SIWA NIRMALA- NIṢKALAṄKO NĀRĀYAṆA

12 Jul

NĀRĀYAṆA Tak tergambarkan & Siwa yang gaib… Apa bedanya?

Oṁ nārāyaṇa evedaṁ sarvaṁ 
yad bhūtaṁ yac ca bhavyam
niṣkalaṅko nirañjano nirvikalpo
nirākhyātaḥ śuddho  devo eko
nārāyaṇaḥ  na dvitīyo ‘sti kaścit

Terjemahan:

Om adalah Narayana, adalah semua ini, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kekotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Tuhan yang “Niṣkalaṅko” bebas dari noda, tak terjangkau oleh pikiran namun ditafsirkan berdasarkan pikiran yang terbatas oleh selimut ego. Batasan tentang Tuhan dan klaim tentang kebenaran Tuhan tidak dapat di lakukan oleh pikiran yang berada jauh dari hakikat Purusha. Sehingga definisi Tuhan bedasarkan argumen pikiran tidak akan mampu mewakili “Narayana” bahkan nama itupun telah membatasi-Nya.

Yang tak terbatas tak mampu dijelaskan oleh yang terbatas, yang tanpa noda tak mampu digapai oleh yang ternoda. Kakawin Arjuna Wiwaha menjelaskan bagiamana keberadaan Siwa yang “Nirmala” tanpa noda. Sehingga Narayana & Siwa sesungguhnya tiada bedanya yaitu Dia yang tanpa noda niṣkalaṅko atau nirmala”. SIWA NIRMALA-NISKALANKO NARAYANA
http://shiva%20narayana.swf
<!–

Iklan

NARAYANA DAN SIWA

26 Jun

Siwa yang suci tanpa noda atau nirmala adalah Narayana yang memiliki sifat “niṣkalaṅko” dalam naskah tri sandhya bait kedua yang bersumber pada narayana upanishad. Sehingga Narayana maupun Siwa sesungguhnya adalah tunggal adanya namun beda nama, sebagaimana karakter theologi Hindu dalam Weda “ekam sat wiprah bahuda wadanti”. Dalam hal ini tuhan dihayati sebagai yang tanpa noda, sehingga dapat diartikan sebagai tanpa kemelakatan atau tanpa ikatan apapun yang menyertai-Nya. Jika kemelekatan adalah noda maka ia adalah mala yang merintangi manusia menuju moksah atau pembebasan, sebab hanya yang tanpa noda mencapai moksa. Hanya yang nirmala menuju yang “nikalako”. 

 

RAHAJENG RERAINAN GUMI Dari tanah Baprakeswara

20 Mar

Kaki langit serat kehidupan

Lebur sandi widya kawaca

Tatap sang surya merayap

Terbit tenggelam tata kehidupan

 

Savitri tersenyum semaikan cinta

Saraswati menuai jiwa

Temukan mereka dibatas antara

Pulang kerumah sang jiwa

 

sepi senyap 1940 saka

renungi relung tattwa

mencari saraswati dalam tapa

tempa hati dalam yoga

 

Soma ribek Wisnu Sri Dewi

tabur wija amerta sari

berbuah karma suci budhi

santosa swasti santhi

 

Sabuh mas Mahadewa Saci Dewi

arta brana guna suci

asih punya bhakti wicaksana

dana punya menabur sejahtera

 

Paramestya Guru Pager wesi

Sejatinya Guru telah kembali

lebur awidya dalam suluh sejati

Bawa jiwa pulang kembali

 

Sanghyang Pramesti Guru

20 Mar

Sanghyang Pramesti Guru adalah guru sejati dimana dalam filosofinya juga disebutkan :

Hidup tanpa guru  juga sama artinya dengan hidup tanpa penuntun.

Sebagai guru sejati untuk manusia dan alam semesta ini, dan tersebutlah pada zaman dahulu keserakahan tidaklah dapat berlangsung lama;

Dengan sifat loba yang berlebihan, dalam sejarah Bali diceritakan pada saat Mayadanawa menjadi seorang raja saat itu yang sifatnya “Nyapa kadi aku” , tidak ingat akan dirinya sebagai seorang raja yang harus mengayomi dan melindungi seluruh rakyatnya. 

Akhirnya para Bhatara dan dewata di Tolangkir menghadap Hyang Pramesti Guru, memohon agar Prabu Mayadanawa yang mencemaskan penduduk Bali dimusnahkan dari madyaloka ini.

Hyang Pramesti Guru memerintahkan para dewata para resi dan tidak ketinggalan Bhatara Indra agar turun ke Bali untuk melenyapkan raja Mayadanawa.

Sanghyang Paramesti Guru sejatinya adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk.

Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.

Sebagaimana dijelaskan oleh wayanalit0, Hari Raya Pagerwesi yang disebutkan dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta.

Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun umat walaka. 

Begitupun dalam lontar Sundarigama disebutkan: “Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”
Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga(sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Budha Keliwon Sinta (Pagerwesi)

20 Mar

Budha Keliwon Sinta (Pagerwesi)

Hari raya Pagerwesi jatuh pada hari Budha Keliwon Wuku Sinta. Dalam kalender hari suci di Bali, hari ini adalah hari ke 5 dari serangkaian hari raya penting, yaitu

Hari 1 Hari raya Saraswati Sabtu Saniscara Umanis Watugunung
Hari 2 Hari raya Banyu Pinaruh Minggu Redite Paing Sinta
Hari 3 Hari raya Soma Ribek Senin Soma Pon Sinta
Hari 4 Hari raya Sabuh Mas Selasa Anggara Wage Sinta
Hari 5 Hari raya Pagerwesi Rabu Buda Keliwon Sinta

Hari ini adalah payogan Hyang Pramesti Guru, disertai para Dewa dan Pitara, demi kesejahteraan dunia dengan segala isinya dan demi sentosanya kehidupan semua makhluk.

Pada saat itu umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Sang Panca Maha Butha.

Pada hari ini kita menyembah dan sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, Hyang Pramesti Guru beserta Panca Dewata yang sedang melakukan yoga. Menurut pengider-ideran Panca Dewata itu ialah:

1 Sanghyang Içwara berkedudukan di Timur
2 Sanghyang Brahma berkedudukan di Selatan
3 Sanghyang Mahadewa berkedudukan di Barat
4 Sanghyang Wisnu berkedudukan di Utara
5 Sanghyang Çiwa berkedudukan di tengah

Ekam Sat Tuhan itu tunggal. Dari Panca Dewata itu kita dapatkan pengertian, betapa Hyang Widhi dengan 5 manifestasiNya dilambangkan menyelubungi dan meresap ke seluruh ciptaanNya (wyapi-wiapaka dan nirwikara). Juga dengan geraknya itulah Hyang Widhi memberikan hidup dan kehidupan kepada kita. Hakekatnya hidup yang ada pada kita masing-masing adalah bagian daripada dayaNya. Pada hari raya Pagerwesi kita sujud kepadaNya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstuiNya dengan kesentosaan, kemajuan dan lain-lainnya.

Widhi-widhananya ialah: suci, peras penyeneng sesayut panca-lingga, penek rerayunan dengan raka-raka, wangi-wangian, kembang, asep dupa arum, dihaturkan di Sanggah Kemulan (Kemimitan). Yang di bawah dipujakan kepada Sang Panca Maha Bhuta ialah Segehan Agung manca warna (menurut urip) dengan tetabuhan arak berem. Hendaknya Sang Panca Maha Bhuta bergirang dan suka membantu kita, memberi petunjuk jalan menuju keselamatan, sehingga mencapai Bhukti mwang Mukti.

Gerhana Bulan 31 Januari mengapa Istimewa

30 Jan

di kutif dari Tribun Bali

Dewi Durga menciptakan penyakit selama setahun berdasarkan sasih. Kebetulan, rerahinan Purnama dan gerhana bulan total tanggal 31 Januari 2018 terjadi pada sasih kewulu. Pada sasih kewulu, menurut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kertha Bhuana, dari Gria Batur Giri Murti, Glogor, Denpasar, Bali, Dewi Durga mengadakan gering mejer (berak berdarah), sakit siksikan, dan tuju rasa (sakit tuju).

“Sasih Kewulu diadakan gering mejer, tuju rasa, dan sakit siksikan,” kata Ida Rsi.Untuk menanggulangi hal itu, perlu dilakukan carun sasih.Saat kewulu atau palguna, carun sasih dilakukan dengan memasang sanggah cucuk, banten tumpeng lima bungkul (buah), metadah (alas) daun telujungan, iwak rumba gile, biu kayu, tuak abumbung, kakomoh bang (merah), kakomoh kacang, calon (sate calon) agung 5 katih (biji), raka geti-geti, nasi atakilan iwak taluh bekasem digantung di sanggah cucuk.

Ida Rsi, juga berharap tidak bepergian ke luar saat terjadi gerhana bulan tersebut. Karena belum tahu apa yang akan terjadi di perjalanan. “Kalau bisa dan tidak ada keperluan mendesak jangan ke luar dulu, kita tidak tahu apa yang terjadi di perjalanan. Kalau mau melihat cukup dari rumah saja, tidak usah ke tempat yang jauh. Di merajan rumah berstana Bhatara Hyang Guru, kita nunas keselamatan,” imbuh Ida Rsi. Menurut Ida, gerhana tersebut dimulai saat sandyakala atau pengalihan waktu siang dengan malam dan berakhir hingga tengah malam. Setelah gerhana berakhir, maka waktunya dimiliki oleh ‘penghuni malam’ hingga pukul 03.00 Wita.

 Fenomena 2 Purnama di Januari dan Maret 2018, Sangat Jarang Terjadi, Ini yang Akan Terlihat 

Januari 2018 rupanya menjadi bulan yang sangat spesial dalam fenomena tata surya kita.

Bagaimana tidak, ada dua supermoon yang dapat disaksikan dengan mata telanjang di bulan ini. Seperti diberitakan sebelumnya, NASA (National Aeronautics and Space Administration) mengumumkan fenomena “trilogi supermoon”. Ketiganya adalah supermoon terjadi pada 3 Desember 2017 lalu, kemudian yang kedua akan muncul 1 Januari 2018 malam hingga 2 Januari dini hari, dan terakhir akan muncul pada 31 Januari 2018.

Supermoon pada 1 Januari 2017 disebut sebagai Supermoon ‘Serigala’, puncaknya pukul 20.51 WIB dan seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikannya. Sementara Supermoon yang akan menjadi penutup di Januari disebut Supermoon Biru. Meski namanya supermoon biru, tapi bulan akhir bulan ini tidak berwarna biru. Nama bulan biru mengacu pada bulan purnama kedua dalam sebulan.

Bulan purnama kedua nanti akan sangat istimewa, karena bertepatan dengan gerhana bulan total, di mana posisi bumi tepat berada antara matahari dan bulan. Satu putaran kalender lunar sama dengan 12 putaran revolusi Bulan (29,5 hari). Sehingga satu tahun lunar sama dengan 354 hari lebih 10 jam 49 menit.

Untuk menyelaraskan keduanya, para astronom menggunakan sesuatu yang disebut ‘siklus Metonik’, periode sekitar 19 tahun kalender atau 235 supermoon (setara 235 bulan lunar). Ini hampir merupakan kelipatan umum dari tahun matahari dan tahun bulan lunar yang selisih beberapa jam saja. Dengan begitu, setiap 19 tahun kalender, bulan baru dan bulan purnama akan muncul pada tanggal yang berdekatan dalam setahun.

Kalender matahari dan kalender bulan tidak sinkron sempurna, karena ada 235 purnama selama 228 bulan kalender. Oleh karena itu, ada tujuh bulan dalam kurun waktu 19 tahun memiliki dua purnama di bulan yang sama. Jika tahun ini fenomena dua supermoon ada di bulan Januari dan Maret, maka untuk selanjutnya fenomena serupa akan terjadi di tahun 2037.

Umat Hindu di Bali pada umumnya merayakan Purnama setiap bulan sekali. Berbeda dengan tahun 2018 ini. Dikutip dari kalenderbali, bulan Purnama terjadi dua kali pada Bulan Januari yaitu pada tanggal 1 Januari 2018 dan 31 Januari 2018, yaitu Purnama Kapitu dan Purnama Kewulu.  Selanjutnya di Bulan Februari tidak tercatat ada Purnama. Kemudian di Bulan Maret kembali ada dua kali perayaan Purnama, yaitu 1 Maret 2018 Purnama Kesanga dan 31 Maret 2018 Purnama Kedasa. Warnanya nanti akan menyerupai warna merah darah. Fenomena ini memang jarang terjadi. Biasanya, fenomena bulan penuh atau supermoon hanya terjadi satu kali dalam sebulan. Tapi tidak untuk Januari dan Maret 2018. Keduanya memiliki bulan biru.

Dilansir dari Inverse, Minggu (31/12/2017), hal ini karena adanya perbedaan antara kalender matahari selama 365 hari yang selama ini kita ikuti dan kalender lunar yang diikuti oleh banyak budaya.

Mitologi Gerhana di Indonesia

30 Jan

Setiap kali gerhana terjadi, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan, masyarakat sejumlah etnis di Nusantara selalu mengingat Rau, Rahu, atau Batara Kala. Sosok raksasa penelan matahari atau bulan itu selalu menjadi “kambing hitam” atas kegelapan sesaat yang terjadi. Meski mitos itu telah ditinggalkan sebagian besar masyarakat seiring berkembangnya pengetahuan dan kemampuan berpikir rasional, cerita tentang raksasa pendendam itu tetap abadi dalam ingatan rakyat.

Syahdan, hiduplah raksasa bernama Rau di Pulau Bangka. Sang raksasa ingin mempersunting salah satu dewi di kahyangan sana. Namun, hasrat Rau itu ditolak sang Dewi. Dari sana kisah bermula. Tak terima penolakan itu, Rau berusaha memaksa sang Dewi. Dewa Surya (Matahari) dan Dewa Candra (Bulan) yang tak suka pemaksaan itu mengadukan Rau kepada Dewa Wisnu.

Wisnu akhirnya menghukum Rau. Ia memanah leher sang raksasa hingga terputus dari badan. Kepala Rau jatuh, masuk dalam Telaga Amerta berisikan air suci untuk keabadian para dewa. Adapun badan Rau seketika mati dan jatuh ke tanah.

Penghukuman itu membuat Rau marah. Kepala raksasa yang telah abadi berkat air suci pun terus berusaha mengejar sang Dewi idamannya. “Bulan dan Matahari menjadi tempat persembunyian sang Dewi sehingga Rau selalu berusaha memakan Bulan atau Matahari agar sang Dewi muncul dan terjadilah gerhana,” kata Akhmad Elvian, sejarawan Bangka, pekan lalu.

Mitos Rau merupakan pengaruh budaya Hindu yang masuk Pulau Bangka sejak abad ketiga Masehi. Berabad-abad itu pula, Rau “menghantui” warga Bangka. Untuk mengusir sang raksasa, masyarakat biasa membuat keributan dan kegaduhan, memukul bermacam benda.

“Sampai gerhana matahari total 18 Maret 1988 yang melintasi Bangka, orang-orang masih ketakutan. Sebagian orang lari ke hutan, sedangkan sebagian lain bersembunyi di kolong ranjang,” ujar Elvian, yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung.

Cerita rakyat yang hidup di Pulau Bangka berbeda sedikit dengan cerita aslinya dari India. Menurut Elvian, Rau yang disebut Rahu hendak mencuri resep keabadian para dewa di kolam Tirta Amerta agar ia bisa abadi seperti para dewa. Mengetahui ulah Rahu, Dewa Surya dan Dewa Candra pun mengadukannya kepada Dewa Wisnu. Ketika itu, Rahu sedang meminum air suci untuk mengubah wujudnya menjadi dewa.

Wisnu yang marah pun menghukum Rahu dengan memenggal kepalanya menggunakan Cakra, pusaka miliknya. “Kepala Rahu yang terpenggal masuk ke kolam Tirta Amerta sehingga bertahan hidup dan abadi. Kepala itu mengembara di langit dan selalu mengejar dan memakan Dewa Surya dan Candra,” katanya.

Di Jawa, Rau disebut sebagai Batara Kala. Meski demikian, dalam naskah Jawa Kuno Adiparwa berangka tahun 998 Masehi yang diduga sebagai naskah tertua di Tanah Air yang menceritakan mitologi gerhana, sang raksasa pemakan matahari atau bulan itu tidak bernama. Tidak disebut sebagai Rau, Rahu, ataupun Batara Kala.

Dalam Bab VI Adiparwa disebutkan, seorang raksasa yang merupakan anak Sang Wipracitti dan Sang Singhika berubah wujud menjadi dewa dengan meminum air amerta. Sang Hyang Aditya (Dewa Matahari) dan Sang Hyang Candra (Dewa Bulan) yang mengetahui ulah sang raksasa pun mengadukannya kepada Dewa Wisnu.

Sewaktu air amerta memasuki kerongkongan raksasa, Dewa Wisnu memenggal lehernya. Badan raksasa yang belum terkena air amerta mati dan jatuh ke tanah, teronggok bagai puncak gunung. Saat tubuh raksasa itu mengempas tanah, terjadilah gempa bumi saking beratnya bangkai badan sang raksasa.

Adapun kepala raksasa tersebut abadi dan melayang-layang di angkasa karena tersiram kesucian air amerta. Dalam keabadian itu, kepala raksasa menaruh dendam kepada Dewa Matahari dan Dewa Bulan sehingga selalu berusaha memakan Matahari dan Bulan.

Meski alur cerita Rau, Rahu, ataupun Batara Kala sedikit berbeda, akhir ceritanya sama. Gara-gara Dewa Matahari dan Bulan, sang raksasa gagal meraih keabadian. Karena itu, saat menjumpai Matahari dan Bulan, sang raksasa selalu ingin mencaploknya dan terjadilah gerhana.

Mitologi Dayak
Berbeda dengan mitologi gerhana di Bangka dan Jawa, masyarakat Dayak percaya, ketika gerhana matahari, Matahari dikuasai Jangkarang Matan Andau, manifestasi dari Hyang Ilahi. Gerhana adalah pertanda dari Jangkarang Matan Andau bagi keberlangsungan hidup manusia pada masa datang.

“Jika gerhana matahari terjadi pagi hari atau subuh, itu pertanda bagi mereka yang berusia muda, mulai dari baru lahir hingga usia dewasa, akan memperoleh terang kehidupan. Pada pagi hari terdapat kesegaran, kesejukan, dan kesehatan,” kata Bajik Rubuh Simpei, rohaniwan Hindu Kaharingan, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Selanjutnya, apabila gerhana terjadi siang hari, perlu diwaspadai akan terjadi bencana atau gejolak di kemudian hari. Sifat siang hari yang panas rentan menimbulkan gejolak yang harus diantisipasi pada masa depan. Jika gerhana matahari terjadi sore hari, masyarakat Dayak meyakini pada masa mendatang akan damai, aman, dan penuh berkat. “Segala tanda dari fenomena alam itu untuk mendorong manusia mawas diri dan berhati-hati menghadapi masa depan,” katanya.

Saat terjadi gerhana, puji-pujian pun dihaturkan melalui upacara adat oleh balian (dukun) dengan mendaraskan mantra dan doa dalam bahasa Sangiang atau bahasa leluhur. Ritual itu untuk menjaga keseimbangan alam semesta sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan. “Yang penting diingat adalah alam telah membantu dan mendampingi manusia, tinggal bagaimana manusia melestarikan dan terus hidup berdampingan dengan alam,” ujar Bajik.

Sementara itu, Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kota Palangkaraya Prada mengatakan, saat gerhana matahari tiba, terdapat energi negatif yang harus dihalau manusia. Karena itu, saat gerhana, remaja biasanya keluar rumah sambil menutupi kepalanya dengan wajan agar rambutnya tidak segera beruban. Selain itu, dibunyikan juga gong, gendang, atau tabuh-tabuhan lain untuk mengusir energi negatif itu.

Berbagai mitos gerhana yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Nusantara itu memang telah banyak ditinggalkan seiring meningkatnya pengetahuan gerhana dan berpikir rasional. Meski cerita itu tidak akan terungkap kebenarannya, mitos tetap bisa mewarnai, melengkapi, dan memperkaya daya pikir manusia Indonesia.

Source: kompas.com