HARI RAYA SIWARATRI “ANUGRAH SIWA”


Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag.

Di bawakan dalam dharma thula hari Siwa ratri 26 Januari 2017

yantra

  1. LUBDAKA INSPIRASI PEMBEBAS JIWA

 

Siwa Ratri  ( Ratri juga sering ditulis Latri ) adalah malam untuk memusatkan pikiran kepada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Oleh karena  itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut “malam kesadaran” atau “malam pejagran”, Bukan “malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang awam.

Empu Tan Akung, menggubah kisah Lubdaka yang sarat dengan nuansa spiritual menjadi suatu kisah akrab yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ajaran spiritual yang begitu dalam dan rahasia dituangkan dalam nuansa perjalanan hidup dari seorang pemburu. Pemburu yang penuh dosa, karena pekerjannya membunuh para binatang buruan di hutan sebagai mata pencaharian yang paling utama. Pekerjaan rendah yang amat bertentangan dengan ahimsa namun itulah swadharma dari seorang Lubdaka (pemburu).

Dalam Kakawin Siwa Ratri Kalpa  sang pujanga yang juga seorang spiritual mengisyaratkan rahasia Siwa Ratri sebagai sebuah anugrah Siwa yang luar biasa kepada manusia, yaitu bebas dari segala dosa manakala seseorang melakukan jagra pada malam Siwaratri. Betapa tidak seorang pendosa seperti Lubdaka dapat terbebas dari dosa melakukan pembunuhan karena Lubdaka telah melakukan jagra tepat pada saat Siwa Ratri pada sebuah kolam dengan sebuah lingga nora ginawe di dalamnya.

Kisah Lubdaka seolah abadi dan senantiasa menjadi bahan renungan khususnya pada saat menjelang catur dasi kresna paksa pada sasih kapitu. Hal ini tentu karena kedalaman filosofis religius yang terkandung didalamnya. Ia bukan hanya sebuah cerita menghibur, tetapi juga sarat dengan muatan agama dan tak habis-habisnya untuk dikupas dan direnungkan. Tentu saja kemahiran Empu Tanakung dalam menyampaikan ajaran spiritual yang maha tinggi, melalui bahasa sederhana yang dapat dicerna oleh orang kebanyakan merupakan sebuah fenomena langka. Hal ini menandakan kematangan sang Pujangga dalam olah kata-kata dan olah spriritual sehingga karya sastra ini menjadi inspirasi bagi sebuah perayaan besar bagi “pembebasan jiwa” dari belenggu samsara.

Siwa Ratri pada hakekatnya adalah merupakan kegiatan namasmaranam pada Siwa. Namasmaranam artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungkan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan bathin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidaklah harus dilakukan setiap tahun,  melainkan bisa  dilaksanakan  setiap  bulan sekali, yaitu setiap  menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.

Untuk dapat mencapai kesadaran, kita biasa menyucikan diri dengan melakukan SAUCA. Sauca dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan sebagai berikut “Sauca ngaranya netya majapa maradina sarira“. Artinya : Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedangkan dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, “Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana “, Artinya : dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.

  1. Mematangkan Jiwa dalam Tungku Pendidikan “Lubdaka”

Bagi masyakat umum, Lubdaka memberi inspirasi agar merayakan Siwa Ratri bertepatan dengan purwanining tilem sasih kapitu. Hari ini dianggap sebagai malam tergelap diantara semua malam, dimana Hyang Siwa sedang beryoga. Dengan melakukan jagra saja pada malam ini maka seseorang akan terbebas dari dosa. Hal ini tentulah dapat dilaksanakan oleh banyak orang, serta akan menarik minat masyarakat awam untuk merayakannya.

Langkah pertama Empu Tanakung nampaknya membuahkan hasil, karena dari waktu-kewaktu semakin banyak umat Hindu yang merayakan Siwa Ratri, baik di Bali maupun di luar Bali. Perayaan Siwaratri menjadi semakin populer dan membuat karya Lubdaka semakin dikenal, semakin banyak pula yang mengulas dan mengupas filosofis dari kisah pemburu yang mencapai alam Siwa. Ulasan-ulasan mendalam tentang Siwa Ratri dalam kisah lubdaka ini menandakan keberhasilan Empu Tanakung yang ke-dua.

Uniknya Kisah ini memberikan kebebasan bagi para “pemburu”  sastra untuk memberikan pandagan dari berbagai sudut pandang sesuai dengan persepsi rasio dan rasa religious yang dipahami dan dialami oleh sang pengulas. Ini adalah keberhasilan ke-tiga dari Epu Tanakung yaitu sejauh mana rasa religius menyentuh para pendengar maupun para pembaca kisah ini sehingga mencintai dan menikmatinya sebagai sebuah santapan rohani yang menyentuh kedalam rasa yang jauh didalam.

Rasa agama inilah yang menjadi cikal bakal tindakan sang “pemburu” kebenaran yang nantinya tercermin dalam tindakan nyata dalam kehidupan baik sebagai seorang bhakta yang bersifat individu maupun dalam kehidupan sosial di masyarakat luas. Setelah menjadi sebuah tindakan maka lengkaplah keberhasilan Sang empu dalam menuntun umat manusia menuju jalan yang terang sebagai keberhasilan yang ke-empat.

Secara garis besar Empu Tanakung melakukan proses utuh menyeluruh mematangkan spiritual pembaca dalam tungku Lubdaka yang sederhana. Dengan harapan bahwa yang telah tercerahkan akan mengajak orang lain untuk lebih merenungkan lagi. Jika dibuat bagannya maka akan terlihat sebagai sebuah lingkaran rantai yang tidak berujung, yang merupakan proses berkesinambungan.

 

Keterangan:

Ajakan untuk mengetahui Siwa Ratri- Ajakan untuk merayakan Siwa Ratri-Ajakan untuk merenungkan kedalaman filsafat (tattwa)- Kisah yang menyentuh rasa agama-tercermin dalam tindakan yang baik dan benar.

Jika menelaah dalam proses pematangan jiwa dari Empu Tanakung dalam karya sastranya, maka semakin kagumlah kita pada sosok Empu Tanakung yang secara gamblang memberikan inspirasi pada manusia modern tentang sebuah pendidikan bagaimana menumbuhkan karakter dari dalam diri sang pembaca. Sebab karakter seseorang tidak terbentuk dari luar, namun pengaruh luar yang posistif seperti kisah lubdaka amatlah diperlukan guna membangun kesadaran didalam diri. Dan hal ini mampu dilakukan oleh seorang Empu Tanakung melalui tokoh pemburu “Lubdaka”.

  1. Menemukan Siwa Dalam Anugrah Siwa Ratri

Dalam ajaran Samkhya Rsi Kapila mengungkapkan ada 25 tattwas atau hakikat penciptaan yaitu: Purusa, prakrti, citta, buddhi, ahamkara, panca tan matra, panca maha bhuta, panca bhudindriya dan panca karmendriya. Purusa adalah hakikat kejiwaan sebagai yang mengenali, sedangkan prakerti adalah hakikat kebendaan sebagai obyek yang dikenali. Didalam prakerti terdapat Tri Guna yang aktif setelah prakerti bersentuhan dengan purusa. Akibatnya lahirlah alam pikiran agung yang disebut mahat. Mahat berevolusi menjadi budhi yang didominasi oleh guna sattwam. Oleh karena itu buddhi bersifat terang, cerdas, bijaksana. Jika citta merupakan alamnya pikiran maka buddhi adalah kecerdasan kosmis, atau kecerdasan alam. Sebagai kecerdasan alam, buddhi merupakan manifestasi citta alam semesta yang tidak dipengaruhi ego atau ahamkara maupun pikiran.

Ketika seseorang ingin mengenali, meraih atau menggapai buddhi maka ia harus melampaui pikiran, mengatasi ahamkara. Tidak akan berjumpa buddhi jika pikiran diliputi aku atau ego. Buddhi hanya akan muncul jika pikiran indriya, dan ego dalam kondisi lemah atau tertidur.  Upaya menumbuhkan buddhi, berarti menekan ego dan mengendalikan pikiran. Dengan pikiran terkendalikan maka indriya berada dalam zona aman, berjalan dalam rel dharma. Buddhi mengendalikan pikiran, pikiran mengendalikan indriya, sehingga ego tidak berdaya.

Dalam kisah ini, Pemburu Lubdaka berangkat pagi-pagi ketika brahma muhurta untuk berburu merupakan langkah seorang bhakta untuk melaksanakan swadharmanya kepada sang pencipta melakukan pemujaan dengan panah ketajaman pikiran, tombak kesadaran untuk menundukkan indria, mengamati sejauh mana sifat binatang itu ada didalam dirinya. Namun hingga petang tak satupun binatang muncul, artinya sang bhakta telah mampu menekan enam musuh yang ada didalam diri sehingga membawa sang bhakta naik dalam sebuah tingkatan hidup yang suci. Hal inilah yang nampaknya ingin disampaikan oleh Empu Tanakung sebagai Lubdaka yang naik diatas pohon, menyadari betapa seseorang harus berjuang melawan sifat binatang dengan naik pada pohon bilwa yang merupakan lambang kesiwaan atau kesucian.

Dengan tingkat kesucian dan kewaspadaan pada indriya yang merupakan binatang buasnya kehidupan, seorang bhakta hendaknya senantiasa memuja Siwa dalam kesucian daun bilwa, dengan memetik daun bilwa dan melemparnya dalam kolam Sang diri dimana terdapat Lingga nora ginawe, lingga yang tidak diciptakan, dengan ketulusan dan terus menerus. Yang tidak diciptakan adalah Atman atau sang diri sejati, sebagai bagian dari Siwa itu sendiri. Kolam dengan air yang bening membuat seseorang dapat melihat bayangannya sendiri. Bayangan itu adalah maya tattwa, sedangkan yang sejati bukanlah bayangan itu tetapi lubdaka yang ada pada pohon bilwa. Namun demikian lingga itu justru didalam kolam yang dikelilingi bayang-bayang. Siwa itu sendiri ada didalam diri manusia yang maya ini, tetapi dialah satu-satunya yang nyata yang bukan bayang-bayang. Kemampuan membedakan yang nyata dengan yang maya hanya mungkin diperoleh sebagai anugrah Siwa semata dimana Gita menyebutnya sebagai Buddhi-Yoga.

tesam satata-yuktanam bhajatam priti-purvakam
dadami buddhi-yogam tam yena mam upayanti te

Terjemahan:

Kepada mereka yang dengan tekun memuja-Ku dalam cinta kasih bhakti, Aku memberikan Buddhi-Yoga, kecerdasan spiritual yang baik, kepada mereka yang memungkinkan mereka datang kepada-Ku (BG. X.10)

Maka Siwa ratri adalah sebuah proses penyadaran diri akan adanya sang diri sejati yaitu atman sebagai Siwa terdekat. Ia yang maha suci hanya mungkin dijumpai dengan kesucian saja, dan kesucian lahir dari sebuah bhakti yang tulus yang diwujudkan dalam sadhana (praktek spiritual). Dari sadana seseorang memperoleh pemahaman betapa pentingya menumbuhkan buddhi bagi bertumbuhnya kekuatan mental dan jiwa. Dengan asumsi bahwa jika buddhi telah memperoleh pencerahan maka ia akan tumbuh dengan baik. Dengan buddhi sebagai pengendali atas pikiran dan indriya maka setiap tindakan yang lahir adalah tindakan yang bersifat satwika. Hal ini terjadi karena buddhi berpengaruh besar terhadap sebuah keputusan yang diambil. Disinilah campur tangan kekuatan Daiwi yang menyusup melalui buddhi. Dengan sinar (Div),  Tuhan bekerja mempengaruhi tindakan manusia. Oleh karena itu semakin besar “div” berpengaruh terhadap buddhi, maka semakin berkembang pula wiweka jnana yang ada pada seseorang. Menghadirkan “div” dalam buddhi menjadi amat penting bagi perkembangan buddhi. Dengan demikian maka sadhana merupakan sarana dan cara yang tepat sebagai upaya menumbuhkan buddhi.

  1. SUMBER AJARAN SIWA RATRI

Brata Siwa Ratri pada mulanya dirayakan amat terbatas, yaitu hanya oleh sejumlah Pandita di Bali dan Lombok. Pada tahun 1966, setelah hancurnya Komunisme di Indonesia, kesadaran akan kegiatan rohani kian bangkit. Semenjak tahun 1966 itulah, perayaan Siwa Ratri mulai dimasyarakatkan oleh Parisada dan pemerintah lewat Departemen Agama.

  1. Sumbernya ajaran Siwa Ratri ada pada :
  2. Kitab Padma Purana,
  3. Siwa Purana,
  4. Garuda Purana,
  5. Skanda Purana,
  6. Kekawin Siwaratri Kalpa.

  1. Sejarah pelaksanaannya :
  2. Di Eropa disebut dengan perayaan “ BERI”.
  3. Di Arab disebut “OKAZ”, tapi lama kelamaan disebut “SHABE BARAT”.
  4. Di Indonesia khususnya Bali dan Lombok disebut “ MALAM SIWA RATRI “. Dan perayaannya bersumberkan pada Karya Mpu Tanakung yaitu berupa kekawin Siwa Ratri Kalpa.

Mengapa Siwa Ratri dimasyarakatkan, tentu karena memang dianjurkan oleh kitab suci Hindu. Di India, setiap menjelang bulan mati setiap bulannya umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka  berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini adalah suatu pertanda, bahwa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Kemudian baru sejak tahun 1966 Siwa Ratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia.

  1. Tingkatan Pelaksanaan Brata Siwa Ratri :

Brata Siwa Ratri dilaksanakan dengan tiga tingkatan yaitu :

  1. Nista, yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan Jagra, artinya kesadaran itu dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melek semalam suntuk, sambil memusatkan segala aktifitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama,seperti kakawin dalam berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, “Nitya majapa maradina sarira”. artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu membersihkan badan. Sedangkan Dhyana dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, Nitya Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa. Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan.Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakana simbolis untuk memacu tumbuhnya budhi yang sebenarnya.
  2. Madya adalah pelaksanaan Brata Siwaratri dengan jagra dan upawasa. Upawasa dalam kitab Agni Purana berarti “kembali suci”. Yang dimaksud kembali suci ini adalah dilatihnya indriya melepaskan kenikmatan makanan. Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada kelezatan makanan.
  3. Uttama, yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan cara Jagra, Upawasa, dan Mona Brata, artinya pelaksanaan dengan cara melek atau menyadarkan diri, menahankan kenikmatan makanan dan berusaha mengurangi berbicara (Mona). Mona artinya tanpa mengeluarkan ucapan-ucapan yang bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa berbicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.

 III. PELAKSANAAN BRATA SIWA RATRI

Tata tertib pelaksanaan brata Siwa Ratri telah diseminarkan oleh PHDI Pusat bersama dengan IHD Denpasar tahun 1984.  Hasil seminar tersebut telah ditetapkan oleh PHDI Pusat menjadi Pedoman pelaksanaan Brata Siwa Ratri. Brata Siwa Ratri dilaksanakan pada hari “Catur Dasi Krsna Paksa” bulan Magha yaitu panglong ping patbelas sasih kapitu. Tujuan brata Siwa Ratri untuk menemukan “Kesadaran diri” (atutur ikang atma rijatinia ).  Brata tersebut dilaksanakan dengan upawasa , monobrata dan jagra.

Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa biasakan melakukan mona atau agak membatasi berbicara. Hal ini akan bermanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya “positif energi” untuk menggeser “parasit energi”. Positif energi dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan,  ketenangan dan kesucian. Kalau tiga hal ini dapat kita miliki dalam hidup maka hidup yang bahagia lahir batin akan semakin kita rasakan.

Demikianlah tiga tingkatan pelaksanaan brata Siwa Ratri berdasarkan nista, madya, utama. Dari segi makna amat tergantung kesungguhan sikap kita melaksanakan brata tersebut. Meskipun kita mengambil yang nista namun sikap yang melandasi bersungguh-sungguh, maka yang nista itu pun akan menghasilkan yang utama.

 

 

 

  1. MAKNA SIMBOL-SIMBOL

Kalau kita telaah ceritera LUBDAKA yang tertuang dalam kekawin Siwa Ratri Kalpa, buah karya Mpu Tanakung, terdapat beberapa simbol-simbol yang mempunyai makna sangat mendalam yaitu :

  1. Beburu;
  2. Binatang;
  3. Hutan;
  4. Lubdaka kemalaman;
  5. Lubdaka Takut;
  6. Lubdaka Naik Pohon;
  7. Takut Jatuh;
  8. Memetik Daun Billa;

 MAKNANYA :

  1. Berburu; maksudnya adalah berburu ilmu pengetahuan untuk dapat meningkatkan taraf hidup akibat tuntutan hidup berupa dharma artha, kama dan moksa.
  2. Binatang, lain kata binatang adalah SATTWA, terdiri dari sat dan twa. Sat sama dengan Inti, yaitu hakekat yang mulia, dan Twa adalah sifat. Jadi SATWA adalah hakekat yang mulia atau benar. Rajanya Binatang adalah Harimau dan juga disebut PASUPATI, ini tiada lain adalah Sang Hyang Siwa.  Jadi hakekat yang mulia itu dikejar dan ada pada Sang Hyang Siwa.
  3. Hutan, adalah symbol keinginan yang bersifat duniawi yang sulit dihitung seperti banyaknya pohon-pohon di hutan.
  4. Lubdaka kemalaman, ini bermakna manusia itu diliputi penuh dengan kegelapan dan papa, penuh dengan ketidak sadaran dan ketidak tahuan (awidhya) akibat kurang mendalami ilmu pengetahuan.
  5. Lubdaka Takut, bermakna karena tidak memiliki pengetahuan dan penuh dengan kegelapan alam piker, maka takutlah mengarungi kehidupan ini.
  6. Lubdaka naik pohon, maksudnya “NAIK”, ada meningkatkan diri dalam mencari Ilmu Pengathuan supaya tidak mengalami kegelapan lagi.
  7. Takut Jatuh, maknanya adalah takut akan kekurangan dengan Ilmu Pengatahuan.
  8. Memetik Daun Billa, maknanya adalah membuang secara bertahap dosa-dosa yang ada pada diri manusia.

Diatas telah diuraikan pelaksanaan Brata Siwa Ratri ada 3, yaitu Jagra, Upawasa dan Mona Brata. Ketiga cara ini mempunyai arti sebagai berikut :

  • Jagra, artinya adalah mawas diri, introspeksi diri.
  • Upawasa, artinya usaha pengendalian diri untuk membebaskan diri dari pengaruh duniawi.
  • Mona Brata, artinya usaha mengendalikan diri agar dapat menciptakan suasana yang hening, tenang, tentram, untuk menuju tercapainya jiwa yang terang (Widhya).

Berikut ini dilampirkan pelaksanaan Brata Siwa Ratri, secara sederhana :

  1. Di setiap Desa Pakraman, dilaksanakan acara persembahyangan bersama dipimpin oleh Prajuru Desa Pakraman masing-masing. Atau mengikuti pelaksanaan Brata Siwa Ratri (Pejagraan) di masing-masing Desa Pakraman dengan alokasi tempat yang telah disetujui atau ditentukan, sambil melaksanakan Pesanthian, memperdalam sasatra-sastra suci keagamaan.
  2. Pagi hari sebelum pelaksanaan Malam Jagra, agar melaksanakan kegiatan ASUCI LAKSANA, yaitu berupa pembersihan badan lahir bathin.
  3. Menjelang malam harinya :
  4. Maprayascita, ngaturang upakara semampunya kehadapan Sanghyang Siwa dan Ista Dewata, bertempat di Pemerajan atau Pura, dengan upakara sesuaikan dengan Drsta setempat, minimal sebagai berikut :

1)      Daksina jangkep,

2)      Soda rayunan putih kuning,

3)      Segehan,

4)      Sekar arum catur warna,

5)      Bubuh empehan,

6)      Bubuh Gula,

7)      Nasi tepeng madaging kacang ijo,

8)     Air Kumkuman wadah payuk/ gelas genah nyemplungan daun bilwa

9)      Kwangen berisi daun bila 108 bidang (18 kwangen, masing-masing kwangen berisi 6 lembar daun Bila).

 

  1. Melaksanakan persembahyangan 3 (tiga) kali, yaitu :

1)      Sembahyang pertama dilaksanakan jam : 19.00 Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

  1. a) Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;
  2. Sembah Puyung :

Om Atma Tattwatma Suddhamam Swaha.

(Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba).

  1. b) Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, menggunakan sarana bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Raditya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Siwa Aditya :

 

Om Aditya sya param jyotir,

Rakta teja namo stute,

Sweta pankaja madyastha,

Bhaskara ya namo namah swaha.

(Om, sinar surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hormat padamu, Engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-MU pembuat sinar).

  1. c) Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Brahma :

Om , Isano sarwa widnyana, Iswara sarwa bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman, Siwastu sada siwaya,

Om, ciwa dipata ya namo namah swaha.

 

Om Ang Brahma namas catur mukham, Brahmagni rakta warnanca

Sphatika warta dewata, sarwa bhusana raktakam

Om Brahma Dewa ya namah swaha

 

(Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk, selaku Brahma raja daripada semua Brahmana, selaku Siwa dan Sada Siwa. Om Hyang Siwa, hamba menyembah pada-MU)

  1. d) Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Wisnu :

Om Ung namo Wisnu tri mukhanam, Tri nayanam catur bhuyam

Kresna warnam sphatikantam, Sarwa bhusana nilanam

 

Om, Prenamya sirase Wisnu, Triloke Brahma Sawitri,

Iswara loka pawitra, Bhayam nasti kadacanam.

 

Om, Kuwera priti dhanasca, Karni ksatriya purusa,

Sambhu mulya ta suksma ya, Ripu bhasmi durwinasa.

 

Om, Sangkara Sang Hyang Sri-dewi, Para lingga tri sudewa,

Bhasmi bhuta durwinasa, Kreta rogha durwinasa.

Om Sri Wisnu Ya namah Swaha

  1. e) Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Iswara :

Om Giri murti sweta warnam, meru rajata bhaswaram

Purwa desa pratistanam, purwa Iswara arcanam

Om, Sarwa sweta suddha nityam, Bhusana ratna swetanam,

Mani Surya sweta warnam, Surya kotti prabha jwalam

 Om, Catur Dewi Mahadewi, Catur Asrame Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi, Durga Masarira Dewi,

Om, Anugraha amreta sarwa lara winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, saktiMU berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Siwa, raja semesta alam, dalam wujud Iswara, Ya, Catur Dewi, hamba menyembah kebawah kaki-MU).

  1. f) Sembah kehadapan Sanghyang Ghana, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Kebijaksanaan.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Ghana :

Om, Ghana parama Tanggohyam,

Ghana Tattwa Para ya namah,

Ghana diparamanopti,

Sukha Ghana namostute,

Om, am Ghana dipata ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, bergelar Ghana yang maha bijaksana, dewanya kebijaksanaan, kami semua sembah kehadapan-MU).

  1. g) Sembah kehadapan Sanghyang Aji Saraswati, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon pengetahuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata sumber ilmu pengetahuan.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Aji Saraswati :

 

Om, Saraswati namãstu-bhyam, warade kama-rupini,

Siddhãrambhan kari-syami, Siddhir-bhawantu me-sada.

 

Om, Pranamya sarwa-dewanca, paramãtmanam ewa ca,Rupa siddhi prayukta ya, Saraswati namamy-aham.

 

Om, Padma-patra wisalaksi, Padma kesari warnini,

Nityam padma-laya dewi, Sa-mam-pa-tu Saraswati.

 

Om, Brahma putri mahadewi, Brahmanya rahma Nandini, Saraswati samjñayani, Pranayana Saraswati,

Om Saraswati Dewi diapata ya namah swaha

  1. h) Sembah kehadapan Sanghyang Widhhi sebagai pemberi anugrah, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon waranugraha dari Sang Hyang Widdhi Wasa.
  2. Sembah Kehadapan Sang Hyang Widdhi Wasa sebagai pemberi anugrah :

Om anugraha manoharam Devadattaanugrahakam

Arcanam sarvaapuujanam Namah Sarvaanugrahakam

 

Deva devi mahaasiddhi Yajnanga nirmalaatmaka

Laksmii siddhisca, diirgahaayu Nirvighna sukha vrddhisca

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, yang memberikan anugrah dan menarik hati, anugrah dari dewata yang agung puja semua pujaan. Hormat padaMU wahai pemberi anugrah. Dewa dan dewi yang selalu berhasil, berbadan yadnya, suci, panjang umur, dan bahagia tanpa halangan”.

  1. i) Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).
  2. Sembah Puyung :

Om, Dewa suksma paramacintya ya nama swaha.

Om, santih, santih, santih, Om.

(Om, hormat kami kepada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang gaib).

2). Sembahyang kedua dilaksanakan jam : 24.00. Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

  1. a) Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;
  2. Sembah Puyung :

Om Atma Tattwatma Suddhamam Swaha.

(Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba).

  1. b) Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, menggunakan sarana bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Raditya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Siwa Aditya :

 

Om Aditya sya param jyotir,

Rakta teja namo stute,

Sweta pankaja madyastha,

Bhaskara ya namo namah swaha.

(Om, sinar surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hormat padamu, Engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-MU pembuat sinar).

  1. c) Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Brahma :

Om , Isano sarwa widnyana, Iswara sarwa bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman, Siwastu sada siwaya,

Om, ciwa dipata ya namo namah swaha.

 

Om Ang Brahma namas catur mukham, Brahmagni rakta warnanca

Sphatika warta dewata, sarwa bhusana raktakam

Om Brahma Dewa ya namah swaha

 

(Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk, selaku Brahma raja daripada semua Brahmana, selaku Siwa dan Sada Siwa. Om Hyang Siwa, hamba menyembah pada-MU)

  1. d) Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Wisnu :

Om Ung namo Wisnu tri mukhanam, Tri nayanam catur bhuyam

Kresna warnam sphatikantam, Sarwa bhusana nilanam

 

Om, Prenamya sirase Wisnu, Triloke Brahma Sawitri,

Iswara loka pawitra, Bhayam nasti kadacanam.

 

Om, Kuwera priti dhanasca, Karni ksatriya purusa,

Sambhu mulya ta suksma ya, Ripu bhasmi durwinasa.

 

Om, Sangkara Sang Hyang Sri-dewi, Para lingga tri sudewa,

Bhasmi bhuta durwinasa, Kreta rogha durwinasa.

Om Sri Wisnu Ya namah Swaha

  1. e) Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.

  1. Sembah Kehadapan Sanghyang Iswara :

Om Giri murti sweta warnam, meru rajata bhaswaram

Purwa desa pratistanam, purwa Iswara arcanam

Om, Sarwa sweta suddha nityam, Bhusana ratna swetanam,

Mani Surya sweta warnam, Surya kotti prabha jwalam

 Om, Catur Dewi Mahadewi, Catur Asrame Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi, Durga Masarira Dewi,

Om, Anugraha amreta sarwa lara winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, saktiMU berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Siwa, raja semesta alam, dalam wujud Iswara, Ya, Catur Dewi, hamba menyembah kebawah kaki-MU).

  1. f) Sembah kehadapan Sanghyang Giri Putri, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Sumber Kemakmuran.
  2. Sembah kehadapan Sanghyang Giri Putri:

Om, Am Am Giri Patti Wande,

Lokanatam Jagatpati,

Danesan Arana Karanam,

Sarwa Guna Mahadyatam,

Om, Maharudram, Mahasudham, Sarwa Rogha Winasanam ya namo namah swaha.

Om, Giripati maha wiryyam,

Mahadewa pratista linggam,

Sarwa dewa pranamyanam,

Sarwa jagat pratistanam,

Om, Giripati dipata ya namah.

(Ya Tuhan, bergelar Giripatti, dewanya kemakmuran, pemberi anugrah seisi jagatraya, kami semua sembah kehadapan-MU).

(Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dengan lingga yang mantap, semua dewa sembah pada-MU.

Om Giripati, hamba memuja-MU).

  1. g) Sembah kehadapan Sanghyang Aji Saraswati, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon pengetahuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata sumber ilmu pengetahuan.

  1. Sembah Kehadapan Sanghyang Aji Saraswati :

 

Om, Saraswati namãstu-bhyam, warade kama-rupini,

Siddhãrambhan kari-syami, Siddhir-bhawantu me-sada.

 

Om, Pranamya sarwa-dewanca, paramãtmanam ewa ca,Rupa siddhi prayukta ya, Saraswati namamy-aham.

 

Om, Padma-patra wisalaksi, Padma kesari warnini,

Nityam padma-laya dewi, Sa-mam-pa-tu Saraswati.

 

Om, Brahma putri mahadewi, Brahmanya rahma Nandini, Saraswati samjñayani, Pranayana Saraswati,

Om Saraswati Dewi diapata ya namah swaha

  1. h) Sembah kehadapan Sanghyang Widhhi sebagai pemberi anugrah, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon waranugraha dari Sang Hyang Widdhi Wasa.
  2. Sembah Kehadapan Sang Hyang Widdhi Wasa sebagai pemberi anugrah :

Om anugraha manoharam Devadattaanugrahakam

Arcanam sarvaapuujanam Namah Sarvaanugrahakam

 

Deva devi mahaasiddhi Yajnanga nirmalaatmaka

Laksmii siddhisca, diirgahaayu Nirvighna sukha vrddhisca

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, yang memberikan anugrah dan menarik hati, anugrah dari dewata yang agung puja semua pujaan. Hormat padaMU wahai pemberi anugrah. Dewa dan dewi yang selalu berhasil, berbadan yadnya, suci, panjang umur, dan bahagia tanpa halangan”.

  1. i) Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).
  2. Sembah Puyung :

Om, Dewa suksma paramacintya ya nama swaha.

Om, santih, santih, santih, Om.

(Om, hormat kami kepada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang gaib).

III. Sembahyang ketiga dilaksanakan jam : 05.00 Wita, dengan urutan persembahyangan sebagai berikut :

  1. a) Sembah Puyung, bermakna mohon pensucian lahir bathin kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa;
  2. Sembah Puyung :

Om Atma Tattwatma Suddhamam Swaha.

(Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba).

  1. b) Sembah kehadapan Sanghyang Siwa Aditya, menggunakan sarana bunga, bermakna mohon kesaksian dari beliau Hyang Raditya bahwa kita akan mengahadap ke Hyang Ista Dewata.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Siwa Aditya :

 

Om Aditya sya param jyotir,

Rakta teja namo stute,

Sweta pankaja madyastha,

Bhaskara ya namo namah swaha.

(Om, sinar surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hormat padamu, Engkau yang berada di tengah teratai putih, hormat pada-MU pembuat sinar).

  1. c) Sembah kehadapan Sanghyang Brahma, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pencipta.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Brahma :

Om , Isano sarwa widnyana, Iswara sarwa bhutanam,

Brahmano dhipati Brahman, Siwastu sada siwaya,

Om, ciwa dipata ya namo namah swaha.

 

Om Ang Brahma namas catur mukham, Brahmagni rakta warnanca

Sphatika warta dewata, sarwa bhusana raktakam

Om Brahma Dewa ya namah swaha

 

(Ya Tuhan, Hyang Tunggal yang maha sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk, selaku Brahma raja daripada semua Brahmana, selaku Siwa dan Sada Siwa. Om Hyang Siwa, hamba menyembah pada-MU)

  1. d) Sembah kehadapan Sanghyang Wisnu, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemelihara.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Wisnu :

Om Ung namo Wisnu tri mukhanam, Tri nayanam catur bhuyam

Kresna warnam sphatikantam, Sarwa bhusana nilanam

 

Om, Prenamya sirase Wisnu, Triloke Brahma Sawitri,

Iswara loka pawitra, Bhayam nasti kadacanam.

 

Om, Kuwera priti dhanasca, Karni ksatriya purusa,

Sambhu mulya ta suksma ya, Ripu bhasmi durwinasa.

 

Om, Sangkara Sang Hyang Sri-dewi, Para lingga tri sudewa,

Bhasmi bhuta durwinasa, Kreta rogha durwinasa.

Om Sri Wisnu Ya namah Swaha

  1. e) Sembah kehadapan Sanghyang Iswara, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahyauan dari beliau dalam prabawa beliau sebagai Ista Dewata Pemralina.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Iswara :

Om Giri murti sweta warnam, meru rajata bhaswaram

Purwa desa pratistanam, purwa Iswara arcanam

 

Om, Sarwa sweta suddha nityam, Bhusana ratna swetanam,

Mani Surya sweta warnam, Surya kotti prabha jwalam

 

 Om, Catur Dewi Mahadewi, Catur Asrame Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi, Durga Masarira Dewi,

Om, Anugraha amreta sarwa lara winasanam ya namo namah swaha.

(Ya Tuhan, saktiMU berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Siwa, raja semesta alam, dalam wujud Iswara, Ya, Catur Dewi, hamba menyembah kebawah kaki-MU).

  1. f) Sembah kehadapan Sanghyang Kumara, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon kerahayuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata Penyagom Serba Kehidupan.
  2. Sembah Kehadapan Sanghyang Kumara :

Om, Namah Kumara ya, Sedhana ya,

Siki dwaja ya pratimaya loka,

Sad kartika nanda karya ya nityam,

Namastute tasmai dwaja pudhitam.

Om Kumara Dewa ya namah Swaha

(Ya Tuhan, bergelar Kumara, dewanya pengayom semua kehidupan di jagatraya ini, kami semua sembah kehadapan-MU).

  1. g) Sembah kehadapan Sanghyang Aji Saraswati, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon pengetahuan dari beliau dalam prabawa sebagai Ista Dewata sumber ilmu pengetahuan.

  1. Sembah Kehadapan Sanghyang Aji Saraswati :

 

Om, Saraswati namãstu-bhyam, warade kama-rupini,

Siddhãrambhan kari-syami, Siddhir-bhawantu me-sada.

 

Om, Pranamya sarwa-dewanca, paramãtmanam ewa ca,Rupa siddhi prayukta ya, Saraswati namamy-aham.

 

Om, Padma-patra wisalaksi, Padma kesari warnini,

Nityam padma-laya dewi, Sa-mam-pa-tu Saraswati.

 

Om, Brahma putri mahadewi, Brahmanya rahma Nandini, Saraswati samjñayani, Pranayana Saraswati,

Om Saraswati Dewi diapata ya namah swaha

  1. h) Sembah kehadapan Sanghyang Widhhi sebagai pemberi anugrah, menggunakan sarana bunga/kwangen, bermakna mohon waranugraha dari Sang Hyang Widdhi Wasa.
  2. Sembah Kehadapan Sang Hyang Widdhi Wasa sebagai pemberi anugrah :

Om anugraha manoharam Devadattaanugrahakam

Arcanam sarvaapuujanam Namah Sarvaanugrahakam

 

Deva devi mahaasiddhi Yajnanga nirmalaatmaka

Laksmii siddhisca, diirgahaayu Nirvighna sukha vrddhisca

“Oh keseluruhan yang lengkap dan sempurna, yang memberikan anugrah dan menarik hati, anugrah dari dewata yang agung puja semua pujaan. Hormat padaMU wahai pemberi anugrah. Dewa dan dewi yang selalu berhasil, berbadan yadnya, suci, panjang umur, dan bahagia tanpa halangan”.

  1. i) Sembah Puyung, yang merupakan ucapan terima kasih atas anugrah beliau (Ida Sanghyang Widhi Wasa).
  2. Sembah Puyung :

Om, Dewa suksma paramacintya ya nama swaha.

Om, santih, santih, santih, Om.

(Om, hormat kami kepada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang gaib).

Ngelebar Brata Siwa Ratri.

Semoga Bermanfaat

Iklan

“Astungkara”Semoga terjadi demikian atas kehendak Tuhan


 

I Gede Adnyana, S.Ag (Bontang-Kaltim)

Belum jelas kapan kata astungkara mulai populer dikalangan umat Hindu. Walaupun ada pro kontra dalam penggunaannya namun pada kenyataannya sudah semakin lumrah digunakan. Nampaknya astungkara menjadi alternatif untuk padanan alhamdulillah (segala puji bagi Allah), amin (terimalah; kabulkanlah; demikianlah hendaknya), puji Tuhan dalam agama Islam dan kristen, sehingga hal ini dipandang sebagai peniruan atau kreatifitas sebagai dampak dari pergaulan multi agama, multi kultural yang terjadi di masyarakat. Terjadi kesepakatan tidak tertulis diantara para pengguna “astungkara” walaupun memiliki pemahaman makna yang belum tentu sama. Berikut beberapa pendapat tentang arti makna astungkara:Ø  Kata Astungkara termuat dalam Atarwa Veda (9.4 ) (Zoemulder, Kamus Jawa Kuna, 1995). Kata astu artinya semoga terjadi (ibid, 73). Dalam sebuah diskusi, Agus Muliana menyatakan, “dalam kamus sansekerta astungkara (dalam sansekerta ditulis astuṇkāra) itu sebenarnya artinya ‘orang yang mengatakan astu’.” Ø  Dalam kamus-sansekerta (http://www.sansekerta.org/kamus-sansekerta/) astungkara berarti memuji, berdoa; astuti : memuji, berdoa, terpujiØ  Dalam kamus sanskerta online http://www.spokensanskrit.de; http://sanskritdictionary.com, kata astungkara (astuṃkāra; astunkara) berasal dari dua kata yaitu astu dan kara. Astu (अस्तु) berarti jadilah begitu, baiklah, baik (menyiratkan izin, biarlah menjadi begitu, harus ada atau harus. Sedangkan कर kara berarti melakukan, menyebabkan, pembuat, memproduksi, yang menyebabkan sesuatu atau juga salam.                               Ada tiga kata kunci dalam kalimat astungkara yaitu:1.        Astu yang sudah sangat umum di gunakan, misalnya awignamastu, swastyastu, dirgayurastu, tatastu swaha dan sebagainya. Kalimat astu banyak pula terdapat dalam mantra Veda, salah satunya berbunyi demikian:

 

agnir na etat prati grhṇātu vidvān

brhaspatiḥ pratiy etu prajānan /                                                                                      

indro marutvān suhutaṃ krṇotuv

ayakṣmam anamīvaṃ te astu //                                                                                        

 

Semoga Agni yang bijaksana menerima (persembahan) ini dari kami, sebagaimana yang dilakukan Brehaspati sejak zaman dahulu, Semoga Indra dan Maruts membuat penyembuhkan penyakit. Biarkan [semua ini] tanpa penyakit, semoga anda bebas dari penyakit. (Atharwa Veda Pipalada 5.28.7)

2.        Kara berarti melakukan, menyebabkan, pembuat, memproduksi, yang menyebabkan sesuatu atau juga salam, misalnya: namaskara atau anjali (salam dengan sikap mencakupkan kedua telapak tangan); karasodhana (membersihkan tangan). 3.        Jika astu dan kara digabung seharusnya astukara, namun mendapat sisipan “ng” menjadi astungkara (pengaruh dialek daerah Bali. Dengan demikian maka astungkara dapat diterjemahkan sebagai terjadilah begitu, biarlah menjadi demikian atas se-izin atau kehendak sang penyebab (Tuhan) atau merupakan salam yang menyatakan semoga demikian atau mengiyakan, atau dengan kata lain semoga (astu) terjadi atas kekuatan tangan (kara).               Astungkara lebih jauh mengajak kita untuk mengenal kekuatan tangan, karena secara harfiah semoga dengan kekuatan tangan terjadi. Hal ini nampaknya bukanlah anggapan secara kebetulan belaka, oleh karena tangan memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Maka tidaklah mengherankan jika garis tangan di telapak tangan turut menentukan nasib seseorang, baik jodoh, pekerjaan maupun rejeki. Tentang kekuatan tangan terdapat dalam kutipan stotra Kara Darshanam berikut: Om Karagre Vasate LakshmiKaramadhye SaraswatiKaramule Sthitha Gowri *Prabhate Kara Darshanam Terjemahan:Lakshmi di ujung jari, Saraswati di telapak tangan, Shakti terletak di pergelangan tangan, demikian keutamaan melakukan Kara Darshanam dipagi hari. * “Karamule Sthitha Gowri” kadang-kadang diganti dengan “Karamule Tu Govinda”

 

Lakshmi merupakan kekuatan atau sakti Wisnu sebagai pemelihara dengan lambang aksara Ung, Saraswati merupakan kekuatan atau sakti Brahma sebagai pemelihara dengan lambang aksara Ang, Gowri/ Durga merupakan kekuatan atau sakti Siwa sebagai pelebur dengan lambang aksara Mang. Sehingga tangan memiliki daya mencipta, daya memelihara dan daya melebur yang merupakan esensi hukum rta dijagat raya. Namun pada saat tertentu misalnya mencakupkan tangan (anjali) aksara Ang Ung Mang berubah menjadi dwi aksara yaitu Ang (tangan kiri lambang prakerti) Ah (tangan kanan lambang purusha), penyatuan Ang-Ah melahirkan eka aksara yaitu Om.

Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan para pandita yang ada di Bali, dengan menggunakan berbagai sikap mudra yang lebih dikenal dengan “tetanganan” melakukan pemujaan dengan sikap tangan tertentu yang pada intinya mengandung lambang proses utpetti, stiti dan pralina. Dimana mudra bukan hanya bentuk gerakan tangan biasa namun juga mengandung nilai magis religius, shingga tidak diperkenankan dilakukan oleh sembarang orang. Menurut I Wayan Raga (warga Hindu Kota Bontang, praktisi Reiki) salah seorang rekan kerjanya (seorang non Hindu) pernah mencoba berbagai bentuk tetangan yang terdapat dalam buku Weda Parikrama. Akibatnya ia mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, salah satunya adalah datangnya ulat yang begitu banyak.

Dengan demikian maka astungkara merupakan ungkapan populer yang berkembang dikalangan umat Hindu sebagai dampak dari pergaulan multi agama, multi kultural yang terjadi di masyarakat yang disepakati secara tidak tertulis sebagai padanan kata alhamdulilah, amin atau puji Tuhan dalam agama Islam dan Kristen. Astungkara bermakna terjadilah begitu, biarlah menjadi demikian atas se-izin atau kehendak sang penyebab (Tuhan) atau merupakan salam yang menyatakan semoga demikian atau mengiyakan, atau dengan kata lain semoga (astu) terjadi demikian atas kekuatan tangan (kara), yang merujuk pada kekuatan Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur. Singkatnya astungkara berarti semoga terjadi demikian atas kehendak Tuhan.

Belajar Bahasa Sanskerta


Perhatian!

Sebelum mengikuti pelajaran bahasa Sanskerta, ada baiknya apabila Linguers menginstal huruf Devanagari pada perangkat lunak kamu. Cara menginstal, klik di sini. Atau, kamu download huruf ini dan instal di komputer kamu untuk mendapatkan hasil terbaik.

Namo namaha! (नमो नमह)

Apa kabar Linguers? Pada kesempatan kali ini, kami akan coba mengetengahkan pelajaran tentang bahasa Sanskerta. Sebagaimana yang kita tahu, bahasa Sanskerta adalah bahasa kuno yang banyak memengaruhi bahasa Indonesia. Sebagai bahasa proto-India, bahasa Sanskerta memberikan cukup banyak kontribusi kosa kata dalam bahasa Indonesia yang sampai saat ini masih kita pakai. Kata-kata seperti gajah, guru, srigala, samudera, bahkan garuda, adalah beberapa contoh kata yang sememangnya berasal dari akar bahasa Sanskerta, tentunya dengan sedikit modifikasi di sana-sini.

Bahasa Sanskerta disinyalir menjadi bahasa pengantar dewa-dewa dalam mitologi Hindu di tertulis dalam Kitab Suci Weda. Dan sejatinya bahasa ini hanya digunakan hanya sebatas pada agar seseorang bisa membaca Kitab Weda, dan tidak digunakan untuk berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Adapun aksara yang digunakan untuk bahasa ini adalah aksara Devanagari dimana “deva” berarti dewa sedang “nagari” berarti negeri. Penelitian menyebutkan jika bahasa ini dibawa oleh bangsa Arya yang bermigrasi ke dataran India pada 1200 SM hingga 6000 SM. Akan tetapi terdapat kontroversi tentang sejarah ini, pun dengan awal sejarah bahasa Sanskerta sendiri. Menurut penelitian modern, usia bahasa ini berada pada angka 3000 SM, hingga penelitan yang terbaru berkata bahwa bangsa Arya datang ke India sekira 4500 SM. Satu yang pasti, bahas Sanskerta adalah bahasa yang sangat tua.

Sejenak, marilah kita kesampingkan perihal sejarah bahasa ini dan mulai belajar bahasa Sanskerta. Untuk pertama kali, mari kita mengenal aksara Devanagari sebelum akhirnya kita bisa membaca dan berbicara dengan berbahasa Sanskerta ini.

AKSARA 

(अक्षरः)

  1. Vokal (स्वर)

Dari tabel di atas, tampak 15 huruf vokal (svara) dalam bahasa Sanskerta. Huruf dengan tanda strip di atas (¯) berarti jika huruf tersebut bernada panjang. Semisal huruf “ā”, ini artinya jika huruf tersebut dibaca panjang dari biasanya. Contohnya kata “Rāmah” (रामः) dibaca “Raamah”, dan bukan “Ra-amah.”

Huruf “ā” ini seyogainya disusun dari dua huruf, yakni a+a. Begitu pun dengan huruf yang lainnya. Sedang huruf yang memiliki titik di bawahnya (.) berarti jika huruf itu dibaca dengan cara menarik ujung lidah ke belakang rongga mulut, seperti huruf “ṛ”, “ṛū” dan “ḷ”. Kelima belas huruf vokal di atas bersifar mandiri, artinya dia berdiri sendiri.

  1. Konsonan (व्यञ्जन)

 

Huruf konsonan (vyañjana) di atas diucapkan seperti apa adanya, kecuali berikut:

  1. Huruf (ङ) “ṅa”dibaca “nga”; huruf (ञ) “ña” dibaca “nya”; huruf (ण) “ṇa” dibaca seperti “na” biasa namun dengan ujung lidah agak ditekuk ke belakang rongga mulut hingga benar-benar menyentuh langit-langit mulut paling atas (cerebral).
  2. Cara pengucapan seperti di atas juga dimiliki oleh huruf (ट) “ṭa”, (ठ)“ṭha”, (ड) “ḍa”, (ढ) “ḍha” dan (ळ) “ḷa”.
  3. Sedang huruf (श) “śa” dibaca “sya”, (ष) “ṣa” dibaca “sha”dan (क्ष) “kṣa” dibaca “ksha”.
  1. Vokalisasi (सन्ध्य्अक्षर)

 

Dikarenakan abjad Sanskerta itu bersifat silabik, maka diperlukansandhyakara (vokalisasi) untuk mengubah, menambah atau mengurangi aksara utama atau konsonan. Misal, vokalisasi “ā” (ा) digunakan untuk menambahkan huruf “ā”, sehingga “kā” = क + ा = का. Sedang apabila huruf “ka” diubah menjadi “ki”, maka huruf pun ditulis seperti ini: कि + ि = कि.

Dua huruf khusus yang lainnya adalah “am” dan “ah”. Kedua huruf ini secara berurutan disebut juga anusvārah dan visarga. Seperti contoh di atas,anusvārah digunakan untuk menambahkan fonem “m”. Contoh: “kam” ditulisकं. Sementara visarga digunakan untuk menambah ponem “h”, contoh: “kah” ditulis कः. Dan terakhir adalah virama, digunakan untuk menghilangkan vokal pada aksara utama, misal huruf “ka” menjad “k”, maka ditulis “क्”.

Selain itu, ada juga huruf-huruf lainnya yang dibentuk dari dua atau lebih aksara utama, yang disebut sebagai konsonan konjungsi. Jumlahnya lebih dari yang bisa dibayangkan.

Demikian kita sudah mengenal aksara Devanagari. Ada baiknya untuk Linguers menghapal aksara tersebut di atas untuk dijadikan bekal agar nanti bisa membaca kata-kata dalam bahasa Sanskerta.

Untuk pelajaran selanjutnya, kita akan coba belajar menulis aksara tersebut dengan baik dan benar. Dhanyavādāh (धन्यवादाः = Terima kasih) danPunarmilāmah (पुनर्मिलामः = Sampai bertemu lagi!) [Fim Anugrah]

FILSAFAT HIDUP ALA EMPU KANWA


OLEH: I GEDE ADNYANA, S.Ag

  1. BHAKTI DAN KESADARAN

Kakawin Arjunawiwāha adalah kakawin pertama yang berasal dari Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Prabu Airlangga, yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakawin ini diperkirakan digubah sekitar tahun 1030.

Kakawin ini menceritakan sang Arjuna ketika ia bertapa di gunung Mahameru. Lalu ia diuji oleh para Dewa, dengan dikirim tujuh bidadari. Bidadari ini diperintahkan untuk menggodanya. Nama bidadari yang terkenal adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka Batara Indra datang sendiri menyamar menjadi seorang brahmana tua. Mereka berdiskusi soal agama dan Indra menyatakan jati dirinya dan pergi. Lalu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi pada saat yang bersamaan ada seorang pemburu tua yang datang dan juga memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Setelah itu Arjuna diberi tugas untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil dalam tugasnya dan diberi anu

Empu Kanwa yang hidup sejaman dengan Raja Air Langga pada masa kerajaan Kediri merupakan salah satu Pujangga terbesar yang pernah ada di nusantara. Karya monumental kakawin Arjuna Wiwaha hidup sebagai candi pustaka dalam masyarakat dari waktu-kewaktu. Mengawal prilaku manusia, mengantarkan setiap yang membaca dan menyelaminya pada peningkatan kualitas diri. Oleh karena isinya yang luar biasa tentang filsafat hidup dari insan manusia sebagai makhluk tak berdaya dihadapan Sang Hyang Parammartha (dualitas) hingga mencapai penyatuan atau moksa (monisme).

Secara garis besar kehidupan ini menurut Empu Kanwa adalah sebuah perjalanan spritual dari seorang bhakta yang menyatakan dirinya amat rendah, hingga mencapai kemanunggalan dengan sang pencipta sebagai tujuan akhir. Manunggalnya atma dengan paramatma memberikan kesadaran murni yang tersurat dalam bait pertama Kakawin Arjuna Wiwaha:

1. Ambek sang paramārthapaṇḍita huwus limpad sakèng śūnyatā, Batin sang tahu Hakikat Tertinggi telah mengatasi segalanya karena menghayati Kehampaan[1],
Tan sangkèng wiṣaya prayojñananira lwir sanggrahèng lokika, Bukanlah terdorong nafsu indria tujuannya, seolah-olah saja menyambut yang duniawi,
Siddhāning yaśawīrya donira sukhāning rāt kininkinira, Sempurnanya jasa dan kebajikan tujuannya. Kebahagiaan alam semesta diperihatinkannya.
santoṣâheletan kelir sira sakèng sang hyang Jagatkāraṇa. Damai bahagia, selagi tersekat layar pewayangan dia dari Sang Penjadi Dunia.
2. Us.n.is.angkwi lebûni pâdukanirâ sang hyang Jagatkâran.a Hiasan kepalaku merupakan debu pada alas kaki dia Sang Hyang Penjadi Dunia
Manggeh manggalaning miket kawijayan sang Pârtha ring kahyangan Terdapatkan pada manggala dalam menggubahkan kemenangan sang Arjuna di kahyangan

 

Kesadaran murni yang menjadikan seorang muni hanya sebatas kelir saja dengan Sang Maha Pencipta. Suatu kondisi dimana kebahagiaan Sang Bhakta telah mencapai lila dari kesadaran murni yang mampu melihat secara gamblang tentang arti hidup dan kehidupan. Sang Muni telah mengerti dengan sesadar-sadarnya bahwa tujuan dari sang Hidup hanyalah untuk mangabdi pada Sang Hyang Paramartha.

Tuhan disebut paramartha karena hanya Dialah tujuan tertinggi dari sekalian makhluk. Tanpa mengerti tentang hal ini maka sia-sialah seseorang hidup, sebabnya adalah karena selalu lahir berulang kali dalam peneritaan atau samsara. Ketidak berdayaan manusia terbelenggu oleh sad ripu dan sapta timira membuatnya lupa dan tidak mengerti tentang tujuan akhir dari sebuah kelahiran. Kesadaran murni tentang tujuan akhir dari seorang bhakta hanya mungkin diperoleh manakala Sang Pencipta sendiri yang berkehendak membuka mata batin kesadaran. Kehadiran Tuhan hanya mungkin terjadi jika seorang bhakta tekun dalam olah bathin menyucikan diri dalam ketenangan dari Tri Guna yang diarahkan pada satwam. Hal ini tersurat jelas dalam salah satu bait terpenting dan terpopuler Empu kanwa:

Sasi wimba haneng gata mesi banyu

Ndan asing suci nirmala mesi wulan

Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin

Ring angambeki yoga kiteng sakala

Bulan akan nampak jelas manakala air dalam temapayan jernih, tenang tidak bergejolak. Demikian pula ketenangan bathin amat sangat diperlukan untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam diri. Empu kanwa menawarkan Yoga sebagai sadhana bagi pencapaian pencerahan. Dengan demikian maka yoga yang dimaksud adalah berdasar pada bhakti. Tanpa bhakti seseorang tidak akan mencapai kemajuan secara rohani walaupun melakukan berbagai gerak asanas.

Bayangan bulan yang terdapat dalam tempayan seperti yang dilukiskan oleh Mpu kanwa dalam kakawin Arjuna Wiwaha, merupakan gambaran riil dari hidup manusia. Bayangan itu ibarat diri kita yang bergerak sesuai kehendak dari sang pemilik bayangan. Kita ada sebagai bayangan saja yang dapat terhapus manakala Sang Tuan pemilik bayangan pergi.

  1. SEMBAH LAHIR BATHIN

Sebagai bayangan dari yang kekal maka manusia adalah maya yang tidak kekal dengan sifat sementara. Namun demikian sang bayangan memiliki kesamaan dengan tuanya, walaupun bayangan tak mungkin menjadi tuan. Hal inilah gambaran dwaita wedanta dimana ciptaan hakikatnya tetaplah berbeda dengan Sang Pencipta. Hal ini membawa pemahaman bahwa manusia hanyalah sebagai bhakta dari Yang Maha Kuasa. Manusia digerakan oleh kekuatan Tuhan, ia tak dapat bertindak tanpa kehendak dari Tuhan sebagaimana bayangan bulan yang ada didalam tempayan.

Sang kawi Empu kanwa tenggelam dalam lila bhakti, merasakan betapa rahasianya keberadaan Tuhan. Kehadiran-Nya hanya dapat dirasakan dalam lautan bhakti yang dalam. Rahasinya tak mungkin terungkap dalam kata-kata yang terbatas, karena kehadiranya hanya dapat dirasakan oleh bhakta dengan bhakti yang tulus. Akan rahasia keberadaan Sang Hyang Paramartha yang amat sulit dipahami diibaratkan seperti minyak dalam santan, atau api didalam kayu. Hal ini terungkap dalam bait kakawin Arjuna wiwaha sebagai berikut:

Om Sembah ning anata  tinghalana de tri loka sarana,

Wahya diatmika sembah ning hulun  ijeng ta tan hana waneh,

Sang luwir agni sakeng tahen   kadi minyak  saking dadi kita,

Sang saksat metu  yan hana wang  amuter tutur pineh ayu.

Empu Kanwa mengisyaratkan kepada kita tentang sembah lahir bathin (Wahya dhyatmika) terkonsentrasi hanya kepada Sang Pencipta. Sembah total secara menyeluruh hanya mungkin dilakukan jika seseorang menyadari ketidak berdayaanya sebagai makhluk lemah yang hidupnya tergantung pada kuasa dari Sang Pencipta. Tiada lagi keinginan yang lebih kuat dari bhakti. Bersimpuh dihadapan-Nya dalam ketidakberdayaan dimana manusia diliputi oleh sad ripu dan sapta timira yang membelenggu setiap saat.

Disini bhakti diperlukan agar manusia senantiasa memiliki kesadaran dalam menghadapi musuh dalam diri. Kesadaran secara terus menerus (amuter tutur pinahayu) merupakan satu keharusan bagi orang yang ingin beroleh anugrah kesadaran agar terbebas dari samsara. Kesadaran yang terus menerus diupayakan denngan cara yang benar dan tepat, seperti memisahkan minyak dari santan, atau menggosok-gosokan kayu agar keluar api.

  1. PENTINGNYA SADHANA

Keterampilan spiritual “Sadhana” merupakan perwujudan bhakti yang mengantarkan seorang bhakta menjadi lebih dekat dengan pujaanya. Tanpa sadhana tak mungkin seseorang mencapai pencerahan, seperti seseorang yang berusaha membuat api dari dua ranting kering. Jika kayu tak digosokkan secara terus menerus maka api tak akan keluar. Jika seorang bhakta berhenti mempraktekkan sadhana sebelum memperoleh pencerahan maka segala usahanya akan menemui kegagalan. Oleh karena itu seorang bhakta hanya memerluka tiga hal:

Pertama memiliki keyakinan yang kuat tak tergoyahkan, yang menumbuhkan ketulusan untuk berada pada jalan yang benar. Ketulusan akan tumbuh dalam bhakti. Dalam ketulusan akan menuntun manusia pada tindakan yang benar. Tindakan yang benar adalah dharma, dharma (tindakan benar) adalah perwujudan Tuhan. Maka dengan senantiasa berlaksana dharma seseorang semakin dekat dengan Tuhan.

Kedua memiliki pengetahuan yang benar tantang sadhana yang di praktekkan. Pengetahuan bahwa Yang kuasa akan hadir atas kehendak-Nya sendiri kepada para bhakta yang tulus. Disini pengharapan akan kehadiran-Nya pun dianggap sebagai satu pengharapan yang kurang tulus. Oleh karena itu Bhakta hanya perlu memuja-Nya dengan sadhana tanpa suatu pengharapan. Tindakan tanpa pamrih memberikan pengetahuan kesadaran akan hakikat kehidupan. Yang tak terikat pada tali kebutaan pasti akan melihat keterikatan ada dimana-mana. Dengan melihat keterikatan yang disebabkan oleh indriya, maka orang akan melihat indriya sebagai alat yang harus dikendalikan agar tidak memberikan belenngu ikatan pada Sang Diri (Atman).

Ketiga, memiliki keteguhan hati dengan penuh kesabaran dan kesadaran bahwa apa yang dilakukan dalam praktek sadhana akan menuntun sang bhakta mencapai Sang Paramartha. Kesabaran akan berujung pada kesadaran, oleh karena itu kesabaran merupakan bagian dari sadhana itu sendiri. Tentang kesabaran tantri Nandaka harana menceritakan kisah ikan gabus yang bertapa dibawah pohon dadap kemudian berubah menjadi klesih (trenggiling). Hal ini dapat dimaknai sebagai sifat bengis dan buas diruat oleh kesabaran menjadi kasih.

  1. KESIMPULAN

Secara gamblang Empu Kanwa mengantarkan kepada kita sajian karya sastra adi luhung yang sarat dengan filsafat hidup. Bahwa kebahagiaan tertinggi sesungguhnya hanyalah ketika kesadaran murni singgah mengisi hidup kita. Hal ini haruslah membuat kita senantiasa berusaha dengan tekun dalam yoga (catur marga) sebagai jalan (sadhana) untuk meningkatkan kualitas diri membawa rajah dan tamah dalam pengaruh satwa guna. Mengubah sembah kita yang salah karena penuh pengharapan dengan sembah yang pasrah lahir bathin berlandaskan ketulusan hati. Membawa keheningan dalam budhi sehingga cahaya kesadaran hadir atas karunia Tuhan.

KALTIM DUA KALI RAIH JURA I YOGA ASANAS


Setelah menjadi juara 1  yoga asanas dalam tahun 2010, kini kontingen kaltim putra membuktikan kembali ketangguhannya setelah memberikan penampilan terbaiknya dengan meraih kembali  juara 1 dalam Jambore Pasraman Nasional III tahun 2014 di Solo. Keberhasilah Tim Yoga kontingen Kaltim ini sekaligus hadiah satu-satunya yang dapat dibawa pulang oleh kontingen bumi etam ini. Namun demikian hal ini merupakan satu kebanggaan tersendiri karena cabang yoga merupakan cabang yang paling bergengsi dalam jambore pasraman.

Pada Tahun 2010 Tim Yoga asanas putra dan putri masih bergabung yang terdiri dari I Putu Wahyu Diantara, Agnesia Novia T, Kadek Widhi Cahya Harum S. berhasil meraih juara 1.  Pada tahun 2012 tim yoga asanas kaltim yang terdiri dari:   I Putu Wahyu Diantara, Kadek Widhi Cahya Harum Sari, Komang Werdi Triatma, gagal mengulangi suksesnya dengan tidak membawa kemenangan. Namun demikian pujian peserta/  kontingen dari berbagai daerah cukup banyak, bahkan telah lebih dahulu memberikan selamat, karena demikian yakinnya jika kaltim akan meraih kembali juara 1. Walaupun pada akhirnya pulang dengan membawa tangan kosong tidak menjadikan tim yoga kaltim kecewa. Pengakuan dari kontingen lain, akan keunggulan tim ini menyebabkan Kaltim disegani untuk cabang yoga.

Kontingen Yoga asanas Putra pada tahun 2014 terdiri dari Komang Werdi Triatma, I Nyoman Prana Jaya Semedi, I Gusti Ngurah Rika Prastya Wiguna, berhasil membawa kembali nama Kaltim yang disegani dalam Yoga asanas. Mereka merupakan siswa pasraman Widya Buana Kota Bontang. Pasraman Widya Buana telah memberikan eksul yoga sejak tahun 2004 yang dirintis oleh Ibu Ketut Setianingsih. Hingga kini pasraman Widya Buana tetap eksis dan membuktikan bahwa ekstra kurikuler Yoga di Kota Bontang berjalan dengan baik.

Sukses tim putra tidak didikuti oleh tim putri, yang juga telah tampil dengan baik dan kompak. Namun nampaknya masih harus bekerja keras untuk mewujudkan kemenangan dalam jambore pasraman berikutnya, Sukses untuk tim yoga Putra, jangan menyerah untuk tim yoga putri.

HARI SUCI HINDU MENURUT SUNDARIGAMA


1.      WUKU SINTA
1)      Senin Pon Sinta ( Soma Ribek )
Keterangan              :        merupakan hari suci bagi Sang Hyang Sriamerta ( Dewa Kesuburan/Kemakmuran) yang beryoga di lumbung, tempat penyimpanan beras, di pelinggih Gedong Sri di Pura Desa/Bale Agung
Larangan                    :
–          Menjual padi
–          Menumbuk padi
–          Tidur di siang hari
Sesajen                      :        nyahnyah, geti-geti geringsing, raka pisang mas beserta canang wangi-wangi
Makna                        :        untuk membangkitkan kesadaran umat dalam memahami hakikat batin sebagai sumber pencerahan jiwa yang suci dengan memuja Sang Hyang Pramana . Umat  juga diharapkan benar-benar sadar  dan tidak boleh bermalas-malasan
Soma berarti “bulan” dan Ribek berarti “yang sempurna memenuhi diri setiap umat”
Jadi Soma Ribek bermakna agar umat memiliki kearifan,kebijaksanaan,kelembutan,keramahan seperti sifat bulan.

2)      Selasa Wage Sinta (Sabuh Mas)
Keterangan              :        merupakan hari suci Bathara Mahadewa melakukan yoga di berbagai harta benda seperti uang, emas, perak, intan, permata dan sejenisnya
Sesajen                      :        suci, daksina, peras ajuman, panyeneng, sesayut amertasari, canang lengawangi buratwangi, tadah pawitra, reresik
Dihaturkan di Pamyasan Sanggar atau boleh di tempat tidur
Makna                        :        menyadarkan umat Hindu bahwa sumber kekayaan dan kebahagiaan itu ada di dalam diri setiap umat manusia serta mensyukuri segala harta yang telah diterima sebagai anugerah Hyang Widhi

3)      Rabu Kliwon Sinta (Pagerwesi)
Keterangan              :        merupakan hari suci Bhatara Pramestiguru melakukan yoga diiringi oleh Dewata Nawa Sanga untuk kesuburan dan kesejahteraan segenap mahluk dan alam semesta
Sesajen                :
–           daksina , suci, peras, penyeneng, sesayut pancalingga, penek ajuman dan raka-raka wangi-wangian selengkapnya dihaturkan di Sanggar Kamulan
–          Segehan manca warna sesuai dengan neptu arah mata angin dihaturkan di halaman Sanggar ditujukan kepada Sang Panca Mahabutha
–          Sesayut pageh urip, prayascita, segehan agung 1 tanding ditujukan untuk  manusia
Makna                        :        sesuai dengan runtutannya mulai dari Soma Ribek, Sabuh Mas hingga Pagerwesi diharapkan semua hasil yang telah dicapai tersebut wajib dijaga melalui pengendalian pikiran,perkataan,perbuatan (yoga Samadhi) sehingga bersih dan suci lahir batin guna mempertahankan keselamatan jiwa dan raga umat manusia (pageh urip)

2.      WUKU LANDEP
1)      Sabtu Kliwon Landep ( Tumpek Landep )
Keterangan             :         merupakan hari suci Bhatara Siwa dab Sanghyang Pasupati melakukan yoga semadi
Sesajen                      :
–          Di sanggar  :  tumpeng putih kuning adanan memakai lauk ayam putih, ikan teri, dan terasi merah serta dilengkapi dengan sedah who (buah-buahan) ditujukan kepada Bhatara Siwa
–          Sesajen ditujukan kepada Sanghyang Pasupati : sesayut pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha, suci, daksina, peras, ajuman, canang wangi, tadah pawitra, reresik. Semua senjata diupacarai dimohonkan ketajaman kepada Sanghyang Pasupati dengan merapalkan mantra Dhanurdhara atau ajian ilmu panah
Makna                        :         mengasah ketajaman batin dan pikiran umat manusia

3.      Wuku Ukir
1)      Minggu Umanis Ukir
Keterangan          :       merupakan hari suci Bhatara Guru melakukan yoga semadhi
Sesajen                :      di sanggar kamulan terdiri dari sesayut pengambean, sedah apon 25 buah, kwangen 8 buah serta bias dilengkapi dengan banten lainnya
Makna                 :      umat Hindu memohon anugerah keselamatan dan kesejahteraan kehadapan Bhatara Guru
Maknanya adalah anugerah ketabahan dan kesabaran yang telah diberikan Tuhan pada hari-hari suci sebelumnya yang telah diasah atau ditajamkan pada saat Tumpek Landep.

4.      Wuku Kulantir
1)      Selasa Kliwon Kulantir
Keterangan          :      merupakan hari suci dimana Bhatara Mahadewa melakukan yoga semadhi
Sesajen                :      nasi kuning sapangkon memakai lauk ayam putih siungan betutu, sedah who 22 buah dan sedah apon seperlunya dihaturkan di Sanggar
Makna                 :      menciptakan ketahanan diri sesuai dengan makan “kulantir” yaitu pertahanan diri

5.      Wuku Wariga
1)      SabtuKliwon Wariga ( Tumpek Wariga/Tumpek panguduh/Tumpek Bubuh)
Keterangan          :      merupakan hari suci untuk memuja Sanghyang Sangkara sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan
Sesajen                :
–          peras, tulung, sesayut, tumpeng, bubur, tumpeng agung, lauk daging babi/itik disertai raka-raka, penyeneng, dan tetebus ditujukan kepada Sang Hyang Sangkara
–          sesayut cakragni dan sesayut pangadang hati ditujukan kepada manusia
Makna                 :      memohon anugerah kepada Sanghyang Sangkara agar memberikan kesuburan kepada tumbuh-tumbuhan sehingga tumbuh-tumbuhan dapat berbunga,berbuah,berdaun lebat untuk dijadikan sumber kehidupan bagi manusia

6.      Wuku Warigadean
1)      Senin Pahing Warigadean
Keterangan          :       merupakan hari suci dimana Bhatara Brahma melakukan yoga
Sesajen                :      sedah woh dan perlengkapannya serta bunga wangi-wangian dihaturkan di merajan
Makna                 :      mensyukuri anugrah Tuhan yang telah memberikan penerangan luarbiasa kepada umat manusia atau memohon sinar suci Hyang Widhi sebagai penerangan ketika kita mendalami hakikat diri sendiri terutama hati kita manakala sedang dalam kegelapan

7.      Wuku Sungsang
1)      Kamis Wage Sungsang ( Sugihan Jawa)
Keterangan          :      merupakan hari turunnya para dewa dan roh leluhur ke dunia membesarkan hati umat manusia sambil menikmati persembahan hingga hari raya Galungan tiba
Sesajen                :       parerebuan, pangraratan, pangresikan dan berbagai bunga harum
Makna                 :       sebagai hari penyucian bhuwana agung

2)                            Jumat Kliwon Sungsang ( Sugihan Bali )
Keterangan          :      sebagai hari baik bagi umat manusia untuk menyucikan lahir bathin (bhuwana alit)
Sesajen                :      canang wangi-wangian
Makna                 :      penyucian bhuwana alit

Hari Raya Pagerwesi


Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta). Hari ini dirayakan mengandung filosofis sebagai simbol keteguhan iman, Pagerwesi berasal dari kata Pager yang berarti pagar atau pelindung, dan Wesi yang berarti besi. Pagar Besi ini memiliki makna suatu sikap keteguhan dari iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, sebab tanpa ilmu pengetahuan kehidupan manusia akan mengalami kegelapan (Awidya).

Hari raya ini diperingati dengan cara melakukan persembahyangan mulai dari Sanggah/Merajan (tempat bersembahyang dilingkungan rumah tangga) hingga ke Pura lainnya dilingkungan desa maupun Pura Kahyangan Jagat lainnya.