Pawana muktasana


pawana muktasana 1, adalah peregangan untuk menghindari cedera pada persendian, sangat dianjurkan dilakukan sebelum yoga asanas dimulai. Hasilnya akan semakin maksimal jika diikuti dengan nafas yang tepat. selamat mempraktekkan semoga bermanfaat….

 

Yoga untuk mengatasi kebotakan


#yoga mengatasi kebotakan
#yoga mengatasi kerontokan rambut
#yoga menumbuhkan rambut
#yoga sederhana dengan manfaat luar biasa
th 2015 setelah rutin melakukan yoga suryanamaskar dengan tehnik khusus yang sederhana ini ternyata tukang cukur langganan saya kaget setelah melihat tumbuhnya rambut di kepala bagian atas yang tadinya mulai botak. “mas pakai apa kok rambutnya mulai tumbuh, lumayan tebal! saya pun merasa tidak menggunkan obat rambut, setelah mengingat apa yang beda selama sebulan ini adalah rutin melakukan Yoga yang sederhana ini… moga bermanfaat!

Jika Copernicus Seorang Hindu Nasibnya Pasti Beda


penguburan-copernicusKisah Orang sesat kaliber dunia copernicus berubah menjadi Pahlawan setelah mengetahui bahwa Bumi itu bulat. Bagaimana jika dibandingkan dengan Hindu… tentu menggelikan, karena sejak zaman dahulu Hindu menyatakan benda-benda angkasa, planet-planet sebagai anda buana artinya telor alam semesta, dan kenyataanya bumi itu bulat dan pipih pada kutu utara dan selatan sebagai dampak perputaran bumi pada porosnya sehingga mirip telor.

Wah agama Hindu yang dipandang sebagai agama bumi kok lebih sahih kebenaranya ya… semak kisahnya ini berita lama, sejarah dunia untuk membuat kita harus bangga menjadi Hindu

FROMBORK – Penghormatan besar dicurahkan rakyat Polandia saat pemakaman kembali astronom Nicolaus Copernicus kemarin (23/5). Tubuh astronom pencetus teori heliosentris (matahari adalah pusat tata surya) itu dikuburkan dalam prosesi megah setelah terbaring dalam makam tanpa identitas. Oleh gereja dulu, Copernicus dianggap sebagai orang sesat.
Copernicus dimakamkan di katedral tempat dia pernah mengabdi sebagai dokter. Itu menunjukkan bahwa gereja sudah ”berdamai” dengan Copernicus. Copernicus wafat pada 1543 dengan status orang sesat yang melawan gereja. Kala itu gereja memang masih menganggap bumi sebagai pusat tata surya. Kini Copernicus ”kembali” ke makam sebagai pahlawan.
Sabtu waktu setempat (22/5) sisa-sisa jenazahnya diperciki air suci oleh sejumlah pejabat tinggi dan petinggi gereja Polandia. Itu dilakukan sebelum petugas kehormatan membawa peti jenazahnya melalui jajaran batu bata, lantas meletakkan peti itu kembali di tempat penemuan tengkorak Copernicus pada 2005.

Sebuah batu granit hitam kini menjadi nisan sekaligus identitas kuburan Copernicus. Batu nisan itu diberi hiasan pahatan sistem peredaran matahari, sebuah matahari emas dikelilingi enam planet.
Associated Press melaporkan, beberapa pekan terakhir sisa jenazah Copernicus disemayamkan di Kota Olsztyn dan diarak ke sejumlah kota yang terkait dengan kehidupannya. Dia pun akhirnya dimakamkan kembali di Katedral Frombork dengan kehormatan penuh.
Atas permintaan keuskupan setempat, pada 2004 para ilmuwan mulai mencari jenazah astronom yang meninggal pada usia 70 tahun itu. Mereka akhirnya menemukan serangkaian tulang dan tengkorak dari dalam lokasi gereja. Sebuah rekonstruksi tulang menggunakan teknologi komputer yang dilakukan oleh tim forensik kepolisian menunjukkan bahwa tulang hidung pada tengkorak tersebut patah. Beberapa bukti lain yang dikumpulkan sampai pada kesimpul­an bahwa tulang-tulang itu adalah bagian tubuh Copernicus yang hidup pada 1473-1543.
Pada tahap investigasi berikutnya, contoh DNA diambil dari susunan gigi dan tulang. Hasilnya cocok dengan rambut yang ditemukan di dalam buku miliknya. Wojciech Ziemba, uskup di wilayah sekitar Frombork menyatakan kebanggaannya atas sosok Copernicus. ”Dia mewarisi sifat daerah ini (Frombork). Kerja keras, ketaatan, dan -di atas segalanya- dia adalah ilmuwan genius,” katanya. (cak/c10/dos)

 

Yang Abadi tidak Diciptakan


Pencipta tidak diciptakan

Gita III.15; Brahmākṣara

Brahma =api=panas= energi;  akṣara abadi;  adalah energi yang tak termusnakan yang selalu berada disekitar yadnya (persembahan).

Gita III.10; Prajapati
saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā
purovāca prajāpatiḥ

 

Pada zaman dulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan Yadnya
Brahma= Prajapati; yang mencipta tak termusnahkan; energi abadi

 KARENA ITU KEHIDUPAN BERASAL DARI ENERGI ABADI

PENJELASAN

Ilmuwan Inggris bernama James Prescott Joule yang merupakan penemu hukum kekekalan energi yang dikenal sebagai perumus Hukum yang berbunyi, “Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan”.  Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan (konversi energi). Namun, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan energi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja sehingga dapat terciptanya suatu kegiatan.

Energi adalah jawaban mengapa suatu kerja atau karma terjadi. Penyebab dari karma atau kerja didalam Gita III.15 disebut sebagai Brahmākṣara. Energi itu abadi demikian pula Brahmākṣara berarti Brahma, api, panas, energi yang abadi. Kata aksara yang mengikuti Brahma menjelaskan bahwa Brahma yang dimaksud adalah sesuatu yang kekal yang tak termusnhkan. Demikian pula energi adalah sesuatu yang tidak diciptakan dan yang tak termusnahkan. Hal ini menjelaskan bahwa apa yang dimaksud sebagai Brahmākṣara dan juga energi adalah sama mengacu pada penyebab kegiatan kerja (karma) yang tak termusnahkan.

Jika diperhatikan dengan seksama Brahma yang kekal yang melingkupi semuanya ini (tasmāt sarva-gataḿ brahma), dijelaskan selalu berada disekitar yadnya (nityaḿ yajñe pratiṣṭhitam). Hal ini memberikan petunjuk pada kita bahwa setiap yadnya melibatkan Brahmākṣara (energi abadi) yang melingkupi segalanya. Karenanya setiap aktifitas yadnya akan mendekatkan Brahmākṣara atau membawa energi abadi mendekat. Apakah yang membawa energi abadi ini mendekat tiada lain adalah yadnya yang dilakukan dengan berlandaskan hati yang suci dan tulus ikhlas. Kesucian itu adalah Siwa, sehingga mutlak diperlukan menghadirkan kesucian dalam setiap upacara. Dalam naskah puja disebutkan bahwa Siwa berstana ditengah kesucian:

Om agni madya rawis siwa,
rawi madya tu candramam,
candra madya bawus suklah,
sukla madya stitah siwah.

Terjemahan:

Siwa yang suci bersemayam ditengah api, ditengah api ada bulan, ditengah bulan    
ada kesucian, dalam kesucian Siwa berstana.

Dalam puja diatas Siwa dilukiskan berstana ditengah api (madya), artinya Siwa adalah inti dari api, sebab Siwa dinyatakan berada pada madya, madya berarti bukan di timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara, timurlaut, bukan pula diatas atau dibawah. Sehingga yang maksud Siwa dapat diartikan sebagai isi dimana Agni sebagai bungkusnya. Jika Agni adalah api maka Candra dapat diartikan sebagai Bulan yang berhubunga erat dengan air. Dinayatakan bahwa ditengah Bulan berada ditengah api, dan tengah Bulan ada kesucian. Dalam kesucianlah Siwa bersemayam.

Pengaruh Samkhya Yoga dalam Tattwa, Etika, Upacara & Upakara Agama Hindu di Indonesia


samkhya yoga
pembinaan rutin setiap Jumat Malam Pk. 19.00-21.30

Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag

Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang

Ajaran agama Hindu di Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan ajaran Samkhya dan Yoga. Seperti diketahui ajaran Samkhya pertamakali digagas oleh Rsi Kapila. Samkhya berarti bilangan atau urutan untuk mengidenfikasi suatu persoalan sesuai dengan peringkatnya. Ada 25 tattwas (hakikat) dalam proses penciptaan alam. Dimana ajaran ini menginsyafi ada dua hakikat tertinggi yang ada di alam semesta ini yaitu Purusha dan Prakerti. Purusha adalah unsur dasar yang bersifat kejiwaan, Prakerthi adalah unsur dasar yang bersifat kebenadaan. Keduanya adalah abadi keberadaanya sebagai penyebab adanya ciptaan.

Pertemuan purusha (1) dan Prakerthi (2) menyebabkan triguna berguncang. Hal ini menimbulkan atau menjadi penyebab lahirnya citta (3) atau alam pikiran. Citta kemudian bermanifestasi menjadi buddhi atau intelek (4). Selanjutnya lahirlah rasa aku yang menyebabkan perasaan ada yang disebut ahamkara (5). Karena pengaruh tri guna yang semakin besar maka dari ahamkara lahirlah manah atau pikiran yang mengendalikan panca budhindriya (6-10) atau lima indriya pengenal, dan panca karmendriya (11-15) atau lima indriya penggerak yang menggerakkan anggota badan. Oleh sebab itulah pikiran dikenal sebagai rajendriya atau yang mengendalikan sepuluh indriya. Muncul pula dari ahamkara panca tan matra (16-20) atau lima unsur halus alam semesta. Dari panca tan matra lahirlah panca maha bhuta (21-25) yang merupakan lima elemen kasar yang membentuk anda buana yaitu jagat raya dengan segala isinya. Urutan 1 s.d 25 pada proses srsti ini  berdasarkan tingkat kesadaran masing-masing.

Ajaran Yoga yang digagas oleh Rsi Pattanjali menjadikan samkhya sebagai peta penuntun mengetahui jati diri atau kesadaran. Ajaran samkhya ini pulalah yang mengilhami tujuan ajaran Yoga untuk mencapai samadhi dalam kesadaran purusha. Namun Rsi pattanjali melihat bahwa tidaklah mungkin yang maha terang dalam keadaan serba tahu namun pasif bertemu dengan prakerthi yang berat dan gelap tanpa ada yang mempertemukan. Sehingga ajaran Yoga menambahkan bahwa purusha dan prakerti berada didalam Iswara yaitu keberadaan sejati sebagai awal atau sebab yang tidak disebabkan. Sehingga dalam Yoga dikenal 26 tattwas dengan Iswara sebagai kesadaran tertinggi yang menjadi penyebab segalanya.

 

  1. Pengaruh samkhya Yoga dalam Tattwa Hindu Indonesia

Samkhya menguraikan bagaimana proses penciptaan dan proses peleburan terjadi, Yoga memberikan tuntunan bagaimana jiwa kembali menggapai kesadaran purusha sebagai kesadaran tertinggi untuk bebas dari samsara atau punarbhawa. Dengan demikian ajaran samkhya dan Yoga sesungguhnya tak dapat dipisahkan sebagai ajaran hakikat guna mencapai mokshartam jagadhita.

Ajaran ini pulalah yang besar pengaruhnya terhadap agama Hindu yang berkembang di Indonesia. Lontar-lontar tattwa sebagai referansi filsafat ke-Tuhan-an memuat ajaran samkhya yoga dengan sangat jelas. Secara umum sebutan untuk Tuhan dalam masyarakat Indonesia adalah Sang Hyang Widhi Wasa. Menurut Drs. I Gede Sura dan kawan-kawan Sang Hyang Widhi Wasa berarti Yang Menakdirkan Yang Maha Kuasa, yang dalam bahasa Bali diterjemahkan dengan Sang hyang Tuduh atau Sang hyang Titah.          Namun istilah ini tidak secara tertulis disebutkan dalam sumber lontar. Dalam Sastra lontar yang sebagian besar bercorak Siwa yang ditemukan di Indonesia, Tuhan dipanggil dengan sebutan Bhatara Siwa. Dengan demikian maka agama Hindu di Indonesia secara umum memuja Bhatara Siwa sebagai Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam salah satu lantar bercorak Siwa yaitu wrhaspatti Tattwa yang ditemukan di Indonesia dinyatakan ada dua hakikat kesadaran dan ketidak sadaran yang disebut Cetana dan Acetana. Cetana adalah kesadaran yang tiada lain adalah Purusha dan acetana adalah ketidak sadaran atau prakrthi. Kesadaran Siwa atau yang disebut cetana dibagi menjadi tiga tingkat kesadaran mulai dari yang tertinggi berturut-turut yaitu Parama Siwa, Sadha Siwa, dan Siwatma atau atmika tattwa. Hal inilah yang disebut dengan cetana telu atau Tri Purusha.

Penggolongan tingkat kesadaran ini didasarkan pada pengaruh Tri Guna yang ada dari prakerthi. Parama Shiwa adalah tingkat kesadaran yang tertinggi yang tanpa pengaruh Tri Guna, tanpa sifat, tanpa bentuk, tanpa wujud tak termanifestasikan. Sadha Shiva merupakan tingkat kesadaran yang kedua, setingkat berada dibawah Parama Shiwa. Sadha Siwa sudah terkena pengaruh Tri Guna namun masih sedikit, sehingga dalam kondisi ini kesadaran Shiva telah memiliki sifat maha tahu, maha melihat, maha mendengar dan sebagainya (cadu sakti dan asta Iswarya). Sadha Siwa inilah Tuhan yang menjadi objek pemujaan; sebagai Tri murti; sebagai Dewa dengan Shaktinya; Brahma-Saraswati, Wisnu-Sri, Iswara-Uma Dewi, Rudra-Santani, dst.

Siwatma adalah kesadaran Shiwa yang terendah yang telah diliputi oleh Tri Guna yang demikian besar sehingga atma menjadi lupa akan jati dirinya. Ia tidak lagi serba tahu, tidak lagi memiliki sifat asta iswarya maupun cadu shakti. Ia menjadi penyebab hidup pada semua makhluk dalam keadaan awidya (gelap). Ia dikenal juga sebagai Jiwatman yang menjadi hidupnya hidup setiap makhluk. Tujuan dari penjelmaan setiap atman kedunia adalah untuk mencapai kesadaran kembali yang disebut dengan tutur. Tutur atau sadar adalah kondisi dimana atman menyadari bahwa Ia adalah Brahman. Kondisi ini hanya mungkin terjadi manakala atman mengalami Brahman.

 

  1. Pengaruh samkhya Yoga dalam Etika Hindu di Indonesia.

Etika atau susila dipengaruhi oleh tattwa, oleh sebab itulah susila merupakan praktek kebajikan yang tidak dapat dilepaskan dari tattwa sebagai landasan yang membangunya. Samkya meletakan persamaan azas bahwa semua ciptaan bersumber dari yang satu, sebagai akibat pertemuan Purusha dan Prakerti. Bahwa setiap makhluk terdiri atas tubuh dan jiwa, dimana tubuh bersumber pada prakerti sedangkan jiwa adalah purusha. Yang membedakan adalah tingkat kesadaran dari setiap individu berdasarkan pengaruh tri guna yang meliputiya. Oleh sebab itu karakter manusia juga memiliki perbedaan baik dan buruk sebagai dampak dari tri guna. Untuk itulah perlu aturan atau rambu-rambu yang mengatur hidup bersama yang didasarkan pada arah penyadaran untuk mencapai tujuan hidup bersama yang disebut jagadhita.

Ajaran Yoga memberikan rambu-rambu etika yoga dengan ajaran panca yama dan panca niyama bratha. Panca yama Bratha merupakan ajaran pengendalian diri yang lebih bersifat lahir atau fisik. Kitab Wrhaspati Tattwa, sloka 60 sebagai berikut

Ahimsā brahmacayañca, satyam avyavahārikam,

astaunyamiti pancaite yamā rudreṇa bhaṣtaḥ

Terjemahan :

Ahimsa namanya tidak membunuh, brahmacari namanya menuntut ilmu dan mengindarkan dari hubungan kelamin, satya namanya tidak  berbohong, awyawaharika namanya tidak berbuat dosa karena kepintaran, astainya namanya tidak mencuri, tidak   mengambil milik orang lain bila tidak dapat persetujuan kedua pihak

(Sura, 2001: 81).

 

Panca Niyama bratha merupakan ajaran pengendalian diri yang lebih bersifat rohani kitab Wrhaspati Tattwa, sloka 61 menjelaskan sebagai berikut: .

Akrodha guru susrūscā Saucam āhāralāgawam
Apramādasca pañcaite Niyamāh parikīrtitah
.
Terjemahan :

Akrodha namanya tidak marah saja. Guru Susrusa namanya bakti berguru. Sauca namanya selalu melakukan japa, membersihkan badan. Aharalagawa ialah tidak banyak-banyak makan. Apramada namanya tidak lalai (Sura, 2001: 82) Ajaran panca yama dan panca niyama inilah yang membentuk dasar-dasar kesepakatan norma susila dalam kehidupan bermasyarakat.

 

  1. Pengaruh samkhya Yoga dalam Upacara dan Upakara Agama Hindu di Indonesia.

Penciptaan maupun peleburan hakikatnya adalah perubahan. Penciptaan menurut samkhya hakikatnya adalah perubahan kesadaran menuju ketidak sadaran. Pertemuan Purusha dengan prakerti menyebabkan guncangnya tri guna. Disebutkan gucangan berarti telah terjadi ketidak-stabilan atau disharmoni. Sejak awal purusha mengorbankan dirinya melalui perkawinan cosmo dengan prakerti telah terjadi penurunan kesadaran. Demikian pula hakikat kelahiran manusia adalah juga karena penurunan kesadaran jiwa sehingga disebut awidya.

Untuk mengingatkan sang atma akan dirinya yang sadar maka harus ada upaya kearah bangkitnya kesadaran. Yoga memberikan delapan tahapan Yoga sebagai tahapan jalan menuju kesadaran yang disebut astangga Yoga yang terdiri atas:  Yama, niyama, asana, pranyama, pratyahara, dharana, dhyana, samadhi. Dalam sumber-sumber lontar yang memuat ajaran Siwa Tattwa yang banyak dijumpai di Bali khususnya tidak lagi memuat astangga yoga tetapi menjadi sad angga yoga oleh karena Yama dan Niyama Bratha dipandang sebagai syarat mutlak yang harus di miliki oleh siswa kerohanian yang tidak perlu di tuliskan lagi.  Yama dan Niyama Bratha tidak dipandang sebagai sisi praktek yoga secara langsung tetapi lebih sebagai etika dasar yang harus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam praktek yoga kesadaran itu akan diperoleh manakala seorang siswa kerohanian dibawah bimbingan guru mempraktekan yoga secara disiplin dan percaya penuh pada apa yang dilakukan. Seluruh proses yoga adalah upaya untuk mencapai kesadaran yang disebut samadhi. Tahapan kesadaran ini melibatkan pusat pusat syaraf yang sangat vital yang terdapat pada tulang belakang yang dipandang sebagai titik-titik kesadaran yang disebut cakra. Kesadaran cakra inilah yang terus dibangkitkan dengan melakukan pemujaan Siwa dan Shakti melalui pengendalian tubuh, indria dan olah nafas. Hakikatnya Yoga merupakan upacara suci yang dilakukan di dalam diri manusia yang merupakan proses bathin yang menginsyafi bahwa badan merupakan sarana mencapai kesadaran atma.

Oleh karena badan (sawa) memiliki tugas suci dalam rangka mencapai tujuan suci maka badanpun perlu disucikan. Demikian pula jiwa untuk bebas dari belenggu samsara harus diarahkan pada kesucian yang disebut Shiwa. Untuk mencapai ke-Shiwa-an atau tingkat kesucian bukanlah perkara mudah sehingga harus ada aktifitas yang mendukung kearah kesucian yang memungkinkan melibatkan berbagai aktifitas manusia sesuai dengan guna karma (Bhagavad Gita IV.13). Upacara dan upakara merupakan aktifitas yang paling memungkinkan untuk itu.

Oleh karena itulah upacara dalam tradisi Hindu di Indonesia hakikatnya adalah sebuah proses yoga dengan samkhya didalamnya yang mengarahkan setiap orang mempersembahkan aktifitasnya untuk menigkatkan kesucian diri. Dalam suatu upacara yang hal yang paling penting yang perlu diperhatikan adalah proses kerja sebagai persembahan atau karma yoga. Proses yang mampu menumbuhkan bhakti, kepasrahan diri dan kerelaan melepas ikatan baik pikiran, tenaga maupun materi, guna mewujudkan keseimbangan bathin. Keseimbangan bathin yang dimaksud adalah harmonisnya gelombang pikiran (Yoga Sutra Pattanjali I.2)  terhadap suka duka, susah senang, baik buruk dan seterusnya (Bhagawad Gita XII.18-19).

Dalam proses berupacara ajaran Yoga dipraktekan dalam bentuk mejejaitan dengan menghadirkan Tuhan sebagai Hyang Tapini yaitu Parwati sebagai taksu yang memberikan tuntunan. Hyang Tapini adalah guru pembimbing yang memimpin proses penyiapan upacara, sehingga hakikatnya Tuhan lah yang bekerja, manusia hanya sebagai alat untuk mewujudkan apa yang menjadi kehendak Tuhan melalui manifestasinya sebagai Hyang Tapini. Disini terjadi interaksi antara manusia dan Tuhan dimana secara etika setiap akan menyiapkan upakara seorang serati hendaknya nunas tirta agar diberi tuntunan. Dalam kasus-kasus yang terjadi ada kalanya serati yang lupa nunas tirta menjadi bingung, setelah nunas tirta baru bisa bekerja dengan tanpa kenal lelah dan menyenangkan.