“Berikan ruang untuk Dewi Saraswati di Hatimu”


Oleh: I Gede Adnyana, S.Ag

Kavyam vyakarana tarkam

Veda sastra puranakam

Kalpa siddhini tantrani

Twat prasadat samarabet

Syair-syair yang indah (Kavya), ilmu tata bahasa (vyakarana), puncak dari ajaran yoga (Tarka),  Pengtahuan suci (Veda), dharma sastra, ilmu tentang upacara (kalpa), dan Tantra sastra yang utama semua bersumber pada-Mu.

Pada tanggal 27 Pebruari 2010, bertepatan dengan hari Saraswati dan piodalan Pura Buana Agung Bontang, muda-mudi dharma yowana yang sebagian besar adalah siswa SD, SMP, dan SMA di Kota Bontang mengadakan malam sastra. Acara diawali dengan persembahyangan tepat pk. 12.00, meditasi dan Saraswati Gayatri smaranam. Dalam kesempatan ini ketua muda-mudi I Komang Gede Dharma Astria Puja memberikan Dharma Wacana tentang Saraswati. Acara dilanjutkan dengan pemaparan diskusi oleh penulis, namun karena waktu telah larut dan peserta yang hadir juga minim  (siswa SMA sebagian besar tidak hadir), banyak pesan yang tak tersampaikan dengan baik. Diskusi kemudian diselingi dengan kuis Bhagawad Gita dan menyaksikan tayangan Mahabharata. Inti yang ingin disampaikan penulis adalah “Berikan ruang untuk Dewi Saraswati di Hatimu”. Melalui tulisan ini penulis mengajak para pemuda meresapi makna saraswati yang lebih mendalam.

Arca Dewi Sraswati di Pura Buana Agung Bontang

A. ARCA SARASWATI DI PURA BUANA AGUNG BONTANG

Pura Buana Agung Kota Bontang adalah satu-satunya Pura di Kalimantan Timur dengan Ista Dewata Dewi Saraswati.  Arca Perunggu dengan tinggi sekitar 35 cm ini merupakan peninggalan masa lalu sebagai bukti kebesaran Hindu, batapa Hindu mengedepankan ilmu pengetahuan. Sejak  arca ini ditemukan disebuah kolam dekat lokasi pura pada tahun 2002 piodalan yang semula jatuh setiap purnama ka-dasa dipindah menjadi setiap hari Saraswati.  Di samping arca juga ditemukan  peninggalann lain berupa keramik berwarna hijau yang ditemukan tepat pada tumpek wariga, yang diperkirakan tempat permandian arca Dewi Saraswati, dan tiga mangkok lainnya pada tumpek landep (tembaga atau merah, keramik putih dan abu-abu) yang saat ini di fungsikan  sebagai sarana permohonan tirta.

Beberapa tokoh umat Hindu yang pernah hadir di Bontang seperti Ida Pedanda Gede Tarukan Manuaba , Bapak Wagiyo, Bapak Nyoman Astawa, Romo Jati, Bapak Nengah Dana, Ngakan Putu Putra, Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa, mengungkapkan arca ini memancarkan  fibarasi yang cukup kuat. Bahkan Bapak Wagiyo ketika menerawang secara spiritual tidak sanggup menatap cahaya yang begitu kuat dan terang dari arca ini.

Ketika Gedong Saraswati didirikan sekitar tahun 2002 Wiradian Wilami,  seorang bhakta sai Baba Beragama Kristen menyumbang bahan material gedong atas petunjuk Sai Baba, kemudian yang bersangkutan kembali kepangkuan Hindu yang di sudiwadani oleh Ida Bhagawan Dwija. Dan saat ini juga masih aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan termasuk menjadi pengurus Peradah Kota Bontang.

Sementara Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa mengungkapkan bahwa pemujaan Dewi Saraswati atau Brahma sangat langka di dunia.  Kemungkinan ini adalah arca Saraswati tertua di Indonesia. Jika dilihat dari bentuknya maka jelas sekali arca ini mendapat pengaruh india sangat kuat. Bentuk Wina atau sitar mencirikan India, namun mahkotanya ada yang berpandangan pengaruh Thailand. Sekitar Bulan Januari 2010 ada seorang yogi yang ingin sekali singgah di Bontang karena suatu fibrasi yang amat kuat yang memancar dari Kota ini.  Hal ini menjadi sangat menarik bagi para pencari spiritual jika bertirta yatra  ke Kalimantan Timur tidak lengkap rasanya jika tidak tangkil di pura buana Agung Bontang, dimana Dewi Saraswati telah menunggu anda.

B. SARASWATI UNTUK BUANA ALIT

Piodalan Saraswati yang jatuh pada sabtu umanis Watugunung, tanggal 27 Pebruari 2010 yang baru saja kita rayakan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh seluruh umat Hindu di Indonesia. Ada suatu kesan  kegiatan ini sebagai rutinitas yang dilakukan umat hindu, sehingga menimbullkan kejenuhan bagi mereka yang kurang memahami dan menghayati makna saraswati.  Dari waktu ke-waktu kita selalu diingatkan akan symbol Dewi saraswati, tetapi hanya sedikit yang mencoba memberikan ruang bagi kehadiran Dewi Saraswati untuk hadir mengisi ruang-ruang kosong dihati para bhakta. Nyasa yang ada dalam Pura Buana agung hendaknya direnungkan kedalam pura yang ada di buana alit.

Sarawasti adalah pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan adalah modal bagi penciptaan, karena itu Brahma sebagai Sang Maha Pencipta tak dapat dipisahkan dari saktinya Dewi Saraswati. Penciptaan mustahil terjadi tanpa pengetahuan. Hal Ini juga tersirat dalam kidung Saraswati karya bapak  Wayan Sukayasa, dosen UNHI Denpasar. “Saking padma metu bhuana cihnan ibu mangutpetti….” (dari padma lahirlah alam sebagai tanda adanya penciptaan). Dari kutipan Kidung Saraswati ini nampak jelas  bahwa Dewi Saraswati yang yang selama ini populer sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan adalah dari mana alam ini lahir.  Ia adalah ibu kosmis bagi alam semesta dan segala isinya. Ibu yang selalu penuh kasih yang akan ada selamanya, yang kasihnya selalu penuh tak pernah berkurang walaupun dibagi untuk seluruh penghuni alam.

Karena kasihnyalah pengetahuan ada” …Saking Wedadi metu kawruh…” (dari Weda lahirlah Pengetahuan).  Pengetahuan adalah pelenyap kegelapan atau awidya. Para Widya dan apara widya adalah sarana manusia untuk mencapai  Jagadhita dan Moksa. Keduanya haruslah serasi dan selaras agar kehidupan menjadi indah. Hidup menjadi indah bila seseorang memiliki pengetahuan.  Tentang keunggulan Ilmu pengetahuan dalam Parwa Tantri Kamandaka disebutkan : ”……..wenang ika makadona wisudhina brahmana pitwi. Mwang ikang kawijayan sang Prabu (Dapat dijadikan sarana untuk mewisuda seorang brahmana sekalipun, juga untuk keberhasilan seorang raja).  Dalam Kidung Tantri disebutkan pula bahwa isi dan Tantri adalah ajaran Tantra dan Niti sastra. Dua ajaran pokok inilah yang merupakan permata dalam Cerita Tantri, yang hanya dapat diperoleh jika seseorang berusaha menyelam dan terus mencarinya dalam lautan Sastra.

Penderitaan disebabkan oleh kotoran batin atau mala. Mala dibersihkan dengan japa “…saking genitri metu japa cihnan ibu nyomya lara…” dari genitri lahirlah japa tanda Dewi saraswati melenyapkan penderitaan. 108 butir genitri yang melambangkan 108 unsur alam semesta dan juga angka tertinggi dalam samkhya (1+8=9) merupakan angka sakral yang mengandung nilai magis didalamnya. Angka satu dapat diartikan Esanya Hyang Widdhi, angka delapan adalah sifat kemahakuasaan beliau atau Asta Iswarya. Sedangkan angka Sembilan adalah Sembilan sinar suci perwujudan Tuhan atau Nawa Dewata. Setelah alam semesta lenyap maka yang ada hanyalah Tuhan dalam keadaan Nir (angka nol) Angka nol angka yang sangat misterius dan unik, berapapun dikalikan nol maka hasilnya tetap nol.

C. Ruangan Istimewa untuk Dewi Saraswati

Nol mengacu pada kosong, kosong adalah ruang yang bisa disi. Yang terisi tak dapat diisi lagi. Cangkir yang penuh dengan air tak dapat tuangi air lagi. Pikiran yang penuh dengan pengetahuan usang tak dapat menerima yang baru, karena itu haruslah dikosongkan. Hati yang penuh ego tak dapat diisi dengan kasih semesta, bulir padi yang terkontaminasi hama belalang (walang sangit), tak dapat berisi butiran beras didalamnya. Nol adalah ruang, ruang adalah juga pemisah, pemisah yang baik dari si buruk.

Ayam tak dapat memisahkan makanan dari lumpur tetapi angsa dapat melakukannya. Demikian pula ketika ego (rajas) terpelihara mengalahkan sattwam seseorang tak dapat bijaksana. Ia menderita bukan karena orang lain, tetapi karena bersarnya ego dalam dirinya sehingga tak ada pengetahuan baru yang boleh masuk. Jika demikan yang terjadi maka tertutuplah pintu pengetahuan baginya maka Dewi Saraswati tak memilki ruang yang cukup untuk tinggal didalam hatinya.  Harusnya kita menangis  karena gedung hati kita penuh dengan ego yang menutupi kecerdasan pikiran dan dan kelembutan kasih semesta.

Seseorang tak bisa menjadi cerdas hanya karena menumpuk buku setiap piodalan saraswati tanpa membacanya berulang kali, menelaah, memahami dan menghayatinya.  Piodalah saraswati adalah pengingat agar setiap manusia meningkatkan kecerdasannya. Kecerdasan beriringan dengan kesucian, kesucian adalah pengantar bagi kecerdasan pikiran. Kecerdasan dan yang dibarengi kesucian ibarat ruang dalam balon yang  elastisnya tak terbatas yang selalu siap untuk diisi. Jadi cukup satu langkah kuasai ego agar Dewi saraswati memiliki ruang memancarkan sinar pengetahuan dimana biji-biji kebijaksanaan dapat tumbuh dengan subur.

D. Sebarkan Biji-Biji kesadaran

Om Brahma Putri Mahadewi
Ledang Hyang Ibu malingga
Maring Padma Hredayan Ingsun
Lugra yang Ingsung ngastawa
Ngawacen nyakalayang sastra
maka sadhana ning lepas
luput saking kali sanghara
setata eling ring diri

Kalimat Eling ring diri dalam bait kidung diatas  adalah permohonan karena manusia waswas, jika sampai tidak eling. Ini adalah sebuah permohonan agar biji-biji spiritual tetap terjaga dari waktu-kewaktu. Orang bisa saja menanam biji kesadaran tatapi belum tentu bisa menjaganya  dari hama egoisme dan gulma keserakahan. Satu kutipan yang amat menarik yang penuh dengan makna. Seorang bahkta tidak memohon untuk hal-hal duniawi, ia hanya meminta “Jagalah pohon kesadaran agar selalu tumbuh”, sebab tidak ada yang lebih berharga dari sejuknya pohon kesadaran bagi tempatnya bernaung dari panasnya terik matahari ego dan nafsu-nafsu duniawi.

Menjaga pohon kesadaran bukanlah hal yang mudah, kita berusaha tapi hasilnya adalah rahasia. Terkadang seseorang jatuh tersandung ketika berusaha merawatnya, terkadang terkena duri gulma ketika membersihkannya. Karenanya jaganlah tertawa girang ketika melihat seseorang jatuh, mungkin suatu saat anda mengalaminya. Renungkan setiap kejadian yang menimpa pada diri kita, jangan berusaha mencari kambing hitam atas permasahan kehidupan yang kita hadapi. Umat Hindu harus cerdas dan suci inilah yang landasan yang akan mengantarkan manusia pada jagahita dan moksa. Wujudkan Bhakti dengan Japa untuk kesucian, kesucian untuk kecerdasan berfikir (wiweka), wiweka untuk mencapai moksa. Wrhaspati Tattwa menjelaskan sebagai berikut:
”Ikang kinahan dening samyajnana, sira ta rasika lewih, apan sira umangguhaken kamoksan, tan pangjanma muwah, kinahan dening Cadusakti, ya ta sinangguh teka ring janmawasana ngaranya, umulih ring siwapada, Cetana nira satmaka lawan Bhatara”. (Orang yang memiliki pengetahuan yang benar sangat utama, karena ia mencapai moksa, tidak menjelma kembali, dan mendapat empat kekuatan. Ia disebut Janmavasana, sampai pada akhir kelahiran. Ia kembali ke alam Siwa. Kesadarannya menyatu dalam Tuhan).

Om Saraswati Dewi sarwa widya nugrahakam ya namah

Om Santih, santih, santih Om

2 thoughts on ““Berikan ruang untuk Dewi Saraswati di Hatimu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s