18 Agu

https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:6436540059570266112

Pesona Gunung Kongbeng

5 Agu

Pesona Gunung Kongbeng
https://www.linkedin.com/pulse/tes-vaprakeswara-kaltim

Gempa lombok potensi tsunami

5 Agu

https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:6431900058953842688

PERBAIKAN PARAMETER GEMPABUMI:

Kekuatan : 7.0 SR
Tanggal : 05-Aug-2018
Waktu Gempa : 18:46:35 WIB
Garis Lintang : 8.37 LS
Garis Bujur : 116.48 BT
Kedalaman : 15 Km

Lokasi:
Sumbawa Region, Indonesia

Keterangan:
18 km BaratLaut LOMBOKTIMUR-NTB
22 km TimurLaut LOMBOKUTARA-NTB
42 km TimurLaut LOMBOKTENGAH-NTB
48 km TimurLaut MATARAM-NTB
1100 km Tenggara JAKARTA-INDONESIA

Evaluasi:

BERPOTENSI TERJADI TSUNAMI (Lihat Peta)
———————————————–
Propinsi Lokasi Status Estimasi Tanggal
waktu tiba [YYYY-MM-DD]
[WIB]
———————————————–
NTB LOMBOK-BARAT BAGIAN UTARA WASPADA 18:48:35 2018-08-05
NTB LOMBOK-TIMUR BAGIAN UTARA WASPADA 18:48:35 2018-08-05
———————————————–

SIWA NIRMALA- NIṢKALAṄKO NĀRĀYAṆA

12 Jul

NĀRĀYAṆA Tak tergambarkan & Siwa yang gaib… Apa bedanya?

Oṁ nārāyaṇa evedaṁ sarvaṁ 
yad bhūtaṁ yac ca bhavyam
niṣkalaṅko nirañjano nirvikalpo
nirākhyātaḥ śuddho  devo eko
nārāyaṇaḥ  na dvitīyo ‘sti kaścit

Terjemahan:

Om adalah Narayana, adalah semua ini, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kekotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Tuhan yang “Niṣkalaṅko” bebas dari noda, tak terjangkau oleh pikiran namun ditafsirkan berdasarkan pikiran yang terbatas oleh selimut ego. Batasan tentang Tuhan dan klaim tentang kebenaran Tuhan tidak dapat di lakukan oleh pikiran yang berada jauh dari hakikat Purusha. Sehingga definisi Tuhan bedasarkan argumen pikiran tidak akan mampu mewakili “Narayana” bahkan nama itupun telah membatasi-Nya.

Yang tak terbatas tak mampu dijelaskan oleh yang terbatas, yang tanpa noda tak mampu digapai oleh yang ternoda. Kakawin Arjuna Wiwaha menjelaskan bagiamana keberadaan Siwa yang “Nirmala” tanpa noda. Sehingga Narayana & Siwa sesungguhnya tiada bedanya yaitu Dia yang tanpa noda niṣkalaṅko atau nirmala”. SIWA NIRMALA-NISKALANKO NARAYANA
http://shiva%20narayana.swf
<!–

NARAYANA DAN SIWA

26 Jun

Siwa yang suci tanpa noda atau nirmala adalah Narayana yang memiliki sifat “niṣkalaṅko” dalam naskah tri sandhya bait kedua yang bersumber pada narayana upanishad. Sehingga Narayana maupun Siwa sesungguhnya adalah tunggal adanya namun beda nama, sebagaimana karakter theologi Hindu dalam Weda “ekam sat wiprah bahuda wadanti”. Dalam hal ini tuhan dihayati sebagai yang tanpa noda, sehingga dapat diartikan sebagai tanpa kemelakatan atau tanpa ikatan apapun yang menyertai-Nya. Jika kemelekatan adalah noda maka ia adalah mala yang merintangi manusia menuju moksah atau pembebasan, sebab hanya yang tanpa noda mencapai moksa. Hanya yang nirmala menuju yang “nikalako”. 

 

RAHAJENG RERAINAN GUMI Dari tanah Baprakeswara

20 Mar

Kaki langit serat kehidupan

Lebur sandi widya kawaca

Tatap sang surya merayap

Terbit tenggelam tata kehidupan

 

Savitri tersenyum semaikan cinta

Saraswati menuai jiwa

Temukan mereka dibatas antara

Pulang kerumah sang jiwa

 

sepi senyap 1940 saka

renungi relung tattwa

mencari saraswati dalam tapa

tempa hati dalam yoga

 

Soma ribek Wisnu Sri Dewi

tabur wija amerta sari

berbuah karma suci budhi

santosa swasti santhi

 

Sabuh mas Mahadewa Saci Dewi

arta brana guna suci

asih punya bhakti wicaksana

dana punya menabur sejahtera

 

Paramestya Guru Pager wesi

Sejatinya Guru telah kembali

lebur awidya dalam suluh sejati

Bawa jiwa pulang kembali

 

Sanghyang Pramesti Guru

20 Mar

Sanghyang Pramesti Guru adalah guru sejati dimana dalam filosofinya juga disebutkan :

Hidup tanpa guru  juga sama artinya dengan hidup tanpa penuntun.

Sebagai guru sejati untuk manusia dan alam semesta ini, dan tersebutlah pada zaman dahulu keserakahan tidaklah dapat berlangsung lama;

Dengan sifat loba yang berlebihan, dalam sejarah Bali diceritakan pada saat Mayadanawa menjadi seorang raja saat itu yang sifatnya “Nyapa kadi aku” , tidak ingat akan dirinya sebagai seorang raja yang harus mengayomi dan melindungi seluruh rakyatnya. 

Akhirnya para Bhatara dan dewata di Tolangkir menghadap Hyang Pramesti Guru, memohon agar Prabu Mayadanawa yang mencemaskan penduduk Bali dimusnahkan dari madyaloka ini.

Hyang Pramesti Guru memerintahkan para dewata para resi dan tidak ketinggalan Bhatara Indra agar turun ke Bali untuk melenyapkan raja Mayadanawa.

Sanghyang Paramesti Guru sejatinya adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk.

Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.

Sebagaimana dijelaskan oleh wayanalit0, Hari Raya Pagerwesi yang disebutkan dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta.

Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun umat walaka. 

Begitupun dalam lontar Sundarigama disebutkan: “Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”
Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga(sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.