapan Sanghyang Siwa dan Ista Dewata, bertempat di Pemerajan atau Pura, dengan upakara sesuaikan dengan Drsta setempat, minimal sebagai berikut :

1)      Daksina jangkep,

2)      Soda rayunan putih kuning,

3)      Segehan,

4)      Sekar arum catur warna,

5)      Bubuh empehan,

6)      Bubuh Gula,

7)      Nasi tepeng madaging kacang ijo,

8)     Air Kumkuman wadah payuk/ gelas genah nyemplungan daun bilwa

9)      Kwangen berisi daun bila 108 bidang (18 kwangen, masing-masing kwangen berisi 6 lembar daun Bila).

 

  1. Melaksanakan persembahyangan 3 (tiga) kali, yaitu :

1)      Sembahyang pertama dilaksanakan jam : 19.00 Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

  1. a) Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;
  2. Sembah Puyung :

Om Atma Tattwatma Suddhamam Swaha.

(Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba).

  1. b) Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, menggunakan sarana bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Raditya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Siwa Aditya :

 

Om Aditya sya param jyotir,

Rakta teja namo stute,

Sweta pankaja madyastha,

Bhaskara ya namo namah swaha.

(Om, sinar surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hormat padamu, Engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-MU pembuat sinar).

  1. c) Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Brahma :

Om , Isano sarwa widnyana, Iswara sarwa bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman, Siwastu sada siwaya,

Om, ciwa dipata ya namo namah swaha.

 

Om Ang Brahma namas catur mukham, Brahmagni rakta warnanca

Sphatika warta dewata, sarwa bhusana raktakam

Om Brahma Dewa ya namah swaha

 

(Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk, selaku Brahma raja daripada semua Brahmana, selaku Siwa dan Sada Siwa. Om Hyang Siwa, hamba menyembah pada-MU)

  1. d) Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Wisnu :

Om Ung namo Wisnu tri mukhanam, Tri nayanam catur bhuyam

Kresna warnam sphatikantam, Sarwa bhusana nilanam

 

Om, Prenamya sirase Wisnu, Triloke Brahma Sawitri,

Iswara loka pawitra, Bhayam nasti kadacanam.

 

Om, Kuwera priti dhanasca, Karni ksatriya purusa,

Sambhu mulya ta suksma ya, Ripu bhasmi durwinasa.

 

Om, Sangkara Sang Hyang Sri-dewi, Para lingga tri sudewa,

Bhasmi bhuta durwinasa, Kreta rogha durwinasa.

Om Sri Wisnu Ya namah Swaha

  1. e) Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Iswara :

Om Giri murti sweta warnam, meru rajata bhaswaram

Purwa desa pratistanam, purwa Iswara arcanam

Om, Sarwa sweta suddha nityam, Bhusana ratna swetanam,

Mani Surya sweta warnam, Surya kotti prabha jwalam

 Om, Catur Dewi Mahadewi, Catur Asrame Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi, Durga Masarira Dewi,

Om, Anugraha amreta sarwa lara winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, saktiMU berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Siwa, raja semesta alam, dalam wujud Iswara, Ya, Catur Dewi, hamba menyembah kebawah kaki-MU).

  1. f) Sembah kehadapan Sanghyang Ghana, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Kebijaksanaan.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Ghana :

Om, Ghana parama Tanggohyam,

Ghana Tattwa Para ya namah,

Ghana diparamanopti,

Sukha Ghana namostute,

Om, am Ghana dipata ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, bergelar Ghana yang maha bijaksana, dewanya kebijaksanaan, kami semua sembah kehadapan-MU).

  1. g) Sembah kehadapan Sanghyang Aji Saraswati, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon pengetahuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata sumber ilmu pengetahuan.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Aji Saraswati :

 

Om, Saraswati namãstu-bhyam, warade kama-rupini,

Siddhãrambhan kari-syami, Siddhir-bhawantu me-sada.

 

Om, Pranamya sarwa-dewanca, paramãtmanam ewa ca,Rupa siddhi prayukta ya, Saraswati namamy-aham.

 

Om, Padma-patra wisalaksi, Padma kesari warnini,

Nityam padma-laya dewi, Sa-mam-pa-tu Saraswati.

 

Om, Brahma putri mahadewi, Brahmanya rahma Nandini, Saraswati samjñayani, Pranayana Saraswati,

Om Saraswati Dewi diapata ya namah swaha

  1. h) Sembah kehadapan Sanghyang Widhhi sebagai pemberi anugrah, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon waranugraha dari Sang Hyang Widdhi Wasa.
  2. Sembah Kehadapan Sang Hyang Widdhi Wasa sebagai pemberi anugrah :

Om anugraha manoharam Devadattaanugrahakam

Arcanam sarvaapuujanam Namah Sarvaanugrahakam

 

Deva devi mahaasiddhi Yajnanga nirmalaatmaka

Laksmii siddhisca, diirgahaayu Nirvighna sukha vrddhisca

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, yang memberikan anugrah dan menarik hati, anugrah dari dewata yang agung puja semua pujaan. Hormat padaMU wahai pemberi anugrah. Dewa dan dewi yang selalu berhasil, berbadan yadnya, suci, panjang umur, dan bahagia tanpa halangan”.

  1. i) Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).
  2. Sembah Puyung :

Om, Dewa suksma paramacintya ya nama swaha.

Om, santih, santih, santih, Om.

(Om, hormat kami kepada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang gaib).

2). Sembahyang kedua dilaksanakan jam : 24.00. Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

  1. a) Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;
  2. Sembah Puyung :

Om Atma Tattwatma Suddhamam Swaha.

(Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba).

  1. b) Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, menggunakan sarana bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Raditya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Siwa Aditya :

 

Om Aditya sya param jyotir,

Rakta teja namo stute,

Sweta pankaja madyastha,

Bhaskara ya namo namah swaha.

(Om, sinar surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hormat padamu, Engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-MU pembuat sinar).

  1. c) Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Brahma :

Om , Isano sarwa widnyana, Iswara sarwa bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman, Siwastu sada siwaya,

Om, ciwa dipata ya namo namah swaha.

 

Om Ang Brahma namas catur mukham, Brahmagni rakta warnanca

Sphatika warta dewata, sarwa bhusana raktakam

Om Brahma Dewa ya namah swaha

 

(Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk, selaku Brahma raja daripada semua Brahmana, selaku Siwa dan Sada Siwa. Om Hyang Siwa, hamba menyembah pada-MU)

  1. d) Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Wisnu :

Om Ung namo Wisnu tri mukhanam, Tri nayanam catur bhuyam

Kresna warnam sphatikantam, Sarwa bhusana nilanam

 

Om, Prenamya sirase Wisnu, Triloke Brahma Sawitri,

Iswara loka pawitra, Bhayam nasti kadacanam.

 

Om, Kuwera priti dhanasca, Karni ksatriya purusa,

Sambhu mulya ta suksma ya, Ripu bhasmi durwinasa.

 

Om, Sangkara Sang Hyang Sri-dewi, Para lingga tri sudewa,

Bhasmi bhuta durwinasa, Kreta rogha durwinasa.

Om Sri Wisnu Ya namah Swaha

  1. e) Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.

  1. Sembah Kehadapan Sanghyang Iswara :

Om Giri murti sweta warnam, meru rajata bhaswaram

Purwa desa pratistanam, purwa Iswara arcanam

Om, Sarwa sweta suddha nityam, Bhusana ratna swetanam,

Mani Surya sweta warnam, Surya kotti prabha jwalam

 Om, Catur Dewi Mahadewi, Catur Asrame Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi, Durga Masarira Dewi,

Om, Anugraha amreta sarwa lara winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, saktiMU berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Siwa, raja semesta alam, dalam wujud Iswara, Ya, Catur Dewi, hamba menyembah kebawah kaki-MU).

  1. f) Sembah kehadapan Sanghyang Giri Putri, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Sumber Kemakmuran.
  2. Sembah kehadapan Sanghyang Giri Putri:

Om, Am Am Giri Patti Wande,

Lokanatam Jagatpati,

Danesan Arana Karanam,

Sarwa Guna Mahadyatam,

Om, Maharudram, Mahasudham, Sarwa Rogha Winasanam ya namo namah swaha.

Om, Giripati maha wiryyam,

Mahadewa pratista linggam,

Sarwa dewa pranamyanam,

Sarwa jagat pratistanam,

Om, Giripati dipata ya namah.

(Ya Tuhan, bergelar Giripatti, dewanya kemakmuran, pemberi anugrah seisi jagatraya, kami semua sembah kehadapan-MU).

(Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua dewa sembah pada-MU.

Om Giripati, hamba memuja-MU).

  1. g) Sembah kehadapan Sanghyang Aji Saraswati, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon pengetahuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata sumber ilmu pengetahuan.

  1. Sembah Kehadapan Sanghyang Aji Saraswati :

 

Om, Saraswati namãstu-bhyam, warade kama-rupini,

Siddhãrambhan kari-syami, Siddhir-bhawantu me-sada.

 

Om, Pranamya sarwa-dewanca, paramãtmanam ewa ca,Rupa siddhi prayukta ya, Saraswati namamy-aham.

 

Om, Padma-patra wisalaksi, Padma kesari warnini,

Nityam padma-laya dewi, Sa-mam-pa-tu Saraswati.

 

Om, Brahma putri mahadewi, Brahmanya rahma Nandini, Saraswati samjñayani, Pranayana Saraswati,

Om Saraswati Dewi diapata ya namah swaha

  1. h) Sembah kehadapan Sanghyang Widhhi sebagai pemberi anugrah, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon waranugraha dari Sang Hyang Widdhi Wasa.
  2. Sembah Kehadapan Sang Hyang Widdhi Wasa sebagai pemberi anugrah :

Om anugraha manoharam Devadattaanugrahakam

Arcanam sarvaapuujanam Namah Sarvaanugrahakam

 

Deva devi mahaasiddhi Yajnanga nirmalaatmaka

Laksmii siddhisca, diirgahaayu Nirvighna sukha vrddhisca

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, yang memberikan anugrah dan menarik hati, anugrah dari dewata yang agung puja semua pujaan. Hormat padaMU wahai pemberi anugrah. Dewa dan dewi yang selalu berhasil, berbadan yadnya, suci, panjang umur, dan bahagia tanpa halangan”.

  1. i) Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).
  2. Sembah Puyung :

Om, Dewa suksma paramacintya ya nama swaha.

Om, santih, santih, santih, Om.

(Om, hormat kami kepada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang gaib).

III. Sembahyang ketiga dilaksanakan jam : 05.00 Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

  1. a) Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;
  2. Sembah Puyung :

Om Atma Tattwatma Suddhamam Swaha.

(Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba).

  1. b) Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, menggunakan sarana bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Raditya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Siwa Aditya :

 

Om Aditya sya param jyotir,

Rakta teja namo stute,

Sweta pankaja madyastha,

Bhaskara ya namo namah swaha.

(Om, sinar surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hormat padamu, Engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-MU pembuat sinar).

  1. c) Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Brahma :

Om , Isano sarwa widnyana, Iswara sarwa bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman, Siwastu sada siwaya,

Om, ciwa dipata ya namo namah swaha.

 

Om Ang Brahma namas catur mukham, Brahmagni rakta warnanca

Sphatika warta dewata, sarwa bhusana raktakam

Om Brahma Dewa ya namah swaha

 

(Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk, selaku Brahma raja daripada semua Brahmana, selaku Siwa dan Sada Siwa. Om Hyang Siwa, hamba menyembah pada-MU)

  1. d) Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Wisnu :

Om Ung namo Wisnu tri mukhanam, Tri nayanam catur bhuyam

Kresna warnam sphatikantam, Sarwa bhusana nilanam

 

Om, Prenamya sirase Wisnu, Triloke Brahma Sawitri,

Iswara loka pawitra, Bhayam nasti kadacanam.

 

Om, Kuwera priti dhanasca, Karni ksatriya purusa,

Sambhu mulya ta suksma ya, Ripu bhasmi durwinasa.

 

Om, Sangkara Sang Hyang Sri-dewi, Para lingga tri sudewa,

Bhasmi bhuta durwinasa, Kreta rogha durwinasa.

Om Sri Wisnu Ya namah Swaha

  1. e) Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Iswara :

Om Giri murti sweta warnam, meru rajata bhaswaram

Purwa desa pratistanam, purwa Iswara arcanam

 

Om, Sarwa sweta suddha nityam, Bhusana ratna swetanam,

Mani Surya sweta warnam, Surya kotti prabha jwalam

 

 Om, Catur Dewi Mahadewi, Catur Asrame Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi, Durga Masarira Dewi,

Om, Anugraha amreta sarwa lara winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, saktiMU berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Siwa, raja semesta alam, dalam wujud Iswara, Ya, Catur Dewi, hamba menyembah kebawah kaki-MU).

  1. f) Sembah kehadapan Sanghyang Kumara, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Penyagom Serba Kehidupan.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Kumara :

Om, Namah Kumara ya, Sedhana ya,

Siki dwaja ya pratimaya loka,

Sad kartika nanda karya ya nityam,

Namastute tasmai dwaja pudhitam.

Om Kumara Dewa ya namah Swaha

(Ya Tuhan, bergelar Kumara, dewanya pengayom semua kehidupan di jagatraya ini, kami semua sembah kehadapan-MU).

  1. g) Sembah kehadapan Sanghyang Aji Saraswati, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon pengetahuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata sumber ilmu pengetahuan.

  1. Sembah Kehadapan Sanghyang Aji Saraswati :

 

Om, Saraswati namãstu-bhyam, warade kama-rupini,

Siddhãrambhan kari-syami, Siddhir-bhawantu me-sada.

 

Om, Pranamya sarwa-dewanca, paramãtmanam ewa ca,Rupa siddhi prayukta ya, Saraswati namamy-aham.

 

Om, Padma-patra wisalaksi, Padma kesari warnini,

Nityam padma-laya dewi, Sa-mam-pa-tu Saraswati.

 

Om, Brahma putri mahadewi, Brahmanya rahma Nandini, Saraswati samjñayani, Pranayana Saraswati,

Om Saraswati Dewi diapata ya namah swaha

  1. h) Sembah kehadapan Sanghyang Widhhi sebagai pemberi anugrah, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon waranugraha dari Sang Hyang Widdhi Wasa.
  2. Sembah Kehadapan Sang Hyang Widdhi Wasa sebagai pemberi anugrah :

Om anugraha manoharam Devadattaanugrahakam

Arcanam sarvaapuujanam Namah Sarvaanugrahakam

 

Deva devi mahaasiddhi Yajnanga nirmalaatmaka

Laksmii siddhisca, diirgahaayu Nirvighna sukha vrddhisca

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, yang memberikan anugrah dan menarik hati, anugrah dari dewata yang agung puja semua pujaan. Hormat padaMU wahai pemberi anugrah. Dewa dan dewi yang selalu berhasil, berbadan yadnya, suci, panjang umur, dan bahagia tanpa halangan”.

  1. i) Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).
  2. Sembah Puyung :

Om, Dewa suksma paramacintya ya nama swaha.

Om, santih, santih, santih, Om.

(Om, hormat kami kepada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang gaib).

Ngelebar Brata Siwa Ratri.

Semoga Bermanfaat