Arsip | Mei, 2010

Nicolaus Copernicus Bangkit Dari Kuburan

23 Mei

Kuburkan Nicolaus Copernicus


FROMBORK – Penghormatan besar dicurahkan rakyat Polandia saat pemakaman kembali astronom Nicolaus Copernicus kemarin (23/5). Tubuh astronom pencetus teori heliosentris (matahari adalah pusat tata surya) itu dikuburkan dalam prosesi megah setelah terbaring dalam makam tanpa identitas. Oleh gereja dulu, Copernicus dianggap sebagai orang sesat.
Copernicus dimakamkan di katedral tempat dia pernah mengabdi sebagai dokter. Itu menunjukkan bahwa gereja sudah ”berdamai” dengan Copernicus. Copernicus wafat pada 1543 dengan status orang sesat yang melawan gereja. Kala itu gereja memang masih menganggap bumi sebagai pusat tata surya. Kini Copernicus ”kembali” ke makam sebagai pahlawan.
Sabtu waktu setempat (22/5) sisa-sisa jenazahnya diperciki air suci oleh sejumlah pejabat tinggi dan petinggi gereja Polandia. Itu dilakukan sebelum petugas kehormatan membawa peti jenazahnya melalui jajaran batu bata, lantas meletakkan peti itu kembali di tempat penemuan tengkorak Copernicus pada 2005.

Sebuah batu granit hitam kini menjadi nisan sekaligus identitas kuburan Copernicus. Batu nisan itu diberi hiasan pahatan sistem peredaran matahari, sebuah matahari emas dikelilingi enam planet.
Associated Press melaporkan, beberapa pekan terakhir sisa jenazah Copernicus disemayamkan di Kota Olsztyn dan diarak ke sejumlah kota yang terkait dengan kehidupannya. Dia pun akhirnya dimakamkan kembali di Katedral Frombork dengan kehormatan penuh.
Atas permintaan keuskupan setempat, pada 2004 para ilmuwan mulai mencari jenazah astronom yang meninggal pada usia 70 tahun itu. Mereka akhirnya menemukan serangkaian tulang dan tengkorak dari dalam lokasi gereja. Sebuah rekonstruksi tulang menggunakan teknologi komputer yang dilakukan oleh tim forensik kepolisian menunjukkan bahwa tulang hidung pada tengkorak tersebut patah. Beberapa bukti lain yang dikumpulkan sampai pada kesimpul­an bahwa tulang-tulang itu adalah bagian tubuh Copernicus yang hidup pada 1473-1543.
Pada tahap investigasi berikutnya, contoh DNA diambil dari susunan gigi dan tulang. Hasilnya cocok dengan rambut yang ditemukan di dalam buku miliknya. Wojciech Ziemba, uskup di wilayah sekitar Frombork menyatakan kebanggaannya atas sosok Copernicus. ”Dia mewarisi sifat daerah ini (Frombork). Kerja keras, ketaatan, dan -di atas segalanya- dia adalah ilmuwan genius,” katanya. (cak/c10/dos)



Kaharingan/Hindu Kaharingan

10 Mei

Kaharingan/Hindu Kaharingan adalah religi suku atau kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan. Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan belum (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tollotang (Hindu Tollotang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut Ranying. Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam Kartu Tanda Penduduk, dengan demikian suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara.

Tetapi di Malaysia Timur (Sarawak, Sabah), nampaknya kepercayaan Dayak ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama Hindu, jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) pusatnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Adat rukun kematian Kaharingan

Jenis atau istilah adat rukun kematian Kaharingan meliputi Ngalangkang, Nambak, Ngatet Panuk, Wara, Wara Myalimbat, Ijambe, Bontang, Kedaton, Manenga Lewu, Marabia “Hanya boleh dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan September setiap tahun” kecuali untuk mati Kaharingan Lawangan upacara kematiannya disebut Wara.

Ketentuan waktu lamanya upacara adat rukun kematian Kaharingan masing-masing :

  • Ngalangkang bisa paling lama 2 (dua) hari atau menyesuaikan tradisi leluhur.
  • Wara bisa 3 (tiga) hari, (tidak sampai memotong kerbau)
  • Wara bisa 5 (lima) hari membunuh kerbau
  • Wara Nyalimbat 14 (empat belas) hari
  • Nambak bisa 3 (tiga) hari
  • Ijambe bisa 7 (tujuh) hari
  • Marabia bisa 7 (tujuh) hari
  • Manenga Lewu 7 (tujuh) hari
  • Kedaton bisa 9 (sembilan) hari
  • Ngatet Panuk 2 (dua) hari
  • Ngandrei Apui Ramai 3 (tiga) hari, dan 7 (tujuh) hari hanya untuk para tokoh,

-61.238908 -17.658280

DIarsipkan di bawah: Budaya | Ditandai: Khas Dayak

http://gloriasuter.wordpress.com

« THINK GLOBAL ACT LOCAL-TANTANGAN PENDIDIK

KESAN PERTAMA TOKOH HINDU DAYAK KALTIM MASUK PURA

10 Mei

Berkunjung ke kota Bontang tokoh adat Dayak yang satu ini terlihat santai ketika pertama kali hadir dalam acara dialog bersama tokoh Hindu Dayak Kalimantan Timur yang dilaksanakan di Kota Bontang pada  tahun 2009 yang lalu.

Dalam dilaog yang berlangsung selama 3 jam yang di hadiri beberapa tokoh dayak antara lain Tiwi Etika, Yulianson dan Pak Tenkan, terdapat satu pemahaman baru tentang bagaimana keinginan masyarakat Hindu Dayak yaitu yang menginginkan adanya pembinaan yang tentunya menuntun mereka untuk lebih mencintai dan bangga akan agama yang di anutnya. Untuk tempat suci Hindu belaiu menginginkan agar di bangun Balai Basarah seperti di Kalimantan Tengah. “Semoga segera terealisasi atas bantuan bapak-bapak yang ada di sini!”.  Demikian permohonan Pak Tenkan

Cukup mengejutkan karena tokoh yang satu ini tidak pernah pindah agama dari Hindu Kaharingan walaupun baru pertama menginjakkan kakinya di Pura, yaitu ketika diundang ke Pura Buana Agung bontang. Ketika ditanya apa kesan bapak ketika pertama masuk pura? jawabannya singkat: “Biasa Saja”. Jawaban ini sontak membuat peserta dialog tertawa dan rasa kantukpun hilang. Pertanyaan dan jawaban kocak seperti ini banyak terjadi sepanjang dialog berlangsung yang dipandu oleh Bapak Ir. Ketut Rusnaya dan I Gede Adnyana, S.Ag.

Guna melakukan pembinaan terhadap umat hindu dayak baik yang ada di Paser maupun di Kutai Barat PHDI Kota bontang mencanangkan memberikan beasiswa bagi pemuda Hindu Dayak untuk melanjutkan studi perguruan Tinggi Agama Hindu dalam tahun 2010 ini.

Hari Raya Galungan dan Kuningan

10 Mei

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Makna Filosofis Galungan

Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.

Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.

Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).

Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.

Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.

Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.” Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.

Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.

Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.

Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.

Macam-macam Galungan

Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Galungan

Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.

Galungan Nadi

Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.

Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.

Galungan Nara Mangsa

Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:

“Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran.”

Artinya:

Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.

Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:

Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah.

Artinya:

Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.

Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan “Dewa Mauneb bhuta turun” yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen “tumpeng Galungan”. Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.

Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.

Galungan di India

Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata “Wijaya” (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata “Galungan” dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya “menang”.

Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula “Hari Raya Dasara”. Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.

Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.

Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.

Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.

Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.

Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu “sakti” atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.

Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.

(Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)

http://berita.balihita.com

Galungan Dan Kuningan Untuk Dunia

10 Mei

Hanya sekedar buah pikiran!

Galungan adalah hari pawedalan jagat jadi ini berarti hari lahirnya dunia yang kita tempati ini. Dalam proses penciptaan teori samkhya menjelaskan adanya 25 tattwas samkhya. yang mana memiliki hubungan yang sangat erat dengan galungan. Jika kita hubungkan maka hari minngu umanis wuku sinta sebagai awal lahirnya pengetahuan di alam semesta ini bersamaan dengan awal pertemuan antara purusha dan pradhana tattwa. Tuhan yang berbadankan Pengetahuan atau purusha bersifat terang dan penuh kecerdasan dan pradhana yang merupakan asas kebendaan bertemu dan lahirlah citta atau alam pikiran.

Lahirnya alam pikiran dapat disejajarkan dengan hari banyu pinaruh dimana lam pikiran yang penuh dengan pengetahuan lahir. Alam pikiran inilah yang merupakan cikal bakal munculnya alam semesta dimana alam pikiran berevolusi menjadi budhi dan ahamkara. Citta, budhi dan ahamkara ini dipengaruhi oleh sattwam rajas dan tamas yang intensitasnya berbeda. Hal inilah kemudian melahirkan dua cabang pengetahuan yaitu Para Widya dan apara widya. Hari Soma Ribek pemujaan Rambut Sedana, Sabuh Mas pemujaan Sang Hyang Mahadewa, berkaitan dengan apara widya Pagerwesi pemujaan Sang Hyang Paramesti berkaitan para widya yaitu pengetahuan tentang bagaimana agar rohani manusia menjadi kuat.

Jika dihubungkan munculnya keinginan yang kuat dari pertemuan purusha dan prakerthi  sebagai sebagai hari suci sebelum tumpek wariga. Tepat pada saat tumpek wariga seluruh benih alam semesta mulai berproses sebagai akibatnya terjadilah phala dari evolusi. Setelah citta berevolusi lahirlah budhi dan ahamkara.

Dari Ahamkara lahirlah, dasendriya dan pikiran sebagai rajanya disini dapat dihubungkan dengan tumpek pengarah dimana mahluk yang paling tua adalah tumbuhan sebagai dasar dari semua mahluk yang ada. Di samping itu lahir pula panca tan matra, dari panca tan matra lahirlah panca Mahabhuta. Pada sugian jawa dan sugian bali inilah mulai berevolusi bahan-bahan alam semesta baik buana agung maupun buana alit oleh karena itu identik dengan fase telur yang masih dierami. Panca Maha bhuta sebenarnya merupakan sari-sari dari sad rasa. Sad rasa adalah cikal bakal badan duniawi. Oleh karena itulah pada saat penampahan lawar merupakan menu diamana sari alah semesta terdapat didalamnya.

Di sini dunia siap berevolusi dan pada hari galungan lahirlah dunia dengan segala isinya yang kesemuanya sesungguhya berbentuk OM. inilah hakikat alam semesta yang sejati, inilah luar dan dalamnya alam semsta, OM di bungkus OM. Karena itu seluruh jagad raya adalah penampakan dari yang satu yaitu OM yang mana di dalamnya ada tiga proses yang paling kekal A adalah awal penciptaan, u adalah tengah pemeliharaan dan M adalah akhir dari kehidupan.

trimasih Tuhan atas Bumi yang indah ini!

Semoga swasti dan santih?

METAFISIK DIBALIK PENAMPAHAN GALUNGAN

10 Mei

oleh: I Gede Adnyana, S.Ag

AHIMSA VS PENAMPAHAN

Ini adalah sekelumit cerita bagi orang kebanyakan mungkin sesuatu yang tak perlu dijadikan acuan untuk memaknai galungan. Tetapi bagi penggemar metafisica mungkin ada benarnya jika disimak sebagai bahan renungan kebenaran penampahan galungan, mengapa harus nampah?

Sebagai sarjana Agama yang baru tamat dari perkuliahan di UNHI Denpasar tahun 2001, ada suatu pertentangan dalam diri saya tentang ajaran ahimsa dan penampahan galungan, ini adalah dua hal yang amat bertolak belakang. Ahimsa mengajarkan agar kita tidak menyakiti, sementara pada hari Galungan kita merayakan kemengan dharma (berpesta) diatas penderitaan makhluk lain (celeng). Bagaimana mungkin seorang manusia Hindu dikatakan menang atas Sad Ripu karena dalam kenyataannya melakukan pembunuhan yang begitu banyak pada hari penampahan.

Ada berbagai penolakan yang muncul dalam batin saya saat itu tetapi tidak dapat berbuata apa untuk mengubah tradisi yang sudah berlangsung turun temurun. Bahkan galungan tidak meriah jika tanpa nampah celeng. Tentu saja ini merupakan permasalahan pertentangan batin yang mungkin dialami oleh banyak umat Hindu, terutama bagi mereka yang menentang pemakan daging.

B. METAFISIKA PENAMPAHAN

Penampahan Galungan di tahun 2001 telah mengubah semua pandangan dan pikiran galau tentang konsep ahimsa dan nampah. Hal ini bermula ketika saya mengalami suatu mimpi yang sangat aneh berjalan-jalan ke lapisan alam bawah.

Lapisan pertama adalah kobaran lautan api tanpa tepi yang disebut maha garbha naraka. Ini adalah lapisan terbawah dasar dari alam yang paling bawah yang hanya ada Sang Hyang Kala Gni Rudra yang luasnya tanpa tepi. Tidak ada yang lain yang terlihat selain lidah api berwarnya merah kekuning-kuningan menjulur keangkasa. Jika ada orang ditempat ini tentu tak akan dapat melarikan diri sebab lautan api tanpa tepi ini menjulang tinggi keangkasa.

Lapisan berikutnya adalah rasatala, yaitu sebuah lapisan gelap yang dihuni hanya oleh roh hewan bersel satu dan sejenisnya yang nampak hanya bagaikan kerdipan bakteri dan jamur jamur kecil yang menyala ditengah kegelapan. Disinila cikal bakal dari mahluk rendah seperti halnya virus dan bakteri.

Lapis berikutnya adalah tala-tala yang mana tempat inilah yang dihuni oleh berbagai roh hewah. Disini sang arwah tidak dapat beringkarnasi menjadi lebih baik tanpa bantuan dari manusia. Kondisi tempat ini selalu berkabut seperti layaknya pukul 05.30 pagi tanpa matahari, dimana para arwah dikelompokkan dalam pulau-pulau kecil yang dikelilingi lumpur mendidih sehingga tak dapat kemana-mana layaknya penjara tanpa terali. Sang roh berkumpul menunggu Yadnya dari lapisan alam manusia, sambil menunggu antrian untuk dibebaskan. Saat itulah saya mendengar bisikan mereka semua sedang menunggu bantuan untuk naik.

Ada suatu kejadian menarik disini, dimana ada binatang babi dempet dengan monyet. Di bawag badannya 1 tapi pinggang keatas menjadi dua yaitu monyet dan babi. Ketika datang yadnya sampai dilapisan ini mereka berebut dan monyet memang lebih cerdik. Sang babipun berteriak dengan kesal. Teriakannya yang begitu besar membangunkan saya dari tidur, dan ternyata ini sudah menunjukkan pk.03.30 pagi penampahan Galungan. Saya langsung bangun dan mendekati sumber teriakan babi tadi yang ternyata adalah babi tetangga yang akan dipotong saat penampahan. Saya bertanya kenapa masih kecil sudah dipotong? Pemiliknya menjawab: “ini sudah setahun dipelihara, makanya banyak tapi tak mau bertambah besar!” Lalu dalam hati saya bertanya mungkinkah karena dalam diri sang babi ada dua kepribadian yaitu monyet dan babi, babi makan banyak tapi yang menerima sebenarnya monyet sehingga sang babi tak kunjung besar. Inilah kesimpulan saya sementara pada saat itu.

Setelah sekian lam saya merenungkan penampahan galungan barulah saya tertarik untuk menulis ulang pengalaman mimpi saya dan mengulasnya sebagai kekuatan di Balik Penampahan Galungan.

Ada suatu penguatan tentang kebenaran ketika kita simak pemangku yang sedang nganteb tumpeng pitu dengan puja mantra:

“Om Sang Hyang Sapta patala, Sang Hyang sapta Dewata, Sang Hyang Panca kosika gana….dst”

Disinilah suatu yadnya yang kita lakukan berusaha menyentuh semua lapisan alam, mulai alam bawah sampai alam atas. Ini merupakan penerpan ajaran Tri Hita karana dalam bentuk Yadnya Sang Hyang Sapta Dewata menghubungkan manusia dengan para Dewa sebagai manifesatasi Hyang Widdhi dan para leluhur yang ada di Pitra Loka sebagai akibat perbuatan baik atau subha karma diamana sang roh akan lahir menjadi manusia yang punya dasar kelahiran baik (swarga cyuta). Sang Hyang Sapta Pattala menghubungkan manusia dengan alam bawah yaitu alam para roh yang jatuh keneraka sebagai akibat asubha karma yang dilakukan semasa hidupnya. Yang selanjutnya mereka akan lahir menjadi manusia atau binatang yang punya dasar kelahiran buruk atau neraka cyuta.

Terhadap dua hal ini kita tidak dapat membantah kebenarannya yang dapat kita lihat dari kelahiran, rejeki, musibah, ciri fisik dan sebagainya. Dari sini manusia harusnya bersyukur karena masih dapat menolong dirinya sendiri dengan jalan melaksanakan Dharma. Salah satu dari dharma itu adalah menolong makhluk lain (hewan & Tumbuhan) dengan menggunakan mereka sebagai yadnya, dengan harapan dapat menitis kembali menjadi yang lebih baik. Harapan ini juga disampaikan oleh doa para orang tua kita ketika memotong hewan pada saat penampahan. “Ih cai buron jani penampahan, tampah anggon yadnya apang numitis dadi jatma melah” Hai kamu binatang sekarang penampahan, kupotong kamu sebagai yadnya agar lahir kembali sebagai manusia mulia.

Semoga tak ada lagi keraguan untuk Nampah ketika nampah itu untuk yadnya, inilah kesempatan kita menolong para roh binatang yang terjebak di alam Tala-tala. Semoga lepaslah ikatan karma yang dilandasi cinta kasih, kerja untuk kerja, senyum untuk senyum, belajar untuk belajar, dan penampahan untuk nampah serta galungan untuk galang.

Om Sarwa Bhawantu Sukinah