Jika Copernicus Seorang Hindu Nasibnya Pasti Beda


penguburan-copernicusKisah Orang sesat kaliber dunia copernicus berubah menjadi Pahlawan setelah mengetahui bahwa Bumi itu bulat. Bagaimana jika dibandingkan dengan Hindu… tentu menggelikan, karena sejak zaman dahulu Hindu menyatakan benda-benda angkasa, planet-planet sebagai anda buana artinya telor alam semesta, dan kenyataanya bumi itu bulat dan pipih pada kutu utara dan selatan sebagai dampak perputaran bumi pada porosnya sehingga mirip telor.

Wah agama Hindu yang dipandang sebagai agama bumi kok lebih sahih kebenaranya ya… semak kisahnya ini berita lama, sejarah dunia untuk membuat kita harus bangga menjadi Hindu

FROMBORK – Penghormatan besar dicurahkan rakyat Polandia saat pemakaman kembali astronom Nicolaus Copernicus kemarin (23/5). Tubuh astronom pencetus teori heliosentris (matahari adalah pusat tata surya) itu dikuburkan dalam prosesi megah setelah terbaring dalam makam tanpa identitas. Oleh gereja dulu, Copernicus dianggap sebagai orang sesat.
Copernicus dimakamkan di katedral tempat dia pernah mengabdi sebagai dokter. Itu menunjukkan bahwa gereja sudah ”berdamai” dengan Copernicus. Copernicus wafat pada 1543 dengan status orang sesat yang melawan gereja. Kala itu gereja memang masih menganggap bumi sebagai pusat tata surya. Kini Copernicus ”kembali” ke makam sebagai pahlawan.
Sabtu waktu setempat (22/5) sisa-sisa jenazahnya diperciki air suci oleh sejumlah pejabat tinggi dan petinggi gereja Polandia. Itu dilakukan sebelum petugas kehormatan membawa peti jenazahnya melalui jajaran batu bata, lantas meletakkan peti itu kembali di tempat penemuan tengkorak Copernicus pada 2005.

Sebuah batu granit hitam kini menjadi nisan sekaligus identitas kuburan Copernicus. Batu nisan itu diberi hiasan pahatan sistem peredaran matahari, sebuah matahari emas dikelilingi enam planet.
Associated Press melaporkan, beberapa pekan terakhir sisa jenazah Copernicus disemayamkan di Kota Olsztyn dan diarak ke sejumlah kota yang terkait dengan kehidupannya. Dia pun akhirnya dimakamkan kembali di Katedral Frombork dengan kehormatan penuh.
Atas permintaan keuskupan setempat, pada 2004 para ilmuwan mulai mencari jenazah astronom yang meninggal pada usia 70 tahun itu. Mereka akhirnya menemukan serangkaian tulang dan tengkorak dari dalam lokasi gereja. Sebuah rekonstruksi tulang menggunakan teknologi komputer yang dilakukan oleh tim forensik kepolisian menunjukkan bahwa tulang hidung pada tengkorak tersebut patah. Beberapa bukti lain yang dikumpulkan sampai pada kesimpul­an bahwa tulang-tulang itu adalah bagian tubuh Copernicus yang hidup pada 1473-1543.
Pada tahap investigasi berikutnya, contoh DNA diambil dari susunan gigi dan tulang. Hasilnya cocok dengan rambut yang ditemukan di dalam buku miliknya. Wojciech Ziemba, uskup di wilayah sekitar Frombork menyatakan kebanggaannya atas sosok Copernicus. ”Dia mewarisi sifat daerah ini (Frombork). Kerja keras, ketaatan, dan -di atas segalanya- dia adalah ilmuwan genius,” katanya. (cak/c10/dos)

 

Yang Abadi tidak Diciptakan


Pencipta tidak diciptakan

Gita III.15; Brahmākṣara

Brahma =api=panas= energi;  akṣara abadi;  adalah energi yang tak termusnakan yang selalu berada disekitar yadnya (persembahan).

Gita III.10; Prajapati
saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā
purovāca prajāpatiḥ

 

Pada zaman dulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan Yadnya
Brahma= Prajapati; yang mencipta tak termusnahkan; energi abadi

 KARENA ITU KEHIDUPAN BERASAL DARI ENERGI ABADI

PENJELASAN

Ilmuwan Inggris bernama James Prescott Joule yang merupakan penemu hukum kekekalan energi yang dikenal sebagai perumus Hukum yang berbunyi, “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan”.  Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan (konversi energi). Namun, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan energi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja sehingga dapat terciptanya suatu kegiatan.

Energi adalah jawaban mengapa suatu kerja atau karma terjadi. Penyebab dari karma atau kerja didalam Gita III.15 disebut sebagai Brahmākṣara. Energi itu abadi demikian pula Brahmākṣara berarti Brahma, api, panas, energi yang abadi. Kata aksara yang mengikuti Brahma menjelaskan bahwa Brahma yang dimaksud adalah sesuatu yang kekal yang tak termusnhkan. Demikian pula energi adalah sesuatu yang tidak diciptakan dan yang tak termusnahkan. Hal ini menjelaskan bahwa apa yang dimaksud sebagai Brahmākṣara dan juga energi adalah sama mengacu pada penyebab kegiatan kerja (karma) yang tak termusnahkan.

Jika diperhatikan dengan seksama Brahma yang kekal yang melingkupi semuanya ini (tasmāt sarva-gataḿ brahma), dijelaskan selalu berada disekitar yadnya (nityaḿ yajñe pratiṣṭhitam). Hal ini memberikan petunjuk pada kita bahwa setiap yadnya melibatkan Brahmākṣara (energi abadi) yang melingkupi segalanya. Karenanya setiap aktifitas yadnya akan mendekatkan Brahmākṣara atau membawa energi abadi mendekat. Apakah yang membawa energi abadi ini mendekat tiada lain adalah yadnya yang dilakukan dengan berlandaskan hati yang suci dan tulus ikhlas. Kesucian itu adalah Siwa, sehingga mutlak diperlukan menghadirkan kesucian dalam setiap upacara. Dalam naskah puja disebutkan bahwa Siwa berstana ditengah kesucian:

Om agni madya rawis siwa,
rawi madya tu candramam,
candra madya bawus suklah,
sukla madya stitah siwah.

Terjemahan:

Siwa yang suci bersemayam ditengah api, ditengah api ada bulan, ditengah bulan    
ada kesucian, dalam kesucian Siwa berstana.

Dalam puja diatas Siwa dilukiskan berstana ditengah api (madya), artinya Siwa adalah inti dari api, sebab Siwa dinyatakan berada pada madya, madya berarti bukan di timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timurlaut, bukan pula diatas atau dibawah. Sehingga yang maksud Siwa dapat diartikan sebagai isi dimana Agni sebagai bungkusnya. Jika Agni adalah api maka Candra dapat diartikan sebagai Bulan yang berhubunga erat dengan air. Dinayatakan bahwa ditengah Bulan berada ditengah api, dan tengah Bulan ada kesucian. Dalam kesucianlah Siwa bersemayam.

Pengaruh Samkhya Yoga dalam Tattwa, Etika, Upacara & Upakara Agama Hindu di Indonesia


samkhya yoga
pembinaan rutin setiap Jumat Malam Pk. 19.00-21.30

Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag

Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang

Ajaran agama Hindu di Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan ajaran Samkhya dan Yoga. Seperti diketahui ajaran Samkhya pertamakali digagas oleh Rsi Kapila. Samkhya berarti bilangan atau urutan untuk mengidenfikasi suatu persoalan sesuai dengan peringkatnya. Ada 25 tattwas (hakikat) dalam proses penciptaan alam. Dimana ajaran ini menginsyafi ada dua hakikat tertinggi yang ada di alam semesta ini yaitu Purusha dan Prakerti. Purusha adalah unsur dasar yang bersifat kejiwaan, Prakerthi adalah unsur dasar yang bersifat kebenadaan. Keduanya adalah abadi keberadaanya sebagai penyebab adanya ciptaan.

Pertemuan purusha (1) dan Prakerthi (2) menyebabkan triguna berguncang. Hal ini menimbulkan atau menjadi penyebab lahirnya citta (3) atau alam pikiran. Citta kemudian bermanifestasi menjadi buddhi atau intelek (4). Selanjutnya lahirlah rasa aku yang menyebabkan perasaan ada yang disebut ahamkara (5). Karena pengaruh tri guna yang semakin besar maka dari ahamkara lahirlah manah atau pikiran yang mengendalikan panca budhindriya (6-10) atau lima indriya pengenal, dan panca karmendriya (11-15) atau lima indriya penggerak yang menggerakkan anggota badan. Oleh sebab itulah pikiran dikenal sebagai rajendriya atau yang mengendalikan sepuluh indriya. Muncul pula dari ahamkara panca tan matra (16-20) atau lima unsur halus alam semesta. Dari panca tan matra lahirlah panca maha bhuta (21-25) yang merupakan lima elemen kasar yang membentuk anda buana yaitu jagat raya dengan segala isinya. Urutan 1 s.d 25 pada proses srsti ini  berdasarkan tingkat kesadaran masing-masing.

Ajaran Yoga yang digagas oleh Rsi Pattanjali menjadikan samkhya sebagai peta penuntun mengetahui jati diri atau kesadaran. Ajaran samkhya ini pulalah yang mengilhami tujuan ajaran Yoga untuk mencapai samadhi dalam kesadaran purusha. Namun Rsi pattanjali melihat bahwa tidaklah mungkin yang maha terang dalam keadaan serba tahu namun pasif bertemu dengan prakerthi yang berat dan gelap tanpa ada yang mempertemukan. Sehingga ajaran Yoga menambahkan bahwa purusha dan prakerti berada didalam Iswara yaitu keberadaan sejati sebagai awal atau sebab yang tidak disebabkan. Sehingga dalam Yoga dikenal 26 tattwas dengan Iswara sebagai kesadaran tertinggi yang menjadi penyebab segalanya.

 

  1. Pengaruh samkhya Yoga dalam Tattwa Hindu Indonesia

Samkhya menguraikan bagaimana proses penciptaan dan proses peleburan terjadi, Yoga memberikan tuntunan bagaimana jiwa kembali menggapai kesadaran purusha sebagai kesadaran tertinggi untuk bebas dari samsara atau punarbhawa. Dengan demikian ajaran samkhya dan Yoga sesungguhnya tak dapat dipisahkan sebagai ajaran hakikat guna mencapai mokshartam jagadhita.

Ajaran ini pulalah yang besar pengaruhnya terhadap agama Hindu yang berkembang di Indonesia. Lontar-lontar tattwa sebagai referansi filsafat ke-Tuhan-an memuat ajaran samkhya yoga dengan sangat jelas. Secara umum sebutan untuk Tuhan dalam masyarakat Indonesia adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Menurut Drs. I Gede Sura dan kawan-kawan Sang Hyang Widhi Wasa berarti Yang Menakdirkan Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan Sang hyang Tuduh atau Sang hyang Titah.          Namun istilah ini tidak secara tertulis disebutkan dalam sumber lontar. Dalam Sastra lontar yang sebagian besar bercorak Siwa yang ditemukan di Indonesia, Tuhan dipanggil dengan sebutan Bhatara Siwa. Dengan demikian maka agama Hindu di Indonesia secara umum memuja Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam salah satu lantar bercorak Siwa yaitu wrhaspatti Tattwa yang ditemukan di Indonesia dinyatakan ada dua hakikat kesadaran dan ketidak sadaran yang disebut Cetana dan Acetana. Cetana adalah kesadaran yang tiada lain adalah Purusha dan acetana adalah ketidak sadaran atau prakrthi. Kesadaran Siwa atau yang disebut cetana dibagi menjadi tiga tingkat kesadaran mulai dari yang tertinggi berturut-turut yaitu Parama Siwa, Sadha Siwa, dan Siwatma atau atmika tattwa. Hal inilah yang disebut dengan cetana telu atau Tri Purusha.

Penggolongan tingkat kesadaran ini didasarkan pada pengaruh Tri Guna yang ada dari prakerthi. Parama Shiwa adalah tingkat kesadaran yang tertinggi yang tanpa pengaruh Tri Guna, tanpa sifat, tanpa bentuk, tanpa wujud tak termanifestasikan. Sadha Shiva merupakan tingkat kesadaran yang kedua, setingkat berada dibawah Parama Shiwa. Sadha Siwa sudah terkena pengaruh Tri Guna namun masih sedikit, sehingga dalam kondisi ini kesadaran Shiva telah memiliki sifat maha tahu, maha melihat, maha mendengar dan sebagainya (cadu sakti dan asta Iswarya). Sadha Siwa inilah Tuhan yang menjadi objek pemujaan; sebagai Tri murti; sebagai Dewa dengan Shaktinya; Brahma-Saraswati, Wisnu-Sri, Iswara-Uma Dewi, Rudra-Santani, dst.

Siwatma adalah kesadaran Shiwa yang terendah yang telah diliputi oleh Tri Guna yang demikian besar sehingga atma menjadi lupa akan jati dirinya. Ia tidak lagi serba tahu, tidak lagi memiliki sifat asta iswarya maupun cadu shakti. Ia menjadi penyebab hidup pada semua makhluk dalam keadaan awidya (gelap). Ia dikenal juga sebagai Jiwatman yang menjadi hidupnya hidup setiap makhluk. Tujuan dari penjelmaan setiap atman kedunia adalah untuk mencapai kesadaran kembali yang disebut dengan tutur. Tutur atau sadar adalah kondisi dimana atman menyadari bahwa Ia adalah Brahman. Kondisi ini hanya mungkin terjadi manakala atman mengalami Brahman.

 

  1. Pengaruh samkhya Yoga dalam Etika Hindu di Indonesia.

Etika atau susila dipengaruhi oleh tattwa, oleh sebab itulah susila merupakan praktek kebajikan yang tidak dapat dilepaskan dari tattwa sebagai landasan yang membangunya. Samkya meletakan persamaan azas bahwa semua ciptaan bersumber dari yang satu, sebagai akibat pertemuan Purusha dan Prakerti. Bahwa setiap makhluk terdiri atas tubuh dan jiwa, dimana tubuh bersumber pada prakerti sedangkan jiwa adalah purusha. Yang membedakan adalah tingkat kesadaran dari setiap individu berdasarkan pengaruh tri guna yang meliputiya. Oleh sebab itu karakter manusia juga memiliki perbedaan baik dan buruk sebagai dampak dari tri guna. Untuk itulah perlu aturan atau rambu-rambu yang mengatur hidup bersama yang didasarkan pada arah penyadaran untuk mencapai tujuan hidup bersama yang disebut jagadhita.

Ajaran Yoga memberikan rambu-rambu etika yoga dengan ajaran panca yama dan panca niyama bratha. Panca yama Bratha merupakan ajaran pengendalian diri yang lebih bersifat lahir atau fisik. Kitab Wrhaspati Tattwa, sloka 60 sebagai berikut

Ahimsā brahmacayañca, satyam avyavahārikam,

astaunyamiti pancaite yamā rudreṇa bhaṣtaḥ

Terjemahan :

Ahimsa namanya tidak membunuh, brahmacari namanya menuntut ilmu dan mengindarkan dari hubungan kelamin, satya namanya tidak  berbohong, awyawaharika namanya tidak berbuat dosa karena kepintaran, astainya namanya tidak mencuri, tidak   mengambil milik orang lain bila tidak dapat persetujuan kedua pihak

(Sura, 2001: 81).

 

Panca Niyama bratha merupakan ajaran pengendalian diri yang lebih bersifat rohani kitab Wrhaspati Tattwa, sloka 61 menjelaskan sebagai berikut: .

Akrodha guru susrūscā Saucam āhāralāgawam
Apramādasca pañcaite Niyamāh parikīrtitah
.
Terjemahan :

Akrodha namanya tidak marah saja. Guru Susrusa namanya bakti berguru. Sauca namanya selalu melakukan japa, membersihkan badan. Aharalagawa ialah tidak banyak-banyak makan. Apramada namanya tidak lalai (Sura, 2001: 82) Ajaran panca yama dan panca niyama inilah yang membentuk dasar-dasar kesepakatan norma susila dalam kehidupan bermasyarakat.

 

  1. Pengaruh samkhya Yoga dalam Upacara dan Upakara Agama Hindu di Indonesia.

Penciptaan maupun peleburan hakikatnya adalah perubahan. Penciptaan menurut samkhya hakikatnya adalah perubahan kesadaran menuju ketidak sadaran. Pertemuan Purusha dengan prakerti menyebabkan guncangnya tri guna. Disebutkan gucangan berarti telah terjadi ketidak-stabilan atau disharmoni. Sejak awal purusha mengorbankan dirinya melalui perkawinan cosmo dengan prakerti telah terjadi penurunan kesadaran. Demikian pula hakikat kelahiran manusia adalah juga karena penurunan kesadaran jiwa sehingga disebut awidya.

Untuk mengingatkan sang atma akan dirinya yang sadar maka harus ada upaya kearah bangkitnya kesadaran. Yoga memberikan delapan tahapan Yoga sebagai tahapan jalan menuju kesadaran yang disebut astangga Yoga yang terdiri atas:  Yama, niyama, asana, pranyama, pratyahara, dharana, dhyana, samadhi. Dalam sumber-sumber lontar yang memuat ajaran Siwa Tattwa yang banyak dijumpai di Bali khususnya tidak lagi memuat astangga yoga tetapi menjadi sad angga yoga oleh karena Yama dan Niyama Bratha dipandang sebagai syarat mutlak yang harus di miliki oleh siswa kerohanian yang tidak perlu di tuliskan lagi.  Yama dan Niyama Bratha tidak dipandang sebagai sisi praktek yoga secara langsung tetapi lebih sebagai etika dasar yang harus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam praktek yoga kesadaran itu akan diperoleh manakala seorang siswa kerohanian dibawah bimbingan guru mempraktekan yoga secara disiplin dan percaya penuh pada apa yang dilakukan. Seluruh proses yoga adalah upaya untuk mencapai kesadaran yang disebut samadhi. Tahapan kesadaran ini melibatkan pusat pusat syaraf yang sangat vital yang terdapat pada tulang belakang yang dipandang sebagai titik-titik kesadaran yang disebut cakra. Kesadaran cakra inilah yang terus dibangkitkan dengan melakukan pemujaan Siwa dan Shakti melalui pengendalian tubuh, indria dan olah nafas. Hakikatnya Yoga merupakan upacara suci yang dilakukan di dalam diri manusia yang merupakan proses bathin yang menginsyafi bahwa badan merupakan sarana mencapai kesadaran atma.

Oleh karena badan (sawa) memiliki tugas suci dalam rangka mencapai tujuan suci maka badanpun perlu disucikan. Demikian pula jiwa untuk bebas dari belenggu samsara harus diarahkan pada kesucian yang disebut Shiwa. Untuk mencapai ke-Shiwa-an atau tingkat kesucian bukanlah perkara mudah sehingga harus ada aktifitas yang mendukung kearah kesucian yang memungkinkan melibatkan berbagai aktifitas manusia sesuai dengan guna karma (Bhagavad Gita IV.13). Upacara dan upakara merupakan aktifitas yang paling memungkinkan untuk itu.

Oleh karena itulah upacara dalam tradisi Hindu di Indonesia hakikatnya adalah sebuah proses yoga dengan samkhya didalamnya yang mengarahkan setiap orang mempersembahkan aktifitasnya untuk menigkatkan kesucian diri. Dalam suatu upacara yang hal yang paling penting yang perlu diperhatikan adalah proses kerja sebagai persembahan atau karma yoga. Proses yang mampu menumbuhkan bhakti, kepasrahan diri dan kerelaan melepas ikatan baik pikiran, tenaga maupun materi, guna mewujudkan keseimbangan bathin. Keseimbangan bathin yang dimaksud adalah harmonisnya gelombang pikiran (Yoga Sutra Pattanjali I.2)  terhadap suka duka, susah senang, baik buruk dan seterusnya (Bhagawad Gita XII.18-19).

Dalam proses berupacara ajaran Yoga dipraktekan dalam bentuk mejejaitan dengan menghadirkan Tuhan sebagai Hyang Tapini yaitu Parwati sebagai taksu yang memberikan tuntunan. Hyang Tapini adalah guru pembimbing yang memimpin proses penyiapan upacara, sehingga hakikatnya Tuhan lah yang bekerja, manusia hanya sebagai alat untuk mewujudkan apa yang menjadi kehendak Tuhan melalui manifestasinya sebagai Hyang Tapini. Disini terjadi interaksi antara manusia dan Tuhan dimana secara etika setiap akan menyiapkan upakara seorang serati hendaknya nunas tirta agar diberi tuntunan. Dalam kasus-kasus yang terjadi ada kalanya serati yang lupa nunas tirta menjadi bingung, setelah nunas tirta baru bisa bekerja dengan tanpa kenal lelah dan menyenangkan.

 

 

BAGAIMANA BIJA ATAU BERAS BISA TUMBUH DALAM SEBUAH UPACARA YADNYA


Mungkin anda tidak akan percaya ketika mendengar tanpa melihat secara langsung bija atau bahkan tape dapat tumbuh menjadi benih-benih padi dalam sebuah upacara Yadnya yang dilaksanakan di Pulau Dewata. Kejadian ini memang sangat langka terjadi, dan tidak setiap upacara menemukan hal jaib seperti ini, namun bukanlah sesuatu yang mustahil jika sudah menjadi kehendak Tuhan. Namun kata ajaib inipun bagi saya pribadi belumlah cukup, mesti ada penjelasan yang masuk akal, setidaknya mendekati kebenaran yang memungkinkan masuk dalam logika pola berfikir Agama Hindu.

Beberapa tahun silam  saat pulang ke Pulau Bali, bersama Beli Wayan Artana (penyuluh Kota Denpasar) saya mampir ke Griya Pedukuhan samiaga bertemu dengan Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa. Saya menyaksikan langsung bulir-bulir bija (beras yang direndam) dalam sebuah nampan tumbuh menjadi benih padi. Konon bija tersebut berasal dari Pura Goa Raja di Besakih yang saat itu telah melangsungkan upacara. Saya benar-benar heran menyaksikan keajaiban ini, sesuatu yang baru pertama kali saya saksikan secara langsung, meskipun sebelumnya sejak kecil saya sudah mendengar cerita serupa.

Benih-padi-SRI-organik-3-e1505138776181

Ilustrasi (sayang saya tidak menyimpan foto tersebut)

Namun kali ini sesuatu yang nyata, bukan sebiji atau dua biji namun hampir keseluruhan beras tumbuh menjadi benih padi. Tidak ada jawaban yang rasional untuk menjelaskan bagimana ini bisa terjadi. Lebih terkejut lagi ketika salah seorang umat hindu (I Made Budiasa) asal Gianyar yang tinggal di Kota Bontang menceritakan bahwa suatu ketika pernah ada tape (makanan yang telah dipermentasi) bisa tumbuh menjadi benih-benih padi, yang mana terjadi saat sebuah Karya (upacara dalam agama Hindu) di gelar di daerah Gianyar. Mungkin tak pernah terpikirkan dalam benak kita bagaimana hal ini bisa terjadi, sehingga jawaban yang paling mungkin terdengar adalah keajaiban atau sudah menjadi kehendak Tuhan.

Namun jawaban tersebut tidak serta merta dapat dipercaya begitu saja oleh sebagian orang, harus ada penjelasan berdasarkan sastra Hindu bagaimana hal ini terjadi. Dari beberapa sloka atau mantra yang sering kita dengar mungkin akan mampu memberikan sedikit gambaran atau penjelasan sehingga hal tersebut dapat terjadi. Namun pencarian yang saya ungkap ini tentulah bukan apa-apa dan bisa saja salah, namun setidaknya menjadi pematik bahwa ranah atau wilayah “ajaib” itu dapat dijelaskan oleh sastra seperti rahasia penciptaan alam yang begitu rumit mampu dijelaskan dalam Samkhya oleh Maha Rsi Kapila.

Saya tertarik dengan dua sloka berikut yang menuntun saya dan munkin juga anda untuk menemukan rahasia ajaib tumbuhnya bija dan tape saat upacara Yadnya besar digelar sehingga sisi penasaran saya dan juga anda sedikit terpenuhi. Bhagawad Gita III.14 menunjukan bagaimana kehidupan berawal:

annād bhavānti bhūtāni

parjanyād anna-sambhavaḥ

yajñād bhavati parjanyo

yajñaḥ karma-samudbhavaḥ

Terjemahan:

Dari makananlah munculnya makhluk hidup; dan makanan muncul dari air hujan; dan air hujan terjadi karena adanya pengorbanan dan pengorbanan datangnya dari kegiatan kerja.

annāt—dari biji-bijian; bhavānti—tumbuh; bhūtāni—Makhluk hidup; parjanyāt—dari hujan; anna—makanan; sambhavaḥ—produksi; yajñāt—yajñā; bhavati—dimungkinkan; parjanyaḥ—hujan; yajñaḥ—pelaksanaan yajñā; karma—kegiatan kerja; samudbhavaḥ—dilahirkan dari.

Sloka ini menjelaskan tentang siklus cakra yadnya atau roda perputaran kehidupan, bahwa kehidupan ini bergantung pada yadnya atau pengorbanan suci. Makhluk hidup ada karen makanan, makanan ada karena hujan, hujan ada karena yadnya, dan yadnya ada karena karma atau dikerjakan, dan karma dilakukan oleh mahkhluk hidup. Jadi karma dalam wujud yadnya merupakan hal mutlak yang dilakukan oleh  setiap makhluk. Secara signifikan sloka ini menyiratkan bahwa syarat adanya kehidupan adalah harus ada makanan. Tanpa makanan makhluk hidup tak akan pernah ada, karena persyaratan mutlak adanya kehidupan adalah makanan. Hal ini pula membawa kita pada sebuah pertanyaan bagimana awalnya makhluk hidup tercipta dari makanan?

Dalam dunia pengetahuan modern ada berbagai teori tentang evolusi terbentuknya kehidupan dibumi. Salah satunya yang menarik untuk dikaji adalah Teori Evolusi Kimia (Teori Biologi Modern). Teori biologi modern merupakan teori evolusi kimia, yang berpendapat bahwa bumi ini pada awalnya sangat panas sekali, kemudian suatu ketika bumi mengalami proses pendinginan. Dari proses-proses tersebut maka dapat dihasilkan bahan-bahan kimia. Bahan-bahan yang berat akan menyusun bumi sedangkan bahan yang ringan akan menyusun atmosfer. Teori evolusi kimia dicetuskan oleh beberapa tokoh berikut.

  1. Harold Urey menyatakan zat-zat organik terbentuk dari zat-zat anorganik. Menurut Urey, zat-zat anorganik yang ada di atmosfer berupa gas karbondioksida, metana, amonia, hidrogen, dan uap air. Semua zat ini bereaksi membentuk zat organik karena energi petir. Menurut Urey, proses terbentuknya makhluk hidup dapat dijelaskan dengan 4 tahap, yaitu:

Tahap I : Molekul metana, amonia, hidrogen, dan uap air tersedia sangat banyak di atmosfer bumi.

Tahap II : Energi yang diperoleh dari aliran listrik halilintar dan radiasi sinar kosmis menyebabkan zat-zat bereaksi membentuk molekul-molekul zat yang lebih besar.

Tahap III : Terbentuk zat hidup yang paling sederhana yang memiliki susunan kimia, seperti susunan kimia pada virus.

Tahap IV : Zat hidup yang terbentuk berkembang dalam waktu jutaan tahun menjadi organisme (makhluk hidup) yang lebih kompleks.

  1. Stanley Miller adalah murid Harold Urey yang berhasil membuat model alat yang digunakan untuk membuktikan hipotesis Urey. Miller memasukkan uap air, metana, amonia, gas hidrogen, dan karbondioksida ke dalam tabung percobaan. Tabung tersebut kemudian dipanasi. Untuk mengganti energi listrik halilintar ke dalam perangkat alat tersebut dilewatkan lecutan listrik bertegangan tinggi sekitar 75.000 volt. Hal ini dimaksudkan untuk meniru kondisi permukaan bumi pada waktu terjadi pembentukan zat organik secara spontan.

Dengan adanya energi listrik, terjadilah reaksi-reaksi yang membentuk zat baru. Zat-zat yang terbentuk didinginkan dan ditampung. Hasil reaksi kemudian dianalisis. Ternyata, di dalamnya terbentuk zat organik sederhana, seperti asam amino, gula sederhana seperti ribosa dan adenin. Dengan demikian, Miller dapat membuktikan bahwa zat organik dapat terbentuk dari zat anorganik secara spontan. Sejak saat itu, perkembangan ilmu evolusi kimia makin maju dengan ditemukannya senyawa-senyawa penyusun unsur kehidupan.

Salah satu peneliti bernama Melvin Calvin yang menemukan bahwa radiasi sinar dapat mengubah metana, amonia, hidrogen, dan air menjadi molekul-molekul gula, asam amino, purin dan pirimidin yang merupakan zat dasar pembentuk DNA, RNA, ATP dan ADP. Jadi, asal-usul kehidupan menurut Teori Evolusi Kimia adalah bahwa di dalam sup prabiotik terkandung zat-zat organik, DNA, dan RNA. RNA dapat melakukan sintesis protein atas perintah DNA. Dengan demikian, di dalam sup prabiotik terdapat protein. Setelah itu, terbentuklah sel pertama. Sel tersebut hidup secara heterotrof yang mendapatkan makanan dari lingkungannya berupa zatzat organik yang melimpah. Sel tersebut mampu membelah diri sehingga jumlahnya makin banyak. Sejak saat itu berlangsunglah Evolusi Biologi.

Molekul-molekul asam amino, gula sederhana seperti ribosa dan adenin yang merupakan zat dasar pembentuk kehidupan terbentuk di udara saat hujan turun disertai petir bertegangan tinggi. Aktifitas alam inilah yang memicu munculnya zat-zat organik dari anorganik. Dalam ajaran “samkhya” poses yang demikian terjadi karena seluruh alam semesta ini bergerak dengan kecerdasanya sendiri. Kecerdasan alam disebut sebagai buddhi melingkupi dan menyusupi seluruh ciptaan. Bahkan apa yang disebut sebagai benda mati juga memiliki kecerdasanya sendiri, contohnya adalah atom hidrogen.

Atom hidrogen ialah atom yang berasal dari unsur kimia hidrogen. Muatan netral atom berisi satu proton bermuatan positif dan elektron bermuatan negatif yang terikat kepada nukleus oleh Hukum Coulomb. Atom hidrogen terdiri dari sekitar 75 % di alam semesta. Dalam kehidupan sehari-hari di Bumi, atom-atom hidrogen yang terisolasi (biasanya disebut “atom hidrogen”) sangat jarang adanya. Sebaliknya, hidrogen cenderung untuk menggabungkan dengan atom lain dalam senyawa, atau dengan dirinya sendiri untuk membentuk gas hidrogen biasa, H2. Kecenderungan atom hidrogen bergerak mencari pasangan bukankan merupakan sebuah kecerdasan dan juga sebuah keinginan (ahamkara)? Mungkin inilah yang disebut budddhi atau kecerdasan dan kehendak di alam semesta yang menyusupi segalanya.

Sangat tepat jika Gita menyatakan adanya makhluk hidup karena makanan (zat organik berupa asam amino, gula sederhana seperti ribosa dan adenin), hujan adalah penyebab adanya makanan (zat organik) yang menjadi cikal bakal kehidupan. Selanjutnya Gita menjelaskan bahwa adanya hujan karena yadnya atau persembahan. Bagimanakah persembahan (yadnya) pertama itu ada dan siapa yang melakukan?

saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā

purovāca prajāpatiḥ

anena prasaviṣyadhvam

eṣa vo ‘stv iṣṭa-kāma-dhuk

Terjemahan:

Pada zaman dulu kala Praja Pati (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan manusia dengan Yadnya dan bersabda. Dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamanduk (memenuhi) dari keinginanmu.

Persembahan atau yadnya pertama yang menjadi penyebab dari semua yang ada adalah Praja Pati (Tuhan Yang Maha Esa). Dialah yang menjadi penggerak atas segala ciptaan, penggerak berarti kekuatan atau energi, sebab atak akan ada gerakan tanpa energi. Dalam beberapa naskah puja Prajapati identik dengan Brahma, Brahma identik dengan api. Sehingga Brahma dan Prajapati sering dipersamakan dengan simbol api atau warna merah. Sering pula dalam puja penyebutanya digabungkan menjadi Brahma Prajapati.

Brahma Prajapati melaksanakan Yadnya, turunlah hujan, hujan mengubah berbagai zat an organik metana, amonia, gas hidrogen, dan karbondioksida menjadi  zat organik berupa asam amino, gula sederhana seperti ribosa dan adenin, dari sinilah kehidupan berawal sehingga tercipta makhluk hidup. Kita telah mendapat penjelasan bahwa Brahma Prajapati telah melaksanakan Yadnya demi terciptanya seluruh alam semesta beserta isinya. Bagaimanakah wujud dari Yadnya yang dilaksanakan Prajapati sehingga muncul ciptaan yang luar biasa ini? Satu pertanyaan lagi yang sangat sulit untuk menjawabnya.

Yadnya esensinya adalah cinta, ketulusan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Tanpa pamrih bukan berarti tanpa tujuan dan tanpa kehendak, demikianlah tujuan Brahma Prajapati melaksanakan Yadnya sangat jelas adalah demi kelangsungan alam semesta karena itu alam ini ada karena kehendak, dari kehendak yang penuh cinta kasih dan kesadaran terjadilah proses Mahakarya penciptaan. Agar terwujudnya semua itu diperlukan tenaga atau energi, tak dapat dipungkiri bahwa alam semesta ini mengembang tanpa batas dengan kekuatan yang tak terbatas pula. Pergerakan energi itu sangat jelas dalam kata karma yang hakikatnya adalah kerja. Kerja dilakukan untuk menopang yadnya agung penciptaan. Pergerakan (kerja) Brahma Prajapati menciptakan dunia dijelaskan dalam Bhagawad Gita III.15:

karma brahmodbhavaḿ viddhi

brahmākṣara-samudbhavam

tasmāt sarva-gataḿ brahma

nityaḿ yajñe pratiṣṭhitam

Terjemahan:

Ketahuilah bahwa kegiatan kerja itu dari Brahma yang abadi (Brahmākṣara). Oleh karena itu Brahma yang melingkupi semuanya ini senantiasa berkisar di sekitar Yadnya.

karma—kegiatan kerja; pekerjaan; brahma—dari Brahma; udbhāvam—dihasilkan; viddhi—hendaknya engkau mengetahui; brahma—Brahma; akṣara—abadi, samudbhāvam—diwujudkan secara langsung; tasmāt—karena itu; sarva-gatam—berada di mana-mana; brahma—Brahma; nityam—disekitar; yajñe—korban suci; pratiṣṭhitam—terletak, berada.

Karma atau kegiatan kerja hakikatnya adalah bersumber dari “brahmākṣara itu sendiri. brahmākṣara merupakan kata yang harus dipahami secara mendalam. Brahma dapat diterjemahkan sebagai api, spirit, pengetahuan, pencipta dan sebaginya. Aksara berarti tidak pecah atau abadi, sehingga Brahmaksara dapat diterjemahkan sebagai api abadi, spirit abadi atau pencipta abadi. Api adalah panas, panas dapat pula disebut sebagai energi. Jadi brahmākṣara berarti pula energi abadi yang tak termusnahkan. Kalimat “sarva-gataḿ brahma” menegaskan bahwa Brahma sebagai energi abadi melingkupi semuanya ini.

Jika kita perhatikan bait ke-dua Puja trisandhya menegaskan, Narayana dijelaskan sebagai “eveda sarvayaitu segala yang ada. Chandogya Upanisad III. 14. 3. dinyatakan : “Sarwam khalu idam Brahman” yang artinya semua ini adalah Brahman. Segala yang ada meliputi sekala yaitu material dan nislaka yaitu non material (immaterial). Sekala dan Niskala, memiliki beberapa makna yang lebih dalam; Secara literal, sekala ialah “di dalam waktu” dan niskala ialah “melampaui atau diluar waktu.” Atau dengan kata lain sekala adalah unsur jasmani dan niskala unsur rohani. Jasmani mengalami perubahan sedangkan niskala tidak mengalami perubahan. Niskala adalah yang kekal dan sekala yang tidak kekal, keduanya ini bersumber dari unsur Purusha dan Praketi. Sehingga pada hakikatnya segala yang ada “Narayana” merupakan unsur purusa dan prakerti.

Narayana adalah apa yang telah ada dan apa yang akan ada. Keberadaan alam semesta merupakan perpaduan unsur Purusha dan Prakerti saat keduanya mengalami “perkawinan kosmis”, yang kemudian membentangkan jagat raya beserta isinya dimana unsur sekala terdiri atas panca mahabhuta; pertiwi, apah, teja, bayu akasa. Unsur niskala adalah atman yang menjadi hidupnya hidup yang bersemayam pada setiap ciptaan. Jika di hubungkan dengan atom hidrogen maka kecenderungan untuk menggabungkan dengan atom lain dalam senyawa, atau dengan dirinya sendiri untuk membentuk gas hidrogen biasa (H2), adalah aktifitas kehendak.  Dimana atom yang sangat halus adalah fisiknya, dan kecerdasannya bergerak adalah jiwanya. Jadi hakikatnya jiwa itu meresapi segalanya sehingga kehendak alam semesta muncul sebagai akibat pertemuan dari unsur jiwa (purusha) dan unsur fisik (prakerti).

Pertemuan purusha dan prakerti menimbulkan Citta (alam pikiran), Buddhi (kecerdasan), ahamkara (rasa aku atau ego). Dengan asumsi bahwa setiap manifestasi atau perubahan menimbulkan atau memerlukan energi. Sebab bertemunnya dua hakikat dialam semesta ini yaitu purusha dan prakerti juga memerlukan energi, sebab sifat purusha yang terang dan prakerti yang gelap tak mungkin bisa bertemu tanpa campur tangan diluar keduanya. Ajaran Yoga menjelaskan bahwa bertemunya purusha dan prakerti karena digerakkan oleh Iswara. Iswara artinya yang mula-mula ada, atau yang pertama ada sebelum yang lainya ada. Karena itu dalam Yoga, Iswara adalah prima kausa penyebab pertama atau sebagai karana. Iswaralah penggerak bertemunya purusha dan prakerti, sehingga iswara adalah juga energi yang menggerakan. Hal ini menjadi sangat munkin bahwa Iswara adalah juga Narayana adalah juga Brahmākṣara sang “Energi abadi”.

Ilmuwan Inggris bernama James Prescott Joule yang merupakan penemu hukum kekekalan energi yang dikenal sebagai perumus Hukum yang berbunyi, “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan”.  Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan (konversi energi). Namun, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan energi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja sehingga dapat terciptanya suatu kegiatan.

Energi adalah jawaban mengapa suatu kerja atau karma terjadi. Penyebab dari karma atau kerja didalam Gita III.15 disebut sebagai Brahmākṣara. Energi itu abadi demikian pula Brahmākṣara berarti Brahma, api, panas, energi yang abadi. Kata aksara yang mengikuti Brahma menjelaskan bahwa Brahma yang dimaksud adalah sesuatu yang kekal yang tak termusnhkan. Demikian pula energi adalah sesuatu yang tidak diciptakan dan yang tak termusnahkan. Hal ini menjelaskan bahwa apa yang dimaksud sebagai Brahmākṣara dan juga energi adalah sama mengacu pada penyebab kegiatan kerja (karma) yang tak termusnahkan.

Jika diperhatikan dengan seksama Brahma yang kekal yang melingkupi semuanya ini (tasmāt sarva-gataḿ brahma), dijelaskan selalu berada disekitar yadnya (nityaḿ yajñe pratiṣṭhitam). Hal ini memberikan petunjuk pada kita bahwa setiap yadnya melibatkan Brahmākṣara (energi abadi) yang melingkupi segalanya. Karenanya setiap aktifitas yadnya akan mendekatkan Brahmākṣara atau membawa energi abadi mendekat. Apakah yang membawa energi abadi ini mendekat tiada lain adalah yadnya yang dilakukan dengan berlandaskan hati yang suci dan tulus ikhlas. Kesucian itu adalah Siwa, sehingga mutlak diperlukan menghadirkan kesucian dalam setiap upacara. Dalam naskah puja disebutkan bahwa Siwa berstana ditengah kesucian:

Om agni madya rawis siwa,

rawi madya tu candramam,

candra madya bawus suklah,

sukla madya stitah siwah.

Terjemahan:

Siwa yang suci bersemayam ditengah api, ditengah api ada bulan, ditengah bulan

ada kesucian, dalam kesucian Siwa berstana.

            Dalam puja diatas Siwa dilukiskan berstana ditengah api (madya), artinya Siwa adalah inti dari api, sebab Siwa dinyatakan berada pada madya, madya berarti bukan di timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timurlaut, bukan pula diatas atau dibawah. Sehingga yang maksud Siwa dapat diartikan sebagai isi dimana Agni sebagai bungkusnya. Jika Agni adalah api maka Candra dapat diartikan sebagai Bulan yang berhubunga erat dengan air. Dinayatakan bahwa ditengah Bulan berada ditengah api, dan tengah Bulan ada kesucian. Dalam kesucianlah Siwa bersemayam.

            Jika api yang dimaksud adalah Brahma yang abadi (Brahmākṣara) maka inti dari energi abadi adalah kesucian sebagai singgasana Siwa, yang dijelaskan kalimat terakhir dengan “sukla madya stitah siwah” dalam kesucian Siwa bersemayam. Siwa sebagai inti dari api energi abadi, tidak mengalami perubahan karena inti dari segala yang ada berawal dari sini. Kalimat ditengah bulan ada kesucian merujuk pada kekuatan penyucian “air amertha” mengingat bulan berhubungan dengan air, sedangkan agni berhubungan dengan api. Logikanya api membungkus air, air membungkus kesucian, kesucian stana Siwa.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa konsep pembersihan dalam upacara diantaranyan selalu berhubungan dengan api dan air. Misalnya dalam Prayascitta menggunakan segau (sego awu) nasi yang diubah menjadi abu, dengan cara dibakar. Air menjadi sangat penting dalam prosesi pembersihan selanjutnya, berupa air putih dan kelapa gading. Dalam puja mantra kita akan dapati bahwa api suci hendaknya diarahkan pada susunan hati, diamana Siwa berstana dalam diri manusia.

Dalam puja prayascita buku mangala upacara kita daati mantra sebagai berikut:

Om ang Agni rahasia mukam mungguh bungkahing hati angeseng salwiring dasa mala, teka geseng, teka geseng, teka geseng.

Terjemahan:

Om adalah Ang perwujudan api rahasia  berstana pada susunan hati, membakar semua dasa mala, datang terbakar, datang terbakar, datang terbakar.

Dari berbagai uaraian diatas kita dapat melihat hubungan yang erat atara Agni, Prajapati, Brahma, Narayana, Iswara dan Siwa mengacu pada esensi tunggal sebagai penyebab, yang paling hakiki, tak diciptakan, tak dapat dimusnahkan, sebagai penggerak semua yang ada  karma brahmodbhavaḿ viddhi. Inilah mengapa asal dari segala yang ada hakikatnya adalah perubahan dari Brahmākṣara. Brahmākṣara yang menggerakan, dialah yang bergerak dan bermanifestasi atau berubah sesuai dengan kehendak yang diperlukan alam semesta. Jika Brahmākṣara sebagai pencipta maka di panggil sebagai Brahma, karena Dia meliputi segalanya dipanggil Narayana, Karena Dia berwujud kesucian itu sendiri maka disebut sebagai Siwa, karena Dia adalah awal disebut sebagai Iswara. Brahmākṣara atau energi abadi yang dipuja dalam berbagai nama ini dalam upanishad disebut sebagai Brahman (melingkupi, memenuhi segalanya).

Maka sewajarnya ketika dilaksanakan upacara Brahmākṣara (energi abadi) hadir disekitar yadnya. Oleh karena Dia hadir dengan kehendak-Nya dan kemurahan diri-Nya dan Dia adalah energi kehidupan, bahkan yang matipun bisa menjadi hidup. Mengapa beras bisa tumbuh meskipun ini sangat langka. Hal ini dapat dijelaskan dengan annād bhavānti bhūtāni, bahwa bija adalah makanan pendukung terjadinya kehidupan, demikian pula tape adalah makanan yang memungkinkan terjadinya kehidupan. Ketika energi abadi ini mendekat membangkitkan daya hidup yang terdapat dalam bija maupun tape. Ini adalah perubahan energi yang cukup besar, artinya disekitar upacara terdapat kekuatan dahsyat yang sangat suci dan besar. Sebab tanpa energi besar hal ini tak akan terjadi seperti yang telah dibuktikan oleh Stanley Miller dengan mengganti energi listrik halilintar ke dalam perangkat alat tersebut dilewatkan lecutan listrik bertegangan tinggi sekitar 75.000 volt.

Namun perbedaanya adalah saat upacara ledakan listrik itu seolah tak terjadi karena memang bukan energi halilintar yang hadir. Sekali lagi inilah ajaibnya Brahmākṣara yang mampu berubah sesuai dengan kondisi. Ketika Ia dipanggil atau dihadirkan dalam sebuah yadnya yang penuh dengan cinta kasih dan kesucian Ia hadir demikian halus. Jika kita perhaitkan berbagai bentuk upakara juga sangat mendukung untuk menghadirkan energi. Misalnya bentuk bulat seperti parabola merupakan penangkap energi (mirip sahasrara cakra), seperti pada parabola yang menangkap signal atau gelombang, bentuk piramid (mirip muladara cakra) merupakan penyimpan energi abadi yang masuk, dimana menurut para ahli piramid adalah bentuk bangunan yang paling baik menyimpan energi.

Dari sebuah pengalaman pribadi saya yang tadinya mengidap tipes, malaria dan TB usus, biasa mekemit hingga pagi, namun badan tetap segar. Berbeda ketika saya nonton sepak bola live di TV hingga pk. 02.00 dini hari, keesokan harinya bisa dipastikan badan menggigl karena tipes atau malria yang kambuh. Brahmākṣara adalah alasan mengapa kita tetap segar saat mekemit atau ngayah dipura, karena energi ini sangat cerdas dan tak akan salah mengunjungi siapa saja yang hadir dalam kesucian, tulus ikhlas dan tanpa pamrih.

Ketika gelombang energi Brahmākṣara ini begitu besar karena yadnya yang dilakukan berlandaskan pada pikiran yang suci, cinta kasih, tulus ikhlas, hal inilah yang sangat memungkinkan Brahmākṣara mewujudkan dirinya dalam bentuk kehidupan atau menjadikan bija atau tape tumbuh menjadi benih-benih padi.

Analisa ini belum berakhir (vaprakeswara)

I Gede Adnyana-Kaltim

“Jiwa” Suluh Kebijaksanaan


Sejati itu hakikat, inti yang menjadi landasan dari sesuatu yang meluas. Karenanya akan menjadi sulit membeberkan kebenaran jika yang inti  tidak diketahui. Para suci dan bijak mencari inti dalam diam, karena dengan diamnya indriya, heningnya pikiran sesuatu yang samar menjadi jelas. Kebijaksanaan diraih  dalam kemanunggalan pikiran yang senantiasa bergejolak menyatu dengan jiwa yang tenang, sehingga  dalam penguasaan jiwa pikiran menjadi luluh.

Pengaruh jiwa menjadi pemicu bagi lahirnya kebijakan dalam tiga ranah: pikiran, perkataan dan tindakan. Pikiran yang bersumber dari keheningan jiwa mendorong tumbuhnya pikiran bijak yang bajik dalam memacu tindakan kata-kata maupun tindakan anggota badan. Secara keseluruhan tindakan yang dipengaruhi jiwa yang murni merupakan kebijaksanaan. Demikianlah kebijaksanaan adalah sesuatu yang sangat berharga karena melalui proses panjang menghentikan gelombang pikiran, memberikan sentuhan pada jiwa untuk berpartisipasi sepenuhnya, hingga muncul kepermukaan sebagai pikiran yang damai, kata bijak dan tindakan kebajikan.

Tak dapat dipungkiri bahwa pustaka suci yang menjadi bacaan berpengaruh pada pikiran bagaikan tongkat bagi orang buta, namun tongkat itu hanyalah pemicu. Ia bukan segalanya, sehingga dengan membanggakan tongkat tak akan menjadikan seseorang bijaksana. Justru sebaliknya kebanggan terhadap kepemilikan tongkat menjadi penutup dari kehadiran dari kebijaksanaan. Langkah terbaik yang ditawarkan oleh pustaka suci adalah sedikit saja seseorang memahami tentang suatu ajaran hendaknya di praktekan.

Kita dapat melihat kuman diseberang lautan namun gajah dipelupuk mata tidak tampak, demikian pepatah mengatakan. hal ini menandakan bahwa adalah tidak bijak jika kita hanya mampu melihat kesalahan orang lain walau sekecil-kecilnya namun didak mampu melihat kesalahan diri kita yang cukup besar. Untuk menghindari hal ini para suci dizaman dahulu memilih hutan sebagai tempat merealisasikan diri guna menghindari kesalahan yang lebih jauh merugikan dirinya. Hutan menjadi sahabat karena mampu meberikan ruang yang luas untuk melihat kedalam, merenungkan tentang hakikat pencipta dan ciptaan, serta lebih jauh mengenal diri sejati. Menemukan hakikat yang sejati dibalik semua penampakan, sehingga menjadi lebih efektif menemukan kebijaksanaan dalam perenungan dan meditasi daripada menghafal sloka-sloka suci.

Mungkin hal inilah yang menjadi jembatan mengapa esensi Pustaka suci Weda telah tersebar dalam pustaka lontar, dalam bahasa lokal, dalam bentuk kakawin, palawakya, kidung, mocopat dan sebagainya, bahkan dalam tembang anak-anak sekalipun, yang mampu mempesona dan menarik hati siapapun untuk membacanya dan melagukanya. Dalam setiap bait syair tertanam kebijaksanaan adiluhung dari hasil perenungan-perenungan yang mendalam dimana jiwa murni muncul sebagai suluh bagi dunia.

Ketika Mencapai Siwa


Shiwa Ratri yang suci, adalah harapan bagi setiap orang yang mencari kesadaran. Shiwa Ratri hanya bermakna ketika seseorang berusaha mencari kesucian didalam dirinya yang gelap, berusaha menemukan lentera kesadaran sebagai suluh. Hidup ini memerlukan suluh, karena diliputi kegelapan. Demikian pula kalimat suci diperlukan bagi mereka yang tidak suci agar menjadi tersucikan. Setiap lantunan untaian kata Om Nama Shivaya menuntun pada kesucian

Om Namah Shivaya, selamat hari raya Shiva Ratri