Arsip | Maret, 2018

RAHAJENG RERAINAN GUMI Dari tanah Baprakeswara

20 Mar

Kaki langit serat kehidupan

Lebur sandi widya kawaca

Tatap sang surya merayap

Terbit tenggelam tata kehidupan

 

Savitri tersenyum semaikan cinta

Saraswati menuai jiwa

Temukan mereka dibatas antara

Pulang kerumah sang jiwa

 

sepi senyap 1940 saka

renungi relung tattwa

mencari saraswati dalam tapa

tempa hati dalam yoga

 

Soma ribek Wisnu Sri Dewi

tabur wija amerta sari

berbuah karma suci budhi

santosa swasti santhi

 

Sabuh mas Mahadewa Saci Dewi

arta brana guna suci

asih punya bhakti wicaksana

dana punya menabur sejahtera

 

Paramestya Guru Pager wesi

Sejatinya Guru telah kembali

lebur awidya dalam suluh sejati

Bawa jiwa pulang kembali

 

Sanghyang Pramesti Guru

20 Mar

Sanghyang Pramesti Guru adalah guru sejati dimana dalam filosofinya juga disebutkan :

Hidup tanpa guru  juga sama artinya dengan hidup tanpa penuntun.

Sebagai guru sejati untuk manusia dan alam semesta ini, dan tersebutlah pada zaman dahulu keserakahan tidaklah dapat berlangsung lama;

Dengan sifat loba yang berlebihan, dalam sejarah Bali diceritakan pada saat Mayadanawa menjadi seorang raja saat itu yang sifatnya “Nyapa kadi aku” , tidak ingat akan dirinya sebagai seorang raja yang harus mengayomi dan melindungi seluruh rakyatnya. 

Akhirnya para Bhatara dan dewata di Tolangkir menghadap Hyang Pramesti Guru, memohon agar Prabu Mayadanawa yang mencemaskan penduduk Bali dimusnahkan dari madyaloka ini.

Hyang Pramesti Guru memerintahkan para dewata para resi dan tidak ketinggalan Bhatara Indra agar turun ke Bali untuk melenyapkan raja Mayadanawa.

Sanghyang Paramesti Guru sejatinya adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk.

Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.

Sebagaimana dijelaskan oleh wayanalit0, Hari Raya Pagerwesi yang disebutkan dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta.

Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun umat walaka. 

Begitupun dalam lontar Sundarigama disebutkan: “Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”
Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga(sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Budha Keliwon Sinta (Pagerwesi)

20 Mar

Budha Keliwon Sinta (Pagerwesi)

Hari raya Pagerwesi jatuh pada hari Budha Keliwon Wuku Sinta. Dalam kalender hari suci di Bali, hari ini adalah hari ke 5 dari serangkaian hari raya penting, yaitu

Hari 1 Hari raya Saraswati Sabtu Saniscara Umanis Watugunung
Hari 2 Hari raya Banyu Pinaruh Minggu Redite Paing Sinta
Hari 3 Hari raya Soma Ribek Senin Soma Pon Sinta
Hari 4 Hari raya Sabuh Mas Selasa Anggara Wage Sinta
Hari 5 Hari raya Pagerwesi Rabu Buda Keliwon Sinta

Hari ini adalah payogan Hyang Pramesti Guru, disertai para Dewa dan Pitara, demi kesejahteraan dunia dengan segala isinya dan demi sentosanya kehidupan semua makhluk.

Pada saat itu umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha.

Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata yang sedang melakukan yoga. Menurut pengider-ideran Panca Dewata itu ialah:

1 Sanghyang Içwara berkedudukan di Timur
2 Sanghyang Brahma berkedudukan di Selatan
3 Sanghyang Mahadewa berkedudukan di Barat
4 Sanghyang Wisnu berkedudukan di Utara
5 Sanghyang Çiwa berkedudukan di tengah

Ekam Sat Tuhan itu tunggal. Dari Panca Dewata itu kita dapatkan pengertian, betapa Hyang Widhi dengan 5 manifestasiNya dilambangkan menyelubungi dan meresap ke seluruh ciptaanNya (wyapi-wiapaka dan nirwikara). Juga dengan geraknya itulah Hyang Widhi memberikan hidup dan kehidupan kepada kita. Hakekatnya hidup yang ada pada kita masing-masing adalah bagian daripada dayaNya. Pada hari raya Pagerwesi kita sujud kepadaNya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstuiNya dengan kesentosaan, kemajuan dan lain-lainnya.

Widhi-widhananya ialah: suci, peras penyeneng sesayut panca-lingga, penek rerayunan dengan raka-raka, wangi-wangian, kembang, asep dupa arum, dihaturkan di Sanggah Kemulan (Kemimitan). Yang di bawah dipujakan kepada Sang Panca Maha Bhuta ialah Segehan Agung manca warna (menurut urip) dengan tetabuhan arak berem. Hendaknya Sang Panca Maha Bhuta bergirang dan suka membantu kita, memberi petunjuk jalan menuju keselamatan, sehingga mencapai Bhukti mwang Mukti.